Raport Merah Ketua PKC PMII Sulawesi Selatan
- account_circle Rahmat Hidayat
- calendar_month 11 jam yang lalu
- visibility 762
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Namun, hingga hampir berakhirnya masa kepengurusan saat ini, banyak pihak menilai bahwa PKC PMII Sulawesi Selatan belum mampu memberikan dampak yang signifikan terhadap perkembangan organisasi. Alih-alih menghadirkan kemajuan, yang terlihat justru stagnasi gerakan yang menyebabkan menurunnya gairah kaderisasi dan minimnya inovasi organisasi. Hubungan koordinatif antara PKC dengan cabang-cabang dinilai tidak berjalan sebagaimana mestinya, sehingga banyak persoalan organisasi di tingkat bawah yang tidak memperoleh perhatian yang memadai.
Program-program yang dihadirkan selama periode kepengurusan ini pun dinilai hanya sebatas menggugurkan kewajiban administratif. Berbagai kegiatan yang dilaksanakan cenderung bersifat seremonial dan formalitas tanpa meninggalkan dampak yang nyata bagi penguatan organisasi. Tidak terlihat adanya program yang benar-benar dirancang untuk menjawab kebutuhan kader ataupun memperkuat posisi PMII Sulawesi Selatan dalam menjawab tantangan zaman. Kegiatan yang dilaksanakan seolah hanya untuk memenuhi agenda rutin tahunan, tanpa adanya evaluasi mendalam mengenai manfaat dan keberlanjutannya.
Ironisnya, hingga saat ini belum terlihat satu pun program unggulan yang dapat menjadi identitas atau legacy kepengurusan. Sebuah periode kepemimpinan idealnya meninggalkan warisan berupa sistem, budaya organisasi, ataupun inovasi gerakan yang dapat diteruskan oleh generasi berikutnya. Namun, pada periode ini, banyak kader justru kesulitan menemukan capaian yang dapat dijadikan tolok ukur keberhasilan kepemimpinan ketua PKC Sulawesi Selatan. Akumulasi dari seluruh program yang dijalankan masih jauh dari harapan kader yang menginginkan organisasi ini tumbuh lebih progresif, adaptif, dan mampu menjawab kebutuhan masyarakat.
Tidak berlebihan jika banyak kader kemudian menilai bahwa kepengurusan PKC PMII Sulawesi Selatan periode ini merupakan salah satu periode terburuk dalam sejarah organisasi. Penilaian tersebut lahir bukan karena sentimen personal, melainkan sebagai bentuk evaluasi terhadap realitas yang dirasakan oleh banyak kader di berbagai cabang. Indikasi paling nyata terlihat dari sosok pemimpin organisasi yang diibaratkan “walayamutu walayahya”, antara ada dan tiada. Kehadirannya tidak memberikan pengaruh yang berarti terhadap dinamika organisasi, sementara ketidakhadirannya pun seolah tidak mengubah keadaan. Analogi tersebut menjadi gambaran atas lemahnya kepemimpinan yang dirasakan oleh kader dan minimnya kemampuan untuk mengonsolidasikan seluruh potensi organisasi.
Atas dasar kondisi tersebut, kami Pengurus Cabang PMII Barru menyatakan tidak sudi dipimpin oleh Ketua PKC yang tidak menunjukkan arah kepemimpinan yang jelas dan terkesan melepaskan tanggung jawab terhadap organisasi. Sikap ini bukanlah bentuk penolakan terhadap institusi PKC PMII Sulawesi Selatan, melainkan bentuk kecintaan terhadap organisasi agar tetap berjalan sesuai dengan cita-cita perjuangan dan nilai-nilai kaderisasi PMII. Oleh karena itu, menjelang pelaksanaan Konferensi Koordinator Cabang (Konkorcab), PMII Cabang Barru dengan tegas menyatakan “menolak pertanggungjawaban Ketua PKC PMII Sulawesi Selatan”, sebagai bagian dari ikhtiar untuk menghadirkan evaluasi yang objektif dan mendorong lahirnya kepemimpinan yang lebih bertanggung jawab di masa yang akan datang.
Penulis : Bendahara Umum PC PMII Barru
- Penulis: Rahmat Hidayat

Saat ini belum ada komentar