Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Malimbong dan Madzilalang: Merunut Cahaya di Balik Tumpukan Ilmu

  • account_circle Muhammad Kamal
  • calendar_month Senin, 9 Feb 2026
  • visibility 384
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Di zaman ketika ilmu melimpah dan akses pengetahuan terbuka lebar sepertinya makin Ada jarak yang antara mengetahui dan menjadi—jarak yang tak selalu bisa dijembatani oleh kecerdasan.
Ternyata tidak semua Ilmu menjadi jalan kebijaksanaan, ilmu yang tidak meneduhkan, sering kali hanya menjadi beban kesombongan.

Dalam tradisi lisan masyarakat Mandar, ada satu kata yang diucapkan dengan penuh hormat: Malimbong. Ia bukan pujian ringan, apalagi sanjungan kosong. Malimbong adalah pengakuan sosial atas keluasan pandangan, keluasan bacaan, dan ketajaman nalar seseorang. Ia menandai perjalanan intelektual yang panjang—tentang seseorang yang telah lama bergulat dengan teks, realitas, dan logika. Malimbong adalah kecakapan berpikir yang tampak dan bisa diukur.

Namun, di lorong-lorong batin yang lebih sunyi, masyarakat Mandar mengenal istilah lain yang jauh lebih hening, tetapi justru lebih berat bobotnya: Madzilalang. Bagi saya, Madzilalang adalah tahap ketika ilmu berhenti menjadi sekadar isi kepala, lalu menjelma menjadi sikap hidup. Di titik ini, pengetahuan tidak lagi berdiri sebagai data, tetapi telah bersemayam sebagai laku, sebagai cara hadir di dunia. Jika Malimbong bertanya seberapa luas yang kau ketahui, Madzilalang bertanya sejauh apa ilmu itu mengubahmu. Bukan lagi soal “tahu”, melainkan soal “menjadi”.
Orang yang sampai pada maqam Madzilalang biasanya teduh. Ilmunya tidak gaduh, tidak mencari sorotan, tidak merasa perlu membuktikan diri. Ia tidak sibuk menata kata agar terdengar pintar. Justru dari ketenangannya, kebijaksanaan memancar. Ia seperti cahaya: tidak berisik menjelaskan dirinya, tetapi kehadirannya membuat sekitar menjadi terang, arah menjadi jelas, dan orang lain merasa aman.

Diskusi dengan Kak Anchu tempo hari mengguncang kesadaran saya. Kita hidup di zaman ketika sekolah tinggi bukan lagi barang langka. Gelar akademik berderet, disiplin ilmu dikuasai, perdebatan dikelola dengan sangat lihai. Banyak di antara kita—tanpa ragu—layak disebut Malimbong. Namun, ada satu kegelisahan yang sulit disingkirkan: mengapa keluasan ilmu sering tidak berbanding lurus dengan keteduhan sikap?

Barangkali ini berat karena Madzilalang menuntut sesuatu yang lebih daripada kecerdasan yaitu penyelesaian terhadap ego. Pada tahap ini, seseorang mesti berdamai dengan kesombongan yang kerap bersembunyi di balik prestasi dan gelar. Ilmu tidak lagi dipakai untuk menaklukkan, mengalahkan, atau mendominasi. Yang memancar justru kesederhanaan, kasih sayang, dan kebijaksanaan yang hidup. Ilmu berubah orientasi: dari alat kuasa menjadi jalan pengabdian.

benang merahnya terlihat jelas bahwa Tanggung jawab ilmu tidak boleh berhenti di kepala atau di lisan. Ia harus melampaui kepentingan diri, lalu kembali kepada orientasi yang lebih luhur—kepada Yang Maha Pengasih. Ilmu sejati mesti diurus dengan cinta. Dan cinta, barangkali, adalah bentuk tindakan manusia yang paling dekat dengan kebenaran sejatinya.

Sayangnya, ilmu yang bernyawa seperti ini sering tersingkir oleh arus zaman yang serba material. Kita terlalu sibuk mengoleksi pengakuan, prestise, dan legitimasi formal, tetapi lupa merawat ruhani—hati yang seharusnya menjadi pusat dari seluruh pengetahuan. Padahal, ukuran paling nyata dari ilmu seseorang bukanlah kefasihan argumennya, melainkan dampak kehadirannya: apakah ia membuat orang lain merasa aman, lapang, dan damai.

Tulisan ini bukan sekadar refleksi, melainkan juga teguran bagi keangkuhan saya sendiri—yang kerap merasa tahu banyak, tetapi lalai mengenal diri, dan lupa kepada Dia yang menggenggam seluruh pengetahuan dan keberadaan ini.
Kita sering terlena. Negara mungkin terus bergerak maju, semakin dinamis dalam percaturan global. Tetapi tanpa Madzilalang, kita kehilangan ruh spiritualitas. Tak heran bila banyak aktor pembangunan lahir sebagai pribadi-pribadi yang sangat cakap—Malimbong—namun gagal menyentuh hati dan tak memiliki daya ubah yang sungguh-sungguh, sebab pesan tak terpancar, ilmu tidak pernah benar-benar menetap dalam jiwanya. Wallāhu a‘lam biṣ-ṣawāb.

