Breaking News
light_mode
Trending Tags

Tinggalkan Jagung Priatno Sejahtera Menanam Kakao

  • account_circle Redaksi Nulondalo
  • calendar_month Selasa, 29 Jul 2025
  • visibility 86
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Kabupaten Pohuwato Provinsi Gorontalo dikenal memiliki bentang alam pertanian jagung yang dihiasi hamparan kebun jagung di lereng-lereng bukit.

Meskipun indah dipandang mata tetapi pesona kebun jagung itu ternyata menyimpan bahaya besar, yakni erosi permukaan tanah (top soil) karena pengolahan lahan tanpa terasering atau teknik konservasi tanah.

Menghadapi kondisi ini, hati Priatno (45) galau. Pria Jawa transmigran asal Banyumas Jawa Tengah ini menyimpan kegundahan tentang masa depan pertanian palawija di desanya. Ia tinggal di Dusun Permai nomor 15 Desa Puncak Jaya Kecamatan Taluditi.

Sebagai seorang guru sekaligus petani ia sudah lama merasakan biaya pertanian jagung setiap tahun naik, sementara produksi jagung cenderung menurun karena kesuburan tanah terus merosot. Kegalauan hatinya semakin menjadi-jadi menghadapi kenyataan harga komoditas jagung ini selalu mengecewakan.

Priatno bertekad untuk keluar dari situasi itu.

Momentum untuk berubah datang pada akhir tahun 2023 ketika harga biji kakao kering di tingkat petani melejit ke harga 100.000 per kg dari sebelumnya hanya sekitar 30.000 per kg.

Bahkan selama periode tahun 2024 petani kakao di Kabupaten Pohuwato, terutama di Kecamatan Taluditi dan Kecamatan Wanggarasi sempat menikmati harga 190.000 per kg. Dalam 15 bulan terakhir harga kakao di tingkat petani masih cukup tinggi antara Rp80-100 juta per ton.

Kenaikan harga kakao bagi Priatno hanyalah salah satu pemicu perubahan pola bertani dari petani jagung dan palawija yang akhir-akhir ini semakin rentan dengan kerusakan lingkungan serta anomali cuaca.

“Hujan semalam saja sudah cukup menimbulkan banjir belakangan ini,” kata Priatno, Minggu (6/7/2025).

Bencana banjir menjadi langganan karena sunga-sungai di sekitar desa mendangkal serta menyempit dipenuhi sedimen tanah dari areal pertanian dari lereng-lereng bukit selama berpuluh-puluh tahun. Ditambah aktivitas tambang liar yang beroperasi di hulu sungai membuat kondisi lingkungan semakin rapuh.

Pertanian jagung monokultur di lereng-lereng bukit ternyata bukan pertanian yang berkelanjutan,

Priatno memutuskan untuk berubah. Perubahan itu dimulai dengan membuat penangkaran benih kakao di pekarangan rumanhya. Awalnya untuk memenuhi kebutuhan bibit sendiri.

“Kami mengetahui tanaman kakao dari saluran media sosial, serta menimba ilmu dari petani kakao di sekitar desa,” ungkap Priatno.

Priatno menceritakan pada awalnya ia menangkarkan 1.000 benih kakao untuk ditanam di lahan sendiri.

Empat bulan kemudian, Faqih (19) anak laki-lakinya mendapat kesempatan dari Perhimpunan Burung Indonesia untuk mengikuti program training of trainer (ToT) budidaya kakao yang berkelanjutan.

Ia bersama 22 orang calon key farmer atau petani andalan lainnya yang terseleksi dari 11 desa di Kabupaten Pohuwato dikirim ke Mars Cocoa Academy, Luwu Timur, Sulawesi Selatan untuk mendalami agronomi tanaman kakao.

Berbekal keterampilan agronomi yang mumpuni serta adanya tren permintaan bibit kakao berkualitas yang meningkat, rombongan kecil petani ini kemudian kompak meningkatkan kapasitas penangkaran benihnya menjadi 20.000 per semester atau 40.000 benih per tahun.

