Breaking News
light_mode
Trending Tags

Gerindra Gorontalo Klaim ‘Banjir’ Intelektual, Tarmizi Abbas: Siapakah Intelektual Itu?

  • account_circle Tarmizi Abbas
  • calendar_month Minggu, 16 Nov 2025
  • visibility 192
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Benarkah Gerindra lagi panen tokoh intelektual serupa ciutan Juru Bicara Gerindra Gorontalo, Wahidin Ishak, di beberapa kanal media online 9 Maret 2025, baru-baru ini? Apa model dan bentuk intelektual yang dimaksud Wahidin itu juga tidak dijelaskan. Yang pasti, Jubir itu bilang:

Biasa-biasa jo. Mungkin karena Ketua GERINDRA cukup pintar maka para intelektual banyak yang ke GERINDRA. Wajar…kan circle-nya.”

Yang aneh menurut saya justru ketika Jubir itu bilang bahwa Gerindra adalah partai yang rasional, tapi pada saat yang sama juga menyebut bahwa siapa pintar dan siapa bodoh itu tidak penting dalam demokrasi. Sebab semuanya sama rata. Sehingga, kata Jubir: “ukurannya pada berapa banyak orang yang mendukung dirimu”.

Pernyataan ini aneh sekali. Sebab, misal Gerindra itu partai yang rasional, bukankah salah satu pertimbangannya adalah soal siapa pintar siapa bodoh? Jika ia tidak mengakui ini, bagaimana mungkin dia berani bilang Gerindra sedang didatangi oleh berbondong-bondong intelektual? Bukankah intelektual itu, dalam arti yang paling umum, adalah “orang-orang pintar”?

Saya kuwatir, statement si Jubir bahwa pintar dan bodoh tidak penting, akan menegasikan pandangan dirinya dan posisinya sebagai juru bicara partai. Ia justru akan membuat nama-nama “intelektual” yang dikutipnya di dalam pemberitaan tersebut justru berpotensi mengarah pada “kemungkinan” pragmatisme di dalam tubuh Gerindra Gorontalo: asal banyak yang dukung, mau pintar atau bodoh, tidak masalah.

Pun demikian, jika intelektual yang dimaksud adalah dosen/akademisi, dari 11 tokoh yang dikutipnya, saya menemukan hanya dua orang yang merupakan staff pengajar di salah satu kampus di Gorontalo – dilihat dari publikasi, website kampus, dan profil keduanya di Google Scholars. Sisanya adalah politisi tulen yang kita kenal dan sebagiannya lagi tidak saya temukan rekam jejaknya.

Karena Wahidin tidak punya definisi spesifik soal intelektual, saya kutipkan beberapa definisi intelektual.

Pertama, dari Antonio Gramsci, seorang filsuf politik cemerlang. Di dalam Prison Notebooks, ia bilang: orang dapat mengatakan: semua manusia adalah intelektual, namun tidak semua orang memiliki fungsi intelektual. Gramsci lantas membagi dua tipe intelektual. Pertama adalah intelektual tradisional yakni guru, ulama, dosen yang secara terus menerus melakukan pendidikan dan pengajaran; dan kedua adalah intelektual organik, sebagai perpanjangan tangan dari guru, ulama dan dosen yang tidak sekadar mengajar, namun juga berbuat.

Kedua, di dalam kata “berbuat” ini, Julian Benda di dalam Pengkhianatan Intelektual, memberikan tekanan yang cukup radikal pada definisi intelektual ini. Bahwa yang diperbuat oleh intelektual itu tidak lain adalah: “bicara kebenaran terhadap penguasa, berpihak kepada yang lemah dan tertindas, sampai tak ada baginya kekuasaan yang terlalu besar untuk dikritisi.” Itu sebabnya, Benda tak pernah main-main. Dia pernah menulis satu sub soal “intelektual pengkhianat”, yakni mereka yang berbohong kepada publik dan pro terhadap status quo.

