Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Timnas Rasa Belanda: Rethinking Nasionalisme di Lapangan Hijau

  • account_circle Pepi al-Bayqunie
  • calendar_month Rabu, 26 Nov 2025
  • visibility 194
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Bagi kita, penggemar sepak bola Indonesia, wajah Timnas Indonesia kini tampak berbeda. Dulu, kita mengenal pemain-pemain yang tumbuh besar di sini, dengan karakter dan ciri khas lokal yang tak bisa dilepaskan. Namun kini, hampir setiap pemain Timnas yang tampil memiliki tubuh tegap, kulit putih, dan seolah membawa cita rasa Eropa, terutama Belanda. Mereka bukanlah anak-anak Indonesia yang lahir di Nusantara, melainkan anak-anak diaspora yang kini tengah dipanggil untuk menjadi bagian dari proyek besar PSSI, sebuah ambisi untuk membawa sepak bola Indonesia ke level yang lebih tinggi, lebih berkelas, dan lebih siap menghadapi tantangan dunia.

Namun, fenomena ini bukanlah sesuatu yang hanya terjadi di Indonesia. Dunia sepak bola, sejak lama, telah menjadi panggung bagi globalisasi identitas. Negara-negara besar seperti Prancis, Jerman, bahkan Belanda, sudah lebih dulu mengenalkan konsep pemain diaspora atau imigran dalam timnas mereka. Dalam sepak bola, kebangsaan bukan lagi soal di mana seseorang lahir, melainkan soal komitmen, kesempatan, dan—yang paling penting—kesediaan untuk bermain demi satu bendera, satu negara, meskipun darah yang mengalir di tubuh mereka tak selalu berasal dari tanah tersebut.

Di tengah perubahan ini, perdebatan pun muncul. Banyak yang bertanya-tanya, apakah benar orang-orang berwajah Eropa yang bahkan belum fasih berbahasa Indonesia ini bisa menjadi representasi Indonesia? Bukankah kita sudah punya takaran tentang orang Indonesia yang khas?

Di sinilah cultural studies memainkan peran penting. Menurut Stuart Hall, identitas bukanlah sesuatu yang tetap, melainkan hasil dari negosiasi dan proses yang terus berkembang. Identitas terbentuk dari budaya, kekuasaan, dan imajinasi kolektif.

Benedict Anderson, dengan teorinya tentang “komunitas terbayang,” menyodorkan gagasan bahwa bangsa bukanlah fakta alamiah, melainkan konstruksi ideologis. Kita merasa menjadi satu bangsa karena kita membayangkan diri kita sebagai satu. Dalam sepak bola, imajinasi itu menemukan panggung terbesarnya. Stadion adalah ruang performatif di mana nasionalisme dipertontonkan, dikonsumsi, dan ditafsir ulang.

Nama-nama seperti Jordi Amat, Shayne Pattynama, dan Rafael Struick lebih dari sekadar pemain bola. Mereka adalah simbol baru dari hubungan yang rumit antara Indonesia dan Belanda—sebuah hubungan pascakolonial yang kini mendapat makna baru. Dulu, Belanda adalah penjajah yang menindas, namun sekarang, Belanda menjadi tempat lahirnya potensi-potensi baru untuk Timnas Indonesia. Di sana, bibit-bibit Garuda diasah, dilatih, dan dipersiapkan untuk bertarung di lapangan hijau.

Namun, ada ironi kecil yang terus menggelitik: para pemain ini—yang kini jadi simbol nasionalisme baru—tidak berbicara dalam bahasa Indonesia. Di ruang ganti, mereka bercakap dalam bahasa Belanda dan Inggris. Wawancara pasca-pertandingan dilakukan dengan Bahasa Inggris atau lewat penerjemah. Lagu kebangsaan mereka nyanyikan dengan fasih tetapi dengan aksen Eropa.

Ini adalah jarak yang nyata, sekaligus pengingat bahwa identitas kebangsaan hari ini tidak lagi diikat oleh bahasa ibu, tetapi oleh kesediaan untuk memeluk imajinasi yang sama. Mereka mungkin tidak tumbuh dengan cerita rakyat Nusantara atau belajar Pancasila di sekolah dasar, tapi mereka bersedia menaruh seluruh tubuh dan talentanya untuk satu nama: Indonesia.

