Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Rudal Iran, Solidaritas Islam, dan Mazhab Kemanusiaan

  • account_circle Tim Redaksi
  • calendar_month Minggu, 29 Jun 2025
  • visibility 212
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Di berbagai lini masa dan ruang diskusi publik, kita menyaksikan pemandangan yang tak biasa: dukungan terhadap Iran meluas. Respons terhadap penyerangan Iran ke Israel datang dari berbagai arah yang memiliki simpati dan empati yang sama atas penderitaan masyarakat Palestina di Gaza. Dukungan ini melintasi batas identitas, keyakinan, dan geopolitik.

Hari-hari ini kita menyaksikan bahwa rudal-rudal Iran tidak hanya mengguncang sistem pertahanan Israel, tetapi juga mengguncang sistem simbolik dunia Islam. Ia bukan hanya menghantam kubu militer lawan, tetapi juga menghantam tembok mazhab yang selama ini memisahkan kita. Sekat Sunni-Syiah yang kerap dipelihara sebagai batas identitas, untuk sesaat tampak goyah di hadapan ledakan solidaritas yang muncul lintas batas.

Rudal itu pun tidak berhenti dibaca sebagai alat perang. Ia menjelma menjadi tanda. Dalam kerangka semiotika Umberto Eco, ini bukan sekadar tanda konvensional, tetapi bagian dari kerja supercode—yakni sistem makna yang bekerja di atas dan melampaui sistem-sistem makna lain. Dalam hal ini, identitas mazhab, negara, dan ideologi ditanggalkan. Rudal itu dibaca sebagai perlawanan. Dan perlawanan dibaca sebagai keberpihakan.

Iran tidak lagi dilihat hanya sebagai negara Syiah, tetapi sebagai simbol dari Islam yang berani melawan ketimpangan. Banyak umat Muslim membaca ulang tanda “Iran” dengan kerangka baru: sebagai suara yang mewakili kegelisahan mereka terhadap ketidakadilan yang menimpa rakyat Palestina. Ini adalah bentuk re-semiotisasi besar-besaran yang lahir dari kegetiran kolektif.

Namun, simbol Islam bukanlah lapisan makna terdalam. Solidaritas terhadap Iran meluas juga dari pihak-pihak yang tidak memiliki kedekatan ideologis maupun religius. Banyak aktivis hak asasi manusia, jurnalis independen, akademisi, bahkan warga biasa di Barat yang menyatakan bahwa tindakan Iran—meskipun militeristik—mewakili kepedihan global terhadap matinya etika dan diplomasi internasional. Dalam konteks ini, ada supercode yang lebih luas dari agama: kemanusiaan.

Kita melihat bagaimana batas identitas keagamaan tidak cukup menjelaskan simpati kolektif yang muncul. Di balik bendera, mazhab, dan sejarah konflik, ada luka yang dibaca bersama. Dan dalam pembacaan bersama itulah rudal menjadi teks, bukan sekadar senjata. Ia dibaca sebagai simbol protes terhadap dunia yang gagal membela rakyat sipil Palestina. Bahkan bagi sebagian kalangan, rudal itu adalah “suara” dari yang tidak lagi punya tempat berbicara.

Tentu kita tidak sedang merayakan kekerasan atau glorifikasi rudal. Kita tidak sedang mempromosikan perang. Yang sedang kita hadapi adalah bagaimana sebuah tindakan militer dapat menjelma menjadi simbol perlawanan yang dibaca secara kolektif, dan itu terjadi bukan karena logika peperangan semata, tetapi karena krisis kemanusiaan yang makin lama makin tak tertanggulangi.

Namun tidak semua siap menerima pergeseran ini. Mereka yang hari ini kembali menyerukan sekat mazhab justru memperlihatkan posisi geopolitik lama yang ingin menjaga dunia Islam tetap terbelah. Kecurigaan terhadap Syiah digunakan kembali untuk meredam solidaritas.

Inilah paradoksnya: di saat umat secara kultural dan simbolik bersatu melampaui batas-batas teologis, justru sebagian elit intelektual dan politis mencoba menarik kita kembali ke dalam kotak-kotak lama. Mereka menginginkan simbol kembali pada makna dominan (overcode)—padahal simbol, sebagaimana dikatakan Eco, hidup dan berubah sesuai konteks budaya dan politik yang membacanya.

Tetapi andai pun kita terpaksa menerima dunia sebagai teks tertutup, closed text, maka kita harus menyadari: pilihan kita hanya tersisa dua—mazhab kemanusiaan atau mazhab penindas. Sebab yang kita hadapi hari ini bukan sekadar perang mazhab atau identitas, tetapi ujian keberpihakan. Bukan soal Syiah atau Sunni. Bukan soal Iran atau Arab. Ini soal siapa yang berdiri bersama yang tertindas.

Rudal Iran mungkin akan berhenti. Tetapi simbol yang ia tinggalkan akan terus bergema. Ia telah menjadi teks sosial yang melampaui sekat, menjadi ruang tafsir terbuka bagi Islam sebagai solidaritas, dan lebih jauh lagi, kemanusiaan sebagai nilai bersama. Sekat mazhab, jika runtuh hari ini, bukan oleh diskusi fiqih atau forum rekonsiliasi teologis. Ia runtuh oleh kesedihan dan simpati yang sama terhadap Palestina.

