Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Kemenhaj Layaknya Santri Yang Baru Mondok

  • account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
  • calendar_month Minggu, 18 Jan 2026
  • visibility 460
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Orang NU punya prinsip sederhana: kalau niatnya ibadah, jangan dibuat ribet. Sayangnya, urusan haji yang jelas-jelas ibadah sering kali justru paling ribet urusannya. Maka ketika Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) lahir, umat pun berharap: “Alhamdulillah, semoga haji tak lagi seperti antre sembako menjelang lebaran.” Tapi apa daya, harapan sering kalah cepat dari realitas birokrasi.

Sebagai kementerian baru, Kemenhaj seharusnya sibuk bekerja. Tapi yang terlihat justru seperti santri baru mondok: lebih semangat mengkritik seniornya ketimbang menghafal kitab sendiri. Pelaksanaan haji masa lalu dikritisi dari A sampai Z. Kritik memang perlu, kata Gus Dur, “kalau tidak dikritik, nanti dikira malaikat.” Tapi kalau kebanyakan kritik, takutnya malah lupa kerja. Umat ini butuh solusi, bukan ceramah evaluasi tiga juz tanpa praktik.

Dalam tradisi NU, orang yang kebanyakan membahas masa lalu biasanya sedang kehabisan ide masa depan. Inovasi yang ditunggu-tunggu belum juga kelihatan. Digitalisasi layanan masih seperti wifi di desa: ada namanya, tapi sinyalnya kadang muncul kadang menghilang. Padahal, kalau mau jujur, jamaah haji Indonesia itu sudah sangat siap digital yang belum siap sering kali justru sistemnya.

Yang lebih jenaka lagi, pejabat daerah Kemenhaj sudah dilantik, tapi struktur organisasi dan sarana-prasarananya belum jelas. Ini mirip orang NU yang sudah disuruh ceramah, tapi mic-nya belum dipasang dan panggungnya belum jadi. Pejabatnya ada, kantornya belum tentu ada. Kewenangannya belum jelas, tapi undangannya sudah jalan. Kalau Gus Dur masih ada, mungkin beliau akan bilang, “Ini kementerian apa grup arisan?”

Akibatnya, koordinasi di daerah jadi seperti rebutan sandal di masjid: semua merasa punya hak, tapi tak ada yang benar-benar bertanggung jawab. Ini bukan sekadar persoalan administratif, tapi menyangkut pelayanan jamaah yang nyata-nyata akan berangkat ke Tanah Suci, bukan ke Tanah Imajinasi.

Masalah berikutnya yang tak kalah serius adalah rendahnya persentase pelunasan jamaah. Jamaah tampak ragu-ragu. Bukan karena mereka tidak niat ibadah, orang NU itu rela jual sawah demi haji, tetapi karena kepastian layanannya masih abu-abu. Orang mau bayar kalau jelas dapat apa. Kalau tidak jelas, jangankan jamaah, bendahara pesantren saja bisa mikir dua kali.

Rendahnya pelunasan ini adalah alarm kepercayaan publik. Artinya, masyarakat sedang berkata halus: “Kami menunggu, tapi jangan lama-lama.” Dalam bahasa Gus Dur: rakyat itu sabar, tapi bukan berarti bisa dipermainkan. Kepercayaan itu seperti gelas kaca, sekali retak, susah disambung.

Kemenhaj tampaknya ingin tampil ideal: bersih, rapi, sesuai aturan, dan berbeda dari masa lalu. Niat baik ini patut diapresiasi. Tapi dalam tradisi fiqih NU, ada kaidah penting: kesulitan itu menuntut kemudahan. Ideal boleh, tapi harus realistis. Jangan sampai idealisme birokrasi justru menyulitkan jamaah yang niatnya cuma satu: ibadah dengan tenang.

Haji itu bukan proyek percontohan kebijakan. Tidak bisa “kita lihat nanti hasilnya.” Jamaah berangkat dengan umur, kesehatan, dan tabungan yang terbatas. Maka yang dibutuhkan bukan wacana sempurna, tapi layanan yang pasti. Lebih baik sistem sederhana tapi jalan, daripada sistem canggih tapi hanya bagus di slide presentasi.

Masyarakat hari ini menagih Kemenhaj bukan dengan marah, tapi dengan harapan yang mulai menipis. Mereka tidak meminta mukjizat, cukup kerja nyata. Kurangi debat masa lalu, perbanyak inovasi masa depan. Fokuslah pada pelayanan, bukan sekadar pencitraan perubahan.

Gus Dur pernah berkata, “Yang lebih penting dari politik adalah kemanusiaan.” Dalam konteks haji, yang lebih penting dari kementerian baru adalah jamaah yang terlayani. Kalau Kemenhaj ingin dicintai umat, resepnya sederhana ala NU: kerja serius, jangan kebanyakan gaya, dan kalau belum siap ngaku saja, lalu segera berbenah. Sebab umat ini sabar, tapi juga ingat. Dan hari ini, masyarakat sedang menagih: bukan janji, tapi kinerja.

