Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Gagal Membawa Emas, Belanda Meninggalkan Misteri (3)

  • account_circle Momy Hunowu
  • calendar_month Minggu, 28 Jun 2026
  • visibility 397
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Gagal membawa pulang bongkahan emas dari Lembah Tupalo, kaum kolonial Belanda tidak lantas meninggalkan kawasan itu. Mereka kemudian menyusuri aliran sungai dengan harapan menemukan bongkahan emas lain yang lebih mudah diangkat. Setelah menempuh perjalanan sekitar 17 kilometer menurut penututan warga, rombongan serdadu itu memutuskan berhenti di sebuah puncak perbukitan. Di tempat itulah mereka mendirikan sebuah pondok semi permanen dan menancapkan sebuah tugu berwarna kuning setinggi sekitar satu setengah meter dengan ukuran dasar kurang lebih 40 × 40 sentimeter.

Tampaknya mereka bermukim cukup lama di lokasi tersebut. Hal itu ditandai dengan keberadaan sebuah sumur di samping pondok yang hingga kini masih dikenang dalam cerita masyarakat. Selama menetap di sana, mereka mengembangkan perkebunan kayu manis dengan memanfaatkan tenaga warga pribumi secara paksa. Berkat kerja rodi itulah, kawasan perbukitan tersebut kemudian dipenuhi tanaman kayu manis yang kelak dikenal masyarakat sebagai Huludu Ayu Molingo, atau puncak perbukitan kayu manis.

Mereka yang tidak sanggup menjalani sistem kerja paksa diduga melarikan diri ke hutan belantara untuk menghindari kekuasaan kolonial. Sebagian masyarakat meyakini bahwa kelompok inilah yang kemudian menjadi cikal bakal komunitas Polahi. Namun, pandangan tersebut dibantah oleh informan lain. Menurut mereka, komunitas Polahi telah ada jauh sebelum Belanda membuka kawasan itu. Perbedaan penuturan ini menunjukkan bahwa asal-usul komunitas Polahi masih menjadi bagian dari sejarah lisan yang menyimpan beragam versi.

Hingga kini, kawasan perbukitan bekas perkebunan kayu manis itu tetap dikenal masyarakat dengan nama Huludu Ayumolingo. Nama tersebut kemudian diabadikan sebagai nama Desa Ayumolingo, sebuah desa pemekaran dari Desa Molamahu.

Jejak keberadaan Belanda di Huludu Ayumolingo juga masih hidup dalam ingatan kolektif masyarakat. Salah satunya ialah kisah tentang sebuah rumah peninggalan Belanda yang konon ditemukan warga secara tidak sengaja. Mengenai bentuk bangunan tersebut, para informan memberikan keterangan yang berbeda. Sebagian menyebut rumah itu berupa rumah panggung berukuran sekitar 4 × 6 meter, berdinding papan, bertiang kayu, dan beratap seng. Sementara informan lain menggambarkannya sebagai rumah beton berukuran sekitar 4 × 5 meter dengan satu kamar dan berjendela kaca yang sangat tebal. Bahkan, menurut cerita mereka, kaca tersebut tidak pecah meskipun dilempari batu; batu yang dilempar justru memantul kembali.

Semua bahan bangunan rumah tersebut, menurut penuturan para informan, menggunakan material berkualitas tinggi sehingga mampu bertahan dimakan usia. Letaknya yang jauh di pedalaman membuat tidak banyak orang berkesempatan menyaksikannya secara langsung. Mereka yang pernah melihat rumah itu umumnya adalah para pencari rotan atau tenaga survei perusahaan tambang yang menjangkau kawasan tersebut.

Sayangnya, tugu yang dahulu berdiri kokoh di sekitar rumah itu kini dikabarkan telah dirobohkan. Sebagian informan menduga pelakunya adalah para pencari rotan. Konon, di dalam tugu tersebut tersimpan sejumlah buku tua berbahasa Belanda. Jika cerita ini benar, maka robohnya tugu itu tentu saja telah menghilangkan sebuah penanda sejarah, sekaligus juga mungkin mengubur dokumen-dokumen yang dapat menjelaskan jejak kolonial Belanda di kawasan Huludu Ayumolingo.

