Puasa Ruhani: Madrasah Pengendalian Diri
- account_circle Ilham Sopu
- calendar_month 16 jam yang lalu
- visibility 24
- print Cetak

ilustrasi
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Setiap tahun, bulan Ramadhan datang membawa suasana yang berbeda dalam kehidupan umat Islam. Masjid-masjid menjadi lebih hidup, lantunan ayat suci Al-Qur’an terdengar di berbagai tempat, dan masyarakat berlomba-lomba memperbanyak ibadah. Namun di balik semua itu, ada pertanyaan penting yang patut direnungkan: apakah puasa yang kita jalankan benar-benar telah menyentuh dimensi terdalam dari diri kita, ataukah ia hanya berhenti pada sekadar menahan lapar dan dahaga?
Pemikir Muslim Indonesia, Nurcholish Madjid, sering mengingatkan bahwa puasa memiliki makna yang jauh lebih luas daripada sekadar ibadah fisik. Puasa bukan hanya latihan menahan makan dan minum dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Lebih dari itu, puasa adalah latihan ruhani untuk mengendalikan diri. Dalam bahasa yang sederhana, puasa adalah pendidikan spiritual agar manusia tidak diperbudak oleh hawa nafsunya sendiri.
Manusia, pada dasarnya, adalah makhluk yang memiliki berbagai dorongan dalam dirinya. Dorongan untuk makan, dorongan untuk memiliki, dorongan untuk marah, bahkan dorongan untuk menguasai orang lain. Semua dorongan itu adalah bagian dari fitrah manusia. Namun persoalannya bukan pada keberadaan dorongan tersebut, melainkan pada kemampuan manusia untuk mengendalikannya. Tanpa kendali, manusia dapat terjerumus pada perilaku yang merendahkan martabatnya sendiri.
Di sinilah puasa memainkan peran penting. Ketika seseorang berpuasa, ia sebenarnya sedang menjalani latihan pengendalian diri yang sangat mendasar. Ia menahan diri dari makan dan minum yang pada dasarnya halal. Jika terhadap sesuatu yang halal saja ia mampu menahan diri karena ketaatan kepada Allah, maka seharusnya ia lebih mampu lagi menahan diri dari hal-hal yang jelas dilarang.
Puasa, dengan demikian, adalah sekolah moral. Ia melatih manusia untuk menguasai dirinya sendiri. Dalam pandangan Cak Nur, kebebasan sejati bukanlah kebebasan untuk mengikuti setiap keinginan, melainkan kemampuan untuk mengendalikan keinginan tersebut. Orang yang tidak mampu menahan dirinya sesungguhnya adalah orang yang diperbudak oleh nafsunya sendiri. Sebaliknya, orang yang mampu mengendalikan nafsunya adalah orang yang merdeka secara spiritual.
Karena itu, keberhasilan puasa tidak dapat diukur hanya dari seberapa lama seseorang menahan lapar dan dahaga. Ukuran keberhasilannya justru terlihat pada perubahan sikap dan perilaku. Apakah setelah berpuasa seseorang menjadi lebih jujur? Apakah lisannya lebih terjaga dari dusta dan fitnah? Apakah hatinya lebih bersih dari iri dan dengki? Jika semua itu tidak berubah, maka puasa yang dijalankan mungkin baru menyentuh dimensi lahiriah, belum mencapai kedalaman ruhani.
Al-Qur’an sendiri telah menegaskan tujuan puasa dalam firman Allah pada QS. Al-Baqarah ayat 183: “la‘allakum tattaqūn”, agar kamu menjadi orang-orang yang bertakwa. Takwa di sini bukan sekadar konsep teologis, melainkan kesadaran moral yang hidup dalam diri seseorang. Ia adalah kesadaran bahwa Allah selalu hadir dalam setiap aspek kehidupan manusia.
Kesadaran inilah yang menjadikan seseorang tetap jujur meskipun tidak ada yang mengawasi, tetap adil meskipun memiliki kekuasaan untuk berbuat sebaliknya, dan tetap menjaga diri dari keburukan meskipun memiliki kesempatan untuk melakukannya. Puasa melatih manusia untuk membangun integritas batin semacam ini.
Di sisi lain, puasa juga memiliki dimensi sosial yang sangat kuat. Lapar dan dahaga yang dirasakan selama berpuasa bukan sekadar pengalaman fisik, tetapi juga pengalaman empatik. Ia membantu manusia merasakan, meskipun hanya sejenak, penderitaan mereka yang hidup dalam kekurangan. Dari pengalaman ini lahir kepekaan sosial, solidaritas, dan kepedulian terhadap sesama.
Karena itu, Ramadhan seharusnya tidak hanya melahirkan manusia yang rajin beribadah secara ritual, tetapi juga manusia yang lebih peduli terhadap keadilan sosial. Puasa yang benar bukan hanya memperbaiki hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga memperbaiki hubungannya dengan sesama manusia.
Pada akhirnya, Ramadhan adalah sebuah perjalanan ruhani. Ia adalah kesempatan bagi manusia untuk membersihkan hatinya, menata kembali orientasi hidupnya, dan memperbaiki kualitas kemanusiaannya. Puasa mengajarkan bahwa manusia tidak harus selalu mengikuti setiap dorongan dalam dirinya. Ia memiliki kemampuan untuk menahan diri, untuk memilih yang benar, dan untuk menjaga martabatnya sebagai makhluk yang dimuliakan oleh Allah.
Jika puasa dijalankan dengan kesadaran seperti ini, maka Ramadhan tidak sekadar menjadi bulan ritual tahunan. Ia menjadi madrasah kehidupan yang membentuk manusia yang lebih jujur, lebih rendah hati, dan lebih bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri, terhadap sesama, dan terhadap Tuhan. Di situlah puasa menemukan makna terdalamnya: bukan hanya menahan diri dari yang membatalkan puasa, tetapi menahan diri dari segala sesuatu yang merusak kemanusiaan.
(Bumi Pambusuang, 22 Pebruari 2026)
- Penulis: Ilham Sopu

Saat ini belum ada komentar