Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Aktivisme atau fanatisme sebagai Marabahaya Monopoli Sejarah

  • account_circle Muhammad Kamal
  • calendar_month Rabu, 17 Jun 2026
  • visibility 107
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Setiap zaman memiliki aktivisnya sendiri. Namun dalam ruang publik Indonesia, sering muncul kecenderungan untuk menempatkan aktivisme seolah-olah identik dengan generasi atau figur tertentu, terutama mereka yang terlibat dalam Reformasi 1998. Nama-nama itu terus dihadirkan sebagai simbol perubahan, sementara pengalaman generasi setelahnya sering dipandang kurang otentik, kurang heroik, atau bahkan dianggap tidak memiliki legitimasi historis yang sama.

Namun sejarah tidak pernah bekerja dengan cara demikian. Perubahan sosial tidak lahir dari satu generasi, apalagi dari satu orang. Ia merupakan hasil dari akumulasi panjang kegelisahan masyarakat yang menemukan bentuk ekspresinya pada waktu dan konteks tertentu. Reformasi 1998 memang menjadi titik penting dalam perjalanan demokrasi Indonesia, tetapi ia bukan awal dan bukan pula akhir dari sejarah aktivisme di negeri ini.

Jauh sebelum mahasiswa menduduki gedung parlemen pada Mei 1998, sudah ada generasi yang berjuang melawan kolonialisme, memperjuangkan kemerdekaan, melawan otoritarianisme, membela hak-hak buruh, petani, dan kelompok-kelompok yang terpinggirkan. Begitu pula setelah Reformasi. Muncul generasi baru yang menghadapi tantangan berbeda: korupsi yang semakin canggih, oligarki ekonomi yang semakin kuat, kerusakan lingkungan, ketimpangan sosial, kriminalisasi kritik, hingga persoalan ruang digital yang kini menjadi arena baru pertarungan politik.

Karena itu, menganggap aktivisme sebagai identitas eksklusif milik generasi tertentu sesungguhnya bertentangan dengan logika sejarah itu sendiri.

Saya mencoba menggunakan kacamata teori otoritas karismatik Max Weber untuk digunakan sebagai alat baca. Weber menjelaskan bahwa salah satu sumber legitimasi sosial adalah karisma, yakni kepercayaan masyarakat terhadap kualitas luar biasa yang dimiliki seseorang. Dalam banyak gerakan sosial, karisma memainkan peran penting. Tokoh karismatik mampu menyatukan orang-orang yang sebelumnya tercerai-berai, memberi arah perjuangan, dan menghadirkan harapan di tengah situasi yang penuh ketidakpastian.

Namun Weber juga mengingatkan bahwa karisma mengandung bahaya yang sering tidak disadari. Ketika sebuah gerakan terlalu bergantung pada figur, perhatian masyarakat perlahan bergeser dari gagasan menuju individu. Yang dibela bukan lagi nilai-nilai yang diperjuangkan, melainkan sosok yang dianggap mewakili nilai tersebut.

Akibatnya, kritik terhadap tokoh sering dianggap sebagai serangan terhadap perjuangan itu sendiri.

Fenomena semacam ini cukup mudah ditemukan dalam kehidupan politik Indonesia hari ini. Banyak tokoh yang dahulu dikenal sebagai simbol perlawanan kini berada di dalam lingkaran kekuasaan. Sebagian menjadi pejabat negara, anggota parlemen, konsultan politik, atau bagian dari elite yang dahulu mereka kritik. Tidak ada yang salah dengan itu. Dalam sistem demokrasi, masuk ke dalam struktur kekuasaan merupakan pilihan politik yang sah.

Yang menjadi persoalan adalah ketika jasa masa lalu digunakan sebagai tameng untuk menghindari kritik masa kini.

Sering kali kita menemukan argumen yang kurang lebih berbunyi: “Dia tidak pantas dikritik karena dulu ikut menjatuhkan Orde Baru.” Logika seperti ini berbahaya karena menggeser ukuran moral dari tindakan yang sedang dilakukan kepada jasa yang pernah dilakukan. Padahal demokrasi tidak mengenal konsep tabungan moral yang membuat seseorang kebal dari kritik publik.

Jika dahulu seorang aktivis menuntut transparansi, maka ketika ia berkuasa transparansi yang sama harus dituntut kepadanya. Jika dahulu ia mengecam penyalahgunaan kekuasaan, maka ketika ia berada di dekat pusat kekuasaan kritik yang sama harus tetap berlaku. Jika tidak, maka yang tersisa hanyalah romantisme sejarah tanpa substansi demokrasi.

