Breaking News
light_mode
Trending Tags

Studi Ungkap “Jam Kematian Sel”: Ukuran Nukleolus Bisa Prediksi Penuaan

  • account_circle Tim Redaksi
  • calendar_month 5 jam yang lalu
  • visibility 9
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

nulondalo.com – Sebuah studi terbaru mengungkap mekanisme baru yang mengatur proses penuaan pada tingkat sel. Para ilmuwan menemukan bahwa ukuran nukleolus, struktur kecil di dalam inti sel, dapat menjadi indikator kapan sebuah sel mendekati akhir masa hidupnya.

Penelitian yang dilakukan oleh tim dari Weill Cornell Medicine menunjukkan bahwa perubahan ukuran nukleolus dapat memengaruhi stabilitas bagian DNA yang paling rentan mengalami kerusakan.

Nukleolus merupakan kompartemen tanpa membran di dalam inti sel yang berfungsi membangun ribosom, komponen penting yang memungkinkan sel memproduksi protein. Di dalam struktur ini terdapat ribosomal DNA (rDNA), bagian genom yang tersusun dari urutan berulang dan dikenal sangat rentan mengalami kesalahan saat proses penyalinan maupun perbaikan DNA.

Kesalahan tersebut dapat memicu berbagai masalah genetika seperti penghapusan, duplikasi, hingga ketidakstabilan genom—kondisi yang diketahui meningkat seiring bertambahnya usia.

“Penuaan adalah faktor risiko tertinggi untuk berbagai penyakit,” ujar ilmuwan Jessica Tyler dari Weill Cornell Medicine, seperti dikutip dari SciTech Daily.

Nukleolus Membesar Saat Sel Menua

Para peneliti telah lama mengamati bahwa nukleolus cenderung membesar pada sel yang menua. Sebaliknya, nukleolus berukuran kecil sering ditemukan pada sel yang berumur panjang atau pada organisme yang mengalami intervensi anti-penuaan seperti pembatasan kalori.

Namun, hingga kini belum jelas apakah pembesaran nukleolus hanya sekadar korelasi atau benar-benar menjadi penyebab percepatan penuaan sel.

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, para ilmuwan melakukan eksperimen menggunakan sel ragi. Organisme ini dipilih karena sel ragi induk memiliki jumlah pembelahan terbatas sebelum akhirnya berhenti berkembang.

Dalam eksperimen tersebut, peneliti merekayasa sel ragi agar ukuran nukleolus tetap kecil sepanjang hidup sel.

“Keuntungan dari sistem kami adalah kami dapat mengisolasi ukuran nukleolus dari semua efek lain dari strategi anti-penuaan,” kata peneliti J. Ignacio Gutierrez.

Hasilnya menunjukkan bahwa sel dengan nukleolus kecil mampu melakukan lebih banyak pembelahan sebelum mencapai akhir masa hidupnya.

Ambang Kritis Sebelum Sel Mati

Penelitian juga menemukan bahwa nukleolus tidak membesar secara bertahap. Sebaliknya, ukurannya melewati satu ambang kritis, sebelum akhirnya membesar secara drastis.

Setelah ambang tersebut terlampaui, sel rata-rata hanya mampu bertahan sekitar lima kali pembelahan lagi sebelum berhenti berfungsi.

Pada tahap ini, batas nukleolus menjadi lebih permeabel sehingga protein asing dapat masuk ke dalamnya. Kebocoran tersebut menghilangkan perlindungan selektif pada rDNA dan memicu ketidakstabilan genom yang mempercepat kematian sel.

Para peneliti menyebut ambang pembesaran nukleolus ini sebagai “mortality timer” atau penanda hitungan mundur menuju akhir masa hidup sel.

“Ketika protein lain masuk ke nukleolus, hal itu menyebabkan ketidakstabilan genom yang memicu akhir masa hidup sel,” jelas Tyler.

Potensi Penelitian pada Sel Manusia

Temuan ini menunjukkan bahwa nukleolus kecil membantu menjaga stabilitas rDNA dan memperpanjang umur replikatif sel.

Menariknya, efek ini tidak berkaitan dengan berkurangnya produksi ribosom maupun penurunan pertumbuhan sel secara umum, sebagaimana dilaporkan oleh Earth.com.

Sebaliknya, ukuran nukleolus tampak berhubungan langsung dengan kemampuan sel mempertahankan stabilitas DNA.

Para peneliti kini berencana melanjutkan penelitian dengan menguji apakah mekanisme serupa juga terjadi pada sel punca manusia. Jika terbukti, pengendalian ukuran nukleolus berpotensi menjadi pendekatan baru dalam memperpanjang fungsi sel manusia dan membuka peluang pengembangan terapi anti-penuaan di masa depan.

