Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Epstein, Uang dan Impunitas

  • account_circle -
  • calendar_month Kamis, 5 Feb 2026
  • visibility 302
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Epstein memulai kariernya sebagai guru matematika di Dalton School. Meski pria keLahiran Brooklyn 1953 tidak lulus kuliah, namun berkat kegigihannya, ia bisa merambah dunia keuangan di Bear Stearns sebelum mendirikan J. Epstein & Co., perusahaan manajemen kekayaan yang diklaim hanya melayani klien dengan aset di atas US$1 miliar. Jaringan dan Gaya Hidupnya dikenal sebagai sosialita yang memiliki akses ke lingkaran elit global.

Kasus Jeffrey Epstein bukan sekadar skandal kriminal, ia adalah manifestasi paling nyata dari jahatnya relasi elit, fenomena Epstein berdiri sebagai monumen paradoks yang mengguncang euforia francis Fukuyama tentang the end of history. Fukuyama Dalam tesisnya menuliskan optimisme pasca–Perang Dingin, Fukuyama membayangkan liberalisme demokratis dan kapitalisme pasar sebagai horizon final evolusi politik manusia—sebuah titik kulminasi di mana konflik ideologis besar dianggap telah usai.

Namun, figur Epstein justru hadir sebagai anomali nyata yang meruntuhkan keyakinan tersebut. Ia memperlihatkan bahwa sejarah tidak berhenti hanya karena kemenangan liberalisme atau kejayaan kapitalisme semata, namun sejarah selalu berdaptasi dan rutin berganti topeng.

Di permukaan, seakan Epstein tampil sebagai sains modern dengan kedermawanan dia membiayai riset sains mutakhir, teknologi masa depan, dan proyek-proyek intelektual yang menjanjikan kemajuan umat manusia. Universitas-universitas elite dan ilmuwan ternama menyambut dana itu sebagai bahan bakar rasionalitas dan inovasi.

Akan tetapi, di balik topeng filantropi tersebut, Epstein adalah predator sistemik yang memangsa tubuh dan masa depan anak-anak di bawah umur. Kenyataan ini bukan sekadar kontradiksi personal, melainkan fakta dari tatanan liberal-kapitalis itu sendiri—sebuah sistem yang mampu mentransformasikan dana hasil eksploitasi, menjadi narasi kemajuan yang tampak sah, bermoral, bahkan mulia.

Dalam kerangka ini, Epstein bukan penyimpangan dari sistem, melainkan produk ekstremnya. Kapitalisme global tidak hanya menciptakan akumulasi kekayaan, tetapi juga mekanisme pencucian moral (moral laundering) yang memungkinkan kekerasan disublimasikan menjadi prestise intelektual. Dana riset yang mengalir deras ke lembaga-lembaga akademik bukan semata bukti kejayaan rasionalitas modern, melainkan juga tanda kegagalan sistem dalam menyelesaikan janji etisnya sendiri, yaitu melindungi martabat manusia.

Saya mencoba membaca ini Melalui lensa dekonstruksi Derridean, dalam hal ini Epstein dapat dibaca sebagai “hantu” (specter) yang menolak untuk dikuburkan dalam narasi kemenangan liberalisme, Fukuyama mungkin mengira bahwa buku sejarah telah ditutup dengan ditandai oleh satu fakta kemenagan, tetapi Derrida mengingatkan bahwa yang “mati” dalam sejarah tak pernah benar-benar mati.

Ia kembali sebagai residu, sebagai jejak, sebagai gangguan yang menghantui struktur yang mengklaim dirinya mapan. Dalam logika hauntology, Epstein adalah kehadiran yang mengoyak ilusi stabilitas, bukti bahwa kemapanan liberal berdiri di atas fondasi rapuh yang dipenuhi kekerasan laten.

Eksploitasi, ketimpangan, dan impunitas tidak lenyap, mereka hanya disamarkan oleh bahasa filantropi, meritokrasi, dan kemajuan ilmiah. Epstein menjadi simbol bagaimana kekuasaan ekonomi dapat membeli keberpihakan hukum, memanipulasi institusi, dan menghindari pertanggungjawaban selama puluhan tahun.