Lalu apakah aktivisme itu kesetiaan kepada tokoh atau kesetiaan kepada nilai?

Pertanyaan ini menjadi semakin relevan ketika demokrasi Indonesia menghadapi gejala yang oleh banyak ilmuwan politik disebut sebagai menguatnya oligarki dan kembalinya otoritarianisme, Dalam berbagai isu publik, sering terlihat bahwa pergantian rezim tidak selalu diikuti oleh perubahan struktur kekuasaan yang mendasar. Wajah-wajah politik boleh berganti, tetapi relasi antara kekuasaan, modal, dan kepentingan elite sering kali tetap bertahan.

Di tengah situasi seperti itu, fungsi aktivisme menjadi semakin penting. Aktivisme tidak boleh berhenti pada nostalgia tentang masa lalu. Ia harus hadir sebagai kesadaran kritis yang terus memeriksa siapa pun yang sedang memegang kekuasaan, tanpa melihat latar belakang ideologis maupun sejarah perjuangannya.

Sayangnya, sebagian diskursus publik justru masih terjebak pada politik figur. Kita lebih sering memperdebatkan siapa yang berbicara daripada apa yang dibicarakan. Sebuah kritik dianggap benar atau salah bukan karena kualitas argumennya, tetapi karena identitas orang yang menyampaikannya. Akibatnya, ruang publik menjadi arena pertarungan loyalitas, bukan arena pertukaran gagasan.

Padahal salah satu pelajaran terpenting dari teori Weber adalah bahwa karisma bersifat sementara. Karisma dapat menggerakkan perubahan, tetapi ia tidak cukup untuk menjaga keberlanjutan perubahan itu sendiri. Cepat atau lambat, sebuah gerakan harus beralih dari ketergantungan pada figur menuju penguatan institusi, gagasan, dan budaya kritis.

Jika tidak, gerakan tersebut akan mengalami apa yang oleh Weber disebut sebagai rutinisasi karisma. Tokoh tetap dipuja, tetapi semangat kritis yang dahulu menjadi sumber kekuatannya justru menghilang. Yang tersisa hanyalah simbol, sementara substansinya perlahan memudar.

kupikir keberhasilan sebuah gerakan sosial tidak diukur dari banyaknya pahlawan yang berhasil dilahirkan. Keberhasilannya justru terletak pada kemampuannya menciptakan warga negara yang berani berpikir mandiri dan tidak mudah tunduk pada otoritas siapa pun.

Jika mengeja Indonesia hari ini, tantangan terbesar aktivisme bukanlah melawan figur tertentu, melainkan melawan kecenderungan untuk mengkultuskan figur. Sebab demokrasi yang sehat tidak membutuhkan manusia-manusia yang dianggap selalu benar. Demokrasi membutuhkan warga yang berani bertanya, berani menguji kekuasaan, dan berani mengkritik bahkan orang-orang yang pernah mereka kagumi.

Saya percaya sejarah memang memiliki tokoh-tokohnya. Namun sejarah tidak pernah menjadi milik mereka. Tokoh datang dan pergi, generasi berganti, rezim berubah, tetapi ketidakadilan selalu menemukan bentuk baru. Karena itulah aktivisme akan terus lahir dalam tubuh generasi yang berbeda-beda.

Mungkin karena alasan itu, aktivisme lebih tepat dipahami sebagai tradisi kesadaran daripada identitas kelompok. Ia tidak diwariskan melalui nama besar, melainkan melalui keberanian untuk mempertanyakan apa yang dianggap mapan. Ia tidak hidup dalam pidato-pidato nostalgia, tetapi dalam kesediaan untuk tetap bersikap kritis ketika banyak orang memilih diam.

Sebab yang membuat seseorang layak disebut aktivis bukanlah fakta bahwa ia pernah melawan kekuasaan di masa lalu. Yang lebih penting adalah apakah ia masih memiliki keberanian untuk berdiri di pihak kebenaran ketika kepentingan, jabatan, dan kedekatan dengan kekuasaan menggodanya untuk berpaling. aktivisme bukan sebagai status, melainkan sebagai komitmen etis yang terus diuji oleh sejarah.

Penulis : Alumni Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

  • Penulis: Muhammad Kamal

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Quraish Shihab Ingatkan: Jangan Sempitkan Makna Isra’ Mi’raj

    Quraish Shihab Ingatkan: Jangan Sempitkan Makna Isra’ Mi’raj

    • calendar_month Rabu, 14 Jan 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 268
    • 0Komentar

    nulondalo. com – Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW kerap dipahami sebatas peristiwa perjalanan malam yang diperingati setiap 27 Rajab. Namun Prof. Dr. M. Quraish Shihab mengingatkan, pemahaman seperti itu justru berpotensi menyempitkan makna Isra’ Mi’raj yang sesungguhnya. Dalam pengajian bertema Isra’ Mi’raj yang disampaikan melalui kanal YouTube, Quraish Shihab menegaskan bahwa para ulama sejak dahulu […]

  • Jokowi Yang Sedang Turun Kelas? (Refleksi tentang Kekuasaan, Politik, dan Kematangan Demokrasi Kita)

    Jokowi Yang Sedang Turun Kelas? (Refleksi tentang Kekuasaan, Politik, dan Kematangan Demokrasi Kita)

    • calendar_month Kamis, 29 Mei 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 152
    • 0Komentar

    Ini bukan tentang siapa yang benar atau siapa yang salah. Bukan tentang siapa yang patut dibela atau digugat. Tulisan ini tidak berdiri di satu pihak, tidak pula hadir untuk menyokong atau menjatuhkan. Yang ingin disorot di sini adalah sebuah peristiwa politik yang mengandung makna lebih dalam: mantan Presiden Jokowi menggugat pihak-pihak yang menuduh ijazahnya palsu. […]

  • Musrenbang Baji Pa’mai: Perkuat Pertanian dan Layanan Publik Lewat Jalan Tani dan Kantor Lurah

    Musrenbang Baji Pa’mai: Perkuat Pertanian dan Layanan Publik Lewat Jalan Tani dan Kantor Lurah

    • calendar_month Kamis, 22 Jan 2026
    • account_circle Sakti
    • visibility 220
    • 0Komentar

    Nulondalo.com, MAROS — Kelurahan Baji Pa’mai, Kecamatan Maros Baru, menggelar Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Tahun 2026 dalam rangka penyusunan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Tahun 2027. Kegiatan ini mengusung tema “Penguatan Pemerataan Pembangunan Wilayah, Konektivitas dan Infrastruktur yang Terintegrasi dan Adaptif.” Penekanan utama pada pembangunan jalan tani dan pembangunan kantor lurah sebagai prioritas di tengah […]

  • Buron Interpol Kasus Suap PTSL Rp1,7 Miliar Ditangkap di Malaysia, Dibawa ke Jakarta

    Buron Interpol Kasus Suap PTSL Rp1,7 Miliar Ditangkap di Malaysia, Dibawa ke Jakarta

    • calendar_month Selasa, 10 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 239
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Divisi Hubungan Internasional (Divhubinter) Polri melalui Sekretariat National Central Bureau (NCB) Interpol Indonesia berhasil menangkap buron internasional bernama Jimmy Lie yang telah masuk dalam daftar red notice sejak 22 September 2025. Jimmy Lie diketahui merupakan tersangka dalam kasus dugaan suap senilai Rp1,7 miliar terkait pengurusan sertifikat tanah melalui program Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap […]

  • Perjalanan Spiritual Nabi

    Perjalanan Spiritual Nabi

    • calendar_month Sabtu, 17 Jan 2026
    • account_circle Ilham Sopu
    • visibility 335
    • 0Komentar

    Kita kini berada di penghujung bulan Rajab, bulan ketujuh dalam kalender Hijriah, sebuah bulan yang dimuliakan dan sarat dengan pesan persiapan ruhani. Dalam satu riwayat disebutkan bahwa Rajab adalah bulan menanam, Sya‘ban bulan menyiram dan memelihara, sementara Ramadhan adalah bulan memetik hasil. Maka, akhir Rajab seharusnya menjadi ruang muhasabah: sejauh mana benih-benih kebaikan telah kita […]

  • As-Salam Tenjo Berbagi Tali Sayang 500 Paket ke Guru dan Murid

    As-Salam Tenjo Berbagi Tali Sayang 500 Paket ke Guru dan Murid

    • calendar_month Sabtu, 14 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 301
    • 0Komentar

    nulondalo.com -Lembaga pendidikan di bawah naungan Yayasan As-Salam Terpadu Tenjo (YATT) kembali menunjukkan kepeduliannya terhadap keluarga besar sekolah dengan membagikan 500 paket “Tali Sayang” kepada para guru dan murid. Kegiatan yang berlangsung penuh kehangatan tersebut menjadi wujud nyata kepedulian sosial sekaligus mempererat hubungan antara sekolah, yayasan, dan orang tua murid. Acara pembagian paket sembako ini […]

expand_less