Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Ketika Azan Bersahutan Menjelang Fajar: Rahasia Gorontalo Serambi Madinah yang Masih Terjaga

  • account_circle Husin Ali
  • calendar_month Selasa, 23 Jun 2026
  • visibility 252
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Pukul tiga dini hari.

Kota Gorontalo masih terbungkus gelap. Jalan-jalan utama yang pada siang hari dipenuhi kendaraan tampak lengang. Lampu-lampu kota memantulkan cahaya kekuningan di antara pepohonan yang diam diterpa angin malam. Dari kejauhan, siluet menara-menara masjid berdiri tenang menembus langit yang masih pekat.

Pada jam-jam seperti inilah sebuah daerah memperlihatkan wajahnya yang paling jujur.

Bukan ketika panggung-panggung dipenuhi manusia. Bukan ketika baliho dan spanduk memenuhi sudut kota. Bukan pula ketika statistik pembangunan dipresentasikan dalam ruang-ruang rapat. Sebuah daerah justru memperlihatkan jati dirinya ketika ia sedang sunyi, ketika hiruk-pikuk dunia mereda, dan ketika manusia kembali berbicara dengan nuraninya.

Di Kota Gorontalo, percakapan itu dimulai sebelum fajar.

Sebelum aktivitas perdagangan bergerak. Sebelum kantor-kantor dibuka. Sebelum sekolah-sekolah dipenuhi anak-anak. Sebelum pasar-pasar hidup oleh transaksi. Ada kehidupan lain yang terlebih dahulu terbangun.

Kehidupan spiritual. Kehidupan yang selama berabad-abad membentuk watak masyarakat Gorontalo dan menjadikannya dikenal sebagai Serambi Madinah.

Sebagai seorang antropolog, saya selalu percaya bahwa setiap daerah memiliki ruh kebudayaan yang menjadi sumber kekuatannya. Ada daerah yang tumbuh karena kekuatan ekonominya. Ada yang dikenal karena sejarah politiknya. Ada yang besar karena letak geografisnya.

Namun ada pula daerah yang bertahan karena kekuatan nilai-nilai yang hidup dalam masyarakatnya. 

Gorontalo termasuk di antaranya. Kekuatan itu tidak selalu tampak. Ia tidak berdiri megah seperti bangunan. Ia tidak berbunyi nyaring seperti slogan. Ia hidup dalam kebiasaan-kebiasaan sederhana yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia hidup dalam cara masyarakat menghormati orang tua. 

Dalam penghargaan kepada guru dan ulama. Dalam tradisi musyawarah. Dalam kebiasaan mengawali hari dengan doa. Dalam keyakinan bahwa kehidupan dunia harus berjalan seiring dengan kesadaran akan kehidupan akhirat.

Ketika malam mencapai penghujungnya dan langit masih berada di antara gelap dan terang, suara pertama itu akhirnya terdengar.

“Allahu Akbar… Allahu Akbar…” Azan berkumandang dari sebuah menara masjid. Lalu dari arah lain terdengar azan berikutnya. Kemudian menyusul dari sisi kota yang berbeda. Dan setelah itu, dari menara-menara lainnya. Azan demi azan. Masjid demi masjid. Menara demi menara.

Suara-suara itu tidak saling mengalahkan. Tidak saling mendahului. Tidak saling meninggikan diri. Justru saling melengkapi dalam sebuah harmoni yang sulit dijelaskan oleh kata-kata.

Bagi mereka yang pernah merasakannya, peristiwa itu lebih dari sekadar panggilan ibadah. Ia adalah suara kebudayaan. Ia adalah suara sejarah. Ia adalah suara yang selama ratusan tahun membentuk karakter masyarakat Gorontalo.

Namun bagi masyarakat Gorontalo, azan Subuh bukan hanya panggilan menuju masjid. Ia juga merupakan alarm kehidupan. Jauh sebelum telepon genggam mengenal fitur pengingat, jauh sebelum jam digital hadir di setiap rumah, azan telah menjadi penanda waktu yang paling dipercaya masyarakat.

Ketika azan pertama berkumandang, sebagian pedagang mulai membuka mata dan menyiapkan dagangannya. Di pasar-pasar tradisional, ada yang mulai menata sayuran, menimbang ikan hasil tangkapan malam, atau menyiapkan lapak yang akan segera didatangi pembeli. 

Di kampung-kampung pesisir, para nelayan menjadikan azan sebagai penanda pergantian ritme laut. Sebagian baru kembali dari melaut, sebagian lain sedang bersiap menjemput rezeki yang telah disediakan Tuhan di hamparan Teluk Tomini.

