Dominasi Viralitas Dalam Pembentukan Opini Publik di Ruang Digital
- account_circle Julkifli Gadeang
- calendar_month Senin, 2 Mar 2026
- visibility 231
- print Cetak

Julkifli Gadeang : Pegiat Literasi
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Masalahnya, generasi muda sebagai kelompok paling aktif di ruang digital sering kali tanpa sadar menjadi agen reproduksi viralitas tersebut. Aktivitas membagikan informasi kerap didorong oleh respons emosional, bukan refleksi kritis. Tombol share menjadi lebih cepat ditekan dibanding proses verifikasi.
Di titik inilah dominasi viralitas menemukan momentumnya. Opini publik tidak lagi terbentuk melalui proses pertimbangan kolektif yang matang, tetapi melalui akumulasi respons spontan jutaan pengguna digital. Realitas sosial kemudian dikonstruksi secara masif melalui interaksi digital yang berlangsung hampir tanpa jeda.
Pandangan ini sejalan dengan teori konstruksi sosial realitas dari Peter L. Berger seorang sosiolog dan teolog Protestan kelahiran Wina (Austria) bersama Thomas Luckmann sosiolog asal Slovenia (Jerman) melalui Karya “The Social Construction of Reality” yang menegaskan bahwa realitas sosial dibentuk melalui proses produksi dan reproduksi makna. Dalam ruang digital, proses konstruksi tersebut berlangsung dengan kecepatan eksponensial atau pola perubahan sosial. Viralitas mempercepat transformasi opini menjadi “kebenaran sosial” meskipun fondasinya belum tentu kokoh.
Di sinilah persoalan mendasar muncul. Ketika viralitas menjadi standar utama perhatian publik, maka batas antara kepentingan publik dan kepentingan popularitas menjadi kabur. Masyarakat merasa terlibat dalam isu sosial, padahal sering kali hanya mengikuti arus percakapan yang telah diarahkan oleh logika algoritmik.
Karena itu, tantangan generasi muda di era digital bukan sekadar kemampuan menguasai teknologi, melainkan kemampuan menjaga otonomi berpikir di tengah banjir informasi. Literasi digital tidak cukup dimaknai sebagai kecakapan teknis, tetapi harus berkembang menjadi kesadaran kritis terhadap bagaimana opini publik dibentuk.
Ruang digital seharusnya tidak berhenti sebagai arena sensasi kolektif. Ia dapat menjadi ruang edukasi, advokasi sosial, dan perjuangan gagasan apabila digunakan secara reflektif. Viralitas, dalam hal ini, perlu diarahkan bukan untuk mengejar perhatian sesaat, tetapi untuk memperkuat isu-isu yang benar-benar merepresentasikan kepentingan masyarakat.
Pada akhirnya, pertanyaan mendasar bagi generasi muda bukan lagi bagaimana menjadi bagian dari tren digital, melainkan bagaimana memastikan bahwa arus informasi tidak menggantikan nalar publik. Sebab masa depan demokrasi digital tidak ditentukan oleh seberapa banyak suara yang terdengar, tetapi oleh kualitas kesadaran di balik suara tersebut.
Di tengah dominasi viralitas, menjaga rasionalitas menjadi bentuk tanggung jawab sosial baru. Tanpa itu, ruang digital berisiko berubah dari ruang deliberasi publik yang menjadi sekadar panggung popularitas informasi. Dan ketika viralitas sepenuhnya menentukan opini publik, maka yang paling berbahaya bukanlah informasi yang salah, melainkan hilangnya kemampuan masyarakat untuk membedakan mana yang penting dan mana yang sekadar ramai diperbincangkan.
- Penulis: Julkifli Gadeang
- Editor: Risman Lutfi

Saat ini belum ada komentar