Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Gorontalo Green School: Langkah Kecil Menahan Krisis Lingkungan

  • account_circle Abdullah K. Diko
  • calendar_month Kamis, 18 Des 2025
  • visibility 335
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Kerusakan lingkungan tidak pernah hadir sebagai peristiwa tunggal. Ia tumbuh perlahan—dari tanah yang kehilangan kesuburan, sungai yang kian tercemar, hingga bencana alam yang makin sering dan sulit diprediksi. Dalam banyak kasus, respons kita justru terjebak pada solusi jangka pendek: proyek cepat, jargon hijau, dan seremoni tanam pohon. Padahal, di balik krisis itu terdapat persoalan yang lebih mendasar: kesadaran kolektif yang tidak pernah benar-benar dibangun.

Dalam teori perubahan sosial Otto Scharmer, kondisi semacam ini dapat dipahami melalui analogi gunung es: apa yang tampak di permukaan banjir, longsor, kekeringan hanyalah bagian kecil dari masalah. Di bawahnya tersembunyi pola, struktur, dan keyakinan (mental model) yang membentuk perilaku manusia terhadap alam. Selama kita hanya merespons gejala di permukaan tanpa menyentuh lapisan kesadaran, kerusakan akan terus berulang dengan wajah yang berbeda.

Kesadaran tidak lahir dari slogan. Ia dibentuk melalui kebiasaan yang dipraktikkan secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari. Dari pengalaman mendampingi masyarakat, terlibat dalam advokasi kebijakan dan lingkungan, dan dialog dengan berbagai pihak di Gorontalo, saya sampai pada satu kesimpulan sederhana: kerusakan lingkungan hari ini berakar pada kegagalan sistem pendidikan membangun kesadaran cinta lingkungan sejak dini. Ketika generasi tumbuh tanpa hubungan emosional dan pengetahuan praktis tentang alam, eksploitasi sumber daya terasa wajar, bahkan dianggap sebagai bagian dari kemajuan pembangunan ekonomi.

Berangkat dari kegelisahan itulah Gorontalo Green School mulai dirintis sejak akhir 2023. Inisiatif ini tumbuh di Kabupaten Pohuwato, Gorontalo, tepatnya di wilayah barat di bawah kawasan bentang hutan alam Popayato–Paguat. Wilayah ini menyimpan potensi ekologis yang besar, namun juga rentan bila dikelola tanpa prinsip keberlanjutan. Green School tidak lahir sebagai program besar dengan janji instan, melainkan sebagai langkah kecil yang konsisten, bertumpu pada pendidikan dan praktik sehari-hari di lingkungan sekolah dan komunitas.

Alih-alih menunggu perubahan kurikulum nasional yang sering memerlukan waktu panjang, Green School memulai dari ruang yang paling mungkin diubah: pendidik dan proses belajar mengajar. Guru didampingi untuk mengintegrasikan isu lingkungan ke dalam mata pelajaran yang mereka ampu. Lingkungan tidak diperlakukan sebagai topik tambahan, tetapi menjadi konteks belajar itu sendiri. Siswa belajar berhitung dari kebun sekolah, menulis dan membangun narasi dari pengalaman merawat tanaman, memahami nilai keadilan dari relasi manusia dengan alam.

Pendidikan lingkungan dalam Green School tidak berhenti di ruang kelas. Aksi cinta lingkungan diwujudkan melalui kegiatan nyata: pengelolaan sampah organik, pembuatan kompos, pengurangan dan pemilahan sampah plastik, perawatan kebun sekolah, hingga praktik pertanian berkelanjutan berbasis agroforestri. Di kebun belajar, siswa dan pemuda desa mengenal langsung hubungan antara tanah, air, tanaman, dan keberlanjutan hidup. Dengan cara ini, alam tidak lagi menjadi konsep abstrak, melainkan bagian dari pengalaman hidup sehari-hari.

Pendekatan ini sengaja dipilih untuk menghindari jebakan pendidikan seremonial. Banyak program lingkungan kita gagal karena berhenti pada acara sekali waktu. Green School justru menekankan pembiasaan. Di sinilah pemikiran Paulo Freire menemukan relevansinya: pendidikan sejati bukanlah proses memindahkan pengetahuan, melainkan proses penyadaran dan transformasi sosial. Perubahan tidak lahir secara instan, tetapi melalui langkah-langkah kecil yang dilakukan berulang—melalui dialog, refleksi, dan praktik—hingga individu (guru dan siswa) menyadari perannya sebagai subjek perubahan dalam realitasnya sendiri.

Gerakan ini tumbuh melalui kolaborasi. Sekolah, pesantren, komunitas pemuda, akademisi, organisasi masyarakat sipil, dan ke depan diharapkan pemerintah daerah terlibat dalam proses bersama. Diskusi tematik, lokakarya guru dan siswa, hingga penyusunan modul pembelajaran dilakukan secara bertahap. Jika satu pendekatan terbukti bekerja, ia diperluas ke sekolah lain. Jika tidak, ia dievaluasi. Tidak ada klaim solusi tunggal—yang ada adalah proses belajar bersama.

Dalam konteks nasional, Green School hadir di tengah perdebatan tentang pentingnya pendidikan lingkungan dan perubahan iklim. Media nasional berulang kali menyoroti perlunya integrasi isu lingkungan dalam kurikulum, sekaligus menunjukkan keterbatasan pemahaman dan kesiapan banyak pendidik. Dorongan agar negara segera menerbitkan kurikulum lingkungan secara formal semakin kuat. Green School dapat dibaca sebagai antitesis sekaligus pengingat: pendidikan lingkungan bisa dan perlu dimulai dari bawah, sambil menunggu kebijakan pusat yang lebih mapan.

Tentu, pendekatan ini tidak luput dari kritik. Ada kekhawatiran tentang beban tambahan bagi guru, keberlanjutan dan kejenuhan, atau risiko inisiatif berubah menjadi kosmetik hijau. Kritikkritik ini sah dan perlu direspons. Justru karena itu, Green School menempatkan praktik nyata sebagai ukuran utama. Apakah kebiasaan baik bertahan? Apakah guru dan siswa terlibat secara konsisten? Apakah cara pandang terhadap alam benar-benar berubah? Pertanyaan-pertanyaan ini penting terus ada untuk perbaikan.

Dalam diskursus pembangunan, sering muncul apa yang bisa disebut sebagai destruktifkreativ— inovasi yang tampak baru dan menarik, tetapi mengabaikan batas-batas alam. Green School mencoba mengambil jalan sebaliknya: tidak mengejar kebaruan, melainkan ketekunan. Tidak menjanjikan lompatan besar, tetapi perubahan perlahan yang mengakar. Gorontalo Green School tidak mengklaim diri sebagai jawaban atas seluruh krisis. Ia hanyalah contoh bahwa perubahan bisa dimulai tanpa menunggu kondisi ideal. Langkah kecil ini mungkin tidak langsung menghentikan banjir, krisis air, atau menyelamatkan seluruh hutan. Namun ia menanam sesuatu yang lebih mendasar: kesadaran. Kesadaran yang tumbuh sejak dini di ruang kelas, di halaman sekolah, dan di rumah warga desa. Kesadaran yang kelak dibawa generasi muda ketika mereka menjadi petani, guru, pengusaha, atau pembuat kebijakan.

Krisis lingkungan adalah krisis jangka panjang. Menahannya membutuhkan kesabaran dan konsistensi. Di Gorontalo, Green School memilih jalan itu—jalan sunyi yang mungkin tak ramai tepuk tangan, tetapi berpeluang meninggalkan jejak paling menetap. Jika masa depan ingin diselamatkan, barangkali inilah saatnya kita tidak hanya sibuk mencari terobosan besar, tetapi mulai percaya pada langkah kecil yang terus berjalan dan memberikan dampak.

Mahasiswa Pascasarjana Kependudukan dan Lingkungan Hidup UNG; Penggagas Gorontalo Green School

  • Penulis: Abdullah K. Diko
  • Editor: Djemi Radji

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • As-Salam Tenjo Berbagi Tali Sayang 500 Paket ke Guru dan Murid

    As-Salam Tenjo Berbagi Tali Sayang 500 Paket ke Guru dan Murid

    • calendar_month Sabtu, 14 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 371
    • 0Komentar

    nulondalo.com -Lembaga pendidikan di bawah naungan Yayasan As-Salam Terpadu Tenjo (YATT) kembali menunjukkan kepeduliannya terhadap keluarga besar sekolah dengan membagikan 500 paket “Tali Sayang” kepada para guru dan murid. Kegiatan yang berlangsung penuh kehangatan tersebut menjadi wujud nyata kepedulian sosial sekaligus mempererat hubungan antara sekolah, yayasan, dan orang tua murid. Acara pembagian paket sembako ini […]

