Anak Dibatasi Medsos, Tapi Konten Dewasa Tetap Bebas? Ini Kata Majelis Ulama Indonesia
- account_circle Djemi Radji
- calendar_month 3 jam yang lalu
- visibility 44
- print Cetak

Ilustrasi seorang remaja yang mengakses konten dewasa melalui ponsel di ruang pribadi, mencerminkan mudahnya akses internet serta minimnya pengawasan dan literasi digital di kalangan anak muda.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Salah satu faktor utama adalah meningkatnya akses internet yang semakin merata di berbagai wilayah Indonesia.
Kemudahan akses ini membuat berbagai jenis konten, termasuk konten dewasa, dapat dijangkau dengan cepat. Meski pemerintah telah melakukan pemblokiran, banyak pengguna masih dapat mengaksesnya melalui teknologi seperti Virtual Private Network (VPN) yang memungkinkan pembukaan situs yang dibatasi.
Di sisi lain, minimnya pendidikan seksual yang komprehensif juga menjadi penyebab penting. Pembahasan mengenai seksualitas yang masih dianggap tabu membuat banyak remaja tidak mendapatkan informasi yang benar dan memadai.
Akibatnya, internet sering dijadikan sumber utama untuk mencari tahu, yang justru berisiko mengarahkan pada konten pornografi.
Budaya konservatif yang masih kuat di masyarakat turut memperparah kondisi ini. Kurangnya ruang diskusi terbuka mengenai seksualitas menyebabkan rasa ingin tahu yang tinggi tidak tersalurkan secara sehat.
Banyak remaja akhirnya mencari jawaban sendiri di dunia maya tanpa pendampingan yang tepat.
Selain itu, lemahnya penegakan hukum terhadap penyebaran konten pornografi juga menjadi sorotan. Meski aturan telah ada, implementasinya dinilai belum maksimal.
Situs-situs yang diblokir kerap kembali diakses melalui berbagai cara, termasuk penggunaan aplikasi anonim dan teknologi pengelabuan lokasi.
Penggunaan smartphone yang semakin masif juga berperan besar. Perangkat ini menjadi pintu utama masyarakat dalam mengakses internet, termasuk konten dewasa.
- Penulis: Djemi Radji

Saat ini belum ada komentar