Goodwill Langit
- account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
- calendar_month Minggu, 8 Mar 2026
- visibility 143
- print Cetak

Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak/ istimewa
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Menariknya, dalam standar akuntansi modern, goodwill tidak boleh diamortisasi sembarangan. Ia harus diuji melalui impairment test. Kalau reputasi perusahaan turun, nilai goodwill juga harus diturunkan. Nah, dalam kehidupan sosial kita, hal yang sama juga berlaku.
Seseorang bisa saja rajin ibadah, aktif di masjid, bahkan menjadi panitia buka puasa. Tetapi kalau setelah Ramadhan ia kembali menjadi tukang fitnah di grup WhatsApp keluarga, kemungkinan besar goodwill spiritualnya mengalami impairment.
Orang NU biasanya menertawakan hal seperti ini dengan santai. Ada cerita di pesantren. Seorang santri sangat rajin shalat malam selama Ramadhan. Kyainya memuji, “MasyaAllah, istiqamah sekali.” Namun setelah Ramadhan selesai, santri itu kembali tidur pulas setiap malam.
Kyai itu hanya tersenyum dan berkata, “Tidak apa-apa. Yang penting langit sudah tahu wajahmu. Jangan sampai setelah dikenal, kamu malah menghilang.” Humor seperti ini mengingatkan bahwa ibadah bukan sekadar ritual musiman, tetapi investasi reputasi di hadapan Tuhan.
Dalam dunia bisnis, reputasi adalah segalanya. Perusahaan dengan reputasi baik bisa menjual produk lebih mahal karena pelanggan percaya. Itulah sebabnya goodwill sering menjadi aset terbesar dalam akuisisi perusahaan.
Dalam kehidupan spiritual, hal yang sama juga terjadi. Orang yang dikenal jujur akan dipercaya mengelola amanah. Orang yang dikenal dermawan akan selalu didoakan orang lain.
Orang yang dikenal rendah hati akan memiliki banyak sahabat. Semua itu tidak tercatat dalam laporan keuangan, tetapi dampaknya sangat nyata.
Gus Dur pernah berkata dengan gaya khasnya, “Tuhan tidak perlu dibela.” Yang perlu dijaga adalah akhlak manusia. Kalau diterjemahkan ke bahasa akuntansi, mungkin maksudnya sederhana: jangan sibuk mencatat amal orang lain, sementara buku besar akhlak kita sendiri berantakan. Ramadhan sebenarnya adalah periode closing sementara bagi laporan amal manusia.
- Penulis: Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.

Saat ini belum ada komentar