Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Beragama di Era Algoritma: Cepat Yakin, Lambat Memahami

  • account_circle Alam Khaerul Hidayat
  • calendar_month Minggu, 15 Feb 2026
  • visibility 411
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Lewat beberapa perbincangan santai ala tongkrongan dengan teman, saya menemukan satu celah pembahasan yang menarik sekaligus perlu diluruskan. Kami memang tumbuh dari latar belakang yang tidak sepenuhnya sama. Bahkan, jika dilihat dari kecenderungan wacananya, mereka hampir mendekati kelompok yang hendak saya bahas. Namun beruntungnya, keduanya tetap berada pada posisi yang moderat dan terbuka untuk berdialog.

Dari obrolan-obrolan itulah saya mulai menyadari bahwa ada sesuatu yang sedang bergeser dalam cara sebagian anak muda memaknai agama. Namun di tengah semangat itu, muncul kegelisahan lain: pengetahuan yang masih dangkal, tetapi keberanian untuk menghakimi begitu tinggi.

Fenomena ini sering bermula dari konsumsi agama yang serba cepat. Potongan ceramah, klip FYP, kutipan satu dalil tanpa konteks, lalu dijadikan kesimpulan final. Sekali dua kali hadir kajian, sudah merasa memiliki legitimasi untuk membid’ahkan praktik masyarakat sekitar. Seolah-olah agama yang selama ini hidup di tengah tradisi, tahlilan, maulid, atau doa bersama, tiba-tiba dianggap menyimpang hanya karena tidak sesuai dengan potongan video yang ditonton.

Padahal dalam sejarah intelektual Islam, perdebatan tentang bid‘ah tidak pernah sesederhana itu. Ulama besar seperti Imam Syafi’i bahkan membedakan antara inovasi yang baik dan yang tercela. Artinya, persoalan ini sejak awal berada dalam ruang ijtihad, bukan ruang vonis instan.

Yang menjadi soal bukan perubahan bahasa mengucapkan “masyaAllah tabarakallah” atau “allahumma barik” tentu doa yang baik. Namun ketika bahasa berubah menjadi penanda superioritas moral, di situlah masalah muncul. Kesalehan menjadi simbolik, bukan etis. Ukuran religiusitas bergeser dari akhlak dan kebijaksanaan menjadi diksi dan penampilan.

Di masyarakat sekitar, kita melihat kontras yang menarik. Ada orang tua yang mungkin tidak fasih istilah Arab, tetapi setia menjaga silaturahmi, tidak mudah memecah belah, dan menghormati perbedaan. Ada tradisi doa bersama yang lahir dari semangat kebersamaan dan empati sosial. Lalu datang generasi yang baru belajar, tetapi dengan cepat menyematkan label “bid‘ah” tanpa memahami konteks sosial dan sejarahnya.

Di sini terlihat bahwa problemnya bukan pada semangat hijrah, melainkan pada cara memaknainya. Hijrah seharusnya berarti pergeseran etika dari keras menjadi lembut, dari mudah menghakimi menjadi mudah memahami, dari merasa paling benar menjadi terus belajar.

Agama yang matang melahirkan ketenangan. Agama yang setengah matang sering melahirkan kegaduhan.

Masyarakat kita sebenarnya telah lama mempraktikkan Islam dalam bentuk yang hidup dalam gotong royong, dalam doa bersama, dalam tradisi yang mempererat hubungan sosial. Tentu semua praktik bisa dikaji dan dievaluasi, tetapi mengoreksi bukan berarti merendahkan. Mengingatkan bukan berarti menyalahkan.

Jika hijrah hanya menghasilkan perubahan istilah tetapi tidak melahirkan keluasan hati, maka yang berubah baru bahasa, belum laku. Barangkali yang perlu direnungkan kembali adalah ini: apakah hijrah itu tentang memenangkan perdebatan, atau tentang memperdalam akhlak?

Karena pada akhirnya, masyarakat tidak diikat oleh istilah, melainkan oleh adab.

