Breaking News
light_mode
Trending Tags

Kegetiran di balik Wisuda Siswa dan Sumbangan ‘Sukarela’ Sekolah

  • account_circle Redaksi Nulondalo
  • calendar_month Sabtu, 26 Apr 2025
  • visibility 64
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Saya tetap datang meski acara telah berada di penghujung. Wajah sumringah sang putri dan semangatnya untuk hadir bak serdadu yang mau merangsek ke markas musuh, membuat saya tak tega. Saya datang demi melihatnya tersenyum di atas panggung, meski hanya sekejap. Dan di atas segalanya ini adalah tentang  rasa syukur. Maka hadirlah saya tepat ketika semua orang beranjak meninggalkan tempat duduknya. Acara itu adalah wisuda bagi santri TPA yang telah menuntaskan dirasa al-Qurannya.

Sudah lama saya bertanya-tanya, mengapa wisuda anak-anak itu kini menjadi penting dan terkesan genting jika tak digelar. Padahal tradisi ini awalnya hanya dikenal bagi mahasiswa yang telah menamatkan kuliahnya. Sekarang bahkan anak TK yang belum tahu membuang ingus pun ikut-ikutan diwisuda. Saya merasa semakin janggal karena tradisi itu juga menjangkiti pendidikan al-Qur’an. Di antara TPA itu bahkan selama ini dikenal alergi meniru tradisi di luar Islam. Padahal asal tahu saja, wisuda dengan segala simbol-simbolnya berasal dari tradisi Romawi dan Yunani lalu dikembangkan dalam lingkungan gereja.

Alasan memang terasa mulia; memotivasi anak, membangun rasa percaya diri, dan memberi momen kebanggaan untuk orang tua. Tapi sadar atau tidak, di balik kebanggaan itu ada anak-anak yang dikurung murung dan tersisih dalam sedih. Mereka adalah anak-anak yang terpaksa tak bisa turut serta. Tak sanggup orang tuanya membayar biaya wisuda yang bagi mereka sulit dan tak terjangkau. Bagi orang-orang kelas atas, biaya itu mungkin bukanlah apa-apa, tak lebih banyak dari uang jajan anaknya saban hari.

Tetapi bagi mereka yang selama ini berada dalam lembah kemelaratan, biaya wisuda amatlah berarti. Mereka harus menghitung beberapa kali harga makan sehari-hari yang harus dihemat untuk mengumpulkan biaya itu. Jika selama ini sudah harus mengikat pinggang erat-erat, maka ditambah pembayaran listrik, air, ini dan itu, lalu datang lagi biaya wisuda, maka bisa jadi ususnya pun harus dibebat.

Adanya pembayaran itu mau tidak mau membuat kita ingin mengorek sesuatu di balik panggung perhelatan wisuda tersebut. Jangan-jangan di balik kebanggaan yang ditebar, ada motif ekonomi sedang disusun. Saya tak ingin berhitung ya, tapi coba saya bayangkan berapa sewa baju wisuda, pembayaran katering dan segala tetek bengek wisuda itu. Kira-kira siapa untung dan siapa buntung di sini?

Tapi apakah dengan demikian tak perlu merayakan kelulusan sang anak? Tentu saja boleh. Apalagi jika dimaksudkan sebagai rasa syukur pada Allah dan berterima kasih pada sang guru. Tetapi tentu tanpa ada yang terbebani sekaligus tersisihkan. Di kampung ada tradisi menamatkan al-Qur’an yang digelar secara sederhana dan khidmat, Pakkanre Tamma namanya.

Anak yang tamat datang ke gurunya membawa apa yang ada pada mereka. Pisang, kelapa atau ayam. Kemudian bersama-sama makan di rumah guru dan diakhiri dengan doa tamat membaca al-Qur’an. Pakkanre Tamma bisa ditunda dan diulur waktunya. Kadang nanti mau menikah baru dilakukan. Dirangkaikan dengan acara pernikahan, biayanya bisa dihemat.

Yang menjadi kegelisahan lebih luas lagi, praktik membebani orang tua dengan berbagai biaya tidak hanya terjadi saat wisuda. Kini, sekolah-sekolah juga kerap menyelipkan beragam kegiatan yang biayanya harus ditanggung sepenuhnya oleh wali murid. Kegiatan keagamaan, infaq untuk membeli alat ajar, sumbangan per lomba, seragam kegiatan, bahkan kebutuhan administrasi yang seharusnya bisa dibiayai dari anggaran pendidikan. Kadang-kadang memang diselipkan kata-kata ‘sukarela’, ‘yang mau saja’, tetapi dalam praktiknya tidak sesederhana itu. Murid atau siswa dalam relasi kuasa ini berada dalam posisi inferior.

