Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Jangan Biarkan Mimpi Anak Kehabisan Tenaga di Garis Akhir

  • account_circle Sutanti Idris
  • calendar_month Minggu, 28 Jun 2026
  • visibility 96
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Setiap orang tua tentu menginginkan anaknya mengenyam pendidikan setinggi mungkin. Namun, ada satu pertanyaan penting yang sering kali terlambat dipikirkan, yaitu: kapan sebenarnya kita harus mulai merencanakan kuliah anak? Sebagian besar keluarga baru mulai memikirkan jurusan, universitas, hingga biaya pendidikan ketika anak sudah duduk di bangku SMA. Padahal, pada fase tersebut waktu untuk mempersiapkan semuanya sudah jauh lebih sempit. Akibatnya, banyak keputusan diambil secara tergesa-gesa karena terbatasnya waktu, kesiapan akademik, maupun kondisi finansial.

Menurut saya, riset pendidikan justru harus dimulai sejak anak berada di bangku sekolah dasar. Tentu bukan untuk membebani anak dengan target akademik yang berlebihan atau memaksanya menentukan masa depan sejak dini. Sebaliknya, riset ini menjadi bekal bagi orang tua untuk memahami arah perjalanan pendidikan anak sehingga setiap langkah yang diambil memiliki tujuan yang jelas. Anak tetap berhak menikmati masa kecilnya, bermain, bereksplorasi, bersosialisasi, dan belajar dengan bahagia. Namun, orang tua perlu mulai menyusun peta perjalanan menuju masa depan anak.

Saya sering mengibaratkan perjalanan pendidikan seperti seseorang yang mengikuti lomba maraton. Seorang pelari yang berpengalaman tidak akan mengeluarkan seluruh tenaganya di kilometer pertama. Ia mengatur ritme, menjaga stamina, memperhitungkan kebutuhan energi, dan memastikan dirinya mampu mencapai garis akhir dengan kondisi terbaik. Pendidikan anak pun demikian. Jika sejak awal orang tua sudah memahami tujuan akhirnya, maka proses menuju tujuan tersebut akan terasa lebih ringan, terarah, dan tidak penuh kepanikan di penghujung perjalanan.

Membicarakan cita-cita anak sejak usia sekolah dasar bukan berarti memaksa mereka memilih profesi secara permanen. Justru, hal itu menjadi ruang eksplorasi agar anak mengenal berbagai pilihan masa depan. Ketika seorang anak bercita-cita menjadi dokter, guru, akuntan, arsitek, pengusaha, atau profesi lainnya, orang tua memiliki kesempatan untuk mulai melakukan riset mengenai jalur pendidikan yang diperlukan, kemampuan yang harus dipersiapkan, universitas yang sesuai, hingga estimasi biaya yang harus direncanakan. Dengan demikian, orang tua tidak hanya mendukung mimpi anak melalui kata-kata, tetapi juga melalui persiapan yang nyata.

Kesadaran mengenai besarnya biaya pendidikan tinggi juga menjadi alasan mengapa perencanaan sejak dini sangat penting. Saat orang tua mengetahui bahwa biaya kuliah di perguruan tinggi berkualitas dapat mencapai ratusan juta rupiah, mereka akan lebih bijak dalam mengatur keuangan keluarga. Menabung sedikit demi sedikit sejak anak masih duduk di bangku SD tentu jauh lebih ringan dibandingkan harus mencari dana besar dalam waktu singkat ketika anak lulus SMA. Perencanaan yang matang juga memberikan ruang bagi keluarga untuk mempertimbangkan berbagai alternatif, seperti beasiswa, investasi pendidikan, maupun pengembangan kompetensi yang mendukung masa depan anak.

Namun, riset pendidikan sesungguhnya tidak hanya berbicara tentang biaya kuliah. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana orang tua memanfaatkan masa tumbuh kembang anak, terutama pada periode yang dikenal sebagai golden age. Pada masa inilah perkembangan otak berlangsung sangat pesat sehingga karakter, kebiasaan belajar, kemampuan berkomunikasi, kecerdasan emosional, hingga nilai-nilai kehidupan mulai terbentuk. Tidak ada sekolah, semahal apa pun biayanya, yang mampu menggantikan sepenuhnya peran orang tua dalam fase penting tersebut.

Pandangan ini juga memiliki dasar hukum yang kuat di Indonesia. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menegaskan bahwa keluarga merupakan penyelenggara pendidikan informal yang diakui sebagai pendidikan pertama bagi anak. Selain itu, Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak menyatakan bahwa orang tua memiliki kewajiban untuk mengasuh, mendidik, melindungi, serta mengembangkan potensi anak sesuai dengan bakat, kemampuan, dan minatnya. Artinya, negara pun mengakui bahwa rumah adalah sekolah pertama, sedangkan orang tua adalah guru utama dalam kehidupan anak.

Berbagai penelitian internasional semakin memperkuat pandangan tersebut. Salah satunya adalah penelitian dari Harvard Center on the Developing Child yang menjelaskan bahwa perkembangan otak anak sangat dipengaruhi oleh kualitas interaksi antara anak dan orang tua melalui konsep serve and return. Interaksi sederhana seperti mengajak anak berdialog, membacakan buku, mendengarkan cerita mereka, memberikan pelukan, serta merespons pertanyaan dengan penuh perhatian terbukti membantu membangun kemampuan berpikir, mengelola emosi, dan membentuk rasa percaya diri anak.

Karena itu, sekolah yang mahal tidak selalu menjadi jaminan keberhasilan apabila orang tua tidak terlibat aktif dalam proses pendidikan di rumah. Sebaliknya, banyak anak yang berasal dari sekolah sederhana justru mampu meraih prestasi luar biasa karena mendapatkan pendampingan yang hangat, konsisten, dan penuh kasih sayang dari keluarganya. Sekolah memang memiliki peran penting sebagai mitra pendidikan, tetapi fondasi karakter dan semangat belajar tetap dibangun di dalam keluarga.

Pada akhirnya, riset pendidikan bukan sekadar mencari sekolah terbaik, melainkan menyusun perjalanan hidup anak secara menyeluruh. Mulai dari mengenali potensi, membangun karakter, mengembangkan kompetensi, menyiapkan kemampuan akademik, hingga merancang strategi pembiayaan pendidikan tinggi. Semua proses tersebut membutuhkan waktu yang panjang dan tidak dapat dilakukan secara instan.

Masa depan anak bukan dibentuk oleh satu keputusan besar yang diambil ketika mereka lulus SMA, melainkan oleh ribuan keputusan kecil yang dilakukan secara konsisten sejak usia dini. Karena itu, mari mulai berpikir lebih jauh sejak anak berada di bangku sekolah dasar. Biarkan mereka menikmati masa kecilnya dengan penuh kebahagiaan, sementara orang tua bekerja di balik layar menyiapkan jalan menuju impian mereka. Sebab pendidikan bukanlah perlombaan lari cepat, melainkan maraton panjang yang membutuhkan visi, kesabaran, dan perencanaan yang matang agar mimpi anak tidak kehabisan tenaga sebelum mencapai garis akhir.

Penulis : Founder Aoife Social

  • Penulis: Sutanti Idris

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Bulan Ramadhan, Bulan Penghematan atau Pemborosan?

    Bulan Ramadhan, Bulan Penghematan atau Pemborosan?

    • calendar_month Jumat, 7 Mar 2025
    • account_circle Dr. Momy Hunowu, M.Si
    • visibility 167
    • 0Komentar

    Secara matematis, living cost pada bulan Ramadhan berkurang 30-50% lantaran seharian tidak berurusan dengan meja makan. Faktanya berkata lain, pengeluaran justru berlipat-lipat.  Lihat saja, meja makan saat berbuka penuh sesak dengan berbagai menu. Ada nasi dan lauknya. Lauknya ada yang berkuah, goreng dan bakar. Belum lagi sayurnya. Tak sampai di situ. Ada bubur ayam dan […]

  • Kontroversi Abah Aos dan Ujian Akidah Umat di Era Media Sosial

    Kontroversi Abah Aos dan Ujian Akidah Umat di Era Media Sosial

    • calendar_month Rabu, 7 Jan 2026
    • account_circle Nur Shollah Bek
    • visibility 449
    • 0Komentar

