Breaking News
light_mode
Trending Tags

Invisible Labor Ibu Rumah Tangga dalam Perspektif Ekonomi

  • account_circle Sutanti Idris
  • calendar_month 12 jam yang lalu
  • visibility 29
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Di tengah masyarakat modern yang semakin sibuk mengejar pertumbuhan ekonomi, ada satu jenis pekerjaan yang justru sering luput dari pengakuan: pekerjaan domestik ibu rumah tangga. Aktivitas memasak, membersihkan rumah, mengurus anak, mendampingi pendidikan keluarga, menjaga kesehatan emosional anggota rumah tangga, hingga memastikan seluruh ritme keluarga berjalan stabil, sering dianggap sebagai “kewajiban biasa” seorang perempuan. Padahal, jika dihitung secara ekonomi, pekerjaan tersebut memiliki nilai yang sangat besar.

Ironisnya, pekerjaan yang paling menentukan kualitas generasi masa depan justru menjadi pekerjaan yang paling minim apresiasi finansial. Inilah yang disebut sebagai invisible labor — kerja yang nyata, melelahkan, produktif, tetapi tidak terlihat dalam statistik ekonomi formal.

Dalam perspektif ekonomi modern, ukuran produktivitas masih terlalu berpusat pada pekerjaan yang menghasilkan pendapatan langsung. Akibatnya, ibu rumah tangga sering dianggap “tidak bekerja” hanya karena tidak menerima gaji bulanan. Padahal jika seluruh pekerjaan domestik itu dialihkan kepada tenaga profesional, keluarga harus membayar biaya besar untuk pengasuh anak, guru privat, koki, cleaning service, konselor keluarga, hingga manajer rumah tangga.

Artinya, seorang ibu sejatinya menjalankan banyak profesi sekaligus dalam satu waktu.

Sayangnya, masyarakat masih sering menilai nilai seseorang dari seberapa besar penghasilannya, bukan dari seberapa besar kontribusinya terhadap keberlangsungan kehidupan. Perspektif inilah yang perlu diluruskan. Sebab ekonomi sejatinya bukan hanya tentang uang yang berputar di pasar, tetapi juga tentang bagaimana manusia mempertahankan kualitas hidupnya.

Ibu rumah tangga adalah fondasi ekonomi yang paling dasar. Ketika seorang ibu menjaga stabilitas rumah tangga dengan baik, maka produktivitas anggota keluarga lainnya ikut meningkat. Anak tumbuh lebih sehat secara emosional, suami dapat bekerja lebih fokus, dan lingkungan keluarga menjadi lebih stabil. Dampaknya bahkan bisa dirasakan hingga skala sosial dan nasional.

Negara dengan kualitas keluarga yang baik umumnya memiliki kualitas sumber daya manusia yang lebih kuat. Maka sesungguhnya, pekerjaan domestik bukan aktivitas kecil. Ia adalah investasi sosial jangka panjang.

Sebagai perempuan, saya memandang bahwa nilai seorang perempuan tidak selalu harus diukur dari seberapa tinggi jabatan publik yang dimiliki. Menjadi ibu rumah tangga yang cerdas, terdidik, dan mampu membangun kualitas generasi juga merupakan bentuk kepemimpinan yang luar biasa. Perempuan modern tidak seharusnya dipaksa memilih antara keluarga atau intelektualitas. Keduanya bisa berjalan beriringan.

Pendidikan tinggi justru membuat perempuan lebih sadar bahwa pekerjaan domestik memiliki nilai strategis dalam pembangunan manusia. Karena itu, ibu rumah tangga tidak boleh lagi diposisikan sebagai kelompok “tidak produktif”. Mereka adalah penggerak ekonomi yang bekerja tanpa jam istirahat dan sering kali tanpa penghargaan yang layak.

Lebih jauh lagi, fenomena invisible labor juga menunjukkan adanya ketimpangan emosional dalam rumah tangga. Banyak ibu yang kelelahan secara mental karena seluruh pekerjaan domestik dianggap otomatis menjadi tanggung jawabnya. Padahal membangun keluarga adalah kerja kolektif, bukan beban satu pihak saja. Kesadaran ini penting agar tercipta relasi keluarga yang lebih sehat, setara, dan saling menghargai.

Di era digital saat ini, perempuan semakin memiliki ruang untuk menyuarakan realitas tersebut. Banyak ibu rumah tangga yang kini tetap berkembang secara intelektual, aktif menulis, berbicara di forum publik, membangun komunitas, bahkan melanjutkan pendidikan tinggi tanpa meninggalkan perannya sebagai ibu. Ini membuktikan bahwa perempuan memiliki kapasitas besar untuk bertumbuh di berbagai ruang sekaligus.

Sudah waktunya masyarakat berhenti meremehkan pekerjaan domestik hanya karena tidak tercatat dalam slip gaji. Sebab tidak semua pekerjaan bernilai besar selalu dibayar dengan uang. Ada pekerjaan yang nilainya justru terlihat dari lahirnya anak-anak yang sehat, keluarga yang kuat, dan generasi yang berkualitas.

Dan di balik banyak keluarga hebat, sering kali ada seorang ibu yang bekerja dalam diam, tanpa panggung, tanpa sorotan, tetapi memegang peranan ekonomi yang sangat besar bagi kehidupan.

