Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Quraish Shihab Ingatkan: Jangan Sempitkan Makna Isra’ Mi’raj

  • account_circle Tim Redaksi
  • calendar_month Rabu, 14 Jan 2026
  • visibility 310
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

nulondalo. com – Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW kerap dipahami sebatas peristiwa perjalanan malam yang diperingati setiap 27 Rajab. Namun Prof. Dr. M. Quraish Shihab mengingatkan, pemahaman seperti itu justru berpotensi menyempitkan makna Isra’ Mi’raj yang sesungguhnya.

Dalam pengajian bertema Isra’ Mi’raj yang disampaikan melalui kanal YouTube, Quraish Shihab menegaskan bahwa para ulama sejak dahulu berbeda pendapat mengenai waktu terjadinya Isra’ Mi’raj. Ada yang menyebut bulan Rabiul Awal, Ramadan, tahun kesepuluh kenabian, bahkan setahun sebelum hijrah. Karena itu, menurutnya, perdebatan soal tanggal tidak boleh mengaburkan substansi peristiwa tersebut.

“Yang paling penting bukan kapan Isra’ Mi’raj terjadi, tetapi apa pesan keimanan yang terkandung di dalamnya,” jelasnya.

Quraish Shihab menegaskan bahwa peristiwa Isra’ tidak dapat dipungkiri karena ditegaskan langsung dalam Al-Qur’an, Surah Al-Isra ayat 1:

Subhānalladzī asrā bi ‘abdihī laylan…
“Mahasuci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam…”

Ayat ini, menurutnya, adalah fondasi akidah. Siapa pun yang menolak terjadinya Isra’, berarti menolak teks Al-Qur’an itu sendiri. Perbedaan pendapat di kalangan ulama bukan pada ada atau tidaknya Isra’ Mi’raj, melainkan pada rincian waktu dan teknis kejadiannya.

Jangan Ukur Kekuasaan Allah dengan Logika Manusia

Salah satu kekeliruan terbesar dalam memahami Isra’ Mi’raj, kata Quraish Shihab, adalah mengukurnya dengan kemampuan manusia biasa. Padahal Al-Qur’an dengan tegas menyatakan bahwa Nabi Muhammad SAW tidak pergi dengan kekuatannya sendiri, melainkan “diperjalankan” oleh Allah.

Ia mengibaratkan seperti seekor lalat yang ikut pesawat terbang dari Jakarta ke Makassar lalu kembali lagi. Lalat itu bukan terbang karena kemampuannya, melainkan karena “diterbangkan”.

“Demikian pula Nabi Muhammad. Beliau tidak berkata ‘saya pergi’, tetapi Allah yang memperjalankan,” ujarnya.

Quraish Shihab juga mengaitkan Isra’ Mi’raj dengan konsep relativitas waktu. Ia menjelaskan bahwa bagi Allah SWT tidak ada masa lalu, masa kini, dan masa depan sebagaimana yang dipahami manusia.

Ia mencontohkan Surah An-Nahl ayat 1 yang menyatakan bahwa ketetapan Allah telah datang, meskipun menurut manusia peristiwa itu belum terjadi. Hal ini menunjukkan bahwa waktu, dalam pandangan Ilahi, tidak dibatasi sebagaimana waktu manusia.

“Bagi Allah, sesuatu bisa dikatakan sudah terjadi meski menurut kita belum,” jelasnya.

Dalam pengajiannya, Quraish Shihab juga mengingatkan bahwa manusia tidak hanya hidup dalam satu dimensi. Selain jasad, manusia memiliki ruh dengan potensi yang jauh melampaui indra fisik.

Ia menyinggung pengalaman mimpi, intuisi, hingga kisah Sayyidina Umar bin Khattab yang memanggil panglimanya dari Madinah saat berkhutbah Jumat—sebuah peristiwa yang melampaui kemampuan pancaindra.

“Jangan mengira apa yang kita lihat dan dengar itulah seluruh kenyataan,” katanya.

Isra’ Mi’raj, menurutnya, sangat berkaitan dengan dimensi ruhani ini, sehingga tidak bisa dipahami semata-mata dengan pendekatan fisika dan logika material.

Subhānallāh, Kunci Sikap Seorang Mukmin

Menariknya, Al-Qur’an membuka kisah Isra’ Mi’raj dengan kata Subhānallāh. Quraish Shihab menjelaskan, kata ini diajarkan untuk diucapkan ketika manusia berhadapan dengan sesuatu yang mengagumkan dan sulit dijangkau akal.

“Subhānallāh mengajarkan kita untuk mengakui keterbatasan diri dan mengagungkan Allah,” tuturnya.

Isra’ Mi’raj, menurut Quraish Shihab, bukan sekadar kisah luar biasa tentang perjalanan Nabi, melainkan pelajaran mendalam tentang iman, kerendahan hati, dan keterbatasan akal manusia di hadapan kekuasaan Allah SWT.

Di tengah masyarakat yang semakin rasional dan materialistik, Isra’ Mi’raj menjadi pengingat bahwa tidak semua kebenaran harus tunduk pada logika manusia. Sebab, iman justru tumbuh ketika manusia sadar bahwa ada wilayah yang hanya bisa didekati dengan ketundukan dan tasbih: Subhānallāh.

 

DUKUNG TIM NULONDALO DENGAN DONASI SEIKHLASNYA

  • Penulis: Tim Redaksi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Etika Lingkungan Diabaikan Karma Ekologi Menerjang

    Etika Lingkungan Diabaikan Karma Ekologi Menerjang

    • calendar_month Minggu, 7 Des 2025
    • account_circle Hatim Badu Pakuna, S.Ag., M.Ag.
    • visibility 292
    • 0Komentar

    Setiap pekan, perjalanan pulang kampung terasa istimewa. Hanya sekitar 70 Km dari pusat kota Gorontalo, ke arah barat, persisnya di wilayah Tolangohula. Membutuhkan waktu tempuh sekitar dua jam dengan kecepatan rata-rata 40 km per jam. Jalanan berliku, dengan sensasi turunan dan tanjakan, melewati puluhan desa berkembang memberi kenikmatan tersendiri dalam berkendara. Suami yang memegang kendali, […]

  • Negeri Tiba tiba Dan riuhnya Klarifikasi

    Negeri Tiba tiba Dan riuhnya Klarifikasi

    • calendar_month Rabu, 25 Feb 2026
    • account_circle Muhammad Kamal
    • visibility 355
    • 0Komentar

    Negeri ini kian sering bekerja dengan cara tiba-tiba. Kebijakan lahir mendadak, diumumkan gegap gempita, lalu dijalankan sambil tergesa. Ketika tersandung di lapangan—yang sebenarnya bisa diprediksi sejak awal—negara pun segera masuk ke fase berikutnya: kebisingan klarifikasi. Dua hal ini bukan kebetulan. Negeri Tiba-Tiba dan Klarifikasi yang Ribut adalah pasangan serasi dalam politik kita hari ini. Ambil […]

  • Polda NTB Catat Penurunan Kriminalitas Signifikan Sepanjang 2025, Wakapolda Apresiasi Dukungan Masyarakat

    Polda NTB Catat Penurunan Kriminalitas Signifikan Sepanjang 2025, Wakapolda Apresiasi Dukungan Masyarakat

    • calendar_month Selasa, 30 Des 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 210
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Mataram — Wakil Kepala Kepolisian Daerah Nusa Tenggara Barat (Wakapolda NTB), Brigjen Pol. Hari Nugroho, memimpin Jumpa Pers Akhir Tahun 2025 Polda NTB pada Senin (29/12/2025) pukul 08.00 WITA di Gedung Sasana Dharma Polda NTB. Kegiatan ini digelar sebagai bentuk komitmen Polda NTB untuk mewujudkan transparansi dan akuntabilitas kepada masyarakat terkait capaian kinerja […]

  • Tunis Tidak Pernah Usai

    Tunis Tidak Pernah Usai

    • calendar_month Senin, 13 Apr 2026
    • account_circle Dr. H. Ahmad Shaleh Amin, Lc., M.A
    • visibility 441
    • 0Komentar

    Di sebuah pagi yang bergerak perlahan di jantung Jakarta, Aula Pendidikan Kader Ulama Masjid Istiqlal tidak sekadar menjadi aula pertemuan. Ia berubah menjadi semacam ruang ingatan—tempat waktu tidak berjalan lurus, melainkan berputar, mempertemukan yang dulu pernah berangkat dengan yang baru saja pulang ke tanah air. Ahad, 12 April 2026, sekitar 80 orang berkumpul di aula […]

  • Habis Gelap Ada yang Belum Terang: Kartini, Emansipasi dan Ilusi Kolonial

    Habis Gelap Ada yang Belum Terang: Kartini, Emansipasi dan Ilusi Kolonial

    • calendar_month Selasa, 29 Apr 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 180
    • 0Komentar

    “Ibu Kita Kartini, putri sejati, wanita yang mulia dan harum namanya.” Begitulah yang terpatri di benak para anak-anak sekolah.  Lagunya kerap didendangkan, hari lahirnya ditetapkan sebagai emansipasi wanita dan kiprahnya dijadikan patokan gerakan perempuan di Indonesia.  Setiap tanggal 21 April, Kartini dan narasi tentangnya dilantangkan kembali. Kalau anda hidup dan sudah bisa memahami situasi pada masa orde […]

  • Polantas Agama dan Keagamaan, Sebuah Refleksi 78 Tahun Kemenag RI

    Polantas Agama dan Keagamaan, Sebuah Refleksi 78 Tahun Kemenag RI

    • calendar_month Rabu, 3 Jan 2024
    • account_circle Asrul G.H. Lasapa
    • visibility 113
    • 0Komentar

    Tidak bisa dipungkiri bahwa keragaman merupakan karakter utama bangsa Indonesia. Karakter inilah yang membedakannya dengan bangsa lain yang cenderung homogen. Mengorganisir keragaman bukanlah sesuatu yang mudah. Mengorganisir keragaman membutuhkan metode dan strategi khusus. Tidak mudah menyamakan persepsi tentang kedamaian dan perdamaian. Tidak mudah memberi arti  betapa berharganya nilai-nilai persaudaraan. Tidak mudah memberikan pemahaman tentang pentingnya […]

expand_less