Dari Gramsci ke Benda, ketiga adalah Edward Said, seorang sarjana Palestina yang menulis Orientalisme, juga pernah menulis soal Representasi Intelektual. Bagi Said, intelektual itu: “merupakan figur representatif dari persoalan-persoalan [yang dihadapi mereka yang tertindas] bukan karena dia paling pintar, namun karena dialah yang paling bisa menyampaikan persoalan kepada publik secara artikulatif kendati berbagai kendala mengganjal entah lewat tulisan, kelas-kelas diskusi, ataupun lewat siaran televisi.” Said juga menggarisbawahi bahwa sikap intelektual juga harus diiringi oleh komitmen dan risiko.

Jadi, nama-nama yang dikutip Wahidin itu, masuknya di mana dalam definisi intelektual dari ketiga “intelektual” raksasa ini? Apakah mereka adalah intelektual tradisional, intelektual organik, atau justru merupakan intelektual pengkhianat?

Namun jika ingin mengakui sesuatu, saya melihat kemunduran pada wacana di dalam tubuh Gerindra Gorontalo saat ini. Padahal, di masa-masa saya tumbuh sebagai mahasiswa, setiap kali membaca koran pagi, saya melihat perdebatan sengit antara Alm. Susanto Polamolo (akademisi) dan dua politisi Gerindra, yakni Tomi Ishak dan El-Nino. Jika perdebatan tak selesai, itu dilanjutkan dengan status-status panjang di grup-grup Facebook. Waktu itu, pamor Gerindra naik.

Sebelum bertolak ke Gorontalo, saya sempat meragukan posisi Alm. Susanto, soal apakah dia telah menjadi salah satu anggota partai Gerindra atau tidak. Sampai lembut suaranya, dia bilang: tidak.

Sayangnya, saat ini, perdebatan itu hilang. Saya tak melihat Tomi Ishak menulis lagi; barangkali sesekali ada. Sedangkan Elnino masih aktif berkirim status dan berbalas komentar, tapi isinya paling banyak alegori-alegori yang muter-muter. Ketika publik bertanya soal beberapa persoalan dan ketimpangan yang terjadi, jawabannya selalu menepis: simpulkan sendiri, jawab sendiri, kembalikan pada diri sendiri.

Tapi, bukankah tipikal politisi memang begitu dan seharusnya kita tidak heran?

10 Ramadhan, di bawah mata air.

Penulis : Tarmizi (Arief) Abbas, MA(Alumni CRCS UGM dan Peneliti di Inhides Gorontalo)

  • Penulis: Tarmizi Abbas
  • Editor: Tarmizi Abbas

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Koalisi Masyarakat Sipil Tolak Keanggotaan Indonesia di Board of Peace, Soroti Komitmen Dana Rp16,7 Triliun

    Koalisi Masyarakat Sipil Tolak Keanggotaan Indonesia di Board of Peace, Soroti Komitmen Dana Rp16,7 Triliun

    • calendar_month Jumat, 6 Feb 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 182
    • 0Komentar

    nulondalo.com –  Koalisi Masyarakat Sipil untuk Reformasi Sektor Keamanan mengecam keputusan Presiden Prabowo Subianto yang menandatangani Piagam Board of Peace (BOP) pada 22 Januari 2026 usai menghadiri Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss. Koalisi menilai langkah tersebut tidak sejalan dengan prinsip politik luar negeri Indonesia dan berpotensi membebani anggaran negara. Dalam siaran pers yang dirilis […]

  • Dana BOS Madrasah Sudah Cair, Bisa Bayar Honor Guru Non ASN

    Dana BOS Madrasah Sudah Cair, Bisa Bayar Honor Guru Non ASN

    • calendar_month Selasa, 10 Mar 2026
    • account_circle -
    • visibility 212
    • 0Komentar

