Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Natal, Toleransi, dan Warisan Gus Dur 

  • account_circle Djemi Radji
  • calendar_month Rabu, 24 Des 2025
  • visibility 294
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Perayaan Natal bagi umat Kristiani dan Katolik di Indonesia yang jatuh pada 25 Desember 2025 merupakan momentum sarat nilai spiritual. Ia bukan sekadar peringatan kelahiran Yesus Kristus, melainkan ruang refleksi tentang kasih, perdamaian, dan kemanusiaan. Namun, Natal juga hadir dalam lanskap sosial Indonesia yang lebih luas–sebuah negeri yang tidak pernah kekurangan perayaan. Dari harlah organisasi, maulid Nabi, hingga Natal, kalender sosial dan keagamaan kita nyaris selalu penuh. Di balik keramaian itu, pertanyaan mendasar pun mengemuka: apakah kita sungguh memahami makna perbedaan, atau sekadar terbiasa hidup berdampingan tanpa pernah benar-benar berdialog?

Pertanyaan itulah yang dijawab secara tenang dan jernih oleh K.H. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur dalam tulisannya Harlah, Maulid, dan Natal. Sebuah esai yang tampak sederhana, tetapi sesungguhnya menawarkan cara pandang dewasa dalam merawat kebinekaan, terutama ketika perbedaan agama kerap ditarik ke wilayah konflik identitas dan politik.

Sejak awal, Gus Dur menyadari bahwa menyandingkan istilah harlah, maulid, dan Natal dalam satu rangkaian bukan perkara mudah. Ia paham betul sensitivitas sebagian umat Islam yang memandang istilah-istilah tersebut sebagai entitas yang tidak bisa disamakan. Namun, Gus Dur tidak sedang berupaya menyamakan ketiganya secara teologis. Justru sebaliknya, ia mengajak pembaca untuk memahami perbedaan itu secara utuh–melalui sejarah, budaya, dan fiqih–agar tidak melahirkan sikap saling mencurigai.

Menurut Gus Dur, harlah adalah istilah yang bersifat umum. Ia tidak mengandung muatan teologis dan lazim digunakan untuk menandai hari kelahiran seseorang atau sebuah organisasi. Dalam konteks sosial, harlah berfungsi sebagai penanda waktu, bukan penanda iman. Berbeda dengan itu, maulid dan Natal adalah istilah keagamaan yang memiliki makna dan fungsi khusus dalam tradisi masing-masing agama.

Maulid Nabi Muhammad Saw, misalnya, tidak dirayakan pada masa awal Islam. Tradisi ini baru berkembang beberapa abad setelah wafatnya Nabi, terutama sebagai upaya membangkitkan semangat keagamaan umat Islam dalam situasi sejarah tertentu, termasuk pada masa Perang Salib. Dengan demikian, maulid bukan sekadar ritual ibadah, melainkan produk sejarah dan budaya Islam yang tumbuh seiring dinamika zaman.

Sementara itu, Natal merupakan peringatan kelahiran Nabi Isa Al-Masih, sosok yang juga diakui secara tegas dalam Al-Qur’an. Islam mengakui kelahiran Isa dan kemuliaan Maryam, meskipun memiliki pemahaman teologis yang berbeda dengan ajaran Kristen. Di titik inilah Gus Dur menarik garis tegas: perbedaan akidah adalah keniscayaan, tetapi tidak boleh dijadikan alasan untuk menolak sikap saling menghormati.

Melalui pendekatan fiqih yang matang dan kontekstual, Gus Dur menegaskan bahwa umat Islam diperbolehkan menghormati perayaan Natal selama tidak ikut serta dalam ritual ibadah agama lain. Sikap ini bukan bentuk kompromi iman, melainkan cerminan kedewasaan beragama–kemampuan untuk memisahkan keyakinan teologis dari tanggung jawab kemanusiaan.

Dari persoalan istilah keagamaan, Gus Dur kemudian melangkah ke wilayah yang lebih luas: relasi antara agama dan negara. Ia mengkritik kecenderungan di Indonesia yang menuntut pejabat publik untuk hadir dalam berbagai perayaan keagamaan, seolah-olah jabatan kenegaraan identik dengan jabatan agama. Bagi Gus Dur, jabatan negara adalah jabatan administratif dan politis, bukan jabatan teologis. Kehadiran pejabat dalam perayaan keagamaan lebih merupakan tuntutan sosial dan budaya, bukan kewajiban iman.