Invisible labor bukan tentang pekerjaan kecil yang tidak penting. Invisible labor adalah bentuk kontribusi besar yang terlalu lama dibuat tidak terlihat.

  • Penulis: Sutanti Idris

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Gorontalo dan Imajinasi Baru Ketangguhan Bencana

    Gorontalo dan Imajinasi Baru Ketangguhan Bencana

    • calendar_month Minggu, 1 Feb 2026
    • account_circle Dr. Husin Ali
    • visibility 907
    • 0Komentar

    Catatan Etnografis tentang Kepemimpinan, Dunia Usaha, dan Etika Merawat Kota Tulisan ini saya rampungkan di tengah malam—ketika jarum jam bergerak ke angka kecil di penghujung Januari, dan Februari 2026 mengintip dari balik kalender. Kota sedang senyap. Jalan-jalan lengang. Namun di kepala saya justru berdenyut percakapan, gestur, dan resonansi sosial yang belum ingin reda: bahwa saya […]

  • Larangan Petasan dan Narkoba Ditegaskan, Camat Maros Baru Ajak Warga Jaga Kondusifitas

    Larangan Petasan dan Narkoba Ditegaskan, Camat Maros Baru Ajak Warga Jaga Kondusifitas

    • calendar_month Rabu, 24 Des 2025
    • account_circle Sakti
    • visibility 139
    • 0Komentar

    nulondalo.com, Maros— Menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025, kesiapsiagaan dan penjagaan keamanan terus diperketat oleh berbagai instansi dan institusi di Kabupaten Maros. Langkah ini dilakukan guna memastikan keamanan, ketertiban, serta kenyamanan masyarakat selama momentum akhir tahun, sejalan dengan Surat Edaran Bupati Maros terkait pengamanan Nataru. Menindaklanjuti surat edaran tersebut, Camat Maros Baru, A. […]

  • Kuasa Hukum Latif Mangan, Fakhrurrozi Arrusady Tegaskan Putusan NO Bukan Kemenangan Salah Satu Pihak

    Kuasa Hukum Latif Mangan, Fakhrurrozi Arrusady Tegaskan Putusan NO Bukan Kemenangan Salah Satu Pihak

    • calendar_month Selasa, 24 Feb 2026
    • account_circle Risman Lutfi
    • visibility 228
    • 0Komentar

    Nulondalo.com – Putusan perkara perdata Nomor 19/Pdt.G/2025/PN Lbt yang diputus oleh Pengadilan Negeri Lembata pada 19 Februari 2026 memicu polemik di tengah masyarakat. Sengketa hak kepemilikan tanah antara Latif Mangan dan Mahmudin Tukang tersebut menuai beragam tafsir, khususnya terkait amar putusan yang menyatakan gugatan “niet ontvankelijke verklaard” (NO) atau tidak dapat diterima. Kuasa hukum Latif […]

  • Thomas A.M. Djiwandono Resmi Dilantik sebagai Deputi Gubernur BI, Ini Profil dan Rekam Jejaknya

    Thomas A.M. Djiwandono Resmi Dilantik sebagai Deputi Gubernur BI, Ini Profil dan Rekam Jejaknya

    • calendar_month Selasa, 10 Feb 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 187
    • 0Komentar

    nulondalo.com– Thomas A.M. Djiwandono resmi dilantik sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) setelah mengucapkan sumpah jabatan di hadapan Ketua Mahkamah Agung Republik Indonesia, Prof. Dr. Sunarto, S.H., M.H., pada Senin, 9 Februari 2026. Pelantikan ini merupakan tindak lanjut dari Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 10/P Tahun 2026 tertanggal 3 Februari 2026. Sebelum bergabung dalam jajaran […]

  • Langkah Terhadang Lapak: Menata Ulang Empati di Ruang Kota

    Langkah Terhadang Lapak: Menata Ulang Empati di Ruang Kota

    • calendar_month Rabu, 29 Okt 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 142
    • 0Komentar

    Kebijakan yang Menuai Tanya  Beberapa waktu terakhir, masyarakat Gorontalo dikejutkan oleh pernyataan Walikota yang memperkenankan pedagang berjualan di trotoar di ruas Jalan eks Andalas (John Ario Katili) dan Tanggidaa (Cokroaminoto). Pernyataan tersebut, meski berniat baik untuk membantu pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), justru menimbulkan pertanyaan di kalangan pemerhati tata kota, arsitek, dan masyarakat umum: Apakah […]

  • Masa Depan Partai Islam di Serambi Madinah oleh Dr. Funco Tanipu

    Masa Depan Partai Islam di Serambi Madinah oleh Dr. Funco Tanipu

    • calendar_month Senin, 26 Mei 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 134
    • 0Komentar

    Partai-partai Islam di Indonesia rata-rata mengambil gambar Bulan sebagai lambang partainya masing-masing. Selain bulan, ada juga bintang sebagai bagian dari lambang partai. Selain partai, ada beberapa ormas yang menggunakan bulan sebagai lambang organisasi, seperti HMI, GP Ansor, dll. Bulan dan bintang memiliki makna keberanian, ketinggian, keteguhan, dan kekuatan politik yang menjamin tegaknya syariat Islam. Selain […]

expand_less