    Nulondalo.com- Jakarta. Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) Madrasah dan Bantuan Operasional Pendidikan (BOP) Raudhatul Athfal (RA) hari ini sudah bisa dicairkan secara bertahap. Dana tersebut dapat dimanfaatkan untuk membayar gaji guru non-ASN atau guru honorer yang belum memiliki sertifikasi. Direktur Jenderal Pendidikan Islam, Amien Suyitno, mengatakan, kebijakan ini menjadi salah satu langkah afirmatif pemerintah dalam […]

  • Mobil Damkar Sempat Terhambat Parkiran Motor Warga Saat Kebakaran di Kompleks Asrama Haji

    Mobil Damkar Sempat Terhambat Parkiran Motor Warga Saat Kebakaran di Kompleks Asrama Haji

    • calendar_month Sabtu, 14 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 204
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Proses pemadaman kebakaran rumah di Kelurahan Bulotadaa Barat, Kecamatan Sipatana, Kota Gorontalo pada Minggu (15/3/2026) dini hari sempat mengalami kendala. Mobil pemadam kebakaran milik BPBD Kota Gorontalo dilaporkan kesulitan menuju titik api karena akses jalan dipenuhi kendaraan milik warga. Peristiwa kebakaran tersebut terjadi di Perumahan Wahana Ceria yang berada di kawasan kompleks Asrama […]

  • Kecaman terhadap Lemahnya Kualitas Pengerjaan Jalan Trans Sulawesi di Kabupaten Maros

    Kecaman terhadap Lemahnya Kualitas Pengerjaan Jalan Trans Sulawesi di Kabupaten Maros

    • calendar_month Selasa, 30 Des 2025
    • account_circle Sakti
    • visibility 186
    • 0Komentar

    Nulondalo.com, MAROS — M. Arafah Alias Arpah, dari PP HPPMI Maros, menyampaikan keprihatinan serius sekaligus kecaman tegas terhadap kondisi Jalan Trans Sulawesi di wilayah Kabupaten Maros yang hingga saat ini terus mengalami kerusakan berulang, meskipun telah dilakukan penanganan oleh pihak terkait. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa sejumlah titik jalan yang sebelumnya berlubang telah dilakukan penambalan, […]

  • Bupati Gorontalo Utara Buka Perkemahan Pramuka di Sumalata

    Bupati Gorontalo Utara Buka Perkemahan Pramuka di Sumalata

    • calendar_month Sabtu, 2 Agt 2025
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 119
    • 0Komentar

    Ketua Majelis Pembina Kwartir Cabang Gerakan Pramuka Kabupaten Gorontalo Utara, Thariq Modanggu, yang juga menjabat sebagai Bupati Gorontalo Utara, membuka secara resmi Perkemahan Tingkat Kwartir Ranting di Kecamatan Sumalata, Minggu (10/8/2025). Kegiatan ini digelar dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun ke-64 Gerakan Pramuka. Dalam sambutannya, Thariq menyebut perkemahan menjadi wadah pendidikan, rekreasi, dan permainan. “Ketiga […]

  • Sat Resnarkoba Polres Gorontalo Amankan Sabu, Kosmetik Ilegal hingga 835 Liter Cap Tikus Sepanjang 2025

    Sat Resnarkoba Polres Gorontalo Amankan Sabu, Kosmetik Ilegal hingga 835 Liter Cap Tikus Sepanjang 2025

    • calendar_month Jumat, 16 Jan 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 226
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Satuan Reserse Narkoba (Sat Resnarkoba) Polres Gorontalo membeberkan capaian penegakan hukum terhadap peredaran narkotika, obat-obatan terlarang, minuman keras, serta kosmetik tanpa izin edar sepanjang periode Januari hingga Desember 2025. Selama periode tersebut, Sat Resnarkoba Polres Gorontalo melakukan serangkaian penindakan melalui penyelidikan intensif, tindak lanjut laporan masyarakat, serta operasi rutin di sejumlah titik rawan […]

expand_less