Darah Nabi Mengalir di Iran: Layakkah Kita Membelanya?
- account_circle Prof. Dr. KH. Afifuddin Harisah. Lc
- calendar_month 8 jam yang lalu
- visibility 75
- print Cetak

Ilustrasi digital bernuansa dramatis yang menggambarkan simbol perlawanan ideologis dan geopolitik, dengan figur ulama berdiri di tengah massa dan latar suasana konflik, merepresentasikan pertemuan antara iman, kekuasaan, dan dinamika global.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Ketika kita membaca kitab hadits Bukhari dan Muslim di pesantren, pernahkah kita sadar bahwa kedua imam agung itu adalah orang Persia? Bahwa sebagian besar ulama yang mewariskan ilmu Nabi lahir dari tanah yang dulu disebut Persia, kini bernama Iran? Ironisnya, masih ada umat Islam yang meragukan Iran hanya karena perbedaan mazhab atau pengaruh propaganda Barat.
Padahal fakta sejarah membuktikan: Iran bukan bagian asing dari Islam, darah mereka telah berpadu secara fisik dengan darah Nabi Muhammad SAW. Hubungan ini bukan sekadar simbolis, tapi ikatan nasab yang nyata dan terus berlanjut hingga hari ini.
Ketika pasukan Islam di masa Khalifah Umar bin Khattab menaklukkan Persia, tidak terjadi pemusnahan, melainkan perpaduan agung dua peradaban. Putri terakhir Kisra Persia, Syahrbanu, dinikahkan dengan Husain bin Ali, cucu kesayangan Rasulullah.
Dari rahim putri Persia itu lahir Ali Zainal Abidin, Imam keempat yang dihormati kaum muslimin. Artinya, seluruh Imam keturunan Husain adalah darah daging Persia dari pihak ibu. Mereka adalah bukti hidup bahwa Islam dan Persia telah menyatu dalam ikatan keluarga yang tidak terputus.
Imam Ja’far Shadiq, Imam Musa Kadzim, hingga Imam Mahdi yang diyakini, semuanya mewarisi darah Persia. Jadi ketika kita bicara Iran, kita sedang bicara tentang sanak saudara kita sendiri, keturunan Nabi yang lahir dari rahim ibu-ibu Persia.
Dalam sejarah keilmuan Islam, bangsa Persia menjadi pilar utama. Nabi SAW bersabda, “Seandainya iman itu berada di gugusan bintang Tsurayya, niscaya orang-orang dari Persia akan meraihnya.” Terbukti, siapa yang membukukan hadits-hadits Nabi?
Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Abu Daud, Imam Tirmidzi, Imam Nasa’i, Ibnu Majah, semuanya dari Persia. Siapa yang merumuskan tata bahasa Arab agar Al-Qur’an terbaca benar?
Imam Sibawaih, orang Persia. Siapa ulama tasawuf, filsafat, kedokteran, dan astronomi yang mengharumkan Islam? Rata-rata keturunan Persia. Ironis jika ada muslim yang merendahkan Iran, padahal ilmu agamanya diwarisi dari ulama Persia. Tanpa mereka, kita mungkin masih bingung membedakan hadits shahih dan dhaif. Darah intelektual Persia mengalir dalam pembuluh darah keilmuan Islam.
Lalu bagaimana dengan realitas politik hari ini? Perhatikan peta Timur Tengah. Negara-negara Arab tidak sungkan-sungkan menjalin hubungan mesra dengan Israel. Normalisasi terjadi di mana-mana. Yang dulu vokal membela Palestina, kini diam seribu bahasa.
Di tengah hipokritisme itu, siapa yang masih berani teriak anti-Israel? Siapa yang masih memasok senjata ke Hamas? Siapa yang konsisten membangun poros perlawanan dari Teheran hingga Beirut? Jawabannya hanya satu: Iran.
Dukungan mereka kepada Palestina bukan basa-basi politik, tapi doktrin ideologis sejak Revolusi Islam 1979. Mereka tidak pernah mengakui Israel, tidak pernah menjual Palestina demi investasi, dan tidak takut ancaman AS.
Membela Iran berarti membela diri sendiri, membela Quds, dan membela harga diri umat Islam yang terinjak-injak. Jika propaganda Barat berhasil menjatuhkan Iran, tamatlah riwayat perlawanan terhadap Zionis di kawasan ini. Darah Nabi yang mengalir di Iran layak kita bela, bukan karena fanatisme mazhab, tapi karena ikatan kekerabatan dan perjuangan yang sama.
(Penulis: Pimpinan Ponpes Annahdlah Makassar)
- Penulis: Prof. Dr. KH. Afifuddin Harisah. Lc

Saat ini belum ada komentar