Setan Diikat, Fraud Berlanjut?
- account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak
- calendar_month Rabu, 25 Feb 2026
- visibility 255
- print Cetak

Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak/Istimewa
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Ramadhan sejatinya adalah momentum audit diri. Dalam audit, ada istilah substantive test dan test of control. Banyak dari kita rajin melakukan “test of control” pada orang lain, mengawasi bawahan, mencurigai rekan kerja, memeriksa nota kecil sampai ke receh. Tapi lupa melakukan substantive test pada diri sendiri: apakah saya sudah jujur? Apakah saya sudah amanah?
Lucunya, setiap Ramadhan, masjid penuh. Shaf rapat. Doa panjang. Tapi laporan pertanggungjawaban kegiatan masih sering telat. Ada yang lebih rajin tarawih daripada menyusun rekonsiliasi bank. Ini bukan soal ibadahnya kurang, tapi integrasi antara ibadah dan integritas yang belum klop.
Dalam tradisi Nahdliyin, ada prinsip tawazun (keseimbangan). Seimbang antara habluminallah dan habluminannas. Seimbang antara spiritualitas dan profesionalitas. Jangan sampai puasa menahan lapar, tapi tidak menahan godaan mark-up anggaran. Jangan sampai tilawah lancar, tapi pengadaan barang tetap “terselip” fee siluman.
Sebagian orang berdalih, “Ini cuma praktik kecil, semua juga begitu.” Nah, ini yang dalam Fraud Triangle disebut rationalization. Rasionalisasi itu seperti sambal: sedikit terasa nikmat, kebanyakan bikin sakit perut moral. Ramadhan mestinya mengajari kita bahwa yang kecil-kecil itu justru menentukan kualitas. Bukankah pahala juga dihitung dari yang kecil tapi ikhlas?
Ada yang berkata, “Setan diikat, tapi manusia kan tetap punya nafsu.” Betul. Dalam perspektif tasawuf, musuh terbesar bukan setan eksternal, tapi nafsu internal. Dalam bahasa akuntansi, risiko terbesar bukan hanya pada external threat, tapi internal control weakness. Kalau sistem pengendalian internal lemah, walaupun tidak ada setan pun, fraud bisa tetap jalan. Bahkan bisa jalan lebih cepat, karena tidak perlu kambing hitam.
- Penulis: Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak

Saat ini belum ada komentar