Breaking News
light_mode
Trending Tags

Kemenhaj Layaknya Santri Yang Baru Mondok

  • account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
  • calendar_month Minggu, 18 Jan 2026
  • visibility 366
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Orang NU punya prinsip sederhana: kalau niatnya ibadah, jangan dibuat ribet. Sayangnya, urusan haji yang jelas-jelas ibadah sering kali justru paling ribet urusannya. Maka ketika Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) lahir, umat pun berharap: “Alhamdulillah, semoga haji tak lagi seperti antre sembako menjelang lebaran.” Tapi apa daya, harapan sering kalah cepat dari realitas birokrasi.

Sebagai kementerian baru, Kemenhaj seharusnya sibuk bekerja. Tapi yang terlihat justru seperti santri baru mondok: lebih semangat mengkritik seniornya ketimbang menghafal kitab sendiri. Pelaksanaan haji masa lalu dikritisi dari A sampai Z. Kritik memang perlu, kata Gus Dur, “kalau tidak dikritik, nanti dikira malaikat.” Tapi kalau kebanyakan kritik, takutnya malah lupa kerja. Umat ini butuh solusi, bukan ceramah evaluasi tiga juz tanpa praktik.

Dalam tradisi NU, orang yang kebanyakan membahas masa lalu biasanya sedang kehabisan ide masa depan. Inovasi yang ditunggu-tunggu belum juga kelihatan. Digitalisasi layanan masih seperti wifi di desa: ada namanya, tapi sinyalnya kadang muncul kadang menghilang. Padahal, kalau mau jujur, jamaah haji Indonesia itu sudah sangat siap digital yang belum siap sering kali justru sistemnya.

Yang lebih jenaka lagi, pejabat daerah Kemenhaj sudah dilantik, tapi struktur organisasi dan sarana-prasarananya belum jelas. Ini mirip orang NU yang sudah disuruh ceramah, tapi mic-nya belum dipasang dan panggungnya belum jadi. Pejabatnya ada, kantornya belum tentu ada. Kewenangannya belum jelas, tapi undangannya sudah jalan. Kalau Gus Dur masih ada, mungkin beliau akan bilang, “Ini kementerian apa grup arisan?”

Akibatnya, koordinasi di daerah jadi seperti rebutan sandal di masjid: semua merasa punya hak, tapi tak ada yang benar-benar bertanggung jawab. Ini bukan sekadar persoalan administratif, tapi menyangkut pelayanan jamaah yang nyata-nyata akan berangkat ke Tanah Suci, bukan ke Tanah Imajinasi.

Masalah berikutnya yang tak kalah serius adalah rendahnya persentase pelunasan jamaah. Jamaah tampak ragu-ragu. Bukan karena mereka tidak niat ibadah, orang NU itu rela jual sawah demi haji, tetapi karena kepastian layanannya masih abu-abu. Orang mau bayar kalau jelas dapat apa. Kalau tidak jelas, jangankan jamaah, bendahara pesantren saja bisa mikir dua kali.

Rendahnya pelunasan ini adalah alarm kepercayaan publik. Artinya, masyarakat sedang berkata halus: “Kami menunggu, tapi jangan lama-lama.” Dalam bahasa Gus Dur: rakyat itu sabar, tapi bukan berarti bisa dipermainkan. Kepercayaan itu seperti gelas kaca, sekali retak, susah disambung.

Kemenhaj tampaknya ingin tampil ideal: bersih, rapi, sesuai aturan, dan berbeda dari masa lalu. Niat baik ini patut diapresiasi. Tapi dalam tradisi fiqih NU, ada kaidah penting: kesulitan itu menuntut kemudahan. Ideal boleh, tapi harus realistis. Jangan sampai idealisme birokrasi justru menyulitkan jamaah yang niatnya cuma satu: ibadah dengan tenang.

Haji itu bukan proyek percontohan kebijakan. Tidak bisa “kita lihat nanti hasilnya.” Jamaah berangkat dengan umur, kesehatan, dan tabungan yang terbatas. Maka yang dibutuhkan bukan wacana sempurna, tapi layanan yang pasti. Lebih baik sistem sederhana tapi jalan, daripada sistem canggih tapi hanya bagus di slide presentasi.

Masyarakat hari ini menagih Kemenhaj bukan dengan marah, tapi dengan harapan yang mulai menipis. Mereka tidak meminta mukjizat, cukup kerja nyata. Kurangi debat masa lalu, perbanyak inovasi masa depan. Fokuslah pada pelayanan, bukan sekadar pencitraan perubahan.

Gus Dur pernah berkata, “Yang lebih penting dari politik adalah kemanusiaan.” Dalam konteks haji, yang lebih penting dari kementerian baru adalah jamaah yang terlayani. Kalau Kemenhaj ingin dicintai umat, resepnya sederhana ala NU: kerja serius, jangan kebanyakan gaya, dan kalau belum siap ngaku saja, lalu segera berbenah. Sebab umat ini sabar, tapi juga ingat. Dan hari ini, masyarakat sedang menagih: bukan janji, tapi kinerja.