Perbandingan dengan negara-negara lain seperti Mesir dan Amerika Serikat menunjukkan bahwa hubungan agama dan negara sangat ditentukan oleh sejarah dan budaya masing-masing bangsa. Tidak ada satu model tunggal yang bisa dipaksakan. Di sinilah Gus Dur mengajarkan pentingnya berpikir kontekstual, alih-alih dogmatis, dalam memaknai praktik keberagamaan di ruang publik.

Nilai paling kuat dari tulisan Gus Dur adalah toleransi yang berakar pada kemanusiaan. Toleransi bukan sekadar sikap membiarkan atau hidup berdampingan secara pasif, melainkan kesediaan aktif untuk memahami dan menghormati perbedaan tanpa merasa terancam secara iman. Dalam masyarakat majemuk seperti Indonesia, toleransi bukan pilihan moral tambahan, melainkan syarat utama keberlangsungan kebangsaan.

Pesan ini semakin menguat ketika dibaca berdampingan dengan tulisan Gus Dur lainnya, Natal dan Pesannya. Dalam esai tersebut, Gus Dur menegaskan bahwa pesan Natal tidak boleh berhenti pada slogan perdamaian yang bersifat seremonial. Perdamaian, baginya, harus diwujudkan dalam keberanian bersikap kritis terhadap ketidakadilan global dan penderitaan kemanusiaan.

Ia mengkritik bagaimana tragedi runtuhnya World Trade Center dimanfaatkan untuk membenarkan perang ke Afghanistan dan Irak, tanpa landasan hukum internasional yang jelas dan sarat kepentingan geopolitik serta ekonomi, terutama minyak. Gus Dur menolak logika sederhana yang membagi dunia secara hitam-putih antara pihak benar dan pihak salah.

Baginya, sikap kritis bukanlah bentuk permusuhan terhadap negara atau kelompok tertentu. Justru, keberanian untuk bertanya adalah inti dari martabat intelektual manusia. Sejarah peradaban bergerak maju karena manusia berani menggugat ketidakadilan. Membungkam pertanyaan, menurut Gus Dur, adalah tanda kemunduran peradaban.

Lebih jauh, Gus Dur menekankan bahwa konflik internasional–termasuk konflik Israel dan Palestina yang takan pernah selesai hanya dengan kekuatan militer dan diplomasi politik. Diperlukan pendekatan moral dan spiritual: keadilan yang nyata, empati terhadap penderitaan rakyat sipil, serta kepercayaan antarpemimpin. Tanpa itu, perdamaian hanya akan menjadi jargon kosong.

Membaca kembali pemikiran Gus Dur hari ini terasa semakin relevan. Di tengah menguatnya pragmatisme politik, suara moral lembaga keagamaan justru kian melemah. Sebagian organisasi keagamaan tampak lebih akomodatif terhadap kekuasaan, bahkan terlibat dalam praktik eksploitatif seperti penerimaan konsesi tambang yang merusak lingkungan. Pada titik ini, fungsi profetik agama sebagai pembela keadilan dan penjaga nurani publik mengalami erosi yang serius.

Pada saat yang sama, tekanan terhadap aktivis pro-demokrasi dan pembela lingkungan menunjukkan menyempitnya ruang kebebasan sipil. Kriminalisasi dan represi mengingatkan kita pada pola otoritarianisme masa lalu–sesuatu yang seharusnya menjadi catatan sejarah, bukan praktik masa kini.

Dalam konteks inilah, warisan pemikiran Gus Dur menjadi panggilan etis yang mendesak. Agama, sebagaimana dicontohkannya, seharusnya berdiri bersama korban ketidakadilan, berani mengajukan pertanyaan kritis, dan menolak tunduk pada kepentingan kekuasaan yang merusak kemanusiaan dan lingkungan. Tanpa keberanian moral tersebut, demokrasi Indonesia tidak hanya kehilangan kualitas, tetapi juga kehilangan jiwa yang seharusnya menopangnya.

  • Penulis: Djemi Radji
  • Editor: Djemi Radji

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Presiden Prabowo Rencanakan Tahun Baru di Lokasi Bencana Sumatra, Jakarta Gelar Perayaan Tanpa Kembang Api

    Presiden Prabowo Rencanakan Tahun Baru di Lokasi Bencana Sumatra, Jakarta Gelar Perayaan Tanpa Kembang Api

    • calendar_month Selasa, 30 Des 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 240
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Presiden Prabowo Subianto berencana menghabiskan malam pergantian tahun 2025 menuju 2026 di wilayah Sumatra yang terdampak banjir bandang dan longsor. Hal tersebut disampaikan Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi usai konferensi pers penanganan bencana di Landasan Udara (Lanud) Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Senin (29/12/2025). “Direncanakan begitu (tahun baru ke Sumatra),” ujar Prasetyo Hadi, […]

