Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Bapsae: Kritik Gap Generasi ala BTS

  • account_circle Pepi al-Bayqunie
  • calendar_month Senin, 26 Jan 2026
  • visibility 384
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Terus terang, saya tidak pernah menaruh ekspektasi apa pun pada BTS selain sebagai band pop yang rapi dan menyenangkan. Dalam bayangan saya, K-Pop—termasuk BTS—adalah industri yang sangat efisien menjual visual, koreografi, dan kemasan. Musiknya menghibur, energik, dan selesai di situ. Pure entertainment. Tidak lebih.

Pandangan saya mulai terkoreksi ketika, dalam satu diskusi tentang masa depan NU di Makassar dan di kelas pemikiran Gusdur (KPG), Mbak Alissa Wahid—Koordinator Nasional Jaringan Gusdurian sekaligus mentor saya—menyebut BTS dengan cara yang berbeda. Ia menyebutkan bahwa lirik-lirik BTS bukan sekadar manis, melainkan menyimpan bahasa perlawanan.

Rasa penasaran itu mendorong saya membuka mesin pencari dan berjumpa dengan lagu Bapsae. Dari situ muncul kejutan kecil yang menyenangkan. Di balik wajah-wajah sempurna dan koreografi yang nyaris tanpa celah, ternyata tersimpan kegelisahan sosial yang tajam, jujur, dan terasa dekat dengan pengalaman banyak generasi muda hari ini.

Melalui lagu Bapsae, BTS bercerita tentang dua generasi: bapsae, burung kecil dengan segala keterbatasannya, dan hwangsae, burung besar yang lebih dulu menikmati medan hidup yang lapang. Metafora ini diambil dari peribahasa Korea: burung pipit yang memaksakan diri berjalan seperti bangau hanya akan melukai kakinya sendiri. Sederhana, tapi menghantam. Bapsae dituntut terbang setinggi hwangsae, berlari secepat mereka, dan sukses dengan ukuran yang sama—tanpa pernah benar-benar dibekali alat yang setara.

Di sinilah kritiknya bekerja. Bapsae tidak sedang menyindir kemalasan generasi muda, justru sebaliknya. Lagu ini mengejek logika yang terlalu mudah menyalahkan individu. Kerja keras dijadikan mantra moral, seolah semua orang memulai dari titik yang sama. Padahal medan hidup sudah berubah. Ketika bapsae gagal, yang dipersoalkan bukan sistemnya, melainkan mentalnya. Kurang tahan banting, kurang sabar, kurang bersyukur.

Beberapa potongan lirik Bapsae terasa seperti gumaman yang akrab di telinga banyak anak muda: kelelahan karena terus dibandingkan, dinasihati, dan dituntut, tapi jarang didengarkan. Nada lagunya memang enerjik, hampir seperti pesta, tapi liriknya sinis dan sadar kelas. BTS seolah sedang berkata: kami tidak menolak kerja keras, tapi jangan pura-pura buta pada ketimpangan.

Yang membuat lagu ini menarik justru caranya menyampaikan kritik. Tidak menggurui. Tidak juga terasa seperti manifesto politik. Bapsae lebih mirip curhat kolektif—tentang rasa capek yang sering tidak punya bahasa. Dan karena dibungkus sebagai lagu pop, kritik itu terasa ringan, mudah diterima, bahkan nyaris lolos dari radar mereka yang menganggap budaya pop tidak pernah serius.

Jika ditarik ke konteks kita, Bapsae terasa akrab. Banyak generasi muda hari ini hidup di bawah tekanan yang serupa: biaya hidup yang terus naik, persaingan yang kian ketat, sementara standar sukses tetap tinggi dan jarang ditinjau ulang. Nasihat lama diwariskan dari generasi ke generasi, seolah medan hidup tidak pernah berubah.

Lagu ini juga berbicara kepada kita, generasi hwangsae. Kita harus menyadari bahwa struktur yang dibentuk di masa lalu mungkin tidak lagi cocok untuk mereka yang sedang tumbuh hari ini. Mengakui ketimpangan bukanlah tanda kelemahan, melainkan langkah sadar untuk memahami pengalaman generasi baru dan membuka ruang agar proses mereka tidak terus-menerus terbentur pada standar lama.

Refleksi semacam ini juga memberi kesempatan untuk membangun jembatan, bukan sekadar mengulang aturan lama. Generasi Hwangsae bisa memilih untuk mendengar, menyesuaikan ritme, dan menyadari  untuk menciptakan sistem yang memberi ruang bagi mereka yang masih belajar seperti burung kecil bapsae. 

  • Penulis: Pepi al-Bayqunie
  • Editor: Pepi al-Bayqunie

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Inilah Tuntutan Demo Aliansi Merah Maron

    Inilah Tuntutan Demo Aliansi Merah Maron

    • calendar_month Senin, 29 Sep 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 154
    • 0Komentar

    Gubernur Gorontalo Gusnar Ismail bersama Wakil Gubernur Idah Syahidah Rusli Habibie, Kapolda Gorontalo Irjen Pol. Widodo, dan Ketua DPRD Provinsi Gorontalo Idrus M. Thomas Mopili, menemui aksi demonstrasi mahasiswa Universitas Negeri Gorontalo (UNG) di Bundaran Tugu Saronde, Senin (1/9/2025). Mahasiswa UNG yang tergabung dalam Aliansi Merah Maron menyampaikan sejumlah tuntutan kepada Pemerintah Provinsi Gorontalo, DPRD, […]

  • Bravo TNI Kasdam XIV/Hsn Lepas Yonif 721/Makassau ke Papua: Berangkat dengan Kehormatan, Kembali dengan Kemenangan!

    Bravo TNI Kasdam XIV/Hsn Lepas Yonif 721/Makassau ke Papua: Berangkat dengan Kehormatan, Kembali dengan Kemenangan!

    • calendar_month Sabtu, 20 Jun 2026
    • account_circle Hardiansyah
    • visibility 87
    • 0Komentar

    Nulondalo.com Makassar – Kepala Staf Kodam (Kasdam) XIV/Hasanuddin Brigjen TNI Ayi Lesmana, S.E., memimpin kegiatan pengantaran, serta penyerahan bantuan logistik pergeseran pasukan (Serpas) menuju daerah operasi bagi prajurit Yonif 721/Makassau yang akan melaksanakan Satgas Pengamanan Perbatasan (Pamtas) RI–PNG Mobile Tahun Anggaran 2026. Kegiatan tersebut berlangsung di Dermaga Baru Breakwater Kodaeral VI, Jl. Yos Sudarso, Kota […]

  • Konsep 4A Kunci Pengembangan Pariwisata Gorontalo  

    Konsep 4A Kunci Pengembangan Pariwisata Gorontalo  

    • calendar_month Rabu, 29 Okt 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 167
    • 0Komentar

    Empat ruang unsur kunci pengembangan pariwisata Provinsi Gorntalo dibedah sejumlah peneliti, praktisi dan awak media di halaman Badan Perencanaan, Penelitian dan Pengembangan Daerah (Bapppeda) Provinsi Gorontalo. Keempat ruang elemen kunci ini adalah ruang atraksi, ruang aksesibilitas, ruang amenitas, dan ruang ansilari. Empat komponen kunci dalam pengembangan pariwisata ini dikenal sebagai konsep 4A. Komponen ini meliputi atraksi […]

  • Negara Untung di Atas Kertas, Rakyat Rugi di Kehidupan Nyata?

    Negara Untung di Atas Kertas, Rakyat Rugi di Kehidupan Nyata?

    • calendar_month Kamis, 30 Apr 2026
    • account_circle M. Ja'far Ali Reza
    • visibility 332
    • 0Komentar

    Setiap tahun, laporan keuangan pemerintah disajikan dengan rapi. Angka-angka tersusun sistematis, realisasi anggaran tercatat dengan detail, dan opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) kembali diraih dari Badan Pemeriksa Keuangan. Dari sudut pandang administratif, ini adalah gambaran ideal dari tata kelola keuangan negara yang tertib dan profesional. Tidak sedikit yang menjadikan capaian ini sebagai bukti bahwa sistem […]

  • Polda Sumut Amankan Dua Ekskavator Diduga untuk PETI di Madina

    Polda Sumut Amankan Dua Ekskavator Diduga untuk PETI di Madina

    • calendar_month Senin, 2 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 282
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Tim gabungan dari Kepolisian Daerah Sumatera Utara mengamankan dua unit alat berat jenis ekskavator yang diduga akan digunakan untuk aktivitas pertambangan emas tanpa izin (PETI) di Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Sumatera Utara, Senin (2/3/2026) pagi. Penindakan dilakukan sekitar pukul 06.00 WIB oleh personel Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) bersama Satuan Brimob di dua […]

  • Prabowo Resmikan Pabrik Kendaraan Listrik di Magelang, Tegaskan Indonesia Bangkit

    Prabowo Resmikan Pabrik Kendaraan Listrik di Magelang, Tegaskan Indonesia Bangkit

    • calendar_month Kamis, 9 Apr 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 307
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Presiden RI, Prabowo Subianto, meresmikan fasilitas perakitan kendaraan komersial listrik milik PT VKTR Sakti Industries di Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah, Kamis (9/4/2026). Peresmian ini menjadi tonggak penting dalam penguatan industri kendaraan listrik nasional sekaligus mendukung transisi menuju energi bersih di Indonesia. Dalam sambutannya, Presiden menegaskan bahwa industrialisasi merupakan tahapan krusial dalam kebangkitan […]

expand_less