Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Beragama di Era Algoritma: Cepat Yakin, Lambat Memahami

  • account_circle Alam Khaerul Hidayat
  • calendar_month Minggu, 15 Feb 2026
  • visibility 375
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Lewat beberapa perbincangan santai ala tongkrongan dengan teman, saya menemukan satu celah pembahasan yang menarik sekaligus perlu diluruskan. Kami memang tumbuh dari latar belakang yang tidak sepenuhnya sama. Bahkan, jika dilihat dari kecenderungan wacananya, mereka hampir mendekati kelompok yang hendak saya bahas. Namun beruntungnya, keduanya tetap berada pada posisi yang moderat dan terbuka untuk berdialog.

Dari obrolan-obrolan itulah saya mulai menyadari bahwa ada sesuatu yang sedang bergeser dalam cara sebagian anak muda memaknai agama. Namun di tengah semangat itu, muncul kegelisahan lain: pengetahuan yang masih dangkal, tetapi keberanian untuk menghakimi begitu tinggi.

Fenomena ini sering bermula dari konsumsi agama yang serba cepat. Potongan ceramah, klip FYP, kutipan satu dalil tanpa konteks, lalu dijadikan kesimpulan final. Sekali dua kali hadir kajian, sudah merasa memiliki legitimasi untuk membid’ahkan praktik masyarakat sekitar. Seolah-olah agama yang selama ini hidup di tengah tradisi, tahlilan, maulid, atau doa bersama, tiba-tiba dianggap menyimpang hanya karena tidak sesuai dengan potongan video yang ditonton.

Padahal dalam sejarah intelektual Islam, perdebatan tentang bid‘ah tidak pernah sesederhana itu. Ulama besar seperti Imam Syafi’i bahkan membedakan antara inovasi yang baik dan yang tercela. Artinya, persoalan ini sejak awal berada dalam ruang ijtihad, bukan ruang vonis instan.

Yang menjadi soal bukan perubahan bahasa mengucapkan “masyaAllah tabarakallah” atau “allahumma barik” tentu doa yang baik. Namun ketika bahasa berubah menjadi penanda superioritas moral, di situlah masalah muncul. Kesalehan menjadi simbolik, bukan etis. Ukuran religiusitas bergeser dari akhlak dan kebijaksanaan menjadi diksi dan penampilan.

Di masyarakat sekitar, kita melihat kontras yang menarik. Ada orang tua yang mungkin tidak fasih istilah Arab, tetapi setia menjaga silaturahmi, tidak mudah memecah belah, dan menghormati perbedaan. Ada tradisi doa bersama yang lahir dari semangat kebersamaan dan empati sosial. Lalu datang generasi yang baru belajar, tetapi dengan cepat menyematkan label “bid‘ah” tanpa memahami konteks sosial dan sejarahnya.

Di sini terlihat bahwa problemnya bukan pada semangat hijrah, melainkan pada cara memaknainya. Hijrah seharusnya berarti pergeseran etika dari keras menjadi lembut, dari mudah menghakimi menjadi mudah memahami, dari merasa paling benar menjadi terus belajar.

Agama yang matang melahirkan ketenangan. Agama yang setengah matang sering melahirkan kegaduhan.

Masyarakat kita sebenarnya telah lama mempraktikkan Islam dalam bentuk yang hidup dalam gotong royong, dalam doa bersama, dalam tradisi yang mempererat hubungan sosial. Tentu semua praktik bisa dikaji dan dievaluasi, tetapi mengoreksi bukan berarti merendahkan. Mengingatkan bukan berarti menyalahkan.

Jika hijrah hanya menghasilkan perubahan istilah tetapi tidak melahirkan keluasan hati, maka yang berubah baru bahasa, belum laku. Barangkali yang perlu direnungkan kembali adalah ini: apakah hijrah itu tentang memenangkan perdebatan, atau tentang memperdalam akhlak?

Karena pada akhirnya, masyarakat tidak diikat oleh istilah, melainkan oleh adab.

والله أعلم بالصواب

Penulis : Alumnus Magister Aqidah dan Filsafat Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

  • Penulis: Alam Khaerul Hidayat

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Bukan Spons, Cuma Es Kue: Laboratorium Meluruskan Dugaan Aparat

    Bukan Spons, Cuma Es Kue: Laboratorium Meluruskan Dugaan Aparat

    • calendar_month Selasa, 27 Jan 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 368
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Tuduhan bahwa jajanan es kue jadul di wilayah Kemayoran terbuat dari bahan spons akhirnya dipatahkan oleh hasil pemeriksaan laboratorium. Setelah sempat menimbulkan kegaduhan publik akibat video viral, aparat TNI-Polri yang terlibat pun menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada masyarakat. Permohonan maaf tersebut disampaikan oleh Bhabinkamtibmas dan Babinsa, sebagaimana diunggah akun Instagram @fakta.indo dan […]

