Adjustment Langit
- account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
- calendar_month 3 jam yang lalu
- visibility 75
- print Cetak

Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak./Istimewa
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Ramadhan memberi kesempatan untuk melakukan reklasifikasi moral. Misalnya, dari sifat pelit menjadi dermawan, dari malas menjadi rajin, dari marah menjadi sabar. Dalam istilah jurnal, ini seperti memindahkan akun dari beban duniawi ke aset ukhrawi.
Humor ala Gus Dur mungkin akan menjelaskan ini dengan cara sederhana. Beliau pernah berkata kira-kira begini: “Tuhan itu tidak pernah kekurangan pahala untuk dibagikan, yang sering kekurangan itu manusia—niatnya.”
Kalimat ini jika diterjemahkan dalam bahasa akuntansi berarti: kapasitas “anggaran pahala” di langit tidak pernah defisit. Yang sering defisit adalah laporan amal manusia.
Masalahnya, banyak orang mengira Ramadhan hanya soal menahan lapar dan haus. Padahal, secara konseptual Ramadhan adalah periode rekonsiliasi besar antara manusia dan Tuhan.
Dalam praktik akuntansi, rekonsiliasi dilakukan untuk mencocokkan dua catatan yang berbeda. Dalam kehidupan spiritual, Ramadhan mencocokkan dua laporan: laporan amal manusia dan catatan malaikat.
Kadang kita merasa sudah banyak berbuat baik, tapi ternyata catatan langit berbeda. Seperti perusahaan yang merasa untung, tapi setelah diaudit ternyata rugi karena salah pencatatan.
Di sinilah pentingnya taubat, yang dalam bahasa akuntansi bisa dianggap sebagai write-off dosa. Bukan berarti dosanya tidak pernah ada, tetapi dihapus karena ada proses koreksi dan komitmen untuk tidak mengulanginya.
Humor khas pesantren sering mengatakan, “Ramadhan itu seperti diskon besar di toko pahala.”
- Penulis: Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.

Saat ini belum ada komentar