Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Bapsae: Kritik Gap Generasi ala BTS

  • account_circle Pepi al-Bayqunie
  • calendar_month Senin, 26 Jan 2026
  • visibility 353
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Terus terang, saya tidak pernah menaruh ekspektasi apa pun pada BTS selain sebagai band pop yang rapi dan menyenangkan. Dalam bayangan saya, K-Pop—termasuk BTS—adalah industri yang sangat efisien menjual visual, koreografi, dan kemasan. Musiknya menghibur, energik, dan selesai di situ. Pure entertainment. Tidak lebih.

Pandangan saya mulai terkoreksi ketika, dalam satu diskusi tentang masa depan NU di Makassar dan di kelas pemikiran Gusdur (KPG), Mbak Alissa Wahid—Koordinator Nasional Jaringan Gusdurian sekaligus mentor saya—menyebut BTS dengan cara yang berbeda. Ia menyebutkan bahwa lirik-lirik BTS bukan sekadar manis, melainkan menyimpan bahasa perlawanan.

Rasa penasaran itu mendorong saya membuka mesin pencari dan berjumpa dengan lagu Bapsae. Dari situ muncul kejutan kecil yang menyenangkan. Di balik wajah-wajah sempurna dan koreografi yang nyaris tanpa celah, ternyata tersimpan kegelisahan sosial yang tajam, jujur, dan terasa dekat dengan pengalaman banyak generasi muda hari ini.

Melalui lagu Bapsae, BTS bercerita tentang dua generasi: bapsae, burung kecil dengan segala keterbatasannya, dan hwangsae, burung besar yang lebih dulu menikmati medan hidup yang lapang. Metafora ini diambil dari peribahasa Korea: burung pipit yang memaksakan diri berjalan seperti bangau hanya akan melukai kakinya sendiri. Sederhana, tapi menghantam. Bapsae dituntut terbang setinggi hwangsae, berlari secepat mereka, dan sukses dengan ukuran yang sama—tanpa pernah benar-benar dibekali alat yang setara.

Di sinilah kritiknya bekerja. Bapsae tidak sedang menyindir kemalasan generasi muda, justru sebaliknya. Lagu ini mengejek logika yang terlalu mudah menyalahkan individu. Kerja keras dijadikan mantra moral, seolah semua orang memulai dari titik yang sama. Padahal medan hidup sudah berubah. Ketika bapsae gagal, yang dipersoalkan bukan sistemnya, melainkan mentalnya. Kurang tahan banting, kurang sabar, kurang bersyukur.

Beberapa potongan lirik Bapsae terasa seperti gumaman yang akrab di telinga banyak anak muda: kelelahan karena terus dibandingkan, dinasihati, dan dituntut, tapi jarang didengarkan. Nada lagunya memang enerjik, hampir seperti pesta, tapi liriknya sinis dan sadar kelas. BTS seolah sedang berkata: kami tidak menolak kerja keras, tapi jangan pura-pura buta pada ketimpangan.

Yang membuat lagu ini menarik justru caranya menyampaikan kritik. Tidak menggurui. Tidak juga terasa seperti manifesto politik. Bapsae lebih mirip curhat kolektif—tentang rasa capek yang sering tidak punya bahasa. Dan karena dibungkus sebagai lagu pop, kritik itu terasa ringan, mudah diterima, bahkan nyaris lolos dari radar mereka yang menganggap budaya pop tidak pernah serius.

Jika ditarik ke konteks kita, Bapsae terasa akrab. Banyak generasi muda hari ini hidup di bawah tekanan yang serupa: biaya hidup yang terus naik, persaingan yang kian ketat, sementara standar sukses tetap tinggi dan jarang ditinjau ulang. Nasihat lama diwariskan dari generasi ke generasi, seolah medan hidup tidak pernah berubah.

Lagu ini juga berbicara kepada kita, generasi hwangsae. Kita harus menyadari bahwa struktur yang dibentuk di masa lalu mungkin tidak lagi cocok untuk mereka yang sedang tumbuh hari ini. Mengakui ketimpangan bukanlah tanda kelemahan, melainkan langkah sadar untuk memahami pengalaman generasi baru dan membuka ruang agar proses mereka tidak terus-menerus terbentur pada standar lama.

Refleksi semacam ini juga memberi kesempatan untuk membangun jembatan, bukan sekadar mengulang aturan lama. Generasi Hwangsae bisa memilih untuk mendengar, menyesuaikan ritme, dan menyadari  untuk menciptakan sistem yang memberi ruang bagi mereka yang masih belajar seperti burung kecil bapsae. 

