Api yang Tak Pernah Padam: Menjaga Tujuan, Merawat Sejarah, dan Menyemai Masa Depan Himpunan Mahasiswa Islam
- account_circle Dr. Husin Ali
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 84
- print Cetak

Dr. Husin Ali/Istimewa
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Tujuh puluh sembilan tahun bukanlah bilangan kecil dalam kalender sebuah organisasi. Ia adalah rangkuman dari denyut generasi, dari tarikan napas para mahasiswa yang datang silih berganti, membawa kecemasan zamannya masing-masing, sekaligus memikul harapan bangsa yang tak pernah sederhana. Pada usia inilah HMI berdiri hari ini—bukan sekadar sebagai organisasi kemahasiswaan, melainkan sebagai sekolah peradaban yang telah melahirkan ribuan kader di berbagai medan pengabdian.
Bagi saya, HMI bukan sekadar halaman dalam biografi pribadi. Ia adalah ruang pembentuk cara berpikir, medan pembelajaran etika publik, serta rumah kultural yang menanamkan keberanian untuk menyebut yang benar sebagai benar, dan yang keliru sebagai keliru—tanpa kehilangan adab.
Saya pernah memikul amanah sebagai Ketua Umum HMI Cabang Gorontalo; kini mengabdi dalam Majelis Daerah KAHMI Kota Gorontalo; serta dipercaya sebagai Wakil Sekretaris Pengurus Tanfidziah Nahdlatul Ulama Provinsi Gorontalo. Lintasan peran itu mempertemukan saya dengan dua dunia: dunia gagasan yang tumbuh di ruang-ruang kaderisasi, dan dunia kebijakan yang beroperasi dalam struktur negara. Di antara keduanya, HMI selalu menjadi jembatan moral yang mengingatkan bahwa jabatan hanyalah alat, sementara nilai adalah tujuan.
Dari Masjid, Kampus, dan Pencarian Makna
Ketertarikan saya pada HMI tumbuh dari lorong-lorong sunyi pengabdian. Saat itu saya masih mahasiswa, aktif di organisasi remaja masjid, bahkan tengah dipercaya menjadi ketua takmir. Di sana saya belajar bahwa kepemimpinan bukan pertama-tama soal berbicara di depan mimbar, melainkan tentang membersihkan karpet sebelum jamaah datang, menenangkan perbedaan pendapat, dan memastikan lampu masjid tetap menyala ketika dana terbatas.
Di ruang-ruang sederhana itulah saya menyerap pelajaran antropologis paling awal: bahwa masyarakat dibangun oleh ritual kecil yang berulang, oleh kebiasaan saling percaya, oleh kesediaan berbagi beban. Ketika kemudian saya berjumpa dengan HMI, dengan tradisi diskusinya yang tajam, keberanian kritiknya yang terukur, dan kepedulian sosialnya yang konkret. saya merasakan kesinambungan nilai: iman yang bergerak, akal yang bekerja, dan pengabdian yang menyejarah.
Menghafal Tujuan: Sebuah Ritus yang Menjadi Kompas Hidup
Ada satu pengalaman yang tak pernah lekang dari ingatan saya sebagai kader muda: saat seorang senior kakanda Sumarjo sebagai MOT meminta kami (saya, Yuriko Kamaru, Samsul Munir, Fenti Pobi (alm) Iswan Hamzah) menghafal tujuan HMI dan mengucapkannya di depan forum saat mengikuti Basic Training (LK 1) di Komisariat PBS STKIP Gorontalo saat itu. Di mata sebagian orang, itu mungkin tampak seperti latihan disiplin biasa. Namun bagi saya, ia menjelma menjadi ritus inisiasi—sebuah momen simbolik yang menanamkan orientasi hidup.
Menghafal tujuan itu bukan sekadar menempelkan kalimat di kepala. Ia adalah proses internalisasi: bahwa HMI didirikan dengan tujuan terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi, yang bernafaskan Islam, dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhai Allah Swt. Kalimat itu, diucapkan berulang-ulang di hadapan para senior, menjelma menjadi kompas moral. Setiap kali saya berhadapan dengan pilihan sulit, di kampus, di organisasi, atau kini di birokrasi, kalimat itulah yang sering muncul pertama kali dalam batin saya: apakah langkah ini masih sejalan dengan tujuan itu?
Dalam kacamata antropologi, hafalan tersebut adalah mekanisme transmisi nilai. Ia bekerja seperti mantra sosial, mengikat individu ke dalam komunitas, menyatukan lintasan pribadi dengan horizon kolektif. Itulah sebabnya saya nyaris tak pernah melupakan tujuan HMI: karena ia tidak hanya disimpan dalam ingatan, tetapi ditanamkan dalam identitas.
HMI dan Tugas Sejarah di Gorontalo
Sejarah sering kali terasa abstrak sampai kita menyentuhnya lewat kisah konkret. Bagi saya, salah satu kisah paling menggetarkan adalah peran HMI Cabang Gorontalo bersama jaringan mahasiswa Gorontalo di Manado melalui Himpunan Pelajar Mahasiswa Indonesia Gorontalo (HPMIG) dalam perjuangan pembentukan Provinsi Gorontalo.
