Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Aktivisme atau fanatisme sebagai Marabahaya Monopoli Sejarah

  • account_circle Muhammad Kamal
  • calendar_month Rabu, 17 Jun 2026
  • visibility 156
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Setiap zaman memiliki aktivisnya sendiri. Namun dalam ruang publik Indonesia, sering muncul kecenderungan untuk menempatkan aktivisme seolah-olah identik dengan generasi atau figur tertentu, terutama mereka yang terlibat dalam Reformasi 1998. Nama-nama itu terus dihadirkan sebagai simbol perubahan, sementara pengalaman generasi setelahnya sering dipandang kurang otentik, kurang heroik, atau bahkan dianggap tidak memiliki legitimasi historis yang sama.

Namun sejarah tidak pernah bekerja dengan cara demikian. Perubahan sosial tidak lahir dari satu generasi, apalagi dari satu orang. Ia merupakan hasil dari akumulasi panjang kegelisahan masyarakat yang menemukan bentuk ekspresinya pada waktu dan konteks tertentu. Reformasi 1998 memang menjadi titik penting dalam perjalanan demokrasi Indonesia, tetapi ia bukan awal dan bukan pula akhir dari sejarah aktivisme di negeri ini.

Jauh sebelum mahasiswa menduduki gedung parlemen pada Mei 1998, sudah ada generasi yang berjuang melawan kolonialisme, memperjuangkan kemerdekaan, melawan otoritarianisme, membela hak-hak buruh, petani, dan kelompok-kelompok yang terpinggirkan. Begitu pula setelah Reformasi. Muncul generasi baru yang menghadapi tantangan berbeda: korupsi yang semakin canggih, oligarki ekonomi yang semakin kuat, kerusakan lingkungan, ketimpangan sosial, kriminalisasi kritik, hingga persoalan ruang digital yang kini menjadi arena baru pertarungan politik.

Karena itu, menganggap aktivisme sebagai identitas eksklusif milik generasi tertentu sesungguhnya bertentangan dengan logika sejarah itu sendiri.

Saya mencoba menggunakan kacamata teori otoritas karismatik Max Weber untuk digunakan sebagai alat baca. Weber menjelaskan bahwa salah satu sumber legitimasi sosial adalah karisma, yakni kepercayaan masyarakat terhadap kualitas luar biasa yang dimiliki seseorang. Dalam banyak gerakan sosial, karisma memainkan peran penting. Tokoh karismatik mampu menyatukan orang-orang yang sebelumnya tercerai-berai, memberi arah perjuangan, dan menghadirkan harapan di tengah situasi yang penuh ketidakpastian.

Namun Weber juga mengingatkan bahwa karisma mengandung bahaya yang sering tidak disadari. Ketika sebuah gerakan terlalu bergantung pada figur, perhatian masyarakat perlahan bergeser dari gagasan menuju individu. Yang dibela bukan lagi nilai-nilai yang diperjuangkan, melainkan sosok yang dianggap mewakili nilai tersebut.

Akibatnya, kritik terhadap tokoh sering dianggap sebagai serangan terhadap perjuangan itu sendiri.

Fenomena semacam ini cukup mudah ditemukan dalam kehidupan politik Indonesia hari ini. Banyak tokoh yang dahulu dikenal sebagai simbol perlawanan kini berada di dalam lingkaran kekuasaan. Sebagian menjadi pejabat negara, anggota parlemen, konsultan politik, atau bagian dari elite yang dahulu mereka kritik. Tidak ada yang salah dengan itu. Dalam sistem demokrasi, masuk ke dalam struktur kekuasaan merupakan pilihan politik yang sah.

Yang menjadi persoalan adalah ketika jasa masa lalu digunakan sebagai tameng untuk menghindari kritik masa kini.

Sering kali kita menemukan argumen yang kurang lebih berbunyi: “Dia tidak pantas dikritik karena dulu ikut menjatuhkan Orde Baru.” Logika seperti ini berbahaya karena menggeser ukuran moral dari tindakan yang sedang dilakukan kepada jasa yang pernah dilakukan. Padahal demokrasi tidak mengenal konsep tabungan moral yang membuat seseorang kebal dari kritik publik.

Jika dahulu seorang aktivis menuntut transparansi, maka ketika ia berkuasa transparansi yang sama harus dituntut kepadanya. Jika dahulu ia mengecam penyalahgunaan kekuasaan, maka ketika ia berada di dekat pusat kekuasaan kritik yang sama harus tetap berlaku. Jika tidak, maka yang tersisa hanyalah romantisme sejarah tanpa substansi demokrasi.

Lalu apakah aktivisme itu kesetiaan kepada tokoh atau kesetiaan kepada nilai?

