Misteri di Balik Energi Salat Berjamaah
- account_circle Hamzah Durisa
- calendar_month 10 jam yang lalu
- visibility 60
- print Cetak

Ilustrasi suasana senja di pesisir Mandar, Sulawesi Barat. Warga berjalan menuju masjid untuk menunaikan Salat Magrib berjamaah, sementara perahu-perahu sandeq dan perahu nelayan bersandar di tepi laut dengan langit jingga kemerahan sebagai latar. Cahaya hangat dari dalam masjid memantulkan nuansa tenang, menggambarkan kebersamaan, spiritualitas, dan kehidupan masyarakat pesisir yang selaras dengan alam.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Senja turun perlahan di pesisir Mandar bukanlah perkara jarang ditemukan. Langit memerah di atas laut, dan perahu-perahu nelayan kembali dengan layar yang mulai dilipat merupakan penghias keseharian hidup orang Mandar. Di sela desir angin laut, terdengar adzan Magrib memanggil dari masjid kampung. Suaranya lembut, tetapi tegas—seperti panggilan yang sudah akrab sejak kecil. Orang-orang berhenti sejenak. Ada yang menutup warung, ada yang membilas kaki di sumur, ada yang menggandeng anaknya. Mereka berjalan menuju satu arah. Di tanah Sulawesi Barat, Salat berjamaah bukan hanya kewajiban agama. Ia dulu adalah denyut kehidupan, namun kini? Menjadi pertanyaan tanpa harus dijawab di tulisan ini.
Rasulullah Muhammad SAW bersabda bahwa salat berjamaah lebih utama 27 derajat dibanding salat sendirian. Angka ini sering kita dengar sejak kecil. Namun, apa maknanya jika kita lihat dari sudut pandang sains, hukum semesta, dan kearifan lokal Mandar?
Energi Kolektif: Ketika Saf Menjadi Satu Tubuh
Dalam ilmu sains, dikenal konsep collective synchronization—sinkronisasi kolektif. Ketika banyak orang bergerak dalam ritme yang sama, energi yang dihasilkan lebih stabil dan kuat dibanding jika dilakukan sendiri-sendiri. Salat berjamaah menjadi contoh nyatanya. Imam membaca, makmum mengikuti. Imam rukuk, makmum serempak rukuk. Gerakan yang selaras ini menciptakan harmoni fisik dan batin. Dalam psikologi, aktivitas bersama seperti ini meningkatkan rasa kebersamaan dan menurunkan tingkat stres.
Bagi orang Mandar, kebersamaan bukan teori. Ia adalah cara hidup. Saat membangun rumah, warga datang tanpa undangan resmi. Saat ada hajatan, dapur menjadi ruang gotong royong. Maka ketika saf dirapatkan di masjid, itu seperti memperpanjang budaya yang sudah mengakar.
Dari sudut hukum semesta, energi yang sefrekuensi akan saling menguatkan. Doa yang dipanjatkan bersama memiliki daya getar yang lebih besar dibanding doa yang dipanjatkan sendiri. Di sinilah salah satu makna 27 derajat itu: kualitas energi spiritual yang berlipat.
Laut dan Sandeq: Pelajaran Sinkronisasi
Orang Mandar dikenal sebagai pelaut tangguh. Perahu tradisional seperti sandeq meluncur cepat di atas ombak karena keseimbangan dan kerja sama. Satu orang tak cukup mengendalikan layar dan arah angin. Dibutuhkan koordinasi. Salat berjamaah bekerja dengan prinsip yang sama. Dalam fisika, resonansi terjadi ketika frekuensi yang sama saling menguatkan. Ketika jamaah bergerak serempak, tercipta resonansi batin. Hati yang gelisah perlahan menjadi tenang karena merasa tidak sendiri.
Bayangkan seorang nelayan yang sebelum Subuh sudah berjalan ke masjid. Udara masih dingin, laut masih gelap. Ia berdiri di saf bersama tetangganya. Setelah salam, mereka saling menatap dan tersenyum kecil. Ada kekuatan yang tak terlihat, tetapi terasa. Seperti layar yang mulai menangkap angin. Itulah energi kolektif.
Gunung dan Keteraturan Waktu
Di wilayah pegunungan seperti Pitu Ulunna Salu, Subuh terasa lebih sunyi. Kabut tipis turun di lembah, ayam berkokok bersahutan. Lalu adzan menggema, memecah diam. Alam Mandar hidup dalam keteraturan. Petani tahu kapan musim tanam. Nelayan membaca arah angin. Semua mengikuti hukum alam.
Salat lima waktu mengajarkan manusia untuk selaras dengan ritme itu. Datang ke masjid tepat waktu berarti menata hidup sesuai keteraturan. Dalam ilmu perilaku, rutinitas yang konsisten membangun disiplin dan kestabilan mental. Ketika seseorang rutin berjamaah, hidupnya lebih terstruktur. Ia belajar mengatur waktu, menunda urusan dunia demi panggilan ibadah. Ini bukan sekadar pahala di akhirat, tetapi dampak nyata dalam kehidupan sehari-hari. 27 derajat itu bisa dimaknai sebagai peningkatan kualitas hidup karena disiplin yang terlatih.
Siri’, Kesetaraan, dan Hukum Sebab-Akibat
Budaya Mandar mengenal nilai siri’—harga diri. Orang Mandar menjaga martabatnya dengan sungguh-sungguh. Namun di dalam masjid, semua berdiri sejajar. Tidak ada kursi khusus untuk orang kaya. Tidak ada saf istimewa untuk pejabat. Kesetaraan ini memiliki dampak sosial besar. Dalam sosiologi, pengalaman berdiri setara secara rutin akan mengurangi jarak sosial. Ia mencegah kesombongan dan memperkuat solidaritas.