Di wilayah pertanian, para petani memahami bahwa setelah Subuh adalah waktu terbaik memulai pekerjaan. Mereka tumbuh dalam keyakinan lama bahwa rezeki harus dijemput sejak matahari belum tinggi.

Para guru mulai menyiapkan hari. Para pegawai bersiap menjalankan amanahnya. Para pengemudi bentor mulai menghangatkan mesin kendaraan. Petugas kebersihan kota mulai menyapu jalan-jalan. Penjual kue tradisional mulai menata dagangan. Penjaga toko membuka pintu usahanya. Pekerja bangunan, buruh harian, pengantar barang, dan berbagai profesi lainnya memulai aktivitas dengan ritme yang sama.

Azan menjadi penanda bahwa kehidupan harus bergerak. Bahwa hari baru telah dimulai. Bahwa ikhtiar harus segera dijalankan.

Dalam perspektif antropologi, azan di Gorontalo sesungguhnya menjalankan dua fungsi sekaligus. Ia memanggil manusia untuk mengingat Tuhan, sekaligus mengingatkan manusia untuk menunaikan tanggung jawab sosialnya.

Karena itu, ketika azan berkumandang menjelang fajar, yang terbangun bukan hanya jamaah masjid. Yang terbangun adalah sebuah kota. Yang bergerak bukan hanya langkah menuju tempat ibadah. Yang bergerak adalah denyut ekonomi, denyut budaya, denyut keluarga, dan denyut kehidupan masyarakat.

Barangkali di situlah letak makna terdalam dari sebutan Serambi Madinah. Sebab Madinah dalam sejarah Islam bukan sekadar nama sebuah kota. Madinah adalah simbol peradaban. Tempat agama tidak berhenti di mimbar, tetapi hadir dalam kehidupan sosial. Tempat akhlak menjadi fondasi hubungan antarmanusia. Tempat nilai-nilai ketuhanan menjelma menjadi budaya keseharian.

Jejak-jejak itulah yang masih dapat ditemukan di Gorontalo. Bukan dalam bentuk yang sempurna, tetapi dalam bentuk yang hidup. Ia hadir dalam tradisi masyarakat yang memuliakan tamu. Dalam kebiasaan berkumpul untuk berdoa ketika ada musibah. Dalam semangat gotong royong yang masih bertahan di banyak lingkungan. Dalam penghormatan kepada ulama dan tokoh agama. Dalam suara anak-anak yang masih belajar membaca Al-Qur’an di sore hari. Dalam zikir yang dilantunkan selepas salat. Dan dalam doa-doa yang terus dipanjatkan ketika sebagian besar dunia sedang tertidur.

Pada waktu-waktu seperti itu, ingatan sering pulang kepada sosok-sosok yang membentuk kehidupan masyarakat Gorontalo sejak lama: ayah dan ibu. Barangkali memang begitulah sifat subuh. Ia tidak hanya membangunkan tubuh, tetapi juga membangunkan kenangan.

Di banyak rumah sederhana di Gorontalo, sebelum matahari terbit, seorang ayah telah bersiap memulai pekerjaannya. Ada yang menuju sawah, ada yang menuju laut, ada yang membuka toko, ada yang menjadi pengemudi, pegawai, buruh, atau pedagang kecil. 

Mereka berangkat tanpa banyak kata. Tidak banyak yang menulis kisah mereka. Tidak banyak yang mengingat nama mereka. Namun di atas pundak merekalah kehidupan keluarga berjalan dari hari ke hari. 

Ayah-ayah Gorontalo mengajarkan satu pelajaran penting yang jarang ditemukan dalam buku pelajaran: bahwa tanggung jawab adalah bentuk cinta yang paling nyata.

Pada saat yang sama, di dalam rumah-rumah yang masih diterangi lampu sederhana menjelang subuh, ada ibu-ibu yang telah lebih dahulu terjaga. Sebagian menyiapkan kebutuhan keluarga. Sebagian membuka mushaf Al-Qur’an. Sebagian menengadahkan tangan dalam doa yang panjang.

Tidak ada yang lebih sunyi daripada doa seorang ibu pada penghujung malam. Tidak ada yang lebih tulus daripada harapan seorang ibu yang meminta kebaikan bagi anak-anaknya tanpa pernah meminta balasan apa pun.