  • Polemik Rekomendasi KPK: Batas Masa Jabatan Ketum Parpol dan Tarik-Menarik Otonomi vs Reformasi

    Polemik Rekomendasi KPK: Batas Masa Jabatan Ketum Parpol dan Tarik-Menarik Otonomi vs Reformasi

    • calendar_month Sabtu, 25 Apr 2026
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 270
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Rekomendasi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam laporan tahunan 2025 yang mendorong pembatasan masa jabatan ketua umum partai politik maksimal dua periode memicu perdebatan luas. Isu ini bukan sekadar teknis organisasi, tetapi menyentuh jantung relasi antara negara, partai politik, dan kualitas demokrasi di Indonesia. Di satu sisi, KPK melihat tata kelola partai sebagai salah […]

  • Kopma Unhas Fair 2025: Menakar Peluang Ekonomi Menuju Indonesia Emas 2045

    Kopma Unhas Fair 2025: Menakar Peluang Ekonomi Menuju Indonesia Emas 2045

    • calendar_month Selasa, 16 Des 2025
    • account_circle Sakti
    • visibility 164
    • 0Komentar

    Nulondalo.com—Koperasi Mahasiswa Universitas Hasanuddin (Kopma Unhas) kembali menunjukkan perannya sebagai ruang belajar dan inkubator gagasan ekonomi mahasiswa melalui penyelenggaraan Kopma Unhas Fair 2025, yang digelar pada Sabtu, 13 Desember 2025 di Unhas TV. Mengusung tema “Ekonomi Kolektif, Generasi Inovatif”, kegiatan tahunan ini menjadi refleksi semangat Kopma Unhas dalam membangun kesadaran ekonomi berbasis kebersamaan sekaligus mendorong […]

  • Abaikan Undangan Mahasiswa, Sekretaris IKPM-HT Yogyakarta Beri Peringatan ke Pemda dan Komisi II DPRD Haltim

    Abaikan Undangan Mahasiswa, Sekretaris IKPM-HT Yogyakarta Beri Peringatan ke Pemda dan Komisi II DPRD Haltim

    • calendar_month Kamis, 15 Jan 2026
    • account_circle Risman Lutfi
    • visibility 256
    • 0Komentar

    Nulondalo.com – Sikap tidak kooperatif ditunjukkan oleh Pemerintah Daerah (Pemda) dan Komisi II DPRD Halmahera Timur (Haltim) dalam merespons undangan dialog terkait kepentingan masyarakat. Hal ini memicu kritik pedas dari Ikatan Komunikasi Pelajar Mahasiswa Halmahera Timur (IKPM-HT) Yogyakarta. Sekretaris IKPM-HT Yogyakarta, Yudis Kamah, menyampaikan kekecewaan mendalam atas absennya perwakilan pemerintah dalam forum dialog yang membicarakan […]

  • PB HMI Angkat Bicara soal Teror Kader, Sebut Ancaman Serius bagi Demokrasi

    PB HMI Angkat Bicara soal Teror Kader, Sebut Ancaman Serius bagi Demokrasi

    • calendar_month Senin, 30 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 502
    • 0Komentar

    nulondalo.com — Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI) angkat bicara terkait rangkaian teror dan intimidasi yang menimpa kader HMI di sejumlah daerah. Organisasi tersebut menilai ancaman yang terjadi bukan sekadar persoalan individu, melainkan ancaman serius terhadap ruang demokrasi. Teror dialami Ketua Badan Koordinasi HMI Sumatera Utara, Yusril Mahendra Butar Butar, pada Minggu, 29 Maret […]

  • LKNU Gorontalo Dorong Sinergi Ekonomi Syariah dan Kesehatan Umat

    LKNU Gorontalo Dorong Sinergi Ekonomi Syariah dan Kesehatan Umat

    • calendar_month Selasa, 7 Okt 2025
    • account_circle Rivaldi Bulilingo
    • visibility 139
    • 0Komentar

    Ketua Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (LKNU) Provinsi Gorontalo, dr. Sri Manovita Pateda, M.Kes., Ph.D, menegaskan bahwa pelaksanaan Pekan Ekonomi Syariah memiliki nilai strategis yang tidak hanya menyentuh aspek ekonomi, tetapi juga kesehatan masyarakat (Selasa, 28/10/2025). Menurut dr. Sri Manovita, ekonomi syariah tidak dapat dipisahkan dari kesehatan karena keduanya saling menguatkan. “Kesehatan adalah modal dasar produktivitas, […]

expand_less