Oleh: Pepy Albayqunie  – (Seorang pecinta kebudayaan lokal dan Jamaah Gusdurian di Sulawesi Selatan yang belajar menulis novel secara otodidak. Ia lahir dengan nama Saprillah)

  • Penulis: Tim Redaksi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Newcastle Tundukkan Manchester United Meski Bermain 10 Pemain, Arsenal Makin Kokoh di Puncak

    Newcastle Tundukkan Manchester United Meski Bermain 10 Pemain, Arsenal Makin Kokoh di Puncak

    • calendar_month Kamis, 5 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 353
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Newcastle United meraih kemenangan dramatis 2-1 atas Manchester United dalam lanjutan Premier League yang berlangsung pada Rabu, 4 Maret 2026. Bermain di kandang sendiri, Newcastle harus menjalani babak kedua dengan 10 pemain setelah Jacob Ramsey menerima kartu kuning kedua pada menit 45+1 akibat dianggap melakukan diving. Meski dalam kondisi timpang, Newcastle justru mampu […]

  • Sejalan dengan Prabowo, DPR Tekankan Reformasi Polri Fokus Bersihkan Internal dan Perkuat Propam

    Sejalan dengan Prabowo, DPR Tekankan Reformasi Polri Fokus Bersihkan Internal dan Perkuat Propam

    • calendar_month Jumat, 9 Jan 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 158
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Komisi III DPR RI menegaskan bahwa reformasi Kepolisian Republik Indonesia (Polri) harus diarahkan pada penguatan pengawasan internal dan perubahan kultur organisasi, bukan sekadar perombakan struktur. Penegasan ini dinilai sejalan dengan arahan Presiden RI Prabowo Subianto yang menuntut Polri menjadi institusi yang bersih, tangguh, dan berpihak pada rakyat kecil. Melalui Panitia Kerja (Panja) Reformasi […]

  • Hizbut Tahrir Bangkit, Satkornas Banser NU: Saatnya Pemerintah Mengambil Langkah Tegas

    Hizbut Tahrir Bangkit, Satkornas Banser NU: Saatnya Pemerintah Mengambil Langkah Tegas

    • calendar_month Rabu, 26 Feb 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 179
    • 0Komentar

    Nulondalo – Organisasi terlarang yang telah dibubarkan pemerintah pada 19 Juli 2017 bernama Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) kembali bangkit di beberapa titik di Indonesia. Komandan Satuan Koordinasi Nasional Banser PP GP Ansor, H. Syafiq Syauqi menyampaikan bahwa HTI telah dibubarkan Pemerintah melalui Kementerian Hukum dan HAM karena bertentangan dengan Pancasila, UUD 1945, dan mengancam keutuhan NKRI. “GP […]

  • Dosa karena Sombong Sulit Diampuni, KH. Muhyidin Zeni Ungkap Perbedaannya Play Button

    Dosa karena Sombong Sulit Diampuni, KH. Muhyidin Zeni Ungkap Perbedaannya

    • calendar_month Kamis, 8 Jan 2026
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 349
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Wakil Rais Syuriyah PWNU Gorontalo, KH. Muhyidin Zeni, menegaskan bahwa dosa yang bersumber dari kesombongan memiliki dampak spiritual yang jauh lebih berbahaya dibanding dosa yang lahir dari dorongan syahwat. Hal ini disampaikan dalam pengajian rutin yang tayang di Nutizen TV, yang disadur dari Kitab Nashoihul Ibad karya Syekh Muhammad Nawawi Al-Bantani yang berisi […]

  • Akuntan Langit

    Akuntan Langit

    • calendar_month Minggu, 15 Mar 2026
    • account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
    • visibility 456
    • 0Komentar

    Di bulan Ramadhan, banyak orang tiba-tiba rajin menghitung. Ada yang menghitung jumlah rakaat tarawih, ada yang menghitung hari menuju Lebaran, dan ada pula yang sibuk menghitung diskon di pusat perbelanjaan. Namun, di balik semua hitung-hitungan itu, ada satu sistem akuntansi yang jauh lebih canggih daripada software keuangan mana pun: akuntansi langit. Jika akuntan di dunia […]

  • Mentan Amran Murka Temukan Bawang Selundupan: “Tak Ada Ampun, Bongkar Sampai Akar!”

    Mentan Amran Murka Temukan Bawang Selundupan: “Tak Ada Ampun, Bongkar Sampai Akar!”

    • calendar_month Sabtu, 10 Jan 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 279
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan sikap keras pemerintah terhadap praktik impor ilegal pangan yang dinilai merugikan petani dan mengancam ekosistem pertanian nasional. Penegasan itu disampaikan Mentan Amran saat turun langsung ke Semarang untuk mengecek ribuan karung bawang bombay selundupan yang masuk tanpa izin resmi dan terindikasi membawa penyakit berbahaya. Dalam pemeriksaan […]

expand_less