والله أعلم بالصواب

Penulis : Alumnus Magister Aqidah dan Filsafat Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

  • Penulis: Alam Khaerul Hidayat

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Gorontalo Targetkan 155 Titik Dapur MBG

    Gorontalo Targetkan 155 Titik Dapur MBG

    • calendar_month Senin, 29 Sep 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 169
    • 0Komentar

    Pemerintah Provinsi Gorontalo menargetkan pembangunan 155 titik Sentra Produksi Pangan dan Gizi (SPPG) untuk mendukung program Makanan Bergizi Gratis (MBG). Target tersebut dibahas dalam Rapat Evaluasi Pelaksanaan MBG yang dibuka Sekretaris Daerah Sofian Ibrahim di Ruang Rapat Dinas Ketahanan Pangan, Kamis (4/9/2025). Sofian menyampaikan, hingga saat ini baru 15 titik yang beroperasi dan akan bertambah […]

  • Mengemis untuk Kaya? Islam Tidak Membenarkan

    Mengemis untuk Kaya? Islam Tidak Membenarkan

    • calendar_month Sabtu, 5 Jul 2025
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 164
    • 0Komentar

    Belum lama ini, publik Gorontalo dibuat heboh dengan kisah viral seorang pria paruh baya berinisial LH alias Luthfi (47), warga Kelurahan Ipilo, Kota Gorontalo. Sosok ini diketahui telah lama berprofesi sebagai pengemis di berbagai sudut kota. Namun yang bikin kaget, ia ternyata memiliki rekening dengan simpanan fantastis — mencapai Rp 500 juta. Kabar ini bermula […]

  • Hirarki Pengabdian Gus Dur

    Hirarki Pengabdian Gus Dur

    • calendar_month Senin, 19 Jan 2026
    • account_circle Ilham Sopu
    • visibility 322
    • 0Komentar

    Peringatan haul KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) kembali menjadi momentum reflektif untuk membaca sosok Gus Dur secara lebih utuh dan jernih. Membaca Gus Dur secara parsial kerap melahirkan kesalahpahaman: ia dianggap liberal, kontroversial, bahkan menyimpang dari arus utama. Padahal, jika ditelusuri secara menyeluruh, pemikiran dan laku hidup Gus Dur justru memperlihatkan konsistensi yang kuat dan […]

  • Kepemimpinan Ideal al-Ghazālī dan Refleksi PBNU: Belajar dari Keteladanan Gus Dur

    Kepemimpinan Ideal al-Ghazālī dan Refleksi PBNU: Belajar dari Keteladanan Gus Dur

    • calendar_month Minggu, 4 Jan 2026
    • account_circle Nur Shollah Bek
    • visibility 385
    • 0Komentar

    Dalam khazanah pemikiran Islam klasik, Imam al-Ghazālī menempatkan kepemimpinan sebagai amanah agung yang tidak hanya diukur dari kecakapan administratif atau kekuasaan struktural, melainkan dari kesatuan antara intelektualitas, spiritualitas, dan akhlak. Seorang pemimpin, menurut al-Ghazālī, bukan sekadar pengatur urusan lahiriah, tetapi tabib sosial—yang mampu mengobati kerusakan moral, kegersangan spiritual, dan kehancuran nilai dalam tubuh masyarakat atau […]

  • Bendera dan Gugatan Nasionalisme

    Bendera dan Gugatan Nasionalisme

    • calendar_month Jumat, 29 Agt 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 156
    • 0Komentar

    Ada pemandangan tak biasa menjelang peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia. Bendera bergambar tengkorak tersenyum, bertopi jerami berkibar di berbagai penjuru. Rumah-rumah memasangnya. Di tembok ada gambarnya. Truk, mobil dan motor memansangnya, sementara anak muda dengan bangga memajang di media sosialnya. Bendera yang dikenal sebagai Jolly Roger itupun berkibar di angkasa dan medsos. Gambar tengkorak tersenyum itu […]

  • Zeigarnik Effect dan Seni Menjaga “Kemungkinan”

    Zeigarnik Effect dan Seni Menjaga “Kemungkinan”

    • calendar_month Kamis, 4 Jun 2026
    • account_circle Pepi Al-Bayqunie
    • visibility 150
    • 0Komentar

    Pada tahun 1927, seorang psikolog Soviet bernama Bluma Zeigarnik melakukan penelitian yang hasilnya kemudian dikenal sebagai Zeigarnik Effect. Konon, inspirasinya muncul setelah ia mengamati pelayan restoran yang mampu mengingat pesanan pelanggan yang belum dibayar dengan sangat rinci, tetapi segera melupakannya setelah transaksi selesai. Pengamatan sederhana ini kemudian diuji melalui eksperimen psikologis dan menghasilkan temuan yang […]

expand_less