Bappeda Gorontalo Gelar FGD Bahas Strategi Penanggulangan Anak Putus Sekolah karena Faktor Ekonomi
- account_circle Rivaldi Bulilingo
- calendar_month Selasa, 7 Okt 2025
- visibility 58
- print Cetak

Pembukaan FGD oleh Sekertaris Bappeda Provinsi Gorontalo, Nalienly Grace Rawung di kantor Bappeda Provinsi Gorontalo , Senin(27/10/2025).
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi Gorontalo menggelar kegiatan Focus Group Discussion (FGD) dengan tema “Strategi Penanggulangan Anak Putus Sekolah SMP karena Faktor Ekonomi Keluarga di Provinsi Gorontalo”. Kegiatan ini berlangsung di kantor Bappeda Provinsi Gorontalo dan dihadiri oleh berbagai pemangku kepentingan di bidang pendidikan, senin (27 Oktober 2025).
Kegiatan dibuka secara resmi oleh Sekretaris Bappeda Provinsi Gorontalo, Ibu Nalienly Grace Rawung, S.P., M.Si, yang hadir mewakili Kepala Bappeda. Dalam sambutannya, beliau menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan salah satu program unggulan Gubernur Gorontalo, Bapak Gusnar Ismail, dan Wakil Gubernur, Ibu Idah Syahidah, di sektor pendidikan, khususnya dalam upaya peningkatan sumber daya manusia (SDM).
“Kita tahu bersama bahwa akses terhadap pendidikan adalah hal mendasar dan kunci utama dalam memutus mata rantai kemiskinan antargenerasi. Namun, tantangan anak putus sekolah di Provinsi Gorontalo masih nyata di depan mata kita semua,” ujar Nalienly Grace Rawung.
Beliau menambahkan bahwa kajian yang dilakukan melalui FGD ini secara spesifik menyoroti faktor sosial ekonomi keluarga sebagai penyebab utama anak putus sekolah. Oleh karena itu, solusi yang dihasilkan tidak hanya berfokus pada aspek pendidikan, tetapi juga harus menyentuh aspek kesejahteraan, pengentasan kemiskinan, dan pemberdayaan sosial.
Dalam forum tersebut, Bappeda menyoroti beberapa catatan penting. Pertama, perlunya strategi yang komprehensif melalui intervensi sosial seperti Program Keluarga Harapan (PKH), bantuan sosial, hingga kebijakan pendidikan yang lebih fleksibel dan adaptif terhadap kondisi ekonomi rumah tangga.
Kedua, kolaborasi antara Bappeda dan Dinas Pendidikan, yang melibatkan para pakar peneliti yaitu Dr. Muchtar Ahmad dan Mahyudin Humalanggi, S.E., M.Si, menjadi langkah penting untuk memastikan hasil kajian FGD ini dapat terintegrasi secara efektif ke dalam dokumen perencanaan RPJMD melalui program dan penganggaran yang terukur.
“Tujuan kita adalah melahirkan perencanaan berbasis bukti (evidence-based planning) yang dapat dicapai bersama-sama. Saya berharap kegiatan FGD ini dapat melahirkan ide dan gagasan yang produktif serta konstruktif, baik dari para peneliti maupun peserta FGD,” tambahnya.
Ia juga mengajak seluruh pihak untuk bersama-sama menyusun roadmap atau peta jalan yang jelas dan berkelanjutan dengan memadukan data yang akurat dan solusi yang inovatif.
“Mari kita pastikan tidak ada lagi anak Gorontalo yang harus melepaskan cita-citanya hanya karena keterbatasan ekonomi keluarga,” tutup Nalienly Grace Rawung.
- Penulis: Rivaldi Bulilingo

Saat ini belum ada komentar