Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Ilmu yang Masuk Angin

  • account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, S.E., M.Ak
  • calendar_month Minggu, 8 Feb 2026
  • visibility 293
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Di pesantren, ada petuah sederhana: “Ilmu iku kudu manfaat, nek mung pinter tok yo mblenger.” Ilmu itu harus bermanfaat, kalau cuma pintar saja bisa bikin kembung. Sayangnya, sebagian akademisi hari ini tampak bukan kembung karena terlalu banyak makan, tetapi karena terlalu lama tinggal di menara gading, ruang tinggi, dingin, dan jauh dari sawah, laut, serta dapur rakyat.

Fenomena akademisi menara gading bukan hal baru. Gus Dur mungkin akan bilang, “Menara gading itu sebenarnya bagus, asal ada tangganya dan pintunya dibuka.” Masalahnya, banyak akademisi betah di atas, lupa di bawah ada petani yang pusing harga pupuk, nelayan yang bertaruh nyawa di laut, dan masyarakat miskin yang bertaruh hidup setiap hari.

Ilmu di kampus sering dibicarakan dengan bahasa yang hanya dipahami sesama akademisi. Kalau petani mendengar, bisa jadi dikira mantra. Kalau nelayan membaca jurnal, mungkin disangka ramalan cuaca yang salah. Ilmu jadi eksklusif, bukan emansipatif.

Di NU ada guyonan: “Sing ora duwe dalan, yo sing duwe jabatan.” Yang tidak punya jalan, ya yang punya jabatan. Dalam dunia akademik, yang punya proyek sering lebih didengar daripada yang punya penderitaan. Riset lebih cepat jalan kalau ada sponsor, apalagi kalau sponsornya punya logo besar dan rekening tebal.

Akademisi lalu rajin membuat kajian yang “tidak menyalahkan siapa-siapa”, “objektif tapi aman”, dan “kritis tapi sopan berlebihan”. Gus Dur mungkin nyeletuk, “Kalau terlalu sopan pada kekuasaan, nanti lupa sopan pada rakyat.” Ilmu yang seharusnya menjadi alat pembongkar ketidakadilan justru dipakai sebagai bedak: menutupi wajah kebijakan yang bopeng.

Lucunya, penelitian kita sering sangat hati-hati ketika membahas penguasa, elit, dan korporasi, bahasanya halus, penuh istilah teknis, dan ujung kesimpulannya aman. Tapi ketika membahas petani, nelayan, dan masyarakat miskin, analisisnya mendadak lugas: miskin karena kurang literasi, nelayan kalah karena tidak inovatif, petani tertinggal karena tidak adaptif.

Kalau Gus Dur hidup, mungkin beliau akan bilang, “Yang miskin kok disalahkan, yang kaya kok dibela. Ini ilmu apa ilmu cari aman?” Petani dan nelayan sering dijadikan objek penelitian, bukan subjek pengetahuan. Mereka ditanya, dicatat, difoto, lalu ditinggal, seperti mantan yang hanya dibutuhkan saat skripsi.

Dalam tradisi NU, keberpihakan bukan soal marah-marah, tapi soal ngemong. Akademisi harus sadar: netral di tengah ketimpangan itu sama saja dengan ikut membiarkan. Gus Dur pernah bilang, “Tuhan itu tidak netral terhadap kezaliman.”
Kesadaran keberpihakan berarti jujur mengakui bahwa ilmu selalu berpihak. Pertanyaannya: berpihak kepada siapa? Kepada yang sudah kuat, atau kepada yang masih berjuang bertahan hidup?

Pendidikan tinggi seharusnya mendidik mahasiswa agar tidak alergi lumpur sawah dan bau solar perahu. Penelitian perlu berani meneliti ke atas, membongkar kebijakan, kepentingan elit, dan praktik korporasi sekaligus mendampingi ke bawah.

Pengabdian kepada masyarakat jangan hanya jadi acara seremonial: foto, spanduk, lalu laporan. Dalam NU, khidmah itu proses, bukan event. Akademisi seharusnya hadir lama, sabar, dan mau belajar dari masyarakat.

Kampus tidak boleh hanya jadi lampu hias pembangunan terang tapi tidak menghangatkan. Kampus harus jadi obor: menerangi sekaligus membakar kesadaran. Akademisi tidak boleh menjadi kaki tangan penguasa, elit, dan korporasi. Kalau mau jadi kaki, jadilah kaki yang berjalan bersama petani, nelayan, dan masyarakat miskin.

Tugas akademisi adalah menuntun keberpihakan pemerintah dengan argumen ilmiah yang jujur dan berani. Dalam bahasa Gus Dur: “Kalau ilmu tidak membela yang lemah, itu bukan ilmu, itu keterampilan.”

Akhirnya, keberpihakan akademik bukan soal ideologi sempit, tetapi soal nurani. Ilmu yang baik itu seperti humor Gus Dur: sederhana, menohok, dan selalu berpihak pada kemanusiaan. Kalau tidak begitu, jangan-jangan ilmu kita hanya masuk angin—terasa hebat di dada, tapi tidak menyembuhkan siapa-siapa.

Penulis : Intelektual Muda Nahdlatul Ulama dan Akademisi UNUSIA Jakarta

  • Penulis: Dr. Muhammad Aras Prabowo, S.E., M.Ak

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ketika Bias Oversimplifikasi Bekerja

    Ketika Bias Oversimplifikasi Bekerja

    • calendar_month Jumat, 5 Des 2025
    • account_circle Pepi Al-Bayqunie
    • visibility 351
    • 0Komentar

    (Penulis Jamaah GUSDURian, tinggal di Sulawesi Selatan yang lahir dengan nama Saprillah) Pernyataan Gus Ulil bahwa “menolak zero mining adalah goblok” secara teknis memang benar. Zero mining itu mustahil. Peradaban modern tidak berdiri tanpa mineral—ponsel, kendaraan listrik, panel surya, hingga kabel listrik di rumah kita semuanya lahir dari aktivitas tambang. Tidak ada yang membantah itu. […]

  • Saldo Akhir

    Saldo Akhir

    • calendar_month Jumat, 20 Mar 2026
    • account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
    • visibility 389
    • 0Komentar

    Setelah Ramadhan berlalu dan gema takbir Idul Fitri mulai mereda, kita seperti akuntan yang baru saja menutup buku besar tahunan: lega, tapi juga sedikit was-was. Lega karena “laporan ibadah” sudah disusun sebulan penuh, was-was karena pertanyaan klasik muncul: ini saldo akhirnya bagaimana? Dalam dunia akuntansi, saldo akhir bukan sekadar angka. Ia adalah hasil dari seluruh […]

  • Upacara HUT ke-81 RI Tingkat Kecamatan Bontoa Berlangsung Khidmat Dan Gembira

    Upacara HUT ke-81 RI Tingkat Kecamatan Bontoa Berlangsung Khidmat Dan Gembira

    • calendar_month Senin, 17 Agt 2026
    • account_circle Hardiansyah
    • visibility 261
    • 0Komentar

    Nulondalo.Com–Bontoa, 17 Agustus 2026– Camat Bontoa Muh Maudu S.Hut M.Sp memimpin Upacara Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI tingkat Kecamatan Bontoa pada Minggu pagi Di lapangan Mannan talawe Kecamatan Bontoa. Upacara diikuti Forkopimcam, ASN,Kepala Desa/Kelurahan TNI-Polri, Instansi-instansi terkait se kecamatan Bontoa,Ormas,OKP,Kepala-kepala Sekolah Se kecamatan Bontoa,Guru-guru ,Lembaga adat Kekaraengan Bontoa,Mahasiswa,pelajar dan semua elemen Masyarakat Kecamatan Bontoa. Petugas […]

  • Menuju Bank Gorontalo: Mungkinkah Pisah dari Bank SulutGo?

    Menuju Bank Gorontalo: Mungkinkah Pisah dari Bank SulutGo?

    • calendar_month Sabtu, 26 Apr 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 238
    • 0Komentar

    Rencana pembentukan Bank Gorontalo kembali mencuat ke permukaan. Gagasan ini sebenarnya bukan hal baru, namun perdebatan soal peluang dan tantangannya kini semakin menarik untuk dikaji secara lebih serius. Bank SulutGo sendiri memiliki sejarah panjang. Didirikan pertama kali pada 1961 dengan nama PT. Bank Pembangunan Daerah Sulawesi Utara, bank ini lahir sebagai instrumen perbankan daerah untuk […]

  • Islah PBNU Tercapai, Rais Aam dan Ketua Umum Sepakat Gelar Muktamar Bersama

    Islah PBNU Tercapai, Rais Aam dan Ketua Umum Sepakat Gelar Muktamar Bersama

    • calendar_month Kamis, 25 Des 2025
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 238
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Dinamika internal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) memasuki babak baru setelah tercapainya islah antara Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar dan Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf. Rekonsiliasi tersebut dicapai dalam pertemuan yang digelar di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur, Kamis (25/12/2025). Pertemuan yang diprakarsai para Masyayikh dan Mustasyar PBNU itu […]

  • Mahasiswa PGMI UNUSIA Sukses Gelar GEMA APUPPT, Dorong Generasi Muda Lawan Pencucian Uang

    Mahasiswa PGMI UNUSIA Sukses Gelar GEMA APUPPT, Dorong Generasi Muda Lawan Pencucian Uang

    • calendar_month Jumat, 7 Nov 2025
    • account_circle Rivaldi Bulilingo
    • visibility 232
    • 0Komentar

    nulondalo.com -Mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA) sukses menyelenggarakan kegiatan Gerakan Muda Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme (GEMA APUPPT), Kamis (6/11/2025), di Kampus B UNUSIA Parung. Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi UNUSIA bersama Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK), PT Pegadaian Area Bogor, dan PT […]

expand_less