Klon kakao yang mereka kembangkan adalah klon kakao yang telah terbukti cocok di Sulawesi, seperti klon kakao MCC-02, klon S-2, klon ICCRI, serta BB-01.

Berbekal penguasaan teknik grafting atau sambung pucuk dan side grafting atau sambung samping yakni teknik untuk memperbaiki genetik tanaman muda dan tanaman tua, mereka juga sudah mulai menangkarkan benih pengaya kebun kakao seperti durian monthong, alpokat unggul, serta nangka.

Penganekaragaman bibit unggul dari fasilitas pengangkaran ini dimaksudkan agar petani kakao dapat membuat kebun kakao agroforestri yang multihasil.

Selain dari kakao petani juga dapat penghasilan tambahan dari unit lahan yang sama dari durian, alpukat serta tanaman buah-buahan lainnya.

Perbaikan Lingkungan dan Ekonomi

Keberadaan fasilitas pemuliaan tanaman atau penangkaran bibit tanaman unggul ini di tingkat desa turut mendorong perbaikan lingkungan.

Lahan-lahan miring yang dulunya monokultur jagung, perlahan-lahan menjadi tanaman perkebunan yang menguntungkan serta ramah lingkungan.

Selain manfaat lingkungan, Priatno dan anaknya dapat meningkatkan ekonomi keluarga. Tahun 2024 sebanyak 8.000 bibit kakao telah berhasil dijual dengan harga 14.000 per pohon. Nilai transaksinya menccapai Rp112 juta.

Modal rata-rata untuk menghasilkan bibit kakao unggul dari mulai tahap penyemaian hingga bibit siap tanam Rp5.000 per pohon.

Dengan demikian keuntungan dari transaksi 7.000 benih kakao yang terjual tahun lalu mencapai Rp72 juta .

Dengan keuntungan yang cukup menjanjikan tersebut, Faqih sang anak, telah mengajak key farmer dari desa tetangga untuk bekerja di fasilitas pembibitan sehingga saat ini fasilitas pembibitan dikelola oleh tiga orang.

Masniar Tahudin seorang pendamping program kakao berkelanjutan dari Perhimpunan Burung Indonesia. Ia mengatakan pada tahun 2024 lembaganya menyelenggarakan sekolah lapang praktik baik pertanian kakao di Desa Puncak Jaya.

“Sekolah lapang ini melibatkan 53 petani, Priatno dan Faqih adalah bagian dari kelompok tani kakao yang di dampingi Perhimpunan Burung Indonesia,” ujar Masniar Tahudin.

Marahalim Siagian staf Perhimpunan Burung Indonesia yang dihubungi terpisah mengatakan sekitar 65 persen lahan pertanian di Desa Puncak Jaya adalah lahan miring serta desa Puncak Jaya adalah hulu Sungai Randangan—sungai utama di Kabupaten Pohuwato.

“Pertanian agroforestri berbasis kakao di lahan miring sangat relevan saat ini untuk menjawab kerusakan lingkungan yang kian parah,” kata Marahalim.

Marahalim menjelaskan bahwa para petani tanpa harus meninggalkan komoditas jagung, dua komoditas ini masih dapat berdampingan hingga usia tanaman kakao 2 tahun.

  • Penulis: Redaksi Nulondalo

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Wajar Tapi Palsu

    Wajar Tapi Palsu

    • calendar_month Rabu, 14 Jan 2026
    • account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
    • visibility 465
    • 0Komentar

    Gus Dur pernah bilang, “Yang lebih lucu dari politik adalah orang yang menganggap politik itu serius.” Dalam konteks audit negara, barangkali yang lebih lucu dari korupsi adalah keyakinan bahwa WTP berarti pemerintah sudah beres. WTP itu sebenarnya sederhana: laporan keuangan tidak melanggar SAP. Titik. Tapi di negeri ini, WTP diperlakukan seperti air zam-zam—disiramkan ke mana-mana […]

