Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Yang Nanam Malah Lapar

  • account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
  • calendar_month Sabtu, 31 Jan 2026
  • visibility 452
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Satu abad Nahdlatul Ulama (NU) adalah usia yang cukup matang untuk merenung: apakah jam’iyah ini masih sekadar kuat di tahlilan, atau sudah cukup berani kuat di laporan keuangan? Gus Dur pernah berkelakar, “NU itu besar sekali, tapi kalau ditanya asetnya, jawabannya sering: berkah.” Masalahnya, berkah saja tidak cukup untuk bayar pupuk, solar kapal nelayan, dan gaji akuntan.

Keberpihakan struktur PBNU terhadap transformasi ekonomi hari ini patut diapresiasi. NU mulai sadar bahwa mengurus umat bukan hanya soal qunut subuh, tapi juga soal arus kas. Ekonomi, akuntansi, dan profesionalisme mulai dipanggil ke panggung utama. Kalau dulu rapat NU penuh doa agar rezeki lancar, sekarang mulai ada doa tambahan: “Semoga laporan keuangannya juga lancar dan diaudit wajar tanpa pengecualian.”

PBNU juga mendorong lahir dan tumbuhnya lembaga-lembaga ekonomi NU. Ini kemajuan besar. Namun Gus Dur mungkin akan nyeletuk, “Lembaga ekonomi NU jangan cuma ada kop suratnya, tapi juga ada labanya.” BUMNU, koperasi NU, dan unit usaha pesantren jangan sampai rajin rapat tapi malas produksi. Kalau rapat lebih sering dari panen, itu bukan ekonomi umat, itu ekonomi konsumsi snack.

Pengarusutamaan program ekonomi NU sering terdengar gagah di seminar, tapi kadang menguap saat turun ke sawah. Padahal ekonomi jama’ah itu sederhana: tanam bareng, panen bareng, jual bareng, untung bareng, bukan bingung bareng. NU perlu satu desain besar ekonomi, bukan sekadar spanduk besar ekonomi. Kalau program ekonomi NU masih jalan sendiri-sendiri, Gus Dur mungkin akan bilang, “Ini bukan ekosistem, ini ekosentris, semua merasa paling penting.”

Peran kampus-kampus NU di bawah LPTNU sangat strategis. Tapi kampus NU jangan hanya jago bikin seminar bertema Sustainable Community Development sambil makan nasi kotak. Kampus NU harus turun ke desa, bukan cuma turun panggung. Mahasiswa NU jangan cuma pandai mengutip teori pembangunan, tapi juga pandai menghitung harga gabah dan ongkos nelayan. Kalau tidak, risetnya berkelanjutan, kemiskinannya juga berkelanjutan.

Penguatan kader melalui ISNU, Ansor, PMII, IPNU dan IPPNU juga krusial. Kader NU hari ini harus bisa wirid sekaligus spreadsheet. Bisa istighotsah, tapi juga bisa baca neraca. Gus Dur mungkin akan tertawa, “Kalau kader NU hanya kuat di yel-yel tapi lemah di Excel, ekonomi umat bisa error.” Militansi tanpa kompetensi hanya menghasilkan semangat, bukan kesejahteraan.

Sudah waktunya jam’iyah NU berhenti hanya disebut sebagai “pasar besar”. Pasar itu tempat belanja, bukan tempat menentukan harga. NU harus naik kelas menjadi produsen. Petani NU jangan hanya panen, tapi juga punya gudang. Nelayan NU jangan hanya melaut, tapi juga punya cold storage. Kalau beras NU masih dibeli dari tengkulak, itu namanya kedaulatan doa, bukan kedaulatan pangan.

Produksi beras, rempah-rempah, sayuran, dan ikan seharusnya dipegang oleh jam’iyah NU secara kolektif. Bukan berarti NU mau jadi konglomerat, tapi agar warga NU tidak terus jadi penonton di lumbung sendiri. Gus Dur pernah bilang, “Keadilan sosial itu sederhana: yang nanam jangan malah lapar.” Dan itu relevan sampai hari ini.

Ekosistem ekonomi Nahdlatul Ulama harus dibangun dari bawah: pesantren, desa, kampus, koperasi, hingga pasar digital. Kalau NU bisa mengelola jama’ah untuk shalawatan berjuta orang, seharusnya mengelola rantai produksi beras tidak lebih sulit, asal niatnya sama-sama serius.

Transformasi ekonomi satu abad NU pada akhirnya adalah transformasi cara berpikir. Dari bangga pada jumlah jama’ah menuju bangga pada kemandirian jama’ah. Dari ekonomi berkah menuju ekonomi berkat plus neraca. Gus Dur mungkin akan menutup dengan senyum, “NU itu sudah sangat kaya. Tinggal satu yang kurang: merasa bertanggung jawab atas kekayaannya sendiri.”

  • Penulis: Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
  • Editor: Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kopra Institute Desak Bupati dan BKD Periksa Sekda Morotai Soal Dugaan Judol

    Kopra Institute Desak Bupati dan BKD Periksa Sekda Morotai Soal Dugaan Judol

    • calendar_month Sabtu, 25 Apr 2026
    • account_circle Risman Lutfi
    • visibility 246
    • 0Komentar

    Nulondalo.com, Maluku Utara – Dugaan kasus yang menyeret Sekretaris Daerah (Sekda) Pulau Morotai, Muhammad Umar Ali, terus menguat. Komite Perjuangan Rakyat (Kopra Institute) meminta Bupati dan Badan Kepegawaian Daerah (BKD) tidak tinggal diam. Direktur Kopra Institute, Faisal Habeba, menegaskan bahwa dugaan yang mencuat, khususnya terkait praktik judi online (judol), harus segera ditindaklanjuti secara serius. “Ini […]

  • Alasan Ridwan Kamil Kerap Menyebut Nama Aura Kasih dalam Pantun

    Alasan Ridwan Kamil Kerap Menyebut Nama Aura Kasih dalam Pantun

    • calendar_month Sabtu, 3 Jan 2026
    • account_circle Redaksi
    • visibility 266
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Nama Ridwan Kamil kembali menjadi sorotan publik setelah sejumlah pantun lama yang menyebut nama penyanyi Aura Kasih viral di media sosial. Pantun-pantun tersebut kemudian memicu spekulasi warganet terkait hubungan personal antara keduanya. Isu ini mencuat setelah akun-akun gosip mengunggah jejak digital Ridwan Kamil yang beberapa kali menyelipkan nama Aura Kasih dalam pantun, baik […]

  • Nihayatul Wafiroh Resmikan Kantor Baru DPW PKB Gorontalo

    Nihayatul Wafiroh Resmikan Kantor Baru DPW PKB Gorontalo

    • calendar_month Sabtu, 2 Agt 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 177
    • 0Komentar

    Wakil Ketua Komisi IX DPR RI, Nihayatul Wafiroh, menghadiri peresmian Sekretariat Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Gorontalo, Selasa (12/8/2025). Acara berlangsung di kantor baru PKB di Jalan KH. Adam Zakaria, Dembe II, Kota Gorontalo. Dalam sambutannya, Nihayatul menyampaikan selamat kepada jajaran pengurus DPW PKB atas peresmian sekretariat baru. Ia berharap ke depan […]

  • Demokrasi (Harus) Menjadi Kebudayaan

    Demokrasi (Harus) Menjadi Kebudayaan

    • calendar_month Jumat, 29 Agt 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 153
    • 0Komentar

    Refleksi Temu Nasional (TUNAS) Jaringan GUSDURian 2025 Oleh : Pepy Al-Bayqunie (Jamaah GUSDURian, tinggal di Sulawesi Selatan yang lahir dengan nama Saprillah) Di Indonesia, demokrasi kerap tampil meriah hanya saat pemilu. Angka, statistik, dan pesta politik menjadi hal yang paling mencolok. Namun, setelah hiruk pikuk itu usai, demokrasi sering kembali sepi. Ia menyusut menjadi prosedur […]

  • Ada Apa dengan (Haji) Bawakaraeng

    Ada Apa dengan (Haji) Bawakaraeng

    • calendar_month Sabtu, 26 Apr 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 176
    • 0Komentar

    Kalau Anda bertanya kepada seorang muslim, apakah ia punya niatan naik haji, maka dari  jutaaan mereka nyaris punya jawaban yang sama, “ingin berhaji melengkapi rukun Islam kelima. Saya pun adalah satu dari sekian banyak umat Islam yang selalu mengharu-birukan doa untuk mendapat undangan Sang Khaliq ke Rumah-Nya yang suci itu. Naik haji ke Baitullah (Makkah […]

  • Data Valid Landasan Kebijakan Program HIV/AIDS

    Data Valid Landasan Kebijakan Program HIV/AIDS

    • calendar_month Selasa, 29 Jul 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 155
    • 0Komentar

    Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo Anang S Otoluwa secara resmi membuka kegiatan Pertemuan Validasi Data Penemuan dan Pengobatan HIV/AIDS serta Penelusuran ODHIV Hilang Semester I Tahun 2025 yang digelar oleh Komisi Penanggulangan AIDS Provinsi Gorontalo di Yulia Hotel Kota Gorontalo. Kadinkes Anang menegaskan bahwa pertemuan ini sangat strategis dalam mendukung roadmap nasional menuju Ending AIDS […]

expand_less