Darah Indonesia di tubuh pemain diaspora adalah bibit bagi imajinasi primordial tentang Indonesia. Kita tidak peduli mereka lahir dan tumbuh di Belanda, asalkan ada “sedikit” Indonesia dalam tubuh mereka, itu cukup untuk menyalakan imajinasi kita tentang kejayaan. Ini bukan sekadar soal sepak bola, ini tentang keinginan kolektif untuk merasa berharga di panggung dunia.

Di titik ini, nasionalisme kita mengalami pergeseran. Ernest Gellner mengatakan bahwa nasionalisme bukan muncul dari tradisi, tapi dari modernitas. Kita tidak mewarisi nasionalisme; kita membangunnya, melalui narasi, pendidikan, dan—sekarang—melalui sepak bola. Maka pemain diaspora, terutama dari Belanda, adalah buah dari proyek modern: anak-anak Indonesia di tubuh Belanda, yang kini “dipulangkan” untuk membentuk citra baru tentang kita.

Namun, nasionalisme hari ini lebih subtil dari sekadar gegap gempita. Michael Billig menyebutnya banal nationalism, nasionalisme yang hadir dalam simbol-simbol harian: bendera kecil di pundak jersey, penyebutan “Garuda” di layar televisi, atau nyanyian Indonesia Raya sebelum kick-off. Maka ketika media menyebut Rafael Struick sebagai “pahlawan baru Garuda,” itu bukan sekadar pujian atletik, melainkan penguatan nasionalisme yang banal tapi efektif. Seolah berkata: kita bisa hebat, bahkan lewat darah-darah yang pernah tercerai dari ibu pertiwi.

Ironisnya, narasi ini membuat nasionalisme kita makin bergantung pada eks-Belanda. Negara yang dulu mengeksploitasi kini memberi kita pemain terbaik. Tapi justru di sinilah nasionalisme kontemporer diuji: apakah kita cukup matang untuk menerima bahwa “menjadi Indonesia” tidak selalu berarti lahir di Nusantara, berbicara dalam bahasa ibu, atau tumbuh dengan nasi dan sambal?

Sebaliknya, menjadi Indonesia adalah tentang siapa yang mau membawa kita menuju panggung dunia.

Di lapangan hijau, nasionalisme tidak lagi soal masa lalu. Ia tentang keinginan kolektif untuk menang, untuk diakui, untuk membentuk imajinasi baru tentang Indonesia yang bisa sejajar dengan bangsa manapun.

Jadi, ketika kita berdiri menyanyikan Indonesia Raya bersama para pemain diaspora Belanda, mungkin yang kita rayakan bukan keseragaman identitas, tapi kekuatan imajinasi: bahwa Indonesia bisa, dan akan, berjaya—meski kadang lewat jalur yang tidak konvensional, bahkan paradoksal.

Dan bukankah itu, justru, nasionalisme yang paling otentik?

Oleh :  Pepi Albayqunie (Seorang pecinta kebudayaan lokal di Sulawesi Selatan yang belajar menulis novel secara otodidak. Ia lahir dengan nama Saprillah)

  • Penulis: Pepi al-Bayqunie
  • Editor: Pepi al-Bayqunie

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Menyambut Tahun Baru Masehi dengan Dzikir Sunyi, Pesan KH. Abdul Ghofur Nawawi Sebelum Wafat Play Button

    Menyambut Tahun Baru Masehi dengan Dzikir Sunyi, Pesan KH. Abdul Ghofur Nawawi Sebelum Wafat

    • calendar_month Selasa, 30 Des 2025
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 365
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Pergantian tahun Masehi kerap identik dengan hiruk-pikuk perayaan, kembang api, dan berbagai euforia yang melibatkan keramaian. Namun, dalam sebuah pengajian penuh makna, almaghfurlah KH. Abdul Ghofur Nawawi justru mengajak jamaah untuk menyambut pergantian tahun dengan cara yang berbeda: dzikir sederhana, sunyi, dan penuh kesadaran spiritual. Kiai Ghofur mengisahkan bahwa amalan ini merupakan ijazah […]

  • Abd al-Rahman bin Abu Bakr Anak Yang Pernah Berhadapan dengan Sang Ayah di Medan Perang

    Abd al-Rahman bin Abu Bakr Anak Yang Pernah Berhadapan dengan Sang Ayah di Medan Perang