    “Menimbang Klaim Spiritual dengan Al-Qur’an, Sunnah, dan Akal Sehat” Nama Syekh Muhammad Abdul Gaos Saefulloh Maslul—yang dikenal luas sebagai Abah Aos—kembali menjadi pusat perhatian publik. Tokoh spiritual Tarekat Qodiriyyah Naqsyabandiyyah (TQN) asal Ciamis, Jawa Barat ini menuai gelombang kritik dari berbagai kalangan umat Islam akibat sejumlah pernyataan yang beredar luas di media sosial dan dinilai […]

  • Tonggeyamo: Cara Gorontalo Menyambut Puasa

    Tonggeyamo: Cara Gorontalo Menyambut Puasa

    • calendar_month Rabu, 18 Feb 2026
    • account_circle Dr. Husin Ali
    • visibility 223
    • 0Komentar

    Refleksi Antropologis tentang Perbedaan, Kesepakatan, dan Kedewasaan Beragama Setiap Ramadhan selalu diawali oleh satu pertanyaan yang terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya menyimpan kegelisahan yang dalam: kapan kita mulai berpuasa? Pertanyaan ini bukan semata soal tanggal, melainkan tentang ketenangan batin, rasa aman dalam beribadah, dan kerinduan untuk menjalani waktu suci secara bersama. Dari tahun ke tahun, saya […]

  • Ketika Lampu-Lampu Dinyalakan: Tumbilo Tohe dan Spirit Menjemput Lailatul Qadar

    Ketika Lampu-Lampu Dinyalakan: Tumbilo Tohe dan Spirit Menjemput Lailatul Qadar

    • calendar_month Senin, 16 Mar 2026
    • account_circle Dr. Hj. Misnawaty S. Nuna
    • visibility 535
    • 0Komentar

    Ramadhan adalah bulan cahaya. Cahaya wahyu, cahaya ampunan, dan cahaya petunjuk bagi umat manusia yang beriman. Pada sepuluh malam terakhir Ramadhan, umat Islam di seluruh dunia meningkatkan ibadahnya untuk mencari malam yang lebih mulia daripada seribu bulan, yaitu Lailatul Qadar. Malam ini adalah puncak spiritual Ramadhan yang dijanjikan Allah sebagai malam penuh kemuliaan, rahmat, dan […]

  • Masjid di Tengah Gemerlap Kota: Disertasi Fahdiana Yuniasih Membaca Ulang Peran Ruang Ibadah di Jantung Jakarta

    Masjid di Tengah Gemerlap Kota: Disertasi Fahdiana Yuniasih Membaca Ulang Peran Ruang Ibadah di Jantung Jakarta

    • calendar_month Rabu, 1 Jul 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 78
    • 0Komentar

    nulondalo.com — Di antara gedung-gedung tinggi, pusat bisnis, dan derasnya arus kapital perkotaan, ruang ibadah kerap dipandang sebagai bagian kecil dari pembangunan kota modern. Namun sebuah penelitian doktoral di Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Indonesia menghadirkan sudut pandang berbeda: masjid bukan sekadar ruang yang bertahan di tengah tekanan modernitas, melainkan aktor yang ikut membentuk wajah […]

  • Kunjungan ke Maros, Mendes PDTT Serahkan Penghargaan Tokoh Peduli Desa kepada 8 Bupati

    Kunjungan ke Maros, Mendes PDTT Serahkan Penghargaan Tokoh Peduli Desa kepada 8 Bupati

    • calendar_month Selasa, 2 Des 2025
    • account_circle Sakti
    • visibility 233
    • 0Komentar

    nulondalo.com, Maros – Komitmen pemerintah daerah dalam membangun dan memberdayakan desa kembali mendapat apresiasi di tingkat nasional. Sebanyak delapan bupati, termasuk Bupati Maros Chaidir Syam, menerima penghargaan Tokoh Peduli Desa dari Asosiasi Pemerintah Desa Seluruh Indonesia (APDESI). Penghargaan tersebut diserahkan langsung oleh Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (PDTT), Yandri Susanto, pada kegiatan Saba Desa […]

expand_less