Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Timnas Rasa Belanda: Rethinking Nasionalisme di Lapangan Hijau

  • account_circle Pepi al-Bayqunie
  • calendar_month Rabu, 26 Nov 2025
  • visibility 171
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Bagi kita, penggemar sepak bola Indonesia, wajah Timnas Indonesia kini tampak berbeda. Dulu, kita mengenal pemain-pemain yang tumbuh besar di sini, dengan karakter dan ciri khas lokal yang tak bisa dilepaskan. Namun kini, hampir setiap pemain Timnas yang tampil memiliki tubuh tegap, kulit putih, dan seolah membawa cita rasa Eropa, terutama Belanda. Mereka bukanlah anak-anak Indonesia yang lahir di Nusantara, melainkan anak-anak diaspora yang kini tengah dipanggil untuk menjadi bagian dari proyek besar PSSI, sebuah ambisi untuk membawa sepak bola Indonesia ke level yang lebih tinggi, lebih berkelas, dan lebih siap menghadapi tantangan dunia.

Namun, fenomena ini bukanlah sesuatu yang hanya terjadi di Indonesia. Dunia sepak bola, sejak lama, telah menjadi panggung bagi globalisasi identitas. Negara-negara besar seperti Prancis, Jerman, bahkan Belanda, sudah lebih dulu mengenalkan konsep pemain diaspora atau imigran dalam timnas mereka. Dalam sepak bola, kebangsaan bukan lagi soal di mana seseorang lahir, melainkan soal komitmen, kesempatan, dan—yang paling penting—kesediaan untuk bermain demi satu bendera, satu negara, meskipun darah yang mengalir di tubuh mereka tak selalu berasal dari tanah tersebut.

Di tengah perubahan ini, perdebatan pun muncul. Banyak yang bertanya-tanya, apakah benar orang-orang berwajah Eropa yang bahkan belum fasih berbahasa Indonesia ini bisa menjadi representasi Indonesia? Bukankah kita sudah punya takaran tentang orang Indonesia yang khas?

Di sinilah cultural studies memainkan peran penting. Menurut Stuart Hall, identitas bukanlah sesuatu yang tetap, melainkan hasil dari negosiasi dan proses yang terus berkembang. Identitas terbentuk dari budaya, kekuasaan, dan imajinasi kolektif.

Benedict Anderson, dengan teorinya tentang “komunitas terbayang,” menyodorkan gagasan bahwa bangsa bukanlah fakta alamiah, melainkan konstruksi ideologis. Kita merasa menjadi satu bangsa karena kita membayangkan diri kita sebagai satu. Dalam sepak bola, imajinasi itu menemukan panggung terbesarnya. Stadion adalah ruang performatif di mana nasionalisme dipertontonkan, dikonsumsi, dan ditafsir ulang.

Nama-nama seperti Jordi Amat, Shayne Pattynama, dan Rafael Struick lebih dari sekadar pemain bola. Mereka adalah simbol baru dari hubungan yang rumit antara Indonesia dan Belanda—sebuah hubungan pascakolonial yang kini mendapat makna baru. Dulu, Belanda adalah penjajah yang menindas, namun sekarang, Belanda menjadi tempat lahirnya potensi-potensi baru untuk Timnas Indonesia. Di sana, bibit-bibit Garuda diasah, dilatih, dan dipersiapkan untuk bertarung di lapangan hijau.

Namun, ada ironi kecil yang terus menggelitik: para pemain ini—yang kini jadi simbol nasionalisme baru—tidak berbicara dalam bahasa Indonesia. Di ruang ganti, mereka bercakap dalam bahasa Belanda dan Inggris. Wawancara pasca-pertandingan dilakukan dengan Bahasa Inggris atau lewat penerjemah. Lagu kebangsaan mereka nyanyikan dengan fasih tetapi dengan aksen Eropa.

Ini adalah jarak yang nyata, sekaligus pengingat bahwa identitas kebangsaan hari ini tidak lagi diikat oleh bahasa ibu, tetapi oleh kesediaan untuk memeluk imajinasi yang sama. Mereka mungkin tidak tumbuh dengan cerita rakyat Nusantara atau belajar Pancasila di sekolah dasar, tapi mereka bersedia menaruh seluruh tubuh dan talentanya untuk satu nama: Indonesia.