  • Banggai Ring 1 Panen Nol, Dugaan Gagal Total Program CSR Migas di Kintom

    Banggai Ring 1 Panen Nol, Dugaan Gagal Total Program CSR Migas di Kintom

    • calendar_month Selasa, 24 Feb 2026
    • account_circle Firman
    • visibility 867
    • 0Komentar

    nulondalo.com, BANGGAI – Dugaan kegagalan program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) sektor migas mencuat di wilayah Ring 1 Kecamatan Kintom, Kabupaten Banggai. Tiga desa penerima bantuan bibit jagung dilaporkan mengalami gagal panen total atau panen nol. Bantuan tersebut berupa 45 kilogram bibit jagung yang dibagikan kepada tiga kelompok tani di wilayah sekitar area operasi industri […]

  • Silaturahmi Kapolres Maros dan Kajari Maros Perkuat Sinergitas Penegakan Hukum di Kabupaten Maros

    Silaturahmi Kapolres Maros dan Kajari Maros Perkuat Sinergitas Penegakan Hukum di Kabupaten Maros

    • calendar_month Selasa, 14 Jul 2026
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 113
    • 0Komentar

    Nulondalo.Com, MAROS – Komitmen memperkuat sinergitas antar Aparat Penegak Hukum (APH) terus dibangun di Kabupaten Maros. Melalui silaturahmi yang berlangsung dalam suasana hangat dan penuh keakraban, Polres Maros dan Kejaksaan Negeri Maros menegaskan komitmen bersama untuk meningkatkan koordinasi dalam mewujudkan penegakan hukum yang profesional, berintegritas, dan berorientasi pada pelayanan terbaik bagi masyarakat. Komitmen tersebut diwujudkan melalui […]

  • Catatan Redaksi : Perdamaian yang Datang Bersama Proposal

    Catatan Redaksi : Perdamaian yang Datang Bersama Proposal

    • calendar_month Rabu, 28 Jan 2026
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 401
    • 0Komentar

    Di dunia diplomasi modern, perdamaian jarang hadir sebagai nilai yang berdiri sendiri. Ia hampir selalu datang bersama proposal, bagan struktur organisasi, masa keanggotaan, dan daftar kebutuhan anggaran. Perdamaian bukan lagi sekadar cita-cita moral, melainkan sebuah proyek lengkap dengan terminologi teknokratis yang rapi dan bahasa yang sengaja dilembutkan. Karena itu, tidak mengherankan ketika Indonesia bergabung dalam […]

  • Dilema BBM: Ketika APBN Menjadi Korban dan Ketidakpastian Global

    Dilema BBM: Ketika APBN Menjadi Korban dan Ketidakpastian Global

    • calendar_month Jumat, 1 Mei 2026
    • account_circle Rif’atu Darojah
    • visibility 350
    • 0Komentar

    Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sejatinya adalah instrumen paling vital dalam menggerakkan roda ekonomi nasional. Secara formal, APBN berfungsi sebagai alat otorisasi, perencanaan, dan distribusi untuk memastikan kesejahteraan rakyat. Namun, memasuki tahun 2026, realitas di lapangan jauh dari teks ideal di buku-buku ekonomi. Kita sedang menyaksikan sebuah drama besar di mana APBN tidak lagi […]

  • Akademisi UNUSIA Kecam Dugaan Penyalahgunaan 900 Identitas Petani dalam Kasus KUR di Jember

    Akademisi UNUSIA Kecam Dugaan Penyalahgunaan 900 Identitas Petani dalam Kasus KUR di Jember

    • calendar_month Senin, 13 Jul 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 230
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Akademisi Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA) sekaligus Intelektual Muda Nahdlatul Ulama, Dr. Muhammad Aras Prabowo, S.E., M.Ak, mengecam keras dugaan penyalahgunaan sekitar 900 identitas petani dalam kasus penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) Mikro di salah satu kantor cabang Bank BUMN di Jember. Menurutnya, kasus yang kini ditangani Kejaksaan Tinggi Jawa Timur tersebut bukan […]

expand_less