    • calendar_month Senin, 9 Mar 2026
    • account_circle Pepi Al-Bayqunie
    • visibility 339
    • 0Komentar

    Abu Bakar al-Siddiq r.a adalah salah satu sahabat utama dan pemimpin Islam pertama setelah wafatnya Nabi Muhammad. Kedekatannya dengan Nabi bukan hanya dalam perjuangan dakwah, tetapi juga dalam kehidupan keluarganya. Abu Bakar memiliki enam orang putra-putri: Abdullah bin Abu Bakar, Abdurrahman bin Abu Bakar, Muhammad bin Abu Bakar, Asma binti Abu Bakar, Aisyah binti Abu Bakar, dan Umm Kulsum binti Abu Bakar. […]

  • Abu Ayyub Al-Ansari: Ketika Unta Nabi Memilih Rumahnya (Kisah Sahabat Nabi Yang Jarang Diceritakan #27)

    Abu Ayyub Al-Ansari: Ketika Unta Nabi Memilih Rumahnya (Kisah Sahabat Nabi Yang Jarang Diceritakan #27)

    • calendar_month Selasa, 17 Mar 2026
    • account_circle Pepi Al-Bayqunie
    • visibility 436
    • 0Komentar

    Peristiwa hijrah Nabi Muhammad ke Yasrib—yang kemudian dikenal sebagai Madinah—adalah salah satu momen paling membahagiakan dalam sejarah Islam. Ketika Nabi tiba di kota itu, penduduk Madinah menyambut beliau dengan penuh kegembiraan. Mereka keluar dari rumah-rumah mereka, memenuhi jalan-jalan, bahkan anak-anak dan para perempuan turut bersukacita. Dalam tradisi yang kemudian terkenal, penduduk Madinah menyanyikan syair “Ṭala‘al-badru ‘alaynā…”, […]

  • Eks Kapolres Bima Kota Dipecat Tidak Hormat, KKEP Nyatakan Terbukti Terlibat Narkoba dan Pelanggaran Berat

    Eks Kapolres Bima Kota Dipecat Tidak Hormat, KKEP Nyatakan Terbukti Terlibat Narkoba dan Pelanggaran Berat

    • calendar_month Jumat, 20 Feb 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 259
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Sidang Komisi Kode Etik Polri (KKEP) terhadap eks Kapolres Bima Kota AKBP DPK resmi menjatuhkan sanksi Pemberhentian Tidak Dengan Hormat (PTDH). Putusan tersebut dibacakan dalam sidang etik yang digelar di Gedung TNCC Mabes Polri, Kamis (19/2/2026). Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divhumas Polri, Trunoyudo Wisnu Andiko, menyampaikan bahwa sidang berlangsung sejak pukul 09.00 hingga […]

  • Masjid di Tengah Gemerlap Kota: Disertasi Fahdiana Yuniasih Membaca Ulang Peran Ruang Ibadah di Jantung Jakarta

    Masjid di Tengah Gemerlap Kota: Disertasi Fahdiana Yuniasih Membaca Ulang Peran Ruang Ibadah di Jantung Jakarta

    • calendar_month Rabu, 1 Jul 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 111
    • 0Komentar

    nulondalo.com — Di antara gedung-gedung tinggi, pusat bisnis, dan derasnya arus kapital perkotaan, ruang ibadah kerap dipandang sebagai bagian kecil dari pembangunan kota modern. Namun sebuah penelitian doktoral di Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Indonesia menghadirkan sudut pandang berbeda: masjid bukan sekadar ruang yang bertahan di tengah tekanan modernitas, melainkan aktor yang ikut membentuk wajah […]

  • Limbah Medis Harus Dikelola Secara Aman Sesuai UU

    Limbah Medis Harus Dikelola Secara Aman Sesuai UU

    • calendar_month Selasa, 29 Jul 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 167
    • 0Komentar

    Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo Anang S Otoluwa memberikan sambutan dalam Pertemuan Evaluasi Pengelolaan/Pelaporan Limbah Medis dan Sosialisasi Medical Waste In SMILE (ME SMILE) atau Sistem Monitoring Inventaris Logistik Kesehatan secara Elektronik yang diselenggarakan secara daring, Rabu (02/07/2025). Pertemuan ini bertujuan untuk mengevaluasi pengelolaan dan pelaporan limbah medis serta mensosialisasikan aplikasi ME SMILE. Dalam sambutannya, […]

expand_less