Mungkin banyak keberhasilan manusia sesungguhnya bertumpu pada doa-doa yang tidak pernah didengar oleh siapa pun selain Allah. Di situlah letak kekuatan masyarakat Gorontalo yang sesungguhnya.

Bukan pada gedung-gedungnya. Bukan pada angka-angka statistiknya. Melainkan pada rumah-rumah sederhana yang setiap hari melahirkan kejujuran, kerja keras, kesabaran, dan doa.

Peradaban tidak dibangun pertama kali di kantor pemerintahan atau ruang-ruang rapat. Peradaban dibangun di ruang keluarga. Di pangkuan seorang ibu. Dan pada keteladanan seorang ayah.

Di saat azan masih bergema dari satu menara ke menara lainnya, masyarakat Gorontalo sesungguhnya sedang mewariskan sesuatu yang jauh lebih penting daripada sekadar tradisi. Mereka sedang mewariskan nilai. Mewariskan cara hidup. Mewariskan pandangan tentang hubungan manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesamanya, dan manusia dengan kebudayaannya.

Karena itu, falsafah Gorontalo yang terkenal—Adati Hula-Hulaa to Syara’, Syara’ Hula-Hulaa to Kitabullah—bukan sekadar rangkaian kata yang diucapkan dalam upacara adat. Ia adalah kontrak moral yang menghubungkan adat dengan agama, budaya dengan spiritualitas, kehidupan sosial dengan nilai-nilai ketuhanan.

Di tengah dunia yang semakin cepat berubah, falsafah itu menjadi jangkar yang menjaga masyarakat agar tidak tercerabut dari akarnya. Menjelang fajar, langit timur perlahan berubah warna. Gelap mulai beringsut pergi. Cahaya mengambil alih cakrawala. Satu per satu rumah menyalakan lampu.

Kota mulai bangun. Aktivitas segera dimulai. Namun sesungguhnya kehidupan Gorontalo telah lebih dahulu bergerak sebelum matahari terbit. Ia dimulai dari air wudhu yang membasuh wajah. Dari sujud yang memanjangkan harapan. Dari zikir yang menghidupkan hati. Dari langkah-langkah menuju masjid. Dan dari azan yang bersahutan dari menara ke menara. 

Maka ketika orang bertanya mengapa Gorontalo tetap dikenal sebagai Serambi Madinah, jawabannya mungkin tidak ditemukan dalam dokumen resmi, statistik, atau narasi pembangunan. Jawabannya dapat ditemukan pada pukul tiga dini hari. 

Pada saat sebagian besar manusia masih tertidur. Pada saat menara-menara masjid saling menyapa melalui azan. Pada saat para ayah bersiap mencari nafkah. Pada saat para ibu menengadahkan doa. Pada saat masyarakat mengingat kembali hubungan mereka dengan Tuhan.

Karena pada saat itulah Gorontalo memperlihatkan dirinya yang paling jujur. Dan selama azan masih bersahutan menjelang fajar, selama doa-doa para ibu masih terangkat ke langit, selama para ayah masih bekerja dengan jujur untuk keluarganya, selama para guru mengaji masih sabar membimbing anak-anak membaca ayat-ayat suci, selama para ulama masih dihormati, dan selama adat serta syariat tetap berjalan beriringan, Serambi Madinah akan tetap hidup.

Bukan sebagai slogan. Bukan sebagai romantisme masa lalu. Melainkan sebagai jiwa yang terus berdenyut dalam kehidupan masyarakat Gorontalo, dari generasi ke generasi.

Penulis adalah Antropolog dan Wakil Sekretaris Tanfidziah PWNU Gorontalo

  • Penulis: Husin Ali

Komentar (1)

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Intelektual Muda NU Dukung Pengembalian Konsesi Tambang ke Pemerintah

    Intelektual Muda NU Dukung Pengembalian Konsesi Tambang ke Pemerintah

    • calendar_month Minggu, 7 Des 2025
    • account_circle Rivaldi Bulilingo
    • visibility 182
    • 0Komentar

    Sejumlah intelektual muda di lingkungan Nahdlatul Ulama (NU) menyerukan agar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) segera mengembalikan konsesi tambang yang diberikan pemerintah kepada organisasi. Mereka menilai bahwa kepemilikan dan pengelolaan tambang oleh ormas keagamaan seperti NU berisiko merusak marwah NU sebagai jam’iyah, dan dapat membawa mudharat yang jauh lebih besar dibanding manfaatnya, Minggu(7/12/2025). Salah satu […]

