Setan Diikat, Fraud Berlanjut?
- account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak
- calendar_month Rabu, 25 Feb 2026
- visibility 254
- print Cetak

Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak/Istimewa
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Ramadhan adalah bulan transparansi spiritual. Kita diajak jujur, bahkan ketika tidak ada yang melihat. Puasa itu unik: yang tahu kita benar-benar puasa atau tidak, hanya kita dan Allah. Ini seperti sistem self-assessment dalam perpajakan. Negara percaya kita jujur melaporkan. Tuhan pun “percaya” kita jujur berpuasa. Pertanyaannya: apakah kita layak dipercaya?
Sebagai bangsa yang religius, kita sering bangga dengan simbol-simbol. Spanduk Ramadhan megah, kajian ramai, konten dakwah viral. Tapi dalam praktik tata kelola, kita masih sering tergelincir. Seolah-olah akhlak berhenti di mimbar, tidak turun ke meja rapat.
Maka judul tulisan ini bukan tudingan, tapi refleksi. Jangan-jangan yang belum diikat adalah keserakahan kita. Jangan-jangan yang belum dipenjara adalah ego kita. Jangan-jangan yang perlu dibelenggu bukan makhluk gaib, tapi celah-celah dalam sistem dan dalam hati.
Ramadhan mengajarkan muraqabah, merasa diawasi Allah. Dalam audit modern, ini seperti continuous monitoring. Bukan hanya diaudit di akhir tahun, tapi setiap saat sadar bahwa setiap transaksi ada konsekuensi. Kalau kesadaran ini hidup, maka integritas tidak perlu ditunggu ketika auditor datang.
Humor ala NU mengajarkan kita untuk menertawakan diri sendiri sebelum menertawakan orang lain. Maka mari kita tertawa kecil: mungkin selama ini kita terlalu sibuk memastikan setan terikat, tapi lupa memastikan sistem kita tidak bocor. Terlalu sibuk ceramah tentang kejujuran, tapi enggan menyederhanakan prosedur yang membuka peluang manipulasi.
Akhirnya, Ramadhan bukan hanya soal menahan lapar dan dahaga, tapi menahan diri dari mengkhianati amanah. Kalau setelah Ramadhan laporan keuangan kita lebih rapi, lebih transparan, dan lebih jujur, berarti puasanya lulus uji materialitas. Tapi kalau fraud tetap jalan, mungkin yang diikat baru setannya, belum egonya.
Semoga Ramadhan tahun ini bukan hanya mengurangi kolesterol, tapi juga mengurangi moral hazard. Karena pada akhirnya, yang paling berat bukan mengikat setan, melainkan mengikat diri sendiri pada nilai kejujuran. Dan itu, sebagaimana kata para kiai, adalah jihad yang paling sunyi, tapi paling menentukan.
Penulis : Intelektual Muda Nahdlatul Ulama
- Penulis: Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak

Saat ini belum ada komentar