Pertanyaan ini menjadi semakin relevan ketika demokrasi Indonesia menghadapi gejala yang oleh banyak ilmuwan politik disebut sebagai menguatnya oligarki dan kembalinya otoritarianisme, Dalam berbagai isu publik, sering terlihat bahwa pergantian rezim tidak selalu diikuti oleh perubahan struktur kekuasaan yang mendasar. Wajah-wajah politik boleh berganti, tetapi relasi antara kekuasaan, modal, dan kepentingan elite sering kali tetap bertahan.

Di tengah situasi seperti itu, fungsi aktivisme menjadi semakin penting. Aktivisme tidak boleh berhenti pada nostalgia tentang masa lalu. Ia harus hadir sebagai kesadaran kritis yang terus memeriksa siapa pun yang sedang memegang kekuasaan, tanpa melihat latar belakang ideologis maupun sejarah perjuangannya.

Sayangnya, sebagian diskursus publik justru masih terjebak pada politik figur. Kita lebih sering memperdebatkan siapa yang berbicara daripada apa yang dibicarakan. Sebuah kritik dianggap benar atau salah bukan karena kualitas argumennya, tetapi karena identitas orang yang menyampaikannya. Akibatnya, ruang publik menjadi arena pertarungan loyalitas, bukan arena pertukaran gagasan.

Padahal salah satu pelajaran terpenting dari teori Weber adalah bahwa karisma bersifat sementara. Karisma dapat menggerakkan perubahan, tetapi ia tidak cukup untuk menjaga keberlanjutan perubahan itu sendiri. Cepat atau lambat, sebuah gerakan harus beralih dari ketergantungan pada figur menuju penguatan institusi, gagasan, dan budaya kritis.

Jika tidak, gerakan tersebut akan mengalami apa yang oleh Weber disebut sebagai rutinisasi karisma. Tokoh tetap dipuja, tetapi semangat kritis yang dahulu menjadi sumber kekuatannya justru menghilang. Yang tersisa hanyalah simbol, sementara substansinya perlahan memudar.

kupikir keberhasilan sebuah gerakan sosial tidak diukur dari banyaknya pahlawan yang berhasil dilahirkan. Keberhasilannya justru terletak pada kemampuannya menciptakan warga negara yang berani berpikir mandiri dan tidak mudah tunduk pada otoritas siapa pun.

Jika mengeja Indonesia hari ini, tantangan terbesar aktivisme bukanlah melawan figur tertentu, melainkan melawan kecenderungan untuk mengkultuskan figur. Sebab demokrasi yang sehat tidak membutuhkan manusia-manusia yang dianggap selalu benar. Demokrasi membutuhkan warga yang berani bertanya, berani menguji kekuasaan, dan berani mengkritik bahkan orang-orang yang pernah mereka kagumi.

Saya percaya sejarah memang memiliki tokoh-tokohnya. Namun sejarah tidak pernah menjadi milik mereka. Tokoh datang dan pergi, generasi berganti, rezim berubah, tetapi ketidakadilan selalu menemukan bentuk baru. Karena itulah aktivisme akan terus lahir dalam tubuh generasi yang berbeda-beda.

Mungkin karena alasan itu, aktivisme lebih tepat dipahami sebagai tradisi kesadaran daripada identitas kelompok. Ia tidak diwariskan melalui nama besar, melainkan melalui keberanian untuk mempertanyakan apa yang dianggap mapan. Ia tidak hidup dalam pidato-pidato nostalgia, tetapi dalam kesediaan untuk tetap bersikap kritis ketika banyak orang memilih diam.

Sebab yang membuat seseorang layak disebut aktivis bukanlah fakta bahwa ia pernah melawan kekuasaan di masa lalu. Yang lebih penting adalah apakah ia masih memiliki keberanian untuk berdiri di pihak kebenaran ketika kepentingan, jabatan, dan kedekatan dengan kekuasaan menggodanya untuk berpaling. aktivisme bukan sebagai status, melainkan sebagai komitmen etis yang terus diuji oleh sejarah.