Hukum semesta mengajarkan sebab-akibat: apa yang kita tanam, itulah yang kita tuai. Dalam kehidupan sosial, kebersamaan yang dirawat dengan tulus akan kembali dalam bentuk pertolongan yang tak disangka-sangka. Ketika seseorang ringan melangkah ke masjid, menyapa jamaah lain, membantu membersihkan halaman, atau sekadar mendoakan saudaranya, ia sedang menanam benih kebaikan. Secara psikologis dan sosial, tindakan itu membangun jaringan kepercayaan. Orang yang merasa dihargai dan diperhatikan cenderung membalas dengan perhatian yang sama. Maka kebersamaan bukan hanya nilai moral, tetapi investasi sosial yang nyata hasilnya.
Di tanah Mandar, prinsip ini tampak sederhana namun kuat. Ketika seorang warga rutin hadir dalam salat berjamaah, ia bukan hanya memenuhi kewajiban ibadah, tetapi juga mengikat dirinya dalam simpul persaudaraan. Suatu hari ketika ia sakit, tertimpa musibah, atau menghadapi kesulitan, jamaah yang sama akan datang menjenguk dan membantu. Seperti ombak yang kembali ke pantai setelah berlayar jauh, kebaikan pun pulang kepada pemiliknya. Inilah sebab-akibat yang bekerja secara sunyi namun pasti—kebersamaan yang dirawat hari ini menjelma menjadi dukungan yang menguatkan esok hari.
Di kampung-kampung Polewali Mandar, jamaah masjid biasanya saling mengenal. Ketika ada yang sakit, kabar cepat menyebar. Ketika ada yang kesulitan, bantuan datang tanpa banyak bicara. Salat berjamaah menjadi titik temu yang memperkuat jaringan sosial. Inilah 27 derajat dalam dimensi sosial: kebaikan yang berlipat melalui hubungan antarmanusia.
Masjid sebagai Pusat Energi Kehidupan
Masjid di Mandar, dulunya sering menjadi pusat kegiatan: belajar mengaji, musyawarah kampung, hingga diskusi membicarakan persoalan masyarakat. Ia bukan hanya ruang ibadah, tetapi ruang pembinaan karakter. Secara psikologis, ruang yang sering dipakai untuk aktivitas positif bersama akan membentuk asosiasi ketenangan dalam pikiran. Setiap kali seseorang melangkah masuk, hatinya lebih mudah tenang. Tubuhnya seperti mengenali tempat itu sebagai ruang aman.
Hukum getaran mengajarkan bahwa setiap pikiran, ucapan, dan tindakan membawa frekuensi tertentu. Ketika energi positif—seperti doa, dzikir, ketundukan, dan niat baik—diulang-ulang secara konsisten, ia tidak hilang begitu saja, melainkan membentuk pola yang menetap dalam diri. Dari sudut pandang psikologi, pengulangan perilaku yang sama dalam suasana yang sama akan membangun jalur kebiasaan di otak, menjadikannya lebih mudah dilakukan dan lebih dalam dirasakan. Dari sudut spiritual, pengulangan itu membersihkan hati secara perlahan, seperti air yang terus mengalir mengikis batu. Maka setiap langkah menuju masjid, setiap takbir yang dilafalkan bersama, setiap sujud yang disentuhkan ke bumi, sesungguhnya sedang menata ulang frekuensi batin kita—dari gelisah menjadi tenang, dari sibuk menjadi hening, dari egois menjadi peduli.
Masjid dalam konteks ini bukan hanya bangunan fisik, melainkan pusat getaran kebaikan yang terus diperbarui lima kali sehari. Di sanalah manusia berkumpul membawa beragam beban hidup, lalu berdiri sejajar tanpa sekat, menghadap arah yang sama. Getaran doa yang dilantunkan bersama menciptakan medan spiritual yang menghubungkan hati manusia dengan Tuhannya, sekaligus merajut kembali hubungan antarsesama. Ketika seseorang rutin hadir dalam lingkaran itu, ia perlahan menyerap suasana damai yang terbangun dari kebersamaan. Masjid menjadi ruang resonansi—tempat iman dikuatkan, niat diluruskan, dan persaudaraan diteguhkan—sehingga energi positif yang lahir di dalamnya tidak berhenti di sajadah, tetapi ikut mengalir ke rumah, ke pasar, ke laut, dan ke seluruh ruang kehidupan.
27 Derajat sebagai Peningkatan Kualitas Diri
Ketika senja kembali turun di pesisir Mandar, dan adzan dikumandangkan, orang-orang kembali melangkah ke masjid. Mereka mungkin tidak menghitung 27 derajat itu dengan angka. Namun mereka merasakannya dalam bentuk lain: hati yang lebih ringan, hubungan yang lebih erat, hidup yang lebih teratur.
Salat berjamaah bukan hanya perintah agama. Ia adalah sistem pembinaan manusia. Ia melatih sinkronisasi seperti awak sandeq di laut, disiplin seperti petani yang membaca musim, dan kesetaraan seperti saf yang rapat tanpa jarak. Di tanah Mandar, dari laut hingga gunung, 27 derajat itu menjelma menjadi peningkatan kualitas manusia seutuhnya—lebih dekat kepada Tuhan, lebih kuat bersama sesama, dan lebih selaras dengan hukum semesta yang menjaga keseimbangan hidup.
Wallahualam bissawab.
Penulis : Pegiat Literasi dan Penggerak GUSDURian
- Penulis: Hamzah Durisa

Saat ini belum ada komentar