Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Puzzle Terakhir Demokrasi: Partisipasi Publik di Media Digital

  • account_circle Tim Redaksi
  • calendar_month Minggu, 29 Jun 2025
  • visibility 152
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Indonesia sudah lama menerima demokrasi sebagai bentuk. bahkan sejak awal diproklamirkan, demokrasi diterima sebagai instrumen politik utama. Tetapi entah kenapa, selalu terasa ada yang kurang lengkap. Seolah ada satu puzzle yang hilang dan membuat demokrasi kita tak utuh. Yaitu partisipasi publik yang subtantif. Padahal, partisipasi publik adalah mandat utama demokrasi.

Selama bertahun-tahun, partisipasi publik dalam siklus demokrasi adalah sebatas mendatangi bilik suara. Publik memilih, lalu pulang. Setelah itu, suara rakyat berhenti. Menunggu lima tahun berikutnya.

Pemerintah menjalankan kekuasaan dengan sedikit sekali kontrol dari warga. Lembaga legislatif, yang seharusnya menjadi penghubung antara rakyat dan kebijakan, justru sering tampil sebagai perpanjangan tangan pemerintah. Fungsi pengawasan melemah, fungsi representasi menguap.

Demokrasi akhirnya tereduksi menjadi rutinitas prosedural. Ia hidup dari satu jadwal ke jadwal berikutnya, tanpa diiringi kesadaran politik yang utuh. Partisipasi warga dibatasi pada euforia pemilu, lalu dibiarkan hilang begitu kekuasaan terbentuk.

Ruang-ruang partisipasi yang tersedia lebih banyak bersifat kosmetik: forum publik yang dikendalikan elit, uji publik yang hanya formalitas, dan mekanisme aduan yang tidak pernah sungguh-sungguh menyelesaikan persoalan. Atau paling keras adalah demonstrasi mahasiswa yang berakhir bentrok.

Dalam situasi semacam itu, yang tumbuh bukan kesadaran kolektif, melainkan frustrasi kolektif. Frustrasi yang tidak diberi ruang justru menjelma menjadi ancaman diam-diam. Demokrasi yang kehilangan saluran partisipasi sejatinya sedang memelihara kemarahan. Ketika suara rakyat dipinggirkan, dan partisipasi dikunci rapat oleh elit, kemarahan itu tidak hilang—ia hanya menunggu tempat untuk meledak.

Ledakan itu tidak datang dari jalan. Tidak dari kampus. Tapi ruang yang tumbuh dan tak terkendali secara global: media digital.

Media sosial berbasis digital sejatinya tidak dirancang untuk urusan politik. Tapi justru di sanalah politik warga menemukan ekspresinya. Ruang digital memungkinkan rakyat berbicara tanpa batas dan tanpa izin siapa-siapa. Di sinilah publik mulai berbicara, mengorganisasi opini, menggalang solidaritas, bahkan bisa menekan kebijakan.

Contoh paling terlihat jelas terjadi pada 2020, saat Undang-Undang Cipta Kerja disahkan. Gelombang penolakan muncul bukan hanya dari jalanan, tapi juga dari jagat digital. Tagar #TolakOmnibusLaw menjadi trending. Ratusan desain poster, utas edukatif, dan video pendek menyebar luas, memperluas kesadaran publik tentang isi dan dampak regulasi tersebut.

Aksi digital itu bukan sekadar ekspresi—ia adalah intervensi. Bahkan Mahkamah Konstitusi akhirnya menyatakan UU tersebut “inkonstitusional bersyarat”. Ini bukan kemenangan instan, tapi menunjukkan bahwa ruang digital bisa menjadi kanal kontrol publik terhadap kekuasaan.

Transformasi ruang digital menjadi arena politik warga terjadi secara organik. Tidak dikoordinasikan negara, tidak dipandu oleh partai politik. Ia tumbuh dari kebutuhan untuk bersuara dan terlibat.

Ruang digital memberi peluang partisipasi yang lebih terbuka dan horizontal. Siapa pun bisa menyampaikan pendapatnya tanpa harus punya posisi formal. Seorang pelajar, nelayan, guru, atau pekerja informal bisa mengungkapkan kritiknya langsung kepada pemegang kebijakan—dan bisa viral.

Di sinilah demokrasi menemukan bentuk yang lebih lengkap. Bukan hanya soal memilih, tapi juga soal mengawasi. Bukan hanya suara lima tahunan, tapi suara harian yang bisa muncul dari mana saja.

Tentu ruang digital tidak tanpa masalah. Di sana juga ada hoaks, polarisasi, dan penggiringan opini oleh aktor politik. Tapi ruang yang bising lebih sehat bagi demokrasi dibanding ruang yang sunyi dan terkendali.

Persoalannya hari ini justru terletak pada negara. Apakah negara siap mengakui ruang digital sebagai bagian dari demokrasi? Atau justru merasa terganggu dan ingin menertibkannya dengan dalih keamanan atau ketertiban?

Beberapa kebijakan yang lahir belakangan ini menunjukkan kecenderungan mengawasi dan membatasi ruang digital, bukan memperkuatnya sebagai kanal partisipasi. Ini berbahaya. Karena akan membawa kita mundur ke demokrasi prosedural yang semu.

