Satu Liter Bensin
- account_circle Fadhil Hadju
- calendar_month 7 jam yang lalu
- visibility 78
- print Cetak

lustrasi suasana depot bensin eceran di Kota Gorontalo, menggambarkan kepedulian sederhana di tengah himpitan hidup dan kondisi ekonomi masyarakat.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
“Tapi, kasihan melihat orang tua kerja begitu. Apalagi dengan kondisi yang sulit berjalan. Orang jadi menunggu lama untuk dilayani saat beli bensin,” timpalku sekonyong-konyong.
“Memang kasihan melihat orang tua bekerja dengan kondisi begitu. Tapi apa boleh buat. Keluarga mereka serba kekurangan. Dia sendiri pernah bilang ingin membantu keluarga dengan cara apa pun. Karena menurutnya, ia masih kepala keluarga,” sambung ibu mertua menimpali pertanyaanku.
“Tapi bagaimana bisa ya, ada orang yang berbuat begitu. Apa dia tidak kasihan melihat Aba Busi saat beli bensin, kemudian membuatnya jadi rugi begitu,” ternyata istriku ikut mendengarkan cerita Aba Busi yang bekerja dengan kondisi pasca stroke itu. Menurutnya, pria yang tidak membayar yang salah. Tidak punya nurani dan moralnya rendah.
Mungkin istriku ada benarnya. Tapi menurutku ia tidak sepenuhnya benar. Di tengah kondisi ekonomi yang lesu ini semua hal bisa terjadi. Orang kaya menghisap orang miskin. Orang miskin saling menipu. Anak memanfaatkan orang tua. Masih banyak lagi kemerosotan moral yang bisa terjadi sebab ekonomi. Bahkan, beberapa waktu lalu, di daerah ini, di Provinsi Gorontalo, yang terkenal dengan istilah Serambi Madinah meningkat kasus bunuh diri. Dari berita yang beredar kala itu, sebab mereka bunuh diri kebanyakan alasan ekonomi. Ada yang penyebabnya kecanduan judi online, di akhir hayatnya terlilit utang sehingga memilih jalan menghabisi hidupnya. Tapi pikiran ini kusimpan sendiri. Aku tidak mau cerita melebar dan membuat momen makan siang ini jadi rusak. Sebab, menurutku makan siang adalah waktu kita untuk istirahat dari dunia yang penuh hiruk pikuk ini. Siapa pun itu, juga merasa seperti itu. Dunia serasa berhenti kala makan siang.
Aku menyantap dengan lahap ikan goreng garo rica yang dihidangkan siang itu. Cerita tadi membuat perutku lapar. Istri dan ibu mertua juga makan bersama-sama. Kami duduk dengan khusyuk menikmati rezeki Tuhan hari itu.
“Alhamdulillah kita masih bisa makan enak hari ini,” ucap ibu mertua dengan nada riang, sembari mengusap wajah dengan kedua tangan. Ia mengangkat piring bekas makannya dan mengantarkan ke tempat piring kotor.
Aku dan istri juga selesai makan. Piring-piring kotor itu aku antar menumpuk bersama teman-temannya. Kami masuk kembali ke kamar. Istri melanjutkan kerjaannya. Aku karena senggang, kuambil sebuah buku di pinggir kasur dan membaca beberapa halaman. Siang hari diakhir pekan itu berjalan dengan normal hingga malam tiba.
***
Paginya sebelum berangkat kerja aku singgah di depot bensin ecer Aba Busi. Yang jaga bukan Aba Busi, tapi orang lain. Aku mengisi motor yang aku kendarai dengan satu liter bensin. Kusodorkan lembaran dua belas ribu. Katanya, bensin sudah naik jadi tiga belas ribu.
- Penulis: Fadhil Hadju

Saat ini belum ada komentar