Fakta bahwa ia nyaris “tak tersentuh” selama beberapa dekade bukan kegagalan individu aparat semata, melainkan cerminan dari ketidakmampuan struktural kapitalisme global untuk menghadirkan keadilan yang substantif. Ketika ideologi tertentu dianggap usang atau berbahaya, justru di situlah ia beroperasi secara diam-diam dalam tubuh sistem dominan.

Dalam konteks ini, kecemasan mayoritas masyarakat terhadap “kebangkitan ideologi kiri” sering kali merupakan proyeksi ketakutan yang keliru. Yang sebenarnya ditakuti bukanlah hantu sosialisme atau egalitarianisme, melainkan pengakuan bahwa sistem dominan telah gagal memenuhi janji moralnya.

Hantu masa lalu—dalam bentuk tuntutan keadilan sosial, kesetaraan struktural, dan pembelaan terhadap yang tertindas—kembali mengetuk kesadaran kolektif bukan sebagai ancaman totalitarian, tetapi sebagai pengingat bahwa hutang sejarah terhadap korban eksploitasi belum pernah dilunasi.

Dekonstruksi, pada titik ini, tidak bisa bersikap netral. Ia menuntut keberpihakan etis. Membongkar status quo Epstein berarti menyingkap relasi kuasa yang selama ini disembunyikan oleh legitimasi akademik dan kekuatan modal.

Jika metafora “malaikat sayap-kiri” dipahami sebagai simbol keberpihakan pada mereka yang dibisukan, para penyintas yang suaranya ditenggelamkan oleh reputasi, jaringan elite, dan kekayaan—maka dekonstruksi menjadi tindakan intelektual yang mendesak dan politis.

Sejarah, dengan demikian, belum dan tidak akan pernah berakhir selama masih ada jeritan ketidakadilan yang bergema di balik dinding-dinding laboratorium megah dan aula universitas prestisius.

Alih-alih meratapi trauma sejarah dengan ketakutan akan perubahan, kita justru diajak untuk berdamai dengan kenyataan bahwa nilai-nilai kemanusiaan yang progresif sering lahir dari upaya meruntuhkan kemapanan yang korup.

Keberpihakan pada kemanusiaan yang transformatif adalah satu-satunya jalan keluar dari siklus ini. Ia menuntut bukan sekadar reformasi simbolik, melainkan pembongkaran struktur yang memungkinkan kekerasan disucikan atas nama kemajuan, padahal contoh yang kini makin jelas, klaim tentang “akhir sejarah” hanyalah fatamorgana; sebuah tirai ideologis yang berusaha menutupi kegelisahan peradaban yang belum selesai berurusan dengan keadilan.

Sejarah akan terus berjalan, selama ada keberanian untuk menuntut pertanggungjawaban dari mereka yang selama ini bersembunyi di balik cahaya intelektulitas dan uang. Kita mesti terus mengevaluasi apa yang berada dibalik teks itu seperti spirit dekonstruksi, agar kita tidak sekedar dicekoki penghakiman oleh para pemangsa, layaknya Drama kelompok serigala menyelidiki kejahatan serigala, seperti pada drama kasus Epstein ini.

Penulis: Muhammad Kamal

(Alumni PascaSarjana Sosiologi Agama UIN SUKA)

  • Penulis: -
  • Editor: Suaib PR

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Gusdurian Makassar Matangkan Konsep Advokasi Penyelesaian Krisis Air di Buloa

    Gusdurian Makassar Matangkan Konsep Advokasi Penyelesaian Krisis Air di Buloa

    • calendar_month Minggu, 8 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 336
    • 0Komentar

    nulondalo.com, Makassar– Sejumlah penggerak inti komunitas Gusdurian Makassar menggelar rapat terbatas di Kompleks Perumahan Permata Sudiang. Pertemuan tersebut digelar untuk menyikapi krisis air bersih yang sudah menahun di Kelurahan Buloa, Kecamatan Tallo, Kota Makassar. “Pertemuan hari ini berupaya merumuskan kerja-kerja advokasi, dengan terlebih dahulu membuat perencanaan,” ujar Ahmad Fatin Ilfi, fasilitator pertemuan. Sabtu, 7 Maret […]

  • Menulis Ulang Sejarah; Pentingkah?

