Ekonom NU Soroti Dampak Penunjukan Deputi Gubernur BI terhadap Kepercayaan Pasar
- account_circle Tim Redaksi
- calendar_month 12 jam yang lalu
- visibility 75
- print Cetak

Tampak depan Gedung Bank Indonesia di Jakarta. Lembaga bank sentral ini menjadi sorotan publik di tengah perdebatan mengenai independensi kebijakan moneter dan dinamika pasar keuangan nasional.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
nulondalo.com – Penunjukan Thomas Djiwandono sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) menuai beragam tanggapan dari kalangan akademisi dan pelaku pasar.
Salah satu kritik datang dari intelektual Nahdlatul Ulama sekaligus ekonom, Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak, yang menilai dinamika tersebut memunculkan kekhawatiran terkait independensi lembaga moneter.
Dalam tulisan opininya yang berjudul; “Pasar Masuk Angin” tayang di nulondalo.com, Aras menyebut reaksi pasar yang terjadi pasca-penunjukan tersebut mencerminkan sensitivitas investor terhadap isu tata kelola dan profesionalisme lembaga keuangan.
Ia menilai pasar memiliki persepsi tersendiri ketika figur yang memiliki relasi keluarga dengan elite politik masuk ke posisi strategis di bank sentral.
Menurutnya, secara administratif proses penunjukan memang sah karena telah melalui mekanisme uji kelayakan dan kepatutan di DPR.
Namun, ia menekankan bahwa persepsi publik dan kepercayaan investor menjadi faktor penting yang dapat memengaruhi stabilitas pasar keuangan.
“Bank Indonesia merupakan lembaga independen yang berperan menjaga stabilitas rupiah. Karena itu, setiap keputusan strategis harus mampu menjaga kepercayaan pasar,” tulis Aras dalam opininya.
Ia juga menyoroti respons pasar yang disebutnya cukup cepat, mulai dari pelemahan nilai tukar rupiah hingga pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang dinilai menunjukkan sikap kehati-hatian investor.
Dalam pandangannya, pasar global cenderung sensitif terhadap isu independensi lembaga moneter dan tata kelola sektor keuangan.
Selain itu, Aras menyinggung dinamika di sektor pasar modal yang diwarnai mundurnya sejumlah pejabat lembaga keuangan. Ia menilai kondisi tersebut menambah kekhawatiran investor terhadap stabilitas regulasi dan arah kebijakan ekonomi nasional.
Sebagai akademisi dan Kepala Program Studi Akuntansi Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) Jakarta, Aras mengingatkan pentingnya prinsip profesionalisme, keseimbangan, dan amanah dalam pengelolaan institusi negara.
Menurutnya, kepercayaan merupakan faktor utama dalam menjaga stabilitas ekonomi.
“Trust adalah mata uang paling keras dalam ekonomi. Sekali hilang, proses pemulihannya tidak mudah,” tulisnya.
Hingga kini, pemerintah dan otoritas terkait belum memberikan tanggapan khusus atas pandangan tersebut.
Namun sejumlah analis pasar menilai transparansi serta komunikasi kebijakan yang jelas menjadi kunci untuk menjaga stabilitas dan kepercayaan investor di tengah dinamika politik dan ekonomi nasional.
Sebelumnya, dalam fit and proper test di hadapan Komisi XI DPR RI, Thomas Djiwandono memaparkan visi dan strategi yang ia sebut dengan konsep “BI Gerak” guna mendukung pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.
“Gerak itu ada lima semacam strategi tematik yang ingin saya cetuskan,” ujar Thomas.
Gerak merupakan akronim dari lima pilar utama, yakni Governance (tata kelola kebijakan yang kuat dan kredibel), Efektivitas Kebijakan, Resiliensi Sistem Keuangan, Akselerasi Sinergi Fiskal, Moneter, dan Sektor Keuangan, serta Keberlanjutan Transformasi Keuangan.
Dalam pernyataan penutupnya, Thomas menegaskan komitmennya untuk menjaga profesionalisme, independensi, dan kredibilitas Bank Indonesia. Ia ditetapkan untuk menggantikan posisi Deputi Gubernur BI yang sebelumnya dijabat oleh Juda Agung.
- Penulis: Tim Redaksi
- Editor: Djemi Radji

Saat ini belum ada komentar