  • Al-Khat Seni Rupa Peradaban Islam

    Al-Khat Seni Rupa Peradaban Islam

    • calendar_month Jumat, 30 Mei 2025
    • account_circle Muh. Ersyad Mamonto
    • visibility 98
    • 0Komentar

    Kaligrafi atau dalam Islam biasa dikenal dengan istilah al-khat mempunyai makna yang serupa di antara kedua istilah tersebut yaitu “tulisan indah”. Kaligrafi sangat erat dengan peradaban dunia Islam, selain memang sebagai produk budaya yang digunakan dalam pembakuan mushaf Qur’an, juga adanya pandangan ikonoklasme dalam Islam sehingga menempatkan kaligrafi sebagai sentrum seninya seni rupa Islam. Ikonoklasme […]

  • Pemkab Gorontalo Dorong Penelusuran Naskah Kuno untuk Selamatkan Warisan Sejarah

    Pemkab Gorontalo Dorong Penelusuran Naskah Kuno untuk Selamatkan Warisan Sejarah

    • calendar_month Selasa, 7 Apr 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 123
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Pemerintah Kabupaten Gorontalo mendorong kegiatan penelusuran naskah kuno dan manuskrip budaya sebagai upaya menyelamatkan warisan sejarah yang terancam hilang. Langkah tersebut ditegaskan Bupati Gorontalo, Sofyan Puhi, saat membuka sosialisasi penelusuran naskah kuno di Ruang Dulohupa, Selasa (7/4/2026). Sofyan menilai, naskah kuno memiliki nilai strategis karena memuat catatan autentik sejarah, ilmu pengetahuan, serta kearifan […]

  • Rekayasa Arus Lalu Lintas Lebaran Ketupat di Gorontalo Diberlakukan, Ini Rute yang Harus Diketahui

    Rekayasa Arus Lalu Lintas Lebaran Ketupat di Gorontalo Diberlakukan, Ini Rute yang Harus Diketahui

    • calendar_month Jumat, 27 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 149
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Dalam rangka mengantisipasi kepadatan kendaraan saat perayaan Lebaran Ketupat, pihak berwenang memberlakukan rekayasa arus lalu lintas di sejumlah titik di Gorontalo. Skema ini dibuat untuk memperlancar mobilitas masyarakat yang menuju maupun kembali dari lokasi perayaan. Berdasarkan infografik resmi, arus lalu lintas dibagi menjadi dua, yakni arus keberangkatan menuju lokasi perayaan dan arus balik […]

  • Desa/Kelurahan Garda Terdepan Pelayanan Pemerintahan

    Desa/Kelurahan Garda Terdepan Pelayanan Pemerintahan

    • calendar_month Selasa, 29 Jul 2025
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 87
    • 0Komentar

    Gorontalo, Bakukabar  — Gubernur Gorontalo Gusnar Ismail menegaskan pentingnya peran desa dan kelurahan sebagai garda terdepan pemerintahan dalam sambutannya pada penyerahan penghargaan Lomba Desa dan Kelurahan Tingkat Provinsi Gorontalo di Hotel Grand Q, Senin (30/6/2025). Acara ini turut dihadiri Ketua Komisi I DPRD Provinsi Gorontalo, sejumlah kepala OPD terkait, camat, kepala desa dan lurah, serta […]

  • Ramadhan Momentum Menakar Diri

    Ramadhan Momentum Menakar Diri

    • calendar_month Minggu, 18 Apr 2021
    • account_circle Asrul G.H. Lasapa
    • visibility 35
    • 0Komentar

    Pelan namun pasti, Ramadhan terus merangkak. Ada hari yang telah terlewati. Setuju atau tidak, Ramadhan adalah momentum terbaik untuk menakar dan mengukur diri. Pasti ada yang bertanya-tanya, mengapa harus Ramadhan ? Bukankah ada bulan lainnya. Muharram misalnya ? Alasannya sederhana. Meski baru beberapa hari menjalani kawah candradimuka Ramadhan, kuantitas dan kualitas ibadah kita  telah terukur […]

expand_less