  • Penulis: Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
  • Editor: Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • OJK Dorong UMKM Gorontalo Manfaatkan Crowdfunding di Pekan Ekonomi Syariah

    OJK Dorong UMKM Gorontalo Manfaatkan Crowdfunding di Pekan Ekonomi Syariah

    • calendar_month Selasa, 7 Okt 2025
    • account_circle Rivaldi Bulilingo
    • visibility 121
    • 0Komentar

    Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melalui narasumbernya, Abdul Rahmat, mendorong para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Gorontalo agar mulai memanfaatkan skema crowdfunding sebagai alternatif pendanaan di luar sektor perbankan. Hal itu disampaikan dalam kegiatan crowdfunding yang menjadi salah satu rangkaian Pekan Ekonomi Syariah (PES) yang digelar oleh Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Gorontalo, […]

  • Pemkot Gorontalo Siap Menggelar Festival Green Tumbilote, Berikut Kriteria Lomba yang didanai

    Pemkot Gorontalo Siap Menggelar Festival Green Tumbilote, Berikut Kriteria Lomba yang didanai

    • calendar_month Jumat, 28 Mar 2025
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 135
    • 0Komentar

    Pemerintah Kota (Pemkot) Gorontalo akan menggelar Festival Green Tumbilotohe yang akan dipusatkan di Lapangan Taruna Remaja Kota Gorontalo. Sejumlah lomba pada Festival Green Tumbilotohe tersebut diantaranya lomba Koko’o, Vokalia Religi, Lomba Hamparan lampu antar kecamatan, lomba jalan paling tumbilotohe, Doorprise grebek rumah dan Festival ribuan lampu. Kepada bakukabar.id, Kepala Dinas Pariwitasa, Pemuda dan Olahraga (Disparpora), […]

  • Trump dan Matinya Amerika

    Trump dan Matinya Amerika

    • calendar_month Senin, 23 Feb 2026
    • account_circle Muhammad Suryadi R
    • visibility 329
    • 0Komentar

    Kakek berusia 79 tahun itu datang dengan slogan yang terdengar seperti mantra kebangkitan: Make America Great Again. Di podium-podium, dari panggung ke panggung, ia kerap tampil dengan gaya komedian yang angkuh. Ia adalah Donald Trump. Ia sesumbar menjanjikan restorasi kejayaan dan kebesarannya; Amerika akan kembali disegani. Dunia akan kembali tunduk. Pabrik-pabrik akan hidup. Perbatasan akan […]

  • Abdullah bin Rawahah: Penyair yang Menguatkan Hati Pasukan (Kisah Sahabat Nabi Yang Jarang Diceritakan #25)

    Abdullah bin Rawahah: Penyair yang Menguatkan Hati Pasukan (Kisah Sahabat Nabi Yang Jarang Diceritakan #25)

    • calendar_month Minggu, 15 Mar 2026
    • account_circle Pepi Al-Bayqunie
    • visibility 142
    • 0Komentar

    Abdullah bin Rawahah adalah salah satu sahabat Nabi Muhammad dari kalangan Anshar di Madinah. Ia berasal dari kabilah Khazraj dan termasuk orang yang lebih awal memeluk Islam sebelum hijrah Nabi ke Madinah. Dalam sejarah Islam, Abdullah bin Rawahah dikenal sebagai sosok yang memiliki dua kekuatan sekaligus: keberanian di medan perang dan kemampuan menyusun syair yang […]

  • Ust. Rionadi Doe Jelaskan Kewajiban Qadha Ibadah dalam Kajian Kitab Minhajul Abidin Play Button

    Ust. Rionadi Doe Jelaskan Kewajiban Qadha Ibadah dalam Kajian Kitab Minhajul Abidin

    • calendar_month Minggu, 7 Des 2025
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 158
    • 0Komentar

    Ust. Rionadi Doe menjelaskan kewajiban mengganti (qadha) ibadah yang pernah ditinggalkan dalam pengajian Kitab Minhajul Abidin karya Imam Al-Ghazali yang digelar di Masjid Nurul Haq, Jalan Gelatik, Kelurahan Heledulaa, Kecamatan Kota Timur, Kota Gorontalo, pada Selasa malam seusai shalat Isya. Kajian ini juga ditayangkan langsung melalui kanal YouTube Nutizen Televisi. Dalam penyampaiannya, Ust. Rionadi menegaskan […]

  • Harga BBM Nonsubsidi Kompak Naik, Pertamax hingga BP 92 Kini Tembus Rp16 Ribuan per Liter

    Harga BBM Nonsubsidi Kompak Naik, Pertamax hingga BP 92 Kini Tembus Rp16 Ribuan per Liter

    • calendar_month Jumat, 12 Jun 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 47
    • 0Komentar

    nulondalo.com –  Harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi kembali mengalami penyesuaian. Mulai 10 Juni 2026, tidak hanya SPBU Pertamina yang menaikkan harga jual BBM, tetapi juga sejumlah operator SPBU swasta seperti BP-AKR dan Vivo. Sebelumnya, Pertamina mengumumkan kenaikan harga Pertamax menjadi Rp16.250 per liter. Penyesuaian tersebut kemudian diikuti oleh operator swasta, sehingga harga BBM nonsubsidi […]

expand_less