Satu Liter Bensin
- account_circle Fadhil Hadju
- calendar_month 7 jam yang lalu
- visibility 77
- print Cetak

lustrasi suasana depot bensin eceran di Kota Gorontalo, menggambarkan kepedulian sederhana di tengah himpitan hidup dan kondisi ekonomi masyarakat.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
“Maaf. Aku tidak tahu kalau dia jadi begitu karena kena stroke,” gumamku pelan.
“Terus, ada apa dengan Aba Busi?” tanyanya dengan nada serius.
“Oh iya. Aku hampir lupa soal yang itu. Begini ceritanya. Tadi aku mau isi bensin. karena dekat dengan rumah, jadi aku singgah beli di situ. Tapi tiba-tiba Aba Busi bertanya ke aku. ‘Bukan kamu yang tidak bayar bensin tadi?’ begitu dia bilang. Lantas aku kaget. Kok, Aku yang dituduh begitu. Padahal ini kali pertama aku mengisi bensin di tempatnya itu,”
“Terus kamu bilang apa?” tanyanya sembari kembali pada kerjaannya. Jarinya kembali menari di atas keyboard.
“Tentu saja aku bilang kalau aku baru sampai di depotnya. Terus aku bilang kalua rumah kita dekat dengan depotnya jualan, dan aku juga adalah suamimu. Untungnya ia langsung mengenalimu. Terus dia bilang, tadi ada yang isi bensin di depot, tapi saat ia masuk ke warung, mengambil uang kembalian pria itu sudah hilang. Pergi tanpa membayar,” nada suaraku memelan diakhir cerita itu. Aku duduk merunduk di pinggiran kasur yang menenggelamkan bokong. Keheningan menjeda kami.
“Ya Allah. Kasihan Aba Busi. Siapa orang yang tega melakukan hal itu,” suaranya sedikit gemetar. Ada rasa bersalah yang menghantam dalam hatiku. Mengapa tidak memberikannya uang dua belas ribu, ongkos kerugian seliter bensin, gumamku dalam batin.
***
“Aba Busi itu tinggal bersama anak dan cucunya,” tutur ibu mertua mengisahkan hidup pria itu.
“Waktu muda dulu, ia sangat baik dengan orang-orang. Tanpa pamrih ia membantu yang kesulitan. Beberapa kali ia membantu ketika Papanya Putri panen padi. Dia pasti ikut turun ke sawah bersama para buruh tani yang kami sewa,” sambungnya mengenang masa lalu.
“Sayang Papanya Putri sudah meninggal. Sawah juga sudah tiada. Kalau masih hidup pasti mereka akan saling bantu. Sebab mereka itu adalah keluarga, sepupuan. Apalagi melihat kondisi Aba Busi sekarang. Memperihatinkan,” suaranya lirih.
“Satu-satunya yang ia bisa kerjakan sekarang yaitu jaga depot bensin eceran. Keluarganya memodali semua peralatannya,”
- Penulis: Fadhil Hadju

Saat ini belum ada komentar