Khabbab bin al Arat, Sang Guru Ngaji Yang Teguh Iman (Kisah Sahabat Nabi Yang Jarang Diceritakan #9)
- account_circle Pepi Al-Bayqunie
- calendar_month Jumat, 27 Feb 2026
- visibility 170
- print Cetak

Ilustrasi suasana pengajian rahasia pada masa awal Islam di Makkah. Seorang sahabat Nabi yang dikenal teguh imannya digambarkan sedang membacakan ayat-ayat Al-Qur’an kepada beberapa Muslim awal di dalam rumah sederhana, dengan cahaya lampu minyak menerangi ruangan. Di latar belakang tergambar bayangan tekanan dan kekerasan yang ia alami karena mempertahankan akidah, sekaligus momen yang berkaitan dengan awal mula ketertarikan Umar bin al-Khattab terhadap Islam. Nuansa hangat dan dramatis menekankan keteguhan iman, pengorbanan, serta peran pengajaran Al-Qur’an dalam fase dakwah yang penuh tantangan.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Suatu ketika, Umar, yang belum memeluk Islam, mendengar suara bacaan Qur’an dari rumah adiknya. Saat ia masuk untuk melihat apa yang terjadi, Khabbab sedang membacakan Al‑Qur’an. Kejadian ini disebut-sebut sebagai salah satu cikal bakal yang menyentuh hati Umar, membuatnya tertarik mempelajari Islam lebih jauh, dan kemudian memeluk agama ini secara resmi.
Perlu dicatat bahwa narasi tentang Khabbab mengajar Al‑Qur’an di rumah Fatimah bint al‑Khattab tidak termasuk hadis sahih dalam kitab-kitab utama seperti Sahih al‑Bukhari atau Sahih Muslim. Cerita ini hidup dalam tradisi sirah atau sejarah hidup Nabi, dicatat oleh sejarawan klasik seperti Ibn Ishaq (melalui redaksi Ibn Hisham) dan Ibnu Sa’d dalam Tabaqat al-Kubra. Meskipun bukan hadis sahih, kisah ini diterima secara luas dalam literatur sejarah sebagai ilustrasi proses spiritual dan sosial sahabat-sahabat awal.
Khabbab juga ikut serta dalam hijrah ke Madinah, mengikuti Nabi dan sahabat lainnya demi keselamatan iman mereka. Di Madinah, ia aktif dalam pertempuran penting seperti Perang Badar dan seterusnya, berdiri sebagai salah satu pejuang setia Rasulullah. Ia juga meriwayatkan sejumlah hadis, sehingga namanya dikenal dalam ilmu periwayatan hadits.
Setelah masa Nabi, Khabbab hidup hingga masa kekhalifahan para Khulafaur Rasyidin dan meninggal di Kufa sekitar tahun 37 H (657–658 M). Kepergiannya meninggalkan warisan keteguhan iman, pengajaran Al‑Qur’an, dan contoh pengorbanan dalam menghadapi tekanan dan siksaan demi agama.
- Penulis: Pepi Al-Bayqunie

Saat ini belum ada komentar