Mengenai kondisi rumah itu, para informan juga memberikan penuturan yang beragam. Sebagian menyebut bangunan tersebut masih berdiri kokoh dengan pintu dan jendela dari kayu. Di dalamnya terdapat sebuah lemari berkaca, sedangkan pintunya terkunci rapat menggunakan gembok sebesar kepalan tangan orang dewasa. Di bawah kolong rumah tampak beberapa lingkar roda pedati yang disandarkan pada tiang-tiang bangunan. Keberadaan roda-roda pedati itu memberi isyarat bahwa kawasan tersebut pernah menjadi tempat aktivitas manusia, bahkan mungkin tidak jauh dari sebuah permukiman.

Menariknya, beberapa warga yang pernah mencapai lokasi itu mengaku pekarangan rumah selalu tampak bersih, seolah-olah ada seseorang yang setiap hari menyapu dedaunan yang gugur. Tak ada semak yang menutupi halaman, tak pula ranting-ranting kering yang berserakan. Rumah itu memang tak berpenghuni, tetapi menghadirkan kesan seakan-akan masih ada yang merawatnya. Namun, informan lainnya menuturkan kisah yang berbeda. Menurut mereka, rumah peninggalan Belanda tersebut kini telah tertutup rapat oleh pepohonan dan semak belukar, sehingga keberadaannya semakin sulit ditemukan.

Selain sebuah lemari berkaca, para informan juga menuturkan keberadaan sepasang ayam putih di dalam rumah itu. Tak seorang pun mengetahui dari mana asal ayam-ayam tersebut atau siapa yang memeliharanya. Namun, keberadaannya berulang kali muncul dalam penuturan para informan. Mereka juga menyebut adanya sebuah benda lain yang tak kalah misterius, yang oleh masyarakat setempat disebut bulahu lo sofa. Tak seorang pun dapat menjelaskan secara pasti makna sebutan tersebut. Wujudnya menyerupai seutas kabel listrik dengan diameter sebesar ibu jari orang dewasa. Namun, menurut cerita masyarakat, benda itu bukanlah kabel biasa. Benda ini diyakini sebagai ta’uwa lo’u bisa, penghulu segala yang berbisa. Konon, meskipun tidak tersambung dengan sumber listrik apa pun, bulahu lo sofa mampu menyengat siapa saja yang berani menyentuhnya, seolah dialiri tegangan listrik berkekuatan tinggi.

Tak jauh dari rumah itu terdapat sebuah sumur permanen berdinding semen dengan kedalaman sekitar empat meter. Letaknya berada di sisi utara rumah, berjarak kurang lebih 250 meter. Pada arah selatan, dengan jarak yang hampir sama, berdiri tugu peninggalan Belanda. Dengan demikian, rumah tersebut seolah menjadi titik tengah yang menghubungkan kedua penanda itu.

Di sekitar rumah terdapat pula sebuah goa kecil. Tidak jauh dari goa itu, masyarakat mengenal sebuah terowongan yang diyakini menembus hingga wilayah Gorontalo Utara. Beberapa orang pernah mencoba memasukinya. Namun, baru beberapa meter melangkah, napas mereka terasa sesak seolah kehabisan oksigen sehingga terpaksa kembali ke luar.

Kawasan itu juga diyakini memiliki pantangan yang hingga kini masih dipegang sebagian masyarakat. Orang yang memasuki kawasan tersebut tidak boleh berbicara sembarangan, apalagi mengucapkan kata-kata yang berkaitan dengan pembongkaran atau pengangkutan rumah, seperti linggis, kuda, mobil, atau ekskavator. Menurut penuturan seorang informan, pernah ada seseorang yang berseloroh akan membawa ekskavator untuk merobohkan rumah peninggalan Belanda itu. Belum lama ucapannya terlontar, tiba-tiba angin kencang datang disertai hujan deras. Lelaki itu dikisahkan terhempas hingga harus diusung turun dari perbukitan. Sejak peristiwa itu, keyakinan bahwa kawasan tersebut memiliki pantangan semakin mengakar dalam ingatan masyarakat. (BERSAMBUNG).

Penulis Akademisi IAIN Sultan Amai Gorontalo

  • Penulis: Momy Hunowu

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Triliunan Dolar, Kekosongan Tak Terbeli. Fenomena Elon Musk Kesepian di Puncak piramida Kapitalisme

    Triliunan Dolar, Kekosongan Tak Terbeli. Fenomena Elon Musk Kesepian di Puncak piramida Kapitalisme

    • calendar_month Minggu, 15 Feb 2026
    • account_circle Muhammad Kamal
    • visibility 346
    • 0Komentar

    Kita sering membayangkan bahwa puncak kebahagiaan terletak pada keberlimpahan materi. Sejak kecil, banyak dari kita diajarkan—secara halus maupun terang-terangan—bahwa sukses berarti kaya, terkenal, dan berkuasa. Dalam imajinasi sosial yang dibentuk oleh kapitalisme modern, kekayaan adalah simbol kemenangan. Namun pengakuan Musk menghadirkan celah refleksi: mungkinkah ada sesuatu yang tak bisa dibeli, bahkan oleh orang paling kaya […]

  • Menjaga Representasi, Merawat Kepercayaan

    Menjaga Representasi, Merawat Kepercayaan

    • calendar_month Minggu, 8 Mar 2026
    • account_circle Suko Wahyudi
    • visibility 323
    • 0Komentar

    Perdebatan mengenai ambang batas parlemen kembali menghangat setiap kali siklus pemilu mendekat. Angka-angka diperdebatkan dengan serius—3 persen, 4 persen, 5 persen—seolah keselamatan demokrasi kita bertumpu pada hitungan matematis itu. Stabilitas pemerintahan dijadikan alasan utama. Terlalu banyak partai di parlemen dianggap mengganggu efektivitas legislasi dan menyulitkan pembentukan koalisi. Namun di balik perdebatan teknis tersebut, ada persoalan […]

  • Pendamping Desa Tuntut Pencopotan Mendes PDT Yandri Susanto

    Pendamping Desa Tuntut Pencopotan Mendes PDT Yandri Susanto

    • calendar_month Selasa, 29 Apr 2025
    • account_circle Suaib Pr
    • visibility 166
    • 0Komentar

    Ratusan Pendamping Desa menggelar aksi demonstrasi di Kantor Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendes PDT) di Jakarta, pada Rabu, 16 April 2025. Dalam aksi tersebut mereka menolak Kebijakan Menteri Desa Yandri Susanto yang melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) kepada 1.040 pendamping desa eks caleg di Pemilu 2024. Koordinator Aksi Robby Maulana menyebut demonstrasi ini […]

  • Kunjungan Mendadak Prabowo Subianto di Senen, Tangis Haru Warga Pecah di Bantaran Rel

    Kunjungan Mendadak Prabowo Subianto di Senen, Tangis Haru Warga Pecah di Bantaran Rel

    • calendar_month Jumat, 27 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 363
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Warga Kelurahan Kramat, Kecamatan Senen, Jakarta Pusat, dikejutkan dengan kehadiran mendadak Presiden Prabowo Subianto, Kamis (26/03/2026) sore. Kunjungan tersebut sontak mengundang antusiasme sekaligus haru dari masyarakat yang tinggal di kawasan padat, termasuk di bantaran rel. Dalam kunjungannya, Presiden Prabowo tampak menyapa warga secara langsung dan mendengarkan berbagai aspirasi yang disampaikan. Momen tersebut berlangsung […]

  • Dadan Hindayana: Dari Akademisi dan Ahli Entomologi hingga Terseret Kasus Dugaan Korupsi Program MBG

    Dadan Hindayana: Dari Akademisi dan Ahli Entomologi hingga Terseret Kasus Dugaan Korupsi Program MBG

    • calendar_month Jumat, 5 Jun 2026
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 265
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Nama Dadan Hindayana kembali menjadi sorotan publik setelah ditetapkan sebagai tersangka dpada perkara dugaan tindak pidana korupsi tata kelola Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Namun jauh sebelum itu, Dadan dikenal sebagai akademisi dan pakar entomologi yang memiliki rekam jejak panjang di dunia pendidikan dan penelitian. Dadan Hindayana lahir di Garut, Jawa Barat, pada […]

  • Ketika Anggaran Mengendap: Mengungkap Fenomena Idle Cash dalam APBN Indonesia

    Ketika Anggaran Mengendap: Mengungkap Fenomena Idle Cash dalam APBN Indonesia

    • calendar_month Kamis, 30 Apr 2026
    • account_circle Dinda Rahma Filah
    • visibility 294
    • 0Komentar

    Terkadang, yang paling berbahaya dalam pengelolaan keuangan negara bukan hal-hal yang terlihat besar dan sering dibicarakan. Justru, yang diam mengendap dan jarang diperhatikan bisa memiliki dampak yang tidak kalah serius. Hal ini bisa kita lihat dalam pengelolaan APBN Indonesia saat ini, terutama saat membahas idle cash, yaitu dana yang terlalu lama “parkir” tanpa kejelasan digunakan […]

expand_less