  • Aktivis Gorontalo Kevin Lapendos Bantah Fitnah Oknum Asosiasi Nelayan: “Saya Punya Bukti Kuat”

    Aktivis Gorontalo Kevin Lapendos Bantah Fitnah Oknum Asosiasi Nelayan: “Saya Punya Bukti Kuat”

    • calendar_month Minggu, 7 Sep 2025
    • account_circle Rivaldi Bulilingo
    • visibility 156
    • 0Komentar

    Aktivis muda Gorontalo, Kevin Lapendos, yang dikenal aktif dalam aksi Unjuk Rasa, akhirnya angkat bicara terkait fitnah yang diarahkan kepadanya oleh oknum dalam Ketua Asosiasi Nelayan Gorontalo. Kevin menegaskan bahwa tuduhan-tuduhan tersebut sama sekali tidak benar, dan merupakan upaya untuk membungkam serta mengaburkan perjuangan Advokasinya yang tengah ia lakukan. Kevin selama ini aktif menyoroti dugaan […]

  • Penuh Khidmat, PERADI Gorontalo Lantik Kepengurusan Baru dan 24 Advokat Muda

    Penuh Khidmat, PERADI Gorontalo Lantik Kepengurusan Baru dan 24 Advokat Muda

    • calendar_month Kamis, 4 Des 2025
    • account_circle Mike
    • visibility 171
    • 0Komentar

    Kota Gorontalo – Perhimpunan Advokat Indonesia (PERADI) Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gorontalo meresmikan kepengurusan baru periode 2022–2027. Advokat Arif Mahfudin Ibrahim, S.H., M.H., secara resmi mengemban tugas sebagai Ketua DPC setelah dilantik dalam sebuah upacara yang dipenuhi kekhidmatan di Hotel Aston, Kota Gorontalo, pada Selasa (02/12/2025). Momentum pelantikan ini merupakan perayaan regenerasi profesi hukum di […]

  • PMII Maros Minta Polisi Tak Tutup Mata atas Kekerasan di Malam Tahun Baru

    PMII Maros Minta Polisi Tak Tutup Mata atas Kekerasan di Malam Tahun Baru

    • calendar_month Senin, 5 Jan 2026
    • account_circle Sakti
    • visibility 306
    • 0Komentar

    Nulondalo.com, Maros – Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Maros menyatakan keprihatinan serius atas peristiwa pengeroyokan yang dialami Muhammad Akbar (Korban), seorang warga Kabupaten Maros, di kawasan Pantai Tak Berombak (PTB) pada malam pergantian tahun, 31 Desember 2025. Insiden tersebut tidak hanya menyebabkan korban mengalami luka fisik, tetapi juga menimbulkan keresahan di tengah masyarakat serta […]

  • PAD Maros 2025 Pecah Rekor, Tembus Rp329,5 Miliar

    PAD Maros 2025 Pecah Rekor, Tembus Rp329,5 Miliar

    • calendar_month Jumat, 2 Jan 2026
    • account_circle Sakti
    • visibility 302
    • 0Komentar

    Nulondalo.com, Maros – Realisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Maros sepanjang tahun 2025 mencatatkan capaian gemilang. Total PAD yang berhasil dihimpun mencapai Rp329.562.919.533, meningkat signifikan dibandingkan tahun 2024 yang terealisasi sebesar Rp283.056.990.320. Kepala Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kabupaten Maros, Muh Ferdiansyah, menyebut capaian tersebut sebagai yang tertinggi sepanjang sejarah pengelolaan PAD Kabupaten Maros, sekaligus melampaui […]

  • Kelurahan Baju Bodoa, Salurkan beras dan minyak goreng sebanyak 452 Paket Bantuan ke Tiga Lingkungan

    Kelurahan Baju Bodoa, Salurkan beras dan minyak goreng sebanyak 452 Paket Bantuan ke Tiga Lingkungan

    • calendar_month Rabu, 3 Des 2025
    • account_circle Sakti
    • visibility 271
    • 0Komentar

    nulondalo.com, Maros— Kelurahan Baju Bodoa, Kecamatan Maros Baru, Kabupaten Maros kembali menunjukkan komitmennya dalam memperkuat kesejahteraan warganya. Pada tanggal 2 sampai 4 Desember 2025, pemerintah kelurahan menyalurkan bantuan pangan berupa beras 20 kilogram dan minyak goreng 4 liter kepada masyarakat yang benar–benar membutuhkan. Bantuan ini berasal dari Kementerian Sosial Republik Indonesia, yang kemudian disalurkan secara […]

expand_less