Misteri di Balik Energi Salat Berjamaah
- account_circle Hamzah Durisa
- calendar_month Jumat, 27 Feb 2026
- visibility 138
- print Cetak

Ilustrasi suasana senja di pesisir Mandar, Sulawesi Barat. Warga berjalan menuju masjid untuk menunaikan Salat Magrib berjamaah, sementara perahu-perahu sandeq dan perahu nelayan bersandar di tepi laut dengan langit jingga kemerahan sebagai latar. Cahaya hangat dari dalam masjid memantulkan nuansa tenang, menggambarkan kebersamaan, spiritualitas, dan kehidupan masyarakat pesisir yang selaras dengan alam.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Senja turun perlahan di pesisir Mandar bukanlah perkara jarang ditemukan. Langit memerah di atas laut, dan perahu-perahu nelayan kembali dengan layar yang mulai dilipat merupakan penghias keseharian hidup orang Mandar. Di sela desir angin laut, terdengar adzan Magrib memanggil dari masjid kampung. Suaranya lembut, tetapi tegas—seperti panggilan yang sudah akrab sejak kecil. Orang-orang berhenti sejenak. Ada yang menutup warung, ada yang membilas kaki di sumur, ada yang menggandeng anaknya. Mereka berjalan menuju satu arah. Di tanah Sulawesi Barat, Salat berjamaah bukan hanya kewajiban agama. Ia dulu adalah denyut kehidupan, namun kini? Menjadi pertanyaan tanpa harus dijawab di tulisan ini.
Rasulullah Muhammad SAW bersabda bahwa salat berjamaah lebih utama 27 derajat dibanding salat sendirian. Angka ini sering kita dengar sejak kecil. Namun, apa maknanya jika kita lihat dari sudut pandang sains, hukum semesta, dan kearifan lokal Mandar?
Energi Kolektif: Ketika Saf Menjadi Satu Tubuh
Dalam ilmu sains, dikenal konsep collective synchronization—sinkronisasi kolektif. Ketika banyak orang bergerak dalam ritme yang sama, energi yang dihasilkan lebih stabil dan kuat dibanding jika dilakukan sendiri-sendiri. Salat berjamaah menjadi contoh nyatanya. Imam membaca, makmum mengikuti. Imam rukuk, makmum serempak rukuk. Gerakan yang selaras ini menciptakan harmoni fisik dan batin. Dalam psikologi, aktivitas bersama seperti ini meningkatkan rasa kebersamaan dan menurunkan tingkat stres.
Bagi orang Mandar, kebersamaan bukan teori. Ia adalah cara hidup. Saat membangun rumah, warga datang tanpa undangan resmi. Saat ada hajatan, dapur menjadi ruang gotong royong. Maka ketika saf dirapatkan di masjid, itu seperti memperpanjang budaya yang sudah mengakar.
- Penulis: Hamzah Durisa

Saat ini belum ada komentar