Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Gerindra Gorontalo Klaim ‘Banjir’ Intelektual, Tarmizi Abbas: Siapakah Intelektual Itu?

  • account_circle Tarmizi Abbas
  • calendar_month Minggu, 16 Nov 2025
  • visibility 299
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Benarkah Gerindra lagi panen tokoh intelektual serupa ciutan Juru Bicara Gerindra Gorontalo, Wahidin Ishak, di beberapa kanal media online 9 Maret 2025, baru-baru ini? Apa model dan bentuk intelektual yang dimaksud Wahidin itu juga tidak dijelaskan. Yang pasti, Jubir itu bilang:

“Biasa-biasa jo. Mungkin karena Ketua GERINDRA cukup pintar maka para intelektual banyak yang ke GERINDRA. Wajar…kan circle-nya.”

Yang aneh menurut saya justru ketika Jubir itu bilang bahwa Gerindra adalah partai yang rasional, tapi pada saat yang sama juga menyebut bahwa siapa pintar dan siapa bodoh itu tidak penting dalam demokrasi. Sebab semuanya sama rata. Sehingga, kata Jubir: “ukurannya pada berapa banyak orang yang mendukung dirimu”.

Pernyataan ini aneh sekali. Sebab, misal Gerindra itu partai yang rasional, bukankah salah satu pertimbangannya adalah soal siapa pintar siapa bodoh? Jika ia tidak mengakui ini, bagaimana mungkin dia berani bilang Gerindra sedang didatangi oleh berbondong-bondong intelektual? Bukankah intelektual itu, dalam arti yang paling umum, adalah “orang-orang pintar”?

Saya kuwatir, statement si Jubir bahwa pintar dan bodoh tidak penting, akan menegasikan pandangan dirinya dan posisinya sebagai juru bicara partai. Ia justru akan membuat nama-nama “intelektual” yang dikutipnya di dalam pemberitaan tersebut justru berpotensi mengarah pada “kemungkinan” pragmatisme di dalam tubuh Gerindra Gorontalo: asal banyak yang dukung, mau pintar atau bodoh, tidak masalah.

Pun demikian, jika intelektual yang dimaksud adalah dosen/akademisi, dari 11 tokoh yang dikutipnya, saya menemukan hanya dua orang yang merupakan staff pengajar di salah satu kampus di Gorontalo – dilihat dari publikasi, website kampus, dan profil keduanya di Google Scholars. Sisanya adalah politisi tulen yang kita kenal dan sebagiannya lagi tidak saya temukan rekam jejaknya.

Karena Wahidin tidak punya definisi spesifik soal intelektual, saya kutipkan beberapa definisi intelektual.

Pertama, dari Antonio Gramsci, seorang filsuf politik cemerlang. Di dalam Prison Notebooks, ia bilang: orang dapat mengatakan: semua manusia adalah intelektual, namun tidak semua orang memiliki fungsi intelektual. Gramsci lantas membagi dua tipe intelektual. Pertama adalah intelektual tradisional yakni guru, ulama, dosen yang secara terus menerus melakukan pendidikan dan pengajaran; dan kedua adalah intelektual organik, sebagai perpanjangan tangan dari guru, ulama dan dosen yang tidak sekadar mengajar, namun juga berbuat.

Kedua, di dalam kata “berbuat” ini, Julian Benda di dalam Pengkhianatan Intelektual, memberikan tekanan yang cukup radikal pada definisi intelektual ini. Bahwa yang diperbuat oleh intelektual itu tidak lain adalah: “bicara kebenaran terhadap penguasa, berpihak kepada yang lemah dan tertindas, sampai tak ada baginya kekuasaan yang terlalu besar untuk dikritisi.” Itu sebabnya, Benda tak pernah main-main. Dia pernah menulis satu sub soal “intelektual pengkhianat”, yakni mereka yang berbohong kepada publik dan pro terhadap status quo.

Dari Gramsci ke Benda, ketiga adalah Edward Said, seorang sarjana Palestina yang menulis Orientalisme, juga pernah menulis soal Representasi Intelektual. Bagi Said, intelektual itu: “merupakan figur representatif dari persoalan-persoalan [yang dihadapi mereka yang tertindas] bukan karena dia paling pintar, namun karena dialah yang paling bisa menyampaikan persoalan kepada publik secara artikulatif kendati berbagai kendala mengganjal entah lewat tulisan, kelas-kelas diskusi, ataupun lewat siaran televisi.” Said juga menggarisbawahi bahwa sikap intelektual juga harus diiringi oleh komitmen dan risiko.

Jadi, nama-nama yang dikutip Wahidin itu, masuknya di mana dalam definisi intelektual dari ketiga “intelektual” raksasa ini? Apakah mereka adalah intelektual tradisional, intelektual organik, atau justru merupakan intelektual pengkhianat?

Namun jika ingin mengakui sesuatu, saya melihat kemunduran pada wacana di dalam tubuh Gerindra Gorontalo saat ini. Padahal, di masa-masa saya tumbuh sebagai mahasiswa, setiap kali membaca koran pagi, saya melihat perdebatan sengit antara Alm. Susanto Polamolo (akademisi) dan dua politisi Gerindra, yakni Tomi Ishak dan El-Nino. Jika perdebatan tak selesai, itu dilanjutkan dengan status-status panjang di grup-grup Facebook. Waktu itu, pamor Gerindra naik.

Sebelum bertolak ke Gorontalo, saya sempat meragukan posisi Alm. Susanto, soal apakah dia telah menjadi salah satu anggota partai Gerindra atau tidak. Sampai lembut suaranya, dia bilang: tidak.

Sayangnya, saat ini, perdebatan itu hilang. Saya tak melihat Tomi Ishak menulis lagi; barangkali sesekali ada. Sedangkan Elnino masih aktif berkirim status dan berbalas komentar, tapi isinya paling banyak alegori-alegori yang muter-muter. Ketika publik bertanya soal beberapa persoalan dan ketimpangan yang terjadi, jawabannya selalu menepis: simpulkan sendiri, jawab sendiri, kembalikan pada diri sendiri.

Tapi, bukankah tipikal politisi memang begitu dan seharusnya kita tidak heran?

10 Ramadhan, di bawah mata air.

Penulis : Tarmizi (Arief) Abbas, MA – (Alumni CRCS UGM dan Peneliti di Inhides Gorontalo)

  • Penulis: Tarmizi Abbas
  • Editor: Tarmizi Abbas

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • 25 SPPG di Gorontalo Ditutup Sementara, Wagub Temukan Banyak Belum Penuhi Standar

    25 SPPG di Gorontalo Ditutup Sementara, Wagub Temukan Banyak Belum Penuhi Standar

    • calendar_month Kamis, 9 Apr 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 323
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Wakil Gubernur Gorontalo, Idah Syahidah Rusli Habibie, mengungkapkan sebanyak 25 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Provinsi Gorontalo ditutup sementara oleh Badan Gizi Nasional. Penutupan tersebut disebabkan belum terpenuhinya sejumlah persyaratan utama, di antaranya Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang belum sesuai standar serta belum dimilikinya Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS). Hal itu […]

  • Kopra Institute Desak Bupati dan BKD Periksa Sekda Morotai Soal Dugaan Judol

    Kopra Institute Desak Bupati dan BKD Periksa Sekda Morotai Soal Dugaan Judol

    • calendar_month Sabtu, 25 Apr 2026
    • account_circle Risman Lutfi
    • visibility 284
    • 0Komentar

    Nulondalo.com, Maluku Utara – Dugaan kasus yang menyeret Sekretaris Daerah (Sekda) Pulau Morotai, Muhammad Umar Ali, terus menguat. Komite Perjuangan Rakyat (Kopra Institute) meminta Bupati dan Badan Kepegawaian Daerah (BKD) tidak tinggal diam. Direktur Kopra Institute, Faisal Habeba, menegaskan bahwa dugaan yang mencuat, khususnya terkait praktik judi online (judol), harus segera ditindaklanjuti secara serius. “Ini […]

  • Tingkat Hunian Kamar Hotel Bintang di Gorontalo Naik 3,64 Persen

    Tingkat Hunian Kamar Hotel Bintang di Gorontalo Naik 3,64 Persen

    • calendar_month Selasa, 29 Jul 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 168
    • 0Komentar

    Badan Pusat Statistik (BPS) merilis Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel bintang di Provinsi Gorontalo pada Mei 2025 sebesar 32,90 persen naik 3,64 poin dibandingkan bulan April 2025. “Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel merupakan gambaran produktivitas usaha jasa akomodasi,” kata Dwi Alwi Astuti Plt Kepala BPS Provinsi Gorontalo, Selasa (1/7/2025). Dwi Alwi menjelaskan peningkatan TPK hotel […]

  • Mahasantri Khatamun Nabiyyin Tebar Dakwah Ramadan Melalui Program SDKN di Palu photo_camera 5

    Mahasantri Khatamun Nabiyyin Tebar Dakwah Ramadan Melalui Program SDKN di Palu

    • calendar_month Sabtu, 14 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 355
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Dakwah merupakan salah satu ikhtiar penting dalam menghidupkan nilai-nilai Islam yang Rahmatan Lil ‘Alamin, yaitu Islam yang membawa rahmat, kedamaian, dan kebaikan bagi seluruh umat manusia. Oleh karena itu, kegiatan dakwah tidak boleh berhenti hanya pada ruang-ruang tertentu, tetapi harus terus berkembang hingga mampu menjangkau berbagai lapisan masyarakat. Dakwah juga perlu dilakukan dengan […]

  • Proyek Jalan Akses Stasiun Ma’rang Disorot, Material Timbunan Diduga Berasal dari Tambang Tak Berizin

    Proyek Jalan Akses Stasiun Ma’rang Disorot, Material Timbunan Diduga Berasal dari Tambang Tak Berizin

    • calendar_month Sabtu, 19 Sep 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 216
    • 0Komentar

    Nulondalo.Com, PANGKEP — Proyek pembangunan Jalan Akses Stasiun Ma’rang dan fasilitas pendukung lainnya di Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep) menjadi sorotan. Proyek infrastruktur yang berada di bawah Kementerian Perhubungan tersebut diduga menggunakan material timbunan yang berasal dari aktivitas tambang galian C yang belum jelas legalitasnya. Berdasarkan penelusuran di lapangan, dugaan tersebut mencuat setelah seorang penggiat […]

  • Belanja Negara dan Ilusi Kinerja: Apakah Realisasi Anggaran Mencerminkan Keberhasilan?

    Belanja Negara dan Ilusi Kinerja: Apakah Realisasi Anggaran Mencerminkan Keberhasilan?

    • calendar_month Jumat, 1 Mei 2026
    • account_circle Muhammad Dzaky Alfarisi
    • visibility 315
    • 0Komentar

    Setiap akhir tahun anggaran, pemerintah pusat maupun daerah hampir selalu memasuki fase yang sama: perlombaan mengejar target penyerapan anggaran. Narasi yang dibangun ke publik pun cenderung seragam—realisasi belanja mencapai angka tinggi, sering kali di atas 90 persen, dan hal tersebut diklaim sebagai bukti keberhasilan kinerja. Di permukaan, angka-angka ini memang terlihat meyakinkan. Namun, jika ditelaah […]

expand_less