Penulis : Alumni PascaSarjana Sosiologi Agama UIN SUKA

  • Penulis: Muhammad Kamal

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • 64 Pejabat Dilantik, Pemkab Maros Siap Gaspol Jalankan Program

    64 Pejabat Dilantik, Pemkab Maros Siap Gaspol Jalankan Program

    • calendar_month Senin, 5 Jan 2026
    • account_circle Sakti
    • visibility 331
    • 0Komentar

    Nulondalo.com, Maros – Pemerintah Kabupaten Maros kembali melakukan perombakan birokrasi melalui pengumuman dan pelantikan pejabat pimpinan tinggi pratama (eselon II) serta pejabat administrator, Senin, 5 Januari 2025. Prosesi pelantikan berlangsung khidmat di Lapangan Pallantikang, Kabupaten Maros. Sebanyak 10 jabatan eselon II resmi diisi melalui mekanisme lelang jabatan, menandai tuntasnya pengisian seluruh posisi strategis di lingkup […]

  • Tonggeyamo: Cara Gorontalo Menyambut Puasa

    Tonggeyamo: Cara Gorontalo Menyambut Puasa

    • calendar_month Rabu, 18 Feb 2026
    • account_circle Dr. Husin Ali
    • visibility 269
    • 0Komentar

    Refleksi Antropologis tentang Perbedaan, Kesepakatan, dan Kedewasaan Beragama Setiap Ramadhan selalu diawali oleh satu pertanyaan yang terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya menyimpan kegelisahan yang dalam: kapan kita mulai berpuasa? Pertanyaan ini bukan semata soal tanggal, melainkan tentang ketenangan batin, rasa aman dalam beribadah, dan kerinduan untuk menjalani waktu suci secara bersama. Dari tahun ke tahun, saya […]

  • Dikejar Notifikasi

    Dikejar Notifikasi

    • calendar_month Senin, 26 Jan 2026
    • account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
    • visibility 311
    • 0Komentar

    Di zaman sekarang, manusia tidak lagi dikejar macan, tapi dikejar notifikasi. Dulu orang bangun subuh karena azan, sekarang karena pesan WhatsApp bertuliskan: “Segera lunasi pinjaman Anda!” Inilah zaman ketika rezeki datang lewat transfer, tapi musibah juga ikut nyempil lewat aplikasi bernama pinjaman online, atau yang lebih akrab disebut: pinjol. Awalnya pinjol katanya solusi. Cepat, mudah, […]

  • Polemik Koperasi KIB Popayato Timur Memanas, Diduga Tak Lahir dari Musyawarah Petani Plasma

    Polemik Koperasi KIB Popayato Timur Memanas, Diduga Tak Lahir dari Musyawarah Petani Plasma

    • calendar_month Kamis, 9 Apr 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 351
    • 0Komentar

    nulondalo.com –  Polemik keberadaan Koperasi Karya Inovasi Bersama (KIB) di Popayato Timur, Pohuwato kian memanas setelah muncul dugaan bahwa koperasi tersebut tidak lahir dari kehendak petani plasma, melainkan dari persetujuan internal manajemen perusahaan. Sejumlah perwakilan masyarakat menilai, pembentukan koperasi tersebut cacat secara prinsipil karena tidak melalui mekanisme musyawarah rapat anggota, yang seharusnya menjadi dasar utama […]

  • TUMBUHKAN KESADARAN LINGKUNGAN SEJAK USIA DINI, MAHASISWA KKN TEMATIK PERUBAHAN IKLIM UNIVERSITAS HASANUDDIN GELAR EDUKASI PEMILAHAN SAMPAH DI DUA SEKOLAH DASAR DESA PAJUKUKANG

    TUMBUHKAN KESADARAN LINGKUNGAN SEJAK USIA DINI, MAHASISWA KKN TEMATIK PERUBAHAN IKLIM UNIVERSITAS HASANUDDIN GELAR EDUKASI PEMILAHAN SAMPAH DI DUA SEKOLAH DASAR DESA PAJUKUKANG

    • calendar_month Sabtu, 25 Jul 2026
    • account_circle Hardiansyah
    • visibility 154
    • 0Komentar

    Nulondalo.com–Maros,Permasalahan sampah masih menjadi salah satu tantangan lingkungan yang dihadapi banyak daerah, termasuk di wilayah pedesaan. Kebiasaan mencampur berbagai jenis sampah dan membuangnya tanpa melalui proses pemilahan menjadi penyebab meningkatnya pencemaran lingkungan serta menghambat proses pengelolaan sampah. Berangkat dari kondisi tersebut, Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Perubahan Iklim Gelombang 116 Universitas Hasanuddin Posko Desa […]

  • Ketika Simbol Diserang: Analisis Sosiologi Politik atas Tuduhan Ijazah Palsu Presiden Jokowi

    Ketika Simbol Diserang: Analisis Sosiologi Politik atas Tuduhan Ijazah Palsu Presiden Jokowi

    • calendar_month Senin, 28 Apr 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 179
    • 0Komentar

    Oleh : Mukari – (Dosen Sosiologi Fisipol Undar) Perdebatan sengit tentang kredibilitas ijazah Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah mewarnai ruang publik Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Meskipun beberapa klarifikasi resmi telah diberikan, masalah ini terus muncul, terutama melalui media sosial dan jaringan komunikasi alternatif. Fenomena ini menunjukkan bahwa tuduhan tersebut telah menjadi bagian dari pertarungan […]

expand_less