Mereka merasa cemas untuk tidak ikut serta. Orang tuanya pun didesak agar ikut urunan. Situasi ini telah membangun budaya yang kurang sehat di sekolah. Siswa yang tidak bisa terlibat atau tidak ikut menyumbang ‘ini itu’ padahal mungkin tidak mampu, tersisih. Temannya yang lain bisa mencibirnya tak kompak. Belum lagi jika guru pun mulai menempatkannya sebagai murid/siswa yang tak masuk hitungan gara-gara tak terlibat dalam berbagai even.

Dalam situasi semacam itu murid bersangkutan akan merasa semakin tidak nyaman, lingkungan sekolah mulai menjepit jiwanya.  Ironisnya, ini terjadi di saat anggaran pendidikan nasional terus meningkat tiap tahun, dan seruan efisiensi keuangan digaungkan di berbagai lini.

Padahal jika kita kembali pada amanat konstitusi, pendidikan dasar mestinya dijamin oleh negara dan tak menjadi beban bagi rakyat kecil. Ketika segala sesuatunya diminta dari kantong orang tua, apakah ini bukan sebuah tanda bahwa sistem telah melimpahkan tanggung jawabnya pada yang paling tak berdaya?

Kita sedang hidup di masa sulit. Semua orang diminta berhemat. Tapi beberapa sekolah dan lembaga pendidikan justru makin rajin membuat kegiatan yang membebankan biaya pada orang tua siswa. Di mana kepekaan itu? Bukankah semestinya dunia pendidikan jadi tempat paling pertama yang belajar tentang empati?

Di era di mana kita sedang dianjurkan untuk berhemat dan hidup lebih efisien, tradisi wisuda—dan berbagai praktik pungutan atas nama sumbangan dan lainnya—mungkin sudah waktunya direvisi. Sekolah seharusnya membuat semua anak bisa mengecap pendidikan dan merayakan kelulusan tanpa harus khawatir tentang biaya. Mungkin sudah waktunya kita memprioritaskan kebahagiaan dan kesetaraan semua anak, daripada mempertahankan tradisi yang hanya membuat kesenjangan makin melebar.

Anak-anak adalah titipan bangsa. Hari depan ada di tangan mereka. Kita harus memastikan bahwa mereka semua memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang dan merayakan kesuksesan. Tidak ada anak yang harus merasa tersisih. Semua anak, tanpa kecuali, pantas merayakan kelulusan mereka dengan bangga dan bahagia.

Sekolah bukan tempat yang membuat lara,
melainkan ruang tumbuh penuh cita.
Bukan gedung megah penuh kasta,
tapi taman bermain bagi jiwa-jiwa merdeka.

Di sana ilmu dibagi dengan cinta,
oleh mereka yang tulus menjaga asa.
Tak ada murid yang merasa hina,
karena suara, rupa, atau tanpa harta.

Buku dan papan bukan milik segelintir saja,
tapi untuk semua yang haus makna.
Pendidikan bukan ladang usaha,
melainkan titipan luhur bangsa yang mulia.

Semua anak duduk setara,
tanpa pungutan yang membungkam rasa.
Tak ada pesta untuk yang kaya,
sementara yang miskin menahan air mata.

Sekolah harus jadi rumah yang ramah,
tempat tawa dan harapan menjelma indah.
Tempat anak pulang dengan bahagia,
bukan beban yang menyiksa dada.

Oleh : Ijhal Thamaona memiliki nama lengkap Dr. Syamsurijal Adhan, S.Ag., M.Si adalah Peneliti Khazanah Agama dan Peradaban di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) 

  • Penulis: Redaksi Nulondalo

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • 80 Tahun Indonesia Merdeka: Gerakan Nurani Bangsa Serukan Pembaruan Demokrasi Dan Keadilan Sosial

    80 Tahun Indonesia Merdeka: Gerakan Nurani Bangsa Serukan Pembaruan Demokrasi Dan Keadilan Sosial

    • calendar_month Selasa, 5 Agt 2025
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 55
    • 0Komentar

