Satu Liter Bensin
- account_circle Fadhil Hadju
- calendar_month 7 jam yang lalu
- visibility 77
- print Cetak

lustrasi suasana depot bensin eceran di Kota Gorontalo, menggambarkan kepedulian sederhana di tengah himpitan hidup dan kondisi ekonomi masyarakat.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
“Wah, sudah naik harganya ya ?” ujarku agak kaget.
“Iya. Soalnya kami tidak bisa lagi mengantri di Pertamina membawa jeregen. Sudah ada larangannya. Jadi kami terpaksa titip bensin sama kenalan yang tangki motornya dimodifikasi,” timpalnya.
“Waduh. Jadinya seperti beli bensin dari pihak ketiga begitu ?” tanyaku dengan nada polos namun agak bercanda, dengan senyum tipis.
“Bisa dibilang seperti itu. Kami terpaksa menaikkan harga bensin,” tangannya sibuk mengisi bensin lewat lobang tangki.
“Oh iya kalau begitu pak. Aba Busi yang biasa jaga ke mana, ya ?” tanyaku padanya. Sedari tadi pria itu tidak terlihat. Biasanya pagi-pagi sekali pukul setengah enam ia sudah duduk menunggu pembeli.
“Dia lagi tidak sehat. Akhir-akhir ini semakin sulit jalan,”
Aku terkejut mendengar kabar itu. Sekonyong-konyong terbesit niat untuk memberikan dua belas ribu kerugian bensin Aba Busi kemarin. Tapi aku membantin dengan logika tanggungjawab moral. Kenapa mesti aku yang membayar kesalahan orang lain. Bukankah dia yang harus menanggung kesalahannya sendiri.
“Sudahlah. Berikan saja,” suara dari batin terus menggoda.
“Oke. Akan kuberikan!” Jawabku pada suara hati itu.
“Ini pak,” tanganku menyodorkan lagi dua belas ribu.
“Ini apa, ya pak ?” wajahnya heran. Ia mengernyitkan kening. Tapi tangannya sedikit menjulur hendak menerima uang itu.
“Kemarin Aba Busi bilang ada orang yang beli bensin tapi tidak bayar. Dan saat itu saya yang mendengar hal itu merasa iba, dan juga ada rasa bersalah. Kenapa tidak membantunya,” kutarik pelan tanggannya dan menyelipkan uang itu.
“Tapi bukan bapak yang salah. Kenapa kasih uang ini ?”
“Iya, tidak apa pak. Saya ikhlas. Terima saja pak,”
“Oh iya, pak. Makasih ya,”
“Sama-sama, pak.”
- Penulis: Fadhil Hadju

Saat ini belum ada komentar