    Menulis Ulang Sejarah; Pentingkah?

    • calendar_month Minggu, 29 Jun 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 172
    • 0Komentar

    (catatan reflektif untuk gagasan penulisan ulang sejarah Indonesia) Sejarah, pada hakikatnya, tidak pernah beku. Ia adalah aliran waktu yang terus bergerak, terus diinterpretasi ulang. Gagasan untuk menulis ulang sejarah, dalam kondisi tertentu, bukanlah hal yang tabu—bahkan sebaliknya, bisa menjadi langkah penting untuk menyembuhkan luka kolektif, membetulkan narasi yang timpang, dan membuka ruang bagi suara-suara yang […]

  • Merdeka, tapi Bagi Siapa? Catatan Kecil soal Kebebasan Beragama Menjelang 17 Agustus

    Merdeka, tapi Bagi Siapa? Catatan Kecil soal Kebebasan Beragama Menjelang 17 Agustus

    • calendar_month Kamis, 13 Agt 2026
    • account_circle Wahiyudin Mamonto
    • visibility 178
    • 0Komentar

    Setiap kali Agustus tiba, saya selalu berpikir: kemerdekaan itu sebenarnya milik siapa? Bendera dikibarkan, lomba panjat pinang digelar, pidato-pidato disiapkan. Tapi di balik semua kemeriahan itu, ada pertanyaan yang jarang benar-benar dijawab tuntas—apakah setiap warga negara, tanpa memandang apa yang ia yakini, benar-benar sudah merdeka untuk beribadah dan hidup sesuai keyakinannya? Kalau bicara soal aturan, […]

  • Bersuara

    Bersuara

    • calendar_month Rabu, 13 Mei 2026
    • account_circle Pepi Al-Bayqunie
    • visibility 160
    • 0Komentar

    Dunia maya kembali bergeliat. Kali ini di sebuah ajang cerdas cermat setingkat SMA terjadi peristiwa. Boleh jadi, peristiwa seperti ini sudah sering terjadi, tetapi baru kali ini terblow up.  Salah seorang peserta  dari kelompok C menginterupsi keputusan juri yang memberinya nilai minus untuk jawaban yang sama yang justru diberi nilai plus kepada kelompok lain. Sang peserta mencoba […]

  • Dijaga TNI, Tapi Cuma Pisang dan Ubi: Sengketa Lahan Warga vs Pertamina di Maros Makin Panas

    Dijaga TNI, Tapi Cuma Pisang dan Ubi: Sengketa Lahan Warga vs Pertamina di Maros Makin Panas

    • calendar_month Jumat, 16 Jan 2026
    • account_circle Sakti
    • visibility 223
    • 0Komentar

    nulondalo.com, MAROS–Sengketa kepemilikan lahan antara warga dan PT Pertamina di Jalan Pertamina, Kelurahan Temmapaduae, Kecamatan Marusu, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, kian memanas dan memicu sorotan publik. Ahli waris menegaskan bahwa di lokasi tersebut tidak terdapat kilang, pipa, maupun aktivitas produksi Pertamina, Jumat (16/1/2026). Meski demikian, sejumlah oknum TNI terlihat berjaga di lahan yang diklaim sebagai […]

  • IAI Gorontalo Desak Hentikan Pembongkaran Cagar Budaya Rumah Tinggi, Ingatkan Ancaman Pidana

    IAI Gorontalo Desak Hentikan Pembongkaran Cagar Budaya Rumah Tinggi, Ingatkan Ancaman Pidana

    • calendar_month Minggu, 21 Jun 2026
    • account_circle Redaksi
    • visibility 509
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Gorontalo mendesak seluruh pihak untuk segera menghentikan segala bentuk pembongkaran dan perusakan terhadap bangunan bersejarah “Rumah Tinggi” atau bekas Kantor dan Rumah Dinas Kepala Jawatan Pos, Telegraf, dan Telepon (PTT) di Kota Gorontalo. Desakan tersebut disampaikan melalui Pernyataan Sikap Nomor 081/PS/IAI-GTO/VI/2026 yang diterbitkan pada 18 Juni 2026 sebagai respons […]

expand_less