Kekeringan dan krisis air bersih.Masalah yang tidak kunjung usai Di Kecamatan Bontoa
- account_circle Hardiansyah
- calendar_month 17 jam yang lalu
- visibility 73
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Nulondalo.com,Maros – Musim kemarau yang berkepanjangan mulai memicu krisis air bersih di sejumlah wilayah Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Ribuan warga di kawasan pesisir kini harus bertahan dengan menggunakan air sumur tadah hujan yang keruh bahkan terasa asin untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Salah satu wilayah yang mengalami dampak paling parah adalah Desa Ampekale, Kecamatan Bontoa. Selama lebih dari tiga bulan terakhir, warga kesulitan mendapatkan air bersih setelah sumur dan sejumlah sumber air mulai mengering akibat minimnya curah hujan.
Kondisi tersebut memaksa masyarakat memanfaatkan air sumur tadah hujan yang debitnya terus menyusut,Meski kualitas airnya keruh dan sedikit asin, air tersebut tetap digunakan untuk mandi dan mencuci karena tidak ada pilihan lain.
Sementara itu, kebutuhan air minum dan memasak hanya dapat dipenuhi dengan membeli air bersih dari penjual air keliling seharga sekitar Rp2.500 per jeriken. Dalam sebulan, biaya yang harus dikeluarkan setiap keluarga dapat mencapai Rp500 ribu, menjadi beban tambahan di tengah tekanan ekonomi masyarakat.
Perjuangan memperoleh air bersih pun tidak mudah. Warga harus berjalan kaki lebih dari satu kilometer sambil mendorong gerobak berisi ember dan jeriken menuju sumber air. Aktivitas itu dilakukan hingga tiga kali sehari demi memenuhi kebutuhan rumah tangga.
Hasnah, salah seorang warga Desa Ampekale, mengatakan keluarganya sudah berbulan-bulan bertahan dengan kondisi tersebut.
- Penulis: Hardiansyah

Saat ini belum ada komentar