Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Penulis yang Hidup dan Mati di Era AI

  • account_circle Pepi Al-Bayqunie
  • calendar_month Jumat, 13 Feb 2026
  • visibility 315
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Dunia penulisan sedang mengalami turbulensi seiring dengan munculnya Artificial Intelligence (AI). Penulis-penulis baru berbasis AI bermunculan. Para penulis konvensional mulai merasakan ruang yang dulu mereka kuasai tak lagi eksklusif. Dunia yang sebelumnya otentik dan terbentuk melalui proses panjang kini  ditantang dengan hadirnya tulisan-tulisan yang lahir dari mesin. Lebih cepat secara proses, lebih rapi secara struktur, dan lebih massif secara gerakan.

Ini berarti bahwa revolusi sedang terjadi. Seperti revolusi-revolusi sebelumnya, selalu ada yang tersingkir. Dalam setiap perubahan besar, ada yang mati, tetapi ada pula yang menemukan cara baru untuk hidup. Sejarah biasanya selalu berpihak pada mereka yang mampu menyesuaikan diri. Dari tulisan tangan ke mesin ketik, dari mesin ketik ke komputer, dan kini ke AI—perubahan adalah keniscayaan. Pilihan paling rasional bukan menolak, melainkan menyesuaikan diri tanpa kehilangan identitas.

Penulis konvensional yang bersikeras mempertahankan cara kerja lama tanpa adaptasi, pelan-pelan akan tertinggal dan bisa jadi, mati. Mereka mungkin mampu menjaga orisinalitas, tetapi kecepatan produksi yang timpang membuat mereka dikalahkan oleh penulis yang memanfaatkan mesin.

Namun di sisi lain, penulis baru yang lahir di era AI juga menghadapi tantangan tersendiri. Jika mereka tidak memiliki kerangka ide yang jelas, mereka akan tampak seperti orang yang mengetahui segalanya, padahal sesungguhnya tidak memahami apa-apa. Pengetahuan yang mereka produksi bersifat eksplisit, tetapi tidak memiliki kedalaman tacit. Tulisan mereka terlihat cerdas, sistematis, bahkan mengesankan. Namun ketika dibaca lebih dalam, ia terasa seperti produk—bukan pergulatan. Mereka hakikatnya bukan penulis, melainkan operator atau mungkin kurir teks. Mereka  mungkin hidup secara teknis, tetapi pada dasarnya mati secara intelektual.

Sebagai penulis yang tumbuh dalam dunia konvensional dan kini memasuki dunia AI, saya merasakan dua kenikmatan yang berbeda. Di dunia lama, saya menikmati proses panjang memelihara ide. Menyelesaikan satu novel dalam hitungan tahun menghadirkan kepuasan yang tidak tergantikan. Sementara di dunia AI, saya menemukan kenikmatan lain: kecepatan dan presisi. Sebuah gagasan dapat segera diuji, dirapikan, dan dipertajam dalam waktu yang jauh lebih singkat.

Pertanyaannya kemudian: mungkinkah dua kenikmatan itu dipertemukan? Bagi saya, jawabannya sangat mungkin. Justru di sanalah tantangan sekaligus peluangnya. Untuk itu saya mengusulkan sebuah pendekatan yang saya sebut iterative curation—sebuah cara kerja yang menjaga kedaulatan ide di tangan penulis, sambil tetap adaptif terhadap ritme produksi di era AI.

Dalam pendekatan ini, ide tidak boleh lahir dari mesin. Ia lahir dari kegelisahan penulis sendiri, dari posisi ideologis yang jelas. Penulis tidak harus mengetahui segalanya, tetapi ia harus tahu di mana ia berdiri. Penulis tidak boleh hanya datang dengan prompting, tetapi gagasan.  Penulis yang memiliki posisi ideologis biasanya terlihat dalam gagasan-gagasan yang ia tawarkan.