Jika demokrasi ingin hidup, maka partisipasi publik tidak boleh dimarjinalkan. Dan hari ini, partisipasi itu nyata hadir di ruang digital. Bukan hanya sebagai ekspresi, tetapi sebagai pengaruh.

Puzzle terakhir demokrasi akhirnya ditemukan. Bukan di kantor pemerintahan. Bukan di gedung parlemen. Tapi di layar ponsel warga biasa.

Dan dari situ, demokrasi Indonesia pelan-pelan mulai berbentuk lebih utuh.

Oleh : Pepy Albayqunie (Seorang pecinta kebudayaan lokal dan Jamaah Gusdurian di Sulawesi Selatan yang belajar menulis novel secara otodidak. Ia lahir dengan nama Saprillah)

  • Penulis: Tim Redaksi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Zakat Salah Catat

    Zakat Salah Catat

    • calendar_month Minggu, 22 Feb 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 367
    • 0Komentar

    Ramadhan selalu datang dengan dua agenda besar: membersihkan hati dan membersihkan pembukuan. Yang pertama urusan langit, yang kedua sering kali urusan auditor. Di sinilah zakat menemukan relevansinya, bukan hanya sebagai rukun Islam, tetapi juga sebagai “rukun akuntansi sosial”. Sebab, zakat itu jangan sampai salah niat, apalagi salah catat. Dalam tradisi Nahdlatul Ulama, humor bukan untuk […]

  • FEB Unusia Siap Bertransformasi dengan Pimpinan Baru

    FEB Unusia Siap Bertransformasi dengan Pimpinan Baru

    • calendar_month Selasa, 25 Agt 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 57
    • 0Komentar

    NULONDALO.COM, JAKARTA — Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) memasuki babak baru kepemimpinan untuk masa jabatan 2026–2030. Momentum tersebut ditandai dengan pelantikan dan pengukuhan pengelola Unusia yang digelar di Aula Jakoeb Oetama, Unusia Jakarta, Kamis (20/8). Dalam struktur baru tersebut, Dr. Muhammad Aras Prabowo, S.E., M.Ak. dipercaya memimpin FEB sebagai Dekan. […]

  • Koalisi Desak Presiden Hentikan Proyek Jalan 135 Km di Merauke, Diduga Langgar AMDAL dan HAM

    Koalisi Desak Presiden Hentikan Proyek Jalan 135 Km di Merauke, Diduga Langgar AMDAL dan HAM

    • calendar_month Kamis, 19 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 446
    • 0Komentar

    nulondalo.com –  Koalisi Penegak Hukum dan Hak Asasi Manusia Papua mendesak Presiden Republik Indonesia dan Menteri Pertahanan untuk segera menghentikan pembangunan jalan akses sepanjang 135 kilometer di Kabupaten Merauke, Provinsi Papua Selatan. Desakan ini disampaikan menyusul dugaan bahwa proyek sarana prasarana ketahanan pangan tersebut dijalankan tanpa memenuhi ketentuan lingkungan hidup serta berpotensi melanggar hak masyarakat […]

  • Banom NU Barru Gelar Kajian Aswaja, Hadirkan Syekh Asal Lebanon

    Banom NU Barru Gelar Kajian Aswaja, Hadirkan Syekh Asal Lebanon

    • calendar_month Sabtu, 18 Apr 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 354
    • 0Komentar

    nulondalo.com, Barru – Badan Otonom Nahdlatul Ulama (Banom NU) Kabupaten Barru menggelar kajian Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja) di Zam-Zam Center Barru, Sabtu (18/4/2026). Kegiatan ini berlangsung khidmat dan mendapat antusiasme tinggi dari para peserta. Acara tersebut dihadiri Rais Syuriah PC NU Kabupaten Barru, AG. Dr. H. Husain Abdullah, serta seluruh Banom NU, di antaranya Muslimat […]

  • Ketua Umum MUI Ajak Bangsa Perkuat Persatuan dan Doa Hadapi Dinamika Global

    Ketua Umum MUI Ajak Bangsa Perkuat Persatuan dan Doa Hadapi Dinamika Global

    • calendar_month Jumat, 6 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 211
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), Anwar Iskandar, mengajak seluruh elemen bangsa untuk memperkuat persatuan nasional serta meningkatkan ikhtiar spiritual di tengah dinamika geopolitik dan geoekonomi global yang terus berkembang. Hal tersebut disampaikan Anwar usai menghadiri kegiatan silaturahmi antara Presiden dan para kiai serta tokoh organisasi kemasyarakatan Islam di Istana Kepresidenan Jakarta pada […]

  • Khutbah Jumat: Islam sebagai Rahmat, Antara Ajaran dan Perwujudan

    Khutbah Jumat: Islam sebagai Rahmat, Antara Ajaran dan Perwujudan

    • calendar_month Kamis, 16 Apr 2026
    • account_circle Dr. H. Ahmad Shaleh Amin, Lc., M.A
    • visibility 239
    • 0Komentar

    Di tengah dunia yang semakin bising oleh teknologi, manusia justru kian akrab dengan kesunyian yang ganjil. Segalanya menjadi lebih cepat, lebih dekat, dan lebih canggih—namun hati manusia tidak serta-merta menjadi lebih tenang. Di balik layar yang terang, banyak jiwa diam-diam meredup. Di tengah limpahan informasi, manusia justru kehilangan arah. Fenomena ini bukan sekadar gejala psikologis, […]

expand_less