Darah Indonesia di tubuh pemain diaspora adalah bibit bagi imajinasi primordial tentang Indonesia. Kita tidak peduli mereka lahir dan tumbuh di Belanda, asalkan ada “sedikit” Indonesia dalam tubuh mereka, itu cukup untuk menyalakan imajinasi kita tentang kejayaan. Ini bukan sekadar soal sepak bola, ini tentang keinginan kolektif untuk merasa berharga di panggung dunia.

Di titik ini, nasionalisme kita mengalami pergeseran. Ernest Gellner mengatakan bahwa nasionalisme bukan muncul dari tradisi, tapi dari modernitas. Kita tidak mewarisi nasionalisme; kita membangunnya, melalui narasi, pendidikan, dan—sekarang—melalui sepak bola. Maka pemain diaspora, terutama dari Belanda, adalah buah dari proyek modern: anak-anak Indonesia di tubuh Belanda, yang kini “dipulangkan” untuk membentuk citra baru tentang kita.

Namun, nasionalisme hari ini lebih subtil dari sekadar gegap gempita. Michael Billig menyebutnya banal nationalism, nasionalisme yang hadir dalam simbol-simbol harian: bendera kecil di pundak jersey, penyebutan “Garuda” di layar televisi, atau nyanyian Indonesia Raya sebelum kick-off. Maka ketika media menyebut Rafael Struick sebagai “pahlawan baru Garuda,” itu bukan sekadar pujian atletik, melainkan penguatan nasionalisme yang banal tapi efektif. Seolah berkata: kita bisa hebat, bahkan lewat darah-darah yang pernah tercerai dari ibu pertiwi.

Ironisnya, narasi ini membuat nasionalisme kita makin bergantung pada eks-Belanda. Negara yang dulu mengeksploitasi kini memberi kita pemain terbaik. Tapi justru di sinilah nasionalisme kontemporer diuji: apakah kita cukup matang untuk menerima bahwa “menjadi Indonesia” tidak selalu berarti lahir di Nusantara, berbicara dalam bahasa ibu, atau tumbuh dengan nasi dan sambal?

Sebaliknya, menjadi Indonesia adalah tentang siapa yang mau membawa kita menuju panggung dunia.

Di lapangan hijau, nasionalisme tidak lagi soal masa lalu. Ia tentang keinginan kolektif untuk menang, untuk diakui, untuk membentuk imajinasi baru tentang Indonesia yang bisa sejajar dengan bangsa manapun.

Jadi, ketika kita berdiri menyanyikan Indonesia Raya bersama para pemain diaspora Belanda, mungkin yang kita rayakan bukan keseragaman identitas, tapi kekuatan imajinasi: bahwa Indonesia bisa, dan akan, berjaya—meski kadang lewat jalur yang tidak konvensional, bahkan paradoksal.

Dan bukankah itu, justru, nasionalisme yang paling otentik?

Oleh :  Pepi Albayqunie (Seorang pecinta kebudayaan lokal di Sulawesi Selatan yang belajar menulis novel secara otodidak. Ia lahir dengan nama Saprillah)

  • Penulis: Pepi al-Bayqunie
  • Editor: Pepi al-Bayqunie

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • PPPK Terancam? Wali Kota Gorontalo Buka Suara, Ini Jaminannya

    PPPK Terancam? Wali Kota Gorontalo Buka Suara, Ini Jaminannya

    • calendar_month Selasa, 31 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 239
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Kekhawatiran tenaga Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) terkait kebijakan efisiensi anggaran dari pemerintah pusat mulai dirasakan di berbagai daerah. Isu pengurangan belanja pegawai memicu kecemasan akan nasib ribuan tenaga PPPK, termasuk di Kota Gorontalo. Menanggapi hal tersebut, Wali Kota Gorontalo, Adhan Dambea, akhirnya buka suara pada Senin, 30 Maret 2026. Ia menegaskan […]