Kala itu, kader-kader muda tidak memilih jalan aman. Mereka menggerakkan massa, turun ke jalan, dan bahkan mengambil langkah berisiko dengan menguasai sarana siaran publik seperti Radio Republik Indonesia agar aspirasi pemekaran daerah terdengar sampai pusat kekuasaan. Di balik demonstrasi itu, tersimpan kerja intelektual yang serius: penyusunan argumen tentang ketimpangan pembangunan, pembacaan struktur politik nasional, serta upaya menyatukan suara masyarakat adat, tokoh lokal, dan pejabat daerah.
Perjuangan panjang tersebut akhirnya berbuah pada berdirinya Gorontalo sebagai provinsi baru pada awal 2001. Bagi saya, yang kala itu tengah menumbuhkan ketertarikan pada dunia pergerakan, kisah ini adalah pelajaran hidup: bahwa kaderisasi tidak berhenti pada ruang diskusi; ia menemukan maknanya ketika bersentuhan dengan sejarah.
Kritik sebagai Cermin, Bukan Ancaman
Organisasi sebesar HMI tentu tidak berjalan tanpa perdebatan. Dalam refleksi-refleksi publik mutakhir, muncul kekhawatiran bahwa HMI bisa tergelincir dari khittahnya, bahkan dikhawatirkan bertransformasi menjadi entitas yang menyerupai partai politik. Bagi saya, catatan semacam itu justru penting sebagai alarm kebudayaan. Ia memaksa kita bercermin: apakah orientasi kita masih pada pembinaan kader dan pengabdian publik, atau mulai terseret oleh godaan kekuasaan jangka pendek?
Kritik tidak seharusnya ditanggapi dengan defensif. Dalam tradisi HMI yang saya kenal, kritik adalah bahan bakar intelektual. Ia menjaga organisasi agar tidak membeku menjadi simbol kosong. HMI bukan museum nilai, melainkan organisme sosial yang hidup yang harus terus menafsirkan ulang dirinya tanpa meninggalkan tujuan dasarnya.
Menjembatani Gagasan dan Kebijakan
Kini, ketika saya mengabdi di ranah birokrasi dan organisasi keumatan, saya merasakan betul bahwa latihan-latihan di HMI berdebat dengan etika, memimpin dengan kesadaran kolektif, dan membaca realitas sosial dengan kacamata kritis menjadi bekal yang tak ternilai. Di ruang kebijakan publik, godaan kompromi pragmatis selalu hadir. Di situlah kompas nilai HMI diuji: apakah kita masih berpihak pada kemaslahatan umum, atau tergoda oleh kepentingan sempit?
Sebidang Tanah, Sebuah Etika Perjuangan
Dalam perjalanan pengabdian di ranah birokrasi, saya belajar satu hal penting: perubahan yang bermakna jarang lahir dari kerja individu semata. Ia tumbuh dari ketekunan kolektif, dari lobi-lobi sunyi, dari rapat-rapat panjang yang tidak selalu tampak heroik di mata publik, tetapi menentukan masa depan banyak orang.
Pengadaan sebidang tanah sebagai aset Majelis Daerah KAHMI Kota Gorontalo yang kami dedikasikan untuk kemaslahatan KAHMI, HMI Cabang Gorontalo, serta siapapun yang pernah merasakan pengkaderan Hijau Hitam adalah salah satu contoh bagaimana nilai-nilai HMI menemukan wujud nyatanya dalam kebijakan publik. Proses itu bukan hadiah yang jatuh dari langit, melainkan buah dari ikhtiar panjang para senior dan kader yang bekerja dalam semangat kolektif.
Gagasan awal itu, sebagaimana saya kenang dengan penuh hormat, diperjuangkan secara konsisten oleh senior kami, kakanda Ariston Tilameo, melalui pembahasan di badan anggaran legislatif, ruang teknokratis yang menuntut kesabaran, argumentasi rasional, dan keuletan membaca prosedur negara. Di sana, perjuangan tidak dilakukan dengan teriakan, melainkan dengan data, naskah kebijakan, serta kesanggupan meyakinkan bahwa aset tersebut kelak akan memberi manfaat luas bagi kaderisasi dan pengabdian sosial.
Usulan itu kemudian mendapat persetujuan dari Wali Kota Gorontalo kala itu, kakanda Marten Taha, sebuah keputusan politik-administratif yang menunjukkan bagaimana dialog antara kader pergerakan dan pemerintah daerah dapat menghasilkan kebijakan yang berpihak pada penguatan masyarakat sipil.
Proses itu berlanjut dengan komitmen kuat dari Wali kota terpilih berikutnya, Bapak H. Adhan Dambea, yang memastikan pencairan keuangan dapat terlaksana secara prosedural dan bertanggung jawab. Pada masa transisi, pengawalan administratif dilakukan oleh Penjabat Wali Kota saat itu, Kakanda Ismail Madjid, sehingga kebijakan tersebut tidak berhenti di meja perencanaan, tetapi benar-benar menjelma menjadi keputusan yang operasional.
