Dominasi Viralitas Dalam Pembentukan Opini Publik di Ruang Digital
- account_circle Julkifli Gadeang
- calendar_month Senin, 2 Mar 2026
- visibility 230
- print Cetak

Julkifli Gadeang : Pegiat Literasi
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Pemikir media, Marshall McLuhan sarjana sastra dan teoretikus media asal Kanada Pemikirannya tentang “Teknologi Komunikasi” sebagai “Perpanjangan Manusia” dan semboyannya “the medium is the message” yaitu membentuk cara baru memahami hubungan antara media, persepsi, dan budaya di era elektronik. Sejak lama ia menegaskan bahwa media bukan sekadar saluran komunikasi, melainkan kekuatan yang membentuk cara manusia memahami realitas. Dalam konteks media sosial, pernyataan tersebut menemukan relevansinya. Bahwa algoritma digital tidak hanya menyebarkan informasi, tetapi juga menentukan realitas mana yang dianggap penting oleh masyarakat.
Apa yang terus muncul di lini masa perlahan diterima sebagai kenyataan sosial. Repetisi informasi menciptakan kesan kebenaran, meskipun belum tentu didasarkan pada fakta yang utuh. Di sinilah viralitas bekerja sebagai mekanisme baru dalam produksi opini publik.
Situasi ini menandai pergeseran fungsi ruang publik sebagaimana dibayangkan oleh Jurgen Habermas seorang filsuf dan sosiolog asal Jerman melalui karyanya “The Structural Transformation of the Public Sphere” atau Transformasi Struktural Ranah Publik. Bahwa ruang publik idealnya menjadi arena dialog rasional tempat masyarakat mempertimbangkan kepentingan bersama melalui argumentasi kritis. Namun ruang digital justru memperlihatkan kecenderungan sebaliknya, yaitu diskursus publik digerakkan oleh emosi, kecepatan, dan sensasi.
Isu yang memancing kemarahan atau simpati lebih mudah memperoleh legitimasi sosial dibanding pembahasan kebijakan yang membutuhkan analisis mendalam. Akibatnya, opini publik semakin rentan dibentuk oleh persepsi sesaat, bukan pertimbangan rasional.
Dominasi viralitas juga menunjukkan bahwa kekuasaan di era digital tidak lagi semata berada pada institusi politik atau media arus utama. Seperti dijelaskan oleh Manuel Castells seorang sosiolog dan ilmuwan komunikasi asal Katalonia (Spanyol) melalui karyanya tentang “Hubungan Antara Teknologi Informasi, Ruang Perkotaan, dan Kekuasaan Sosial”. bahwa masyarakat modern telah memasuki fase network society atau masyarakat jaringan, di mana kekuasaan bekerja melalui jaringan informasi. Dalam struktur ini, siapa pun yang mampu mengendalikan arus perhatian publik memiliki pengaruh besar terhadap kesadaran sosial.
- Penulis: Julkifli Gadeang
- Editor: Risman Lutfi

Saat ini belum ada komentar