Penulis : Alumni Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

  • Penulis: Muhammad Kamal

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Papua selalu menjadi Hidangan dalam meja Kekuasaan

    Papua selalu menjadi Hidangan dalam meja Kekuasaan

    • calendar_month Senin, 27 Apr 2026
    • account_circle Muhammad Kamal
    • visibility 390
    • 0Komentar

    Tulisan ini dipantik dari bedah film dokumenter terbaru Dandhy Laksono berjudul Pesta Babi. Seperti karya-karyanya yang lain, film ini kembali menghadirkan gaya khas: provokatif, mengusik, dan sengaja menampar kenyamanan penonton terhadap cara negara bekerja. Ia memancing emosi, membuka luka lama, dan memaksa kita menatap sesuatu yang sering sengaja disamarkan oleh bahasa resmi pembangunan. Meski bagi […]

  • LBH PB PMII Kecam Dugaan Illegal Logging CV AEM di Sula, Desak Pemerintah Cabut Izin Perusahaan dan Copot Kepala UPTD KPH Kepulauan Sula

    LBH PB PMII Kecam Dugaan Illegal Logging CV AEM di Sula, Desak Pemerintah Cabut Izin Perusahaan dan Copot Kepala UPTD KPH Kepulauan Sula

    • calendar_month Rabu, 1 Apr 2026
    • account_circle Risman Lutfi
    • visibility 287
    • 0Komentar

    Nulondalo.com – Lembaga Bantuan Hukum Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (LBH PB PMII) mengecam keras dugaan skandal illegal logging yang melibatkan CV Anugerah Empat Mandiri (AEM) di Kabupaten Kepulauan Sula, Maluku Utara. Perusahaan tersebut diduga kuat melakukan penebangan kayu di luar koordinat izin yang telah ditentukan, yang merupakan pelanggaran berat terhadap hukum kehutanan di […]

  • BAM DPR RI Ingatkan Perusahaan Sawit: Penuhi Hak Rakyat atau IUP Dicabut

    BAM DPR RI Ingatkan Perusahaan Sawit: Penuhi Hak Rakyat atau IUP Dicabut

    • calendar_month Selasa, 27 Jan 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 280
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Badan Aspirasi Masyarakat (BAM) DPR RI mengingatkan perusahaan-perusahaan sawit di Sumatera Selatan agar segera memenuhi hak-hak masyarakat dalam konflik agraria yang terjadi di Kabupaten Empat Lawang dan Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur (OKU Timur). Jika kewajiban tersebut diabaikan, pemerintah daerah diminta tidak ragu mencabut izin usaha perkebunan (IUP). Peringatan itu disampaikan Ketua BAM […]

  • Abu Sa’id al-Khudri dan Surah Al-Fatihah (Kisah Sahabat Nabi Yang Jarang Diceritakan #24)

    Abu Sa’id al-Khudri dan Surah Al-Fatihah (Kisah Sahabat Nabi Yang Jarang Diceritakan #24)

    • calendar_month Sabtu, 14 Mar 2026
    • account_circle Pepi Al-Bayqunie
    • visibility 436
    • 0Komentar

    Nama lengkapnya Sa‘d bin Malik bin Sinan bin ‘Ubayd bin Tha‘labah al-Khazraji al-Anshari. Ia berasal dari suku Khazraj, salah satu dari dua suku besar Anshar di Madinah bersama suku Aus. Karena berasal dari keluarga Bani Khudrah di lingkungan Khazraj, ia dikenal dengan nisbah al-Khudri. Abu Sa’id lahir di Madinah sebelum kedatangan Nabi. Ayahnya, Malik bin […]

  • NU Gorontalo dan Kotak Macis

    NU Gorontalo dan Kotak Macis

    • calendar_month Senin, 13 Sep 2021
    • account_circle Asrul G.H. Lasapa
    • visibility 182
    • 0Komentar

    NU memang terlalu seksi bagi kalangan internal maupun eksternal atau bagi siapa saja yang memandangnya. Apalagi jika dipandang dari luar bangunan ke-NU-an dengan menggunakan frame subjektif, sosial dan politik. Dalam konteks ini, NU tidak hanya sekedar seksi tapi ternyata juga begitu mempesona. Maka tidak heran jika perebutan tampuk kepemimpinan di NU menjadi sesuatu yang sangat […]

  • Survei BI: Penjualan Ritel Mulai Pulih pada Mei 2026, Makassar dan Manado Tumbuh Positif

    Survei BI: Penjualan Ritel Mulai Pulih pada Mei 2026, Makassar dan Manado Tumbuh Positif

    • calendar_month Jumat, 12 Jun 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 306
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Bank Indonesia (BI) memperkirakan kinerja penjualan ritel pada Mei 2026 mulai menunjukkan pemulihan. Meski masih mengalami kontraksi secara tahunan, penjualan eceran diproyeksikan membaik dibandingkan bulan sebelumnya, didorong meningkatnya permintaan masyarakat selama periode hari besar keagamaan. Berdasarkan hasil Survei Penjualan Eceran (SPE), Indeks Penjualan Riil (IPR) Mei 2026 diperkirakan mencapai 225,0 atau terkontraksi 3,2 […]

expand_less