  • Perkuat Metodologi Riset di UCR, Prof. Muhamad Ali Tekankan Menulis sebagai Akhlak Akademik

    Perkuat Metodologi Riset di UCR, Prof. Muhamad Ali Tekankan Menulis sebagai Akhlak Akademik

    • calendar_month Jumat, 3 Apr 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 274
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Suasana akademik yang intens mewarnai kegiatan mahasiswa Pendidikan Kader Ulama Masjid Istiqlal (PKUMI) di University of California, Riverside. Pada Kamis (2/4/2026), para mahasiswa mengikuti bimbingan akademik mendalam terkait penulisan tesis dan disertasi. Kegiatan yang berlangsung di ruang INTN 2009, CHASS Interdisciplinary Building ini menghadirkan Muhamad Ali sebagai pembimbing utama. Dalam sesi tersebut, ia […]

  • Nuzulul Qur’an di Istiqlal Hadirkan Dai Tionghoa Koko Liem, Cerita Perjalanan Masuk Islam

    Nuzulul Qur’an di Istiqlal Hadirkan Dai Tionghoa Koko Liem, Cerita Perjalanan Masuk Islam

    • calendar_month Rabu, 11 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 248
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Peringatan Nuzulul Qur’an di Masjid Istiqlal berlangsung meriah dan penuh inspirasi. Salah satu momen yang paling menarik perhatian jamaah adalah kehadiran dai kondangan Tionghoa, Koko Liem, yang membagikan kisah perjalanan spiritualnya memeluk Islam dalam dialog inspiratif yang menggugah hati. Dalam paparannya, Koko Liem menjelaskan bahwa kekagumannya terhadap umat Islam berawal dari tradisi membaca […]

  • Filsafat di Tengah Badai Teknologi, Pesantren Khatamun Nabiyyin Gelar Stadium Generale Bahas Krisis Kemanusiaan

    Filsafat di Tengah Badai Teknologi, Pesantren Khatamun Nabiyyin Gelar Stadium Generale Bahas Krisis Kemanusiaan

    • calendar_month Rabu, 13 Mei 2026
    • account_circle Asep Alfarizi
    • visibility 362
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Pesantren Khatamun Nabiyyin bersama Khatam Institute menggelar Stadium Generale bertajuk “Peran Filsafat dalam Kehidupan Kontemporer: Antara Kemajuan Teknologi dan Krisis Kemanusiaan” pada Rabu, 13 Mei 2026, di Auditorium Khatamun Nabiyyin, Condet, Jakarta Timur. Kegiatan tersebut menghadirkan Prof. Dr. Amsal Bakhtiar sebagai narasumber utama dan dipandu oleh Muh. Agus Salim selaku moderator. Dalam pemaparannya, […]

  • Mudzakarah Istiqlal Bahas Wacana Pembayaran Dam Haji di Tanah Air: Antara Dimensi Ta‘abbudi dan Maqashid Syariah

    Mudzakarah Istiqlal Bahas Wacana Pembayaran Dam Haji di Tanah Air: Antara Dimensi Ta‘abbudi dan Maqashid Syariah

    • calendar_month Jumat, 22 Mei 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 317
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Di sebuah ruang yang tidak hanya mempertemukan para ulama dan cendekiawan, tetapi juga mempertemukan dua cara pandang dalam membaca syariat antara teks dan realitas, antara kesetiaan ritual dan kemanfaatan sosial Bidang Diklat Badan Pengelola Masjid Istiqlal (BPMI) menggelar Mudzakarah Ulama dan Umara bertajuk “Pembayaran Dam Jamaah Haji Indonesia di Tanah Air: Telaah Maqashid […]

  • Istighosah Tutup Rangkaian Pekan Ekonomi Syariah Nahdlatul Ulama Gorontal

    Istighosah Tutup Rangkaian Pekan Ekonomi Syariah Nahdlatul Ulama Gorontal

    • calendar_month Selasa, 7 Okt 2025
    • account_circle Rivaldi Bulilingo
    • visibility 149
    • 0Komentar

    Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Provinsi Gorontalo menggelar kegiatan istighosah sebagai salah satu rangkaian dari Pekan Ekonomi Syariah PWNU Gorontalo . Kegiatan ini berlangsung di Kantor PWNU Gorontalo, dihadiri oleh jajaran pengurus, para kiai, tokoh agama, dan peserta dari berbagai kalangan serta seluruh masyarakat Nahdatul ulama, kamis  (30/10/2025) Istighosah tersebut dipimpin KH. Muhyidin Zeni Wakil […]

expand_less