Korporasi Langit
- account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
- calendar_month 3 jam yang lalu
- visibility 59
- print Cetak

Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak./Istimewa
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Aset utama manusia adalah amal baik. Sedekah, puasa, shalat, menolong orang lain—semua itu adalah intangible assets yang nilainya tidak tercatat di neraca bank, tetapi nilainya sangat besar dalam neraca langit.
Masalahnya, banyak orang lebih sibuk meningkatkan aset dunia daripada aset langit. Rumah bertambah, mobil naik kelas, saldo investasi berkembang. Tapi neraca amal sering kali defisit. Kalau dalam bahasa sederhana orang kampung: rekening bank gemuk, tapi rekening pahala kurus.
Ramadhan sebenarnya seperti program restrukturisasi keuangan spiritual. Dalam dunia bisnis, perusahaan yang hampir bangkrut biasanya melakukan efisiensi, mengurangi biaya yang tidak perlu, dan memperbaiki manajemen. Begitu pula puasa.
Puasa melatih manusia mengendalikan “biaya operasional” hawa nafsu. Makan dikurangi, amarah ditekan, gosip dihemat. Kalau semua manusia menjalankan manajemen nafsu seperti ini sepanjang tahun, mungkin konflik sosial di dunia akan turun drastis. Bayangkan saja jika korupsi di negara ini diperlakukan seperti makan saat puasa: haram dilakukan pada jam kerja moral.
Sayangnya, sebagian manusia kadang memperlakukan Ramadhan seperti window dressing laporan keuangan. Dalam akuntansi, window dressing adalah praktik mempercantik laporan agar terlihat sehat menjelang audit.
Misalnya, sepanjang tahun jarang ke masjid, tapi Ramadhan tiba-tiba menjadi jamaah paling depan. Setahun jarang sedekah, tapi ketika Ramadhan rajin foto bagi-bagi takjil. Kalau bahasa humor pesantren: yang penting upload dulu, pahala belakangan.
- Penulis: Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.

Saat ini belum ada komentar