  • Penulis: Pepi al-Bayqunie
  • Editor: Pepi al-Bayqunie

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pemerintah Tetapkan 1 Ramadan 1447 H Jatuh pada 19 Februari 2026

    Pemerintah Tetapkan 1 Ramadan 1447 H Jatuh pada 19 Februari 2026

    • calendar_month Selasa, 17 Feb 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 151
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Pemerintah melalui Kementerian Agama Republik Indonesia resmi menetapkan 1 Ramadan 1447 Hijriah jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026. Keputusan tersebut diambil berdasarkan hasil sidang isbat yang digelar Selasa sore, 17 Februari 2026, di Jakarta. Menteri Agama Nasaruddin Umar menyampaikan bahwa penetapan dilakukan setelah menerima laporan tim pemantauan hilal (rukyatul hilal) dari 96 titik […]

  • Pergantian Tahun, Masyarakat Diimbau Waspadai Keamanan hingga Cuaca Ekstrem

    Pergantian Tahun, Masyarakat Diimbau Waspadai Keamanan hingga Cuaca Ekstrem

    • calendar_month Rabu, 31 Des 2025
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 232
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Menjelang malam pergantian Tahun Masehi, masyarakat diimbau meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai potensi risiko, mulai dari gangguan keamanan, kecelakaan lalu lintas, hingga cuaca ekstrem. Pengamat dan aparat keamanan menilai euforia perayaan tahun baru kerap dibarengi peningkatan kerawanan di ruang publik. Pengamat sosial dari Universitas Indonesia, Dr. Devie Rahmawati, menilai keramaian pada malam tahun baru […]

  • Perjalanan Spiritual Nabi

    Perjalanan Spiritual Nabi

    • calendar_month Sabtu, 17 Jan 2026
    • account_circle Ilham Sopu
    • visibility 351
    • 0Komentar

    Kita kini berada di penghujung bulan Rajab, bulan ketujuh dalam kalender Hijriah, sebuah bulan yang dimuliakan dan sarat dengan pesan persiapan ruhani. Dalam satu riwayat disebutkan bahwa Rajab adalah bulan menanam, Sya‘ban bulan menyiram dan memelihara, sementara Ramadhan adalah bulan memetik hasil. Maka, akhir Rajab seharusnya menjadi ruang muhasabah: sejauh mana benih-benih kebaikan telah kita […]

  • Pemda Buol Setop MBG, Usai 141 Siswa Keracunan

    Pemda Buol Setop MBG, Usai 141 Siswa Keracunan

    • calendar_month Kamis, 29 Jan 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 283
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Pemerintah Kabupaten Buol menghentikan sementara pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Bunobogu menyusul dugaan keracunan makanan yang dialami 141 siswa dari sejumlah sekolah, Rabu (28/1/2026). Berdasarkan data terakhir, puluhan siswa masih menjalani perawatan medis di berbagai fasilitas kesehatan. Sebanyak 21 siswa dirawat di RSUD Mokoyurli Buol, tiga siswa di RS Pratama […]

  • Metode Tahfidz As’adiyah Disorot Nasional, Tradisi “Maddarasa Patappulo” Dinilai Konsisten Lahirkan Hafidz Berkualitas

    Metode Tahfidz As’adiyah Disorot Nasional, Tradisi “Maddarasa Patappulo” Dinilai Konsisten Lahirkan Hafidz Berkualitas

    • calendar_month Kamis, 26 Feb 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 535
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Metode tahfidz yang dikembangkan di lingkungan Pondok Pesantren As’adiyah kembali mendapat sorotan publik nasional. Dalam sebuah program TV nasional yang tayang baru-baru ini, pendekatan khas As’adiyah dalam menghafal Al-Qur’an disebut sebagai salah satu metode yang konsisten melahirkan para hafidz berkualitas, dengan kekuatan pada tradisi, disiplin, dan kesinambungan sanad keilmuan. Metode Tahfidz As’adiyah bertumpu […]

  • 1.512 SPPG Program MBG Dihentikan Sementara, BGN Temukan Masalah Sanitasi hingga IPAL

    1.512 SPPG Program MBG Dihentikan Sementara, BGN Temukan Masalah Sanitasi hingga IPAL

    • calendar_month Rabu, 11 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 211
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Badan Gizi Nasional (BGN) menghentikan sementara operasional 1.512 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di wilayah II. Kebijakan ini diambil sebagai tindak lanjut evaluasi terhadap pemenuhan standar operasional serta kelengkapan sarana dan prasarana layanan. Direktur Pemantauan dan Pengawasan Wilayah II BGN, Albertus Dony Dewantoro, mengatakan langkah tersebut merupakan bagian dari penataan layanan dalam Program […]

expand_less