Penulis yang Hidup dan Mati di Era AI
- account_circle Pepi Al-Bayqunie
- calendar_month 15 jam yang lalu
- visibility 57
- print Cetak

Pepi Al-Bayqunie/Istimewa
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Dunia penulisan sedang mengalami turbulensi seiring dengan munculnya Artificial Intelligence (AI). Penulis-penulis baru berbasis AI bermunculan. Para penulis konvensional mulai merasakan ruang yang dulu mereka kuasai tak lagi eksklusif. Dunia yang sebelumnya otentik dan terbentuk melalui proses panjang kini ditantang dengan hadirnya tulisan-tulisan yang lahir dari mesin. Lebih cepat secara proses, lebih rapi secara struktur, dan lebih massif secara gerakan.
Ini berarti bahwa revolusi sedang terjadi. Seperti revolusi-revolusi sebelumnya, selalu ada yang tersingkir. Dalam setiap perubahan besar, ada yang mati, tetapi ada pula yang menemukan cara baru untuk hidup. Sejarah biasanya selalu berpihak pada mereka yang mampu menyesuaikan diri. Dari tulisan tangan ke mesin ketik, dari mesin ketik ke komputer, dan kini ke AI—perubahan adalah keniscayaan. Pilihan paling rasional bukan menolak, melainkan menyesuaikan diri tanpa kehilangan identitas.
Penulis konvensional yang bersikeras mempertahankan cara kerja lama tanpa adaptasi, pelan-pelan akan tertinggal dan bisa jadi, mati. Mereka mungkin mampu menjaga orisinalitas, tetapi kecepatan produksi yang timpang membuat mereka dikalahkan oleh penulis yang memanfaatkan mesin.
Namun di sisi lain, penulis baru yang lahir di era AI juga menghadapi tantangan tersendiri. Jika mereka tidak memiliki kerangka ide yang jelas, mereka akan tampak seperti orang yang mengetahui segalanya, padahal sesungguhnya tidak memahami apa-apa. Pengetahuan yang mereka produksi bersifat eksplisit, tetapi tidak memiliki kedalaman tacit. Tulisan mereka terlihat cerdas, sistematis, bahkan mengesankan. Namun ketika dibaca lebih dalam, ia terasa seperti produk—bukan pergulatan. Mereka hakikatnya bukan penulis, melainkan operator atau mungkin kurir teks. Mereka mungkin hidup secara teknis, tetapi pada dasarnya mati secara intelektual.
Sebagai penulis yang tumbuh dalam dunia konvensional dan kini memasuki dunia AI, saya merasakan dua kenikmatan yang berbeda. Di dunia lama, saya menikmati proses panjang memelihara ide. Menyelesaikan satu novel dalam hitungan tahun menghadirkan kepuasan yang tidak tergantikan. Sementara di dunia AI, saya menemukan kenikmatan lain: kecepatan dan presisi. Sebuah gagasan dapat segera diuji, dirapikan, dan dipertajam dalam waktu yang jauh lebih singkat.
Pertanyaannya kemudian: mungkinkah dua kenikmatan itu dipertemukan? Bagi saya, jawabannya sangat mungkin. Justru di sanalah tantangan sekaligus peluangnya. Untuk itu saya mengusulkan sebuah pendekatan yang saya sebut iterative curation—sebuah cara kerja yang menjaga kedaulatan ide di tangan penulis, sambil tetap adaptif terhadap ritme produksi di era AI.
Dalam pendekatan ini, ide tidak boleh lahir dari mesin. Ia lahir dari kegelisahan penulis sendiri, dari posisi ideologis yang jelas. Penulis tidak harus mengetahui segalanya, tetapi ia harus tahu di mana ia berdiri. Penulis tidak boleh hanya datang dengan prompting, tetapi gagasan. Penulis yang memiliki posisi ideologis biasanya terlihat dalam gagasan-gagasan yang ia tawarkan.
Setelah ide matang, penulis menyusun alur: paragraf demi paragraf, arah argumentasi, teori yang hendak dipakai. Ia menentukan medan sebelum mesin masuk membantu. Pada tahap ini, AI hanya berfungsi sebagai asisten teknis—membantu menyusun kerangka, merapikan struktur, atau menawarkan variasi formulasi.
Langkah selanjutnya dan paling penting dalam metode ini adalah kurasi. Penulis membaca kembali teks yang sudah disusun AI dengan sikap kritis. Ia memangkas bagian yang berlebihan. Ia memastikan teori yang digunakan relevan, bukan sekadar cocokologi. Membongkar kalimat yang terlalu steril dan terlalu rapi. Menjaga agar teks tetap memiliki jiwa, bukan sekadar nikmat dibaca. Juga, memastikan teks itu sesuai dengan “karakter” yang telah penulis miliki selama ini. Seringkali AI berhasil memproduksi kombinasi diksi canggih yang melampui kemampuan kita, tetapi kita harus rendah hati mengatakan, itu bukan saya.
Setelah proses kurasi selesai, penulis dapat melakukan penyuntingan langsung secara mandiri atau “merendam” kembali naskah tersebut ke dalam AI sebagai tahap penyuntingan akhir. Jika masih menggunakan AI pada tahap ini, perintah harus sangat jelas dan terbatas: AI hanya diberi mandat untuk merapikan tata bahasa, memperbaiki struktur kalimat yang janggal, serta menyempurnakan aspek teknis kebahasaan. Ia tidak boleh menambah gagasan, tidak boleh mengganti posisi argumentasi, dan tidak boleh menyisipkan ide baru. Fungsi AI pada fase ini sebagai editor teknis. Dengan pembatasan ini, kedaulatan makna tetap berada di tangan penulis, sementara presisi bahasa dapat ditingkatkan tanpa mengorbankan identitas dan otoritas intelektualnya.
Dengan demikian, cara kerja Iterative Curation melampaui sekadar prompting. Ia adalah metode yang memastikan manusia tetap menjadi pusat makna dalam setiap proses penulisan. Kedaulatan gagasan tetap berada di tangan penulis, sementara AI berperan sebagai alat bantu yang membuat teks lebih halus, rapi, dan mudah dibaca. Fungsi AI di sini menyempurnakan ekspresi bukan menciptakan ide.
Artinya di era AI saat ini, persoalannya bukan lagi apakah mesin bisa menggantikan para penulis. Persoalannya adalah: apakah penulis masih mau bersusah untuk hadir utuh dan sadar penuh dalam tulisannya? Atau menyerahkan seluruhnya kepada mesin.
Penulis : Jamaah GUSDURian, tinggal di Sulawesi Selatan yang lahir dengan nama Saprillah
- Penulis: Pepi Al-Bayqunie

Saat ini belum ada komentar