  • Menata Langkah Baru; Visi Inklusif GUSDURian Makassar

    Menata Langkah Baru; Visi Inklusif GUSDURian Makassar

    • calendar_month Kamis, 29 Mei 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 144
    • 0Komentar

    Di tengah sejuknya udara pegunungan Malino, para penggerak Komunitas GUSDURian (KGD) Makassar berkumpul dalam sebuah pertemuan bernama komunitas meting yang berlangsung pada 2-4 Mei 2025. Villa Vinus Malino dua yang menjadi tempat pertemuan itu seolah menjadi saksi bisu lahirnya sebuah visi baru yang lebih inklusif dan menjanjikan bagi keberlanjutan komunitas. Visi tersebut berbunyi, “GUSDURian Makassar […]

  • Adanya Dugaan Malpraktik di RS Multazam, Aktivis Gorontalo Desak Pencopotan Dokter Play Button

    Adanya Dugaan Malpraktik di RS Multazam, Aktivis Gorontalo Desak Pencopotan Dokter

    • calendar_month Rabu, 10 Des 2025
    • account_circle Rivaldi Bulilingo
    • visibility 276
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Aktivis Muda Kevin Lapendos melayangkan Dugaan keras kepada Rumah Sakit Multazam Gorontalo dan dokter yang menangani operasi caesar pada 8 Desember 2025 yakni Dr Alfreed Wuisana, Sp.OG, atas dugaan kelalaian medis serius. Kevin menyatakan salah-satu pasien mengalami kegagalan luar biasa setelah operasi, bahkan ada dugaan bahwa satu pasien inisial SRO telah terdaftar untuk […]

  • Menhub RI Tinjau langsung Lokasi ATR 42-500, Beri Apresiasi Langsung untuk Tim SAR

    Menhub RI Tinjau langsung Lokasi ATR 42-500, Beri Apresiasi Langsung untuk Tim SAR

    • calendar_month Senin, 19 Jan 2026
    • account_circle Sakti
    • visibility 271
    • 0Komentar

    Nulondalo.com, PANGKEP — Pemerintah pusat memberikan apresiasi tinggi kepada Basarnas dan seluruh Tim SAR gabungan atas kerja keras dan dedikasi mereka dalam operasi pencarian dan penyelamatan korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 di kawasan Pegunungan Bulusaraung, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan. Apresiasi itu disampaikan langsung oleh Menteri Perhubungan RI, Dudy Purwagandhi, saat meninjau posko […]

  • As-Salam Tenjo Berbagi Tali Sayang 500 Paket ke Guru dan Murid

    As-Salam Tenjo Berbagi Tali Sayang 500 Paket ke Guru dan Murid

    • calendar_month Sabtu, 14 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 319
    • 0Komentar

    nulondalo.com -Lembaga pendidikan di bawah naungan Yayasan As-Salam Terpadu Tenjo (YATT) kembali menunjukkan kepeduliannya terhadap keluarga besar sekolah dengan membagikan 500 paket “Tali Sayang” kepada para guru dan murid. Kegiatan yang berlangsung penuh kehangatan tersebut menjadi wujud nyata kepedulian sosial sekaligus mempererat hubungan antara sekolah, yayasan, dan orang tua murid. Acara pembagian paket sembako ini […]

  • Pemkab Bone Bolango Tegaskan Pengawalan Ketat Amdal Tambang Emas PT Gorontalo Minerals

    Pemkab Bone Bolango Tegaskan Pengawalan Ketat Amdal Tambang Emas PT Gorontalo Minerals

    • calendar_month Jumat, 19 Des 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 169
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Pemerintah Kabupaten Bone Bolango menegaskan komitmennya untuk mengawal secara ketat rencana kegiatan pertambangan emas PT Gorontalo Minerals agar berjalan seimbang antara kepentingan investasi, perlindungan lingkungan, dan kesejahteraan masyarakat. Penegasan tersebut disampaikan Sekretaris Daerah Bone Bolango, Iwan Mustapa, saat menghadiri Rapat Komisi Pembahasan Amdal RKL-RPL rencana kegiatan pertambangan emas DMP PT Gorontalo Minerals yang […]

expand_less