    Dalam momentum peringatan 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia, Gerakan Nurani Bangsa menyampaikan refleksi kritis atas perjalanan panjang bangsa sekaligus seruan untuk memperbaiki arah demokrasi, penegakan hukum, kesejahteraan rakyat, dan penghormatan terhadap nilai-nilai budaya. Indonesia sebagai negara kepulauan yang dibangun di atas keberagaman budaya, adat istiadat, agama, dan kekayaan alam, terus berupaya mewujudkan cita-cita luhur kemerdekaan: […]

  • Menertawakan Kekuasaan

    Menertawakan Kekuasaan

    • calendar_month Selasa, 13 Jan 2026
    • account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
    • visibility 282
    • 0Komentar

    Orang kecil itu sebenarnya tidak bodoh. Mereka cuma capek. Capek mendengar janji, capek membaca berita korupsi, capek melihat pejabat miskin di LHKPN tapi kaya di pesta pernikahan anaknya. Maka jangan heran kalau rakyat akhirnya memilih tertawa. Karena kalau tidak tertawa, bisa-bisa marah. Dan kalau marah terus, tekanan darah naik, sementara kebijakan tidak pernah turun. Dalam […]

  • Kasus Narkoba Kian Marak, Legislator Maros Minta Pencegahan Diperkuat

    Kasus Narkoba Kian Marak, Legislator Maros Minta Pencegahan Diperkuat

    • calendar_month Jumat, 5 Des 2025
    • account_circle Sakti
    • visibility 71
    • 0Komentar

    Nulondalo.com, MAROS – Anggota DPRD Maros, Rahmat Hidayat memberikan apresiasi tinggi terhadap kinerja Satuan Reserse Narkoba Polres Maros yang dinilai konsisten dan intens menindak penyalahgunaan narkoba sepanjang tahun 2025. Apresiasi tersebut ia sampaikan langsung saat menghadiri pemusnahan barang bukti narkoba di Mapolres Maros, Jumat (5/12/2025). “Kami sangat mengapresiasi kinerja Polres Maros dan jajarannya atas keberhasilan […]

  • Anggaran PPPA dan KPAI Turun, DPR Soroti Lonjakan Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak

    Anggaran PPPA dan KPAI Turun, DPR Soroti Lonjakan Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak

    • calendar_month Selasa, 27 Jan 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 115
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Anggota Komisi VIII DPR RI, Muhamad Abdul Azis Sefudin, menyoroti penurunan anggaran Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) serta Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) di tengah meningkatnya kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Indonesia. Hal tersebut disampaikan Azis usai Rapat Kerja dan Rapat Dengar Pendapat Komisi VIII DPR RI bersama Kementerian […]

  • PMII Kota Gorontalo dan SMPN 2 Satap Bulango Ulu Gelar Peringatan Hari Pramuka dan HUT RI ke-80 di Mongiilo Utara

    PMII Kota Gorontalo dan SMPN 2 Satap Bulango Ulu Gelar Peringatan Hari Pramuka dan HUT RI ke-80 di Mongiilo Utara

    • calendar_month Selasa, 5 Agt 2025
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 52
    • 0Komentar

    Dalam semangat memperkuat nilai solidaritas dan nasionalisme, Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PC PMII) Kota Gorontalo bekerja sama dengan SMP Negeri 2 Satap Bulango Ulu menggelar serangkaian kegiatan dalam rangka memperingati Hari Pramuka dan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia ke-80. Kegiatan yang berlangsung di halaman sekolah ini menjadi ajang silaturahmi lintas generasi, dengan […]

  • Ketua DPD FKPR Desak BK DPRD Provinsi Gorontalo Jangan jadi pelindung kode etik

    Ketua DPD FKPR Desak BK DPRD Provinsi Gorontalo Jangan jadi pelindung kode etik

    • calendar_month Minggu, 7 Sep 2025
    • account_circle Rivaldi Bulilingo
    • visibility 60
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Ketua DPD Forum Kaum Pembela Rakyat (FKPR) Kota Gorontalo, Ikbal Ka’u, kembali menyuarakan kritik keras terhadap kinerja Badan Kehormatan (BK) DPRD Provinsi Gorontalo. Dalam pernyataannya, ia menilai BK DPRD seolah-olah menjalankan fungsi pengawasan etik secara tebang pilih. Ikbal menyampaikan apresiasi bahwa BK DPRD mampu menyelesaikan persoalan terkait ucapan kontroversial anggota DPRD, Wahyu Moridu, […]

expand_less