Bagi saya, yang pada periode itu mengemban amanah sebagai sekretaris mendampingi Ketua Umum Ayunda Femi Kristina Udoki—momen tersebut adalah pelajaran etika publik yang amat berharga. Bahwa kader HMI dan KAHMI, ketika memasuki ruang negara, tidak seharusnya memutus tali sejarah dengan organisasinya, melainkan justru mengupayakan agar struktur kekuasaan dapat digunakan untuk melahirkan kemaslahatan yang lebih luas, transparan, dan berjangka panjang.
Sebidang tanah itu, dalam pandangan saya, bukan sekadar aset fisik. Ia adalah simbol dari sebuah tradisi: tradisi dialog antara pergerakan mahasiswa dan negara; tradisi senior yang membuka jalan bagi junior; tradisi memperjuangkan kepentingan kolektif dengan cara-cara yang bermartabat dan konstitusional. Ia mengajarkan bahwa keberhasilan sejati bukan terletak pada siapa yang paling keras bersuara, melainkan pada siapa yang paling konsisten merawat proses.
Dalam bingkai refleksi ulang tahun HMI, kisah ini penting dihadirkan agar kader-kader muda memahami bahwa pengabdian tidak selalu tampak dramatis. Kadang ia hadir dalam bentuk pasal anggaran, lembar persetujuan, atau rapat maraton, tetapi justru di sanalah nilai kejujuran, ketekunan, dan orientasi pada kemaslahatan publik diuji.
Saya ingin para kader hari ini dan esok membaca kisah ini sebagai pesan sunyi: bahwa ketika kalian kelak memasuki ruang kebijakan, ingatlah tujuan yang dulu kalian hafalkan di hadapan senior. Biarkan kalimat itu tetap hidup ketika kalian menandatangani dokumen, menyusun program, atau mengambil keputusan yang menyangkut nasib banyak orang.
Karena di situlah HMI menemukan kelanjutannya bukan hanya dalam slogan, tetapi dalam praktik nyata merawat peradaban.
HMI sebagai Laboratorium Nilai
Dalam perspektif antropologi, organisasi adalah arena produksi makna. Ia menciptakan simbol, ritual, dan bahasa yang membentuk identitas kolektif. HMI memiliki semua itu: mulai dari forum diskusi hingga training kader, dari yel-yel hingga perdebatan panjang tentang arah bangsa. Semua itu bukan aksesori; ia adalah mekanisme kebudayaan yang menyiapkan kader menghadapi kompleksitas dunia.
Saya menyaksikan bagaimana sekretariat sederhana bisa menjadi ruang lahirnya gagasan besar; bagaimana perbedaan pendapat dirawat sebagai energi kreatif; dan bagaimana iman tidak dijadikan dalih untuk menutup diri dari kritik, melainkan justru menjadi landasan untuk membuka dialog.
Pemanggilan Generasi Baru
Di usia yang mendekati delapan dekade, HMI menghadapi tantangan baru: digitalisasi, fragmentasi sosial, polarisasi politik, dan krisis kepercayaan publik. Generasi hari ini hidup dalam arus informasi yang deras, tetapi sering kekurangan ruang refleksi. Di sinilah HMI ditantang untuk tetap menjadi ruang jeda intelektual, tempat kader belajar berpikir perlahan di tengah dunia yang serba cepat.
Kepada para kader muda, saya ingin menitipkan beberapa pesan:
Pertama, rawatlah tradisi menghafal dan menghayati tujuan organisasi. Ia bukan formalitas, melainkan jangkar moral.
Kedua, jangan lelah membaca realitas sosial dengan kacamata ilmu pengetahuan. Kritik tanpa pengetahuan adalah kebisingan.
Ketiga, jadikan pengabdian nyata sebagai ukuran keberhasilan, bukan sekadar popularitas.
Keempat, ingatlah bahwa kekuasaan adalah alat, bukan tujuan akhir.
Menjaga Api Peradaban
Pada akhirnya, yang membuat HMI bertahan hampir delapan dekade bukanlah gedung, atribut, atau jabatan para alumninya. Yang membuatnya hidup adalah manusia-manusia yang setia pada panggilan sejarahnya, yang menjaga agar api idealisme tetap menyala, meski angin zaman terus berubah.
Saya bersyukur pernah berdiri di depan senior, mengucapkan tujuan HMI dengan suara bergetar, lalu menanamkannya dalam hidup. Dari masjid kecil tempat saya belajar melayani, ke ruang diskusi kampus, hingga meja-meja birokrasi hari ini, tujuan itu terus bergaung sebagai pengingat: bahwa pengabdian kepada umat dan bangsa adalah inti dari semua peran yang kita sandang.
Selamat ulang tahun, Himpunan Mahasiswa Islam.
Semoga engkau terus menjadi kawah candradimuka bagi lahirnya pemimpin bangsa
yang berakal jernih, berhati bening, dan berjiwa pengabdian.
Penulis : Antropolog, Birokrat, dan Kader Himpunan Mahasiswa Islam
- Penulis: Dr. Husin Ali
- Editor: Dr. Husin Ali

Saat ini belum ada komentar