  • Penulis: Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
  • Editor: Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • “Syariatisasi” Yang Tidak Seimbang

    “Syariatisasi” Yang Tidak Seimbang

    • calendar_month Jumat, 29 Mei 2026
    • account_circle Abdullah Aniq Nawawi
    • visibility 412
    • 0Komentar

    Saya sangat bersyukur beberapa hari terkahir ini jagat maya cukup sesak dengan diskusi fikih terkait kurban presiden. Ini menarik bagi saya, karena daripada beranda medsos penuh dengan gosip murahan, lebih baik dipenuhi dengan adu argumen fikih. Salah satu yang cukup menarik perhatian publik adalah pertanyaan “apakah APBN bisa disamakan dengan Baitul Mal?” Hemat saya jawabannya […]

  • Warga Paguyaman dan Paguyaman Pantai Juga Dapat Bantuan

    Warga Paguyaman dan Paguyaman Pantai Juga Dapat Bantuan

    • calendar_month Selasa, 29 Jul 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 155
    • 0Komentar

    Pangan Pemerintah Provinsi Gorontalo (BLP3G) juga telah dinikmati warga Kecamatan Paguyaman dan Paguyaman Pantai, Kabupaten Boalemo. Penyaluran bantuan ini dilakukan oleh Wakil Gubernur Gorontalo Idah Syahidah. Idah Syahidah menjelaskan kuota penerima BLP3G di tahun ini mengalami penyesuaian signifikan. Hal ini imbas dari efisiensi anggaran seluruh pemerintah daerah termasuk Provinsi Gorontalo. “Kalu tahun-tahun sebelumnya penerima bantuan […]

  • Ekonom UNUSIA: Kesuksesan KDKMP Sangat Ditentukan Pertimbangan Antropologi dan Sosiologi

    Ekonom UNUSIA: Kesuksesan KDKMP Sangat Ditentukan Pertimbangan Antropologi dan Sosiologi

    • calendar_month Jumat, 7 Nov 2025
    • account_circle Rivaldi Bulilingo
    • visibility 161
    • 0Komentar

    Program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) yang menjadi salah satu agenda prioritas Presiden dalam RAPBN 2026 dinilai berpotensi menjadi tonggak kemandirian ekonomi rakyat. Namun menurut Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak, Ekonom dan Ketua Program Studi Akuntansi Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA), kesuksesan program ini sangat ditentukan oleh pertimbangan antropologi dan sosiologi dalam tata kelolanya. Dalam […]

  • Pendamping Desa Tuntut Pencopotan Mendes PDT Yandri Susanto

    Pendamping Desa Tuntut Pencopotan Mendes PDT Yandri Susanto

    • calendar_month Selasa, 29 Apr 2025
    • account_circle Suaib Pr
    • visibility 164
    • 0Komentar

    Ratusan Pendamping Desa menggelar aksi demonstrasi di Kantor Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendes PDT) di Jakarta, pada Rabu, 16 April 2025. Dalam aksi tersebut mereka menolak Kebijakan Menteri Desa Yandri Susanto yang melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) kepada 1.040 pendamping desa eks caleg di Pemilu 2024. Koordinator Aksi Robby Maulana menyebut demonstrasi ini […]

  • Harga Jagung dan Gabah Mahal, Petani: Kami Bangga Dengan Gubernur Gusnar Ismail

    Harga Jagung dan Gabah Mahal, Petani: Kami Bangga Dengan Gubernur Gusnar Ismail

    • calendar_month Jumat, 28 Mar 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 181
    • 0Komentar

    Petani Gorontalo menyambut baik dan gembira dengan kebijakan baru yang memberikan kepastian harga hasil panen untuk para petani.  Salah satu warga yang hadir pada kegiatan Panen Raya Padi di Desa Suka Makmur Utara, Kecamatan Tolangohula, Kabupaten Gorontalo bernama Rajak, mengungkapkan rasa bangganya terhadap kepemimpinan Gubernur Gusnar Ismail. “Kami sangat bangga dengan kepemimpinan Pak Gusnar yang […]

  • Inilah Kelompok Pemberi Sumbangan Inflasi Gorontalo

    Inilah Kelompok Pemberi Sumbangan Inflasi Gorontalo

    • calendar_month Selasa, 29 Jul 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 146
    • 0Komentar

    Perkembangan harga berbagai komoditas pada Juni 2025 di Provinsi Gorontalo secara umum menunjukkan adanya kenaikan. Berdasarkan hasil pemantauan BPS Provinsi Gorontalo terjadi inflasi y-on-y sebesar 0,80 persen atau terjadi kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 106,87 pada Juni 2024 menjadi 107,72. Selain itu Provinsi Gorontalo mengalami inflasi month to month (m-to-m) sebesar 0,37 persen dan […]

expand_less