Setelah ide matang, penulis menyusun alur: paragraf demi paragraf, arah argumentasi, teori yang hendak dipakai. Ia menentukan medan sebelum mesin masuk membantu. Pada tahap ini, AI hanya berfungsi sebagai asisten teknis—membantu menyusun kerangka, merapikan struktur, atau menawarkan variasi formulasi.

Langkah selanjutnya dan paling penting dalam metode ini adalah kurasi. Penulis membaca kembali teks yang sudah disusun AI dengan sikap kritis. Ia memangkas bagian yang berlebihan. Ia memastikan teori yang digunakan relevan, bukan sekadar cocokologi.  Membongkar kalimat yang terlalu steril dan terlalu rapi. Menjaga agar teks tetap memiliki jiwa, bukan sekadar nikmat dibaca. Juga, memastikan teks itu sesuai dengan “karakter” yang telah penulis miliki selama ini. Seringkali AI berhasil memproduksi kombinasi diksi canggih yang melampui kemampuan kita, tetapi kita harus rendah hati mengatakan, itu bukan saya. 

Setelah proses kurasi selesai, penulis dapat melakukan penyuntingan langsung secara mandiri atau “merendam” kembali naskah tersebut ke dalam AI sebagai tahap penyuntingan akhir. Jika masih menggunakan AI pada tahap ini, perintah harus sangat jelas dan terbatas: AI hanya diberi mandat untuk merapikan tata bahasa, memperbaiki struktur kalimat yang janggal, serta menyempurnakan aspek teknis kebahasaan. Ia tidak boleh menambah gagasan, tidak boleh mengganti posisi argumentasi, dan tidak boleh menyisipkan ide baru. Fungsi AI pada fase ini sebagai editor teknis. Dengan pembatasan ini, kedaulatan makna tetap berada di tangan penulis, sementara presisi bahasa dapat ditingkatkan tanpa mengorbankan identitas dan otoritas intelektualnya.

Dengan demikian, cara kerja Iterative Curation melampaui sekadar prompting. Ia adalah metode yang memastikan manusia tetap menjadi pusat makna dalam setiap proses penulisan. Kedaulatan gagasan tetap berada di tangan penulis, sementara AI berperan sebagai alat bantu yang membuat teks lebih halus, rapi, dan mudah dibaca. Fungsi AI di sini menyempurnakan ekspresi bukan menciptakan ide.

Artinya di era AI saat ini, persoalannya bukan lagi apakah mesin bisa menggantikan para penulis. Persoalannya adalah: apakah penulis masih mau bersusah untuk hadir utuh dan sadar penuh dalam tulisannya? Atau menyerahkan seluruhnya kepada mesin.

Penulis : Jamaah GUSDURian, tinggal di Sulawesi Selatan yang lahir dengan nama Saprillah

  • Penulis: Pepi Al-Bayqunie

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Hizbut Tahrir Bangkit, Satkornas Banser NU: Saatnya Pemerintah Mengambil Langkah Tegas

    Hizbut Tahrir Bangkit, Satkornas Banser NU: Saatnya Pemerintah Mengambil Langkah Tegas

    • calendar_month Rabu, 26 Feb 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 175
    • 0Komentar

    Nulondalo – Organisasi terlarang yang telah dibubarkan pemerintah pada 19 Juli 2017 bernama Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) kembali bangkit di beberapa titik di Indonesia. Komandan Satuan Koordinasi Nasional Banser PP GP Ansor, H. Syafiq Syauqi menyampaikan bahwa HTI telah dibubarkan Pemerintah melalui Kementerian Hukum dan HAM karena bertentangan dengan Pancasila, UUD 1945, dan mengancam keutuhan NKRI. “GP […]

  • Bedah Buku 100 Tahun Ahmadiyah di Indonesia, Perkuat Pesan Damai dan Kebersamaan Lintas Iman

    Bedah Buku 100 Tahun Ahmadiyah di Indonesia, Perkuat Pesan Damai dan Kebersamaan Lintas Iman

    • calendar_month Rabu, 24 Jun 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 233
    • 0Komentar

    nulondalo.com, MANADO – Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Manado bersama Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) menggelar bedah buku Muslim Ahmadiyah di Indonesia: 100 Tahun Keberagamaan dan Kerja Kemanusiaan sebagai bagian dari rangkaian peringatan 100 tahun Ahmadiyah di Indonesia, Selasa (23/6/2026). Kegiatan yang mengusung tema “Torang Samua Basudara: Merajut Kebersamaan dan Menjaga Damai Lewat Aksi Kemanusiaan Lintas […]

  • Memaknai Tema Natal 2020 “Mereka akan Menamakan Dia Imanuel”

    Memaknai Tema Natal 2020 “Mereka akan Menamakan Dia Imanuel”

    • calendar_month Jumat, 25 Des 2020
    • account_circle Dr. Samsi Pomalingo, MA
    • visibility 112
    • 0Komentar

    Natal bukan hanya sekedar momen ritual umat kristiani dalam rangka memperingati hari kelahiran Yesus Kristus. Tapi Natal juga menjadi arena refleksi dan introspeksi bagi umat Kristiani dalam kehidupan sosial. Bagaimana kecintaan mereka terhadap Yesus dan juga bagaimana mereka menterjemahkan nilai-nilai kasih dalam diri Yesus Kristus. Natal tahun 2020 mengusung tema “Mereka Akan Menamakan Dia Imanuel”. Tema […]

  • Mendagri Mengapresiasi Realisasi APBD Pemprov Gorontalo Triwulan II

    Mendagri Mengapresiasi Realisasi APBD Pemprov Gorontalo Triwulan II

    • calendar_month Senin, 29 Sep 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 166
    • 0Komentar

    Pemerintah Provinsi Gorontalo mencatatkan realisasi belanja dan pendapatan yang baik di triwulan II tahun 2025. Hasil capaian tersebut mendapat apresiasi oleh Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian pada saat memimpin rapat koordinasi inflasi melalui sambungan Zoom, Senin (7/7/2025). Realisasi belanja APBD Pemprov Gorontalo triwulan II 2025 berada di peringkat sembilan nasional dan atau peringkat satu se-Sulawesi […]

  • Piutang Langit

    Piutang Langit

    • calendar_month Sabtu, 7 Mar 2026
    • account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
    • visibility 373
    • 0Komentar

    Ramadhan selalu menghadirkan fenomena menarik dalam dunia akuntansi rumah tangga. Tiba-tiba grafik sedekah naik, kurva infak menanjak, dan neraca keikhlasan ikut-ikutan surplus. Di sisi lain, daftar belanja takjil dan THR juga ikut meledak. Inilah bulan ketika manusia rajin “mengirim proposal” ke langit. Sebagai akademisi akuntansi, saya sering bercanda kepada mahasiswa: “Kalau di dunia ada piutang […]

  • Diduga Korupsi Anggaran, APPRI Desak KPK Periksa Kadis SDABMBK Kabupaten Deli

    Diduga Korupsi Anggaran, APPRI Desak KPK Periksa Kadis SDABMBK Kabupaten Deli

    • calendar_month Selasa, 27 Jan 2026
    • account_circle Risman Lutfi
    • visibility 313
    • 0Komentar

    nulondalo.com, Jakarta – Aliansi Pemuda Peduli Rakyat Indonesia (APPRI) menggelar aksi unjuk rasa di gedung Komisi Pemberantasan Korupsi Republik Indonesia ( KPK RI ) Jakarta , Selasa (27/01/2026). Aksi tersebut menyoroti dugaan korupsi yang terjadi di Dinas Sumber Daya Air, Bina Marga, dan Bina Konstruksi (SDABMBK) Kabupaten Deli Serdang pada tahun anggaran 2025. Koordinator aksi, […]

expand_less