  • Penulis: Tim Redaksi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Dua Bocah SD Salurkan Donasi, Jamil: Anak Sekecil Itu Memang Sangat Menggetarkan Batin

    Dua Bocah SD Salurkan Donasi, Jamil: Anak Sekecil Itu Memang Sangat Menggetarkan Batin

    • calendar_month Senin, 1 Des 2025
    • account_circle Risman Lutfi
    • visibility 93
    • 0Komentar

    Nulondalo.com – Tepat pada Senin, 1 Desember 2025 pukul 10 pagi WIB, di sebuah posko penggalangan donasi bencana alam yang terjadi di Sumbar, Sumut dan Aceh yang berlokasi di kantor PB PMII, Dua anak berseragam SD datang membawa pesan moral. Dengan tangan mungil yang belum mengenal rumitnya dunia Mereka menyerahkan uang lima ribu rupiah. Nilai […]

  • Mengapresiasi Transparansi, Sulawesi Tengah Anugerahkan Keterbukaan Informasi Publik 2025

    Mengapresiasi Transparansi, Sulawesi Tengah Anugerahkan Keterbukaan Informasi Publik 2025

    • calendar_month Senin, 15 Des 2025
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 108
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Komitmen menghadirkan pemerintahan yang terbuka dan melayani kembali ditegaskan Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah melalui Penganugerahan Keterbukaan Informasi Publik Tahun 2025. Kegiatan yang digelar oleh Dinas Komunikasi, Informatika, Persandian dan Statistik (Diskominfosantik) Provinsi Sulawesi Tengah bekerja sama dengan Komisi Informasi Provinsi Sulawesi Tengah ini berlangsung di Ruang Polibu, Senin (15/12/2025). Acara tersebut menjadi ruang […]

  • Rahmatan Lil Alamin, Bukan Laknatan Lil Alamin

    Rahmatan Lil Alamin, Bukan Laknatan Lil Alamin

    • calendar_month Minggu, 30 Nov 2025
    • account_circle Risman Lutfi
    • visibility 138
    • 0Komentar

    (Kader PMII dan Pembina GUSDURian Ternate). Fenomena alam harus dikaji secara mendalam karena memiliki asbab (akibat) dari terjadinya sesuatu, konstruksi makna menggunakan pendekatan hermeneutika memiliki banyak perspektif. Pertama, Ada yang menilai bahwa bencana alam adalah sebuah realitas yang alami dan merupakan hukum alam. Kedua, ada juga yang berpandangan bahwa tidak semua kejadian alam (bencana alam) […]

  • “Tuhan-tuhan Kecil” Yang Suka Menghukumi

    “Tuhan-tuhan Kecil” Yang Suka Menghukumi

    • calendar_month Selasa, 29 Apr 2025
    • account_circle Dr. Samsi Pomalingo, MA
    • visibility 69
    • 0Komentar

    Lagi-lagi belakangan ini media sosial kita khususnya Facebook, dipenuhi dengan berbagai postingan yang mengekspresikan penolakan terhadap keberadaan kelompok LGBT di Gorontalo. Banyak pengguna yang mengangkat isu seperti “Tolak LGBT”, “Selamatkan Gorontalo sebagai Serambi Madinah dari Kelompok LGBT”, dan “Hilangkan kaum LGBT dari Bumi Gorontalo”. Fenomena ini mencerminkan adanya gelombang penolakan yang kuat terhadap keberadaan LGBT […]

  • Abaikan Undangan Mahasiswa, Sekretaris IKPM-HT Yogyakarta Beri Peringatan ke Pemda dan Komisi II DPRD Haltim

    Abaikan Undangan Mahasiswa, Sekretaris IKPM-HT Yogyakarta Beri Peringatan ke Pemda dan Komisi II DPRD Haltim

    • calendar_month Kamis, 15 Jan 2026
    • account_circle Risman Lutfi
    • visibility 181
    • 0Komentar

    Nulondalo.com – Sikap tidak kooperatif ditunjukkan oleh Pemerintah Daerah (Pemda) dan Komisi II DPRD Halmahera Timur (Haltim) dalam merespons undangan dialog terkait kepentingan masyarakat. Hal ini memicu kritik pedas dari Ikatan Komunikasi Pelajar Mahasiswa Halmahera Timur (IKPM-HT) Yogyakarta. Sekretaris IKPM-HT Yogyakarta, Yudis Kamah, menyampaikan kekecewaan mendalam atas absennya perwakilan pemerintah dalam forum dialog yang membicarakan […]

  • Yang Nanam Malah Lapar

    Yang Nanam Malah Lapar

    • calendar_month Sabtu, 31 Jan 2026
    • account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
    • visibility 297
    • 0Komentar

    Satu abad Nahdlatul Ulama (NU) adalah usia yang cukup matang untuk merenung: apakah jam’iyah ini masih sekadar kuat di tahlilan, atau sudah cukup berani kuat di laporan keuangan? Gus Dur pernah berkelakar, “NU itu besar sekali, tapi kalau ditanya asetnya, jawabannya sering: berkah.” Masalahnya, berkah saja tidak cukup untuk bayar pupuk, solar kapal nelayan, dan […]

expand_less