Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Misteri di Balik Energi Salat Berjamaah

  • account_circle Hamzah Durisa
  • calendar_month Jumat, 27 Feb 2026
  • visibility 328
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Masjid dalam konteks ini bukan hanya bangunan fisik, melainkan pusat getaran kebaikan yang terus diperbarui lima kali sehari. Di sanalah manusia berkumpul membawa beragam beban hidup, lalu berdiri sejajar tanpa sekat, menghadap arah yang sama. Getaran doa yang dilantunkan bersama menciptakan medan spiritual yang menghubungkan hati manusia dengan Tuhannya, sekaligus merajut kembali hubungan antarsesama. Ketika seseorang rutin hadir dalam lingkaran itu, ia perlahan menyerap suasana damai yang terbangun dari kebersamaan. Masjid menjadi ruang resonansi—tempat iman dikuatkan, niat diluruskan, dan persaudaraan diteguhkan—sehingga energi positif yang lahir di dalamnya tidak berhenti di sajadah, tetapi ikut mengalir ke rumah, ke pasar, ke laut, dan ke seluruh ruang kehidupan.

27 Derajat sebagai Peningkatan Kualitas Diri

Ketika senja kembali turun di pesisir Mandar, dan adzan dikumandangkan, orang-orang kembali melangkah ke masjid. Mereka mungkin tidak menghitung 27 derajat itu dengan angka. Namun mereka merasakannya dalam bentuk lain: hati yang lebih ringan, hubungan yang lebih erat, hidup yang lebih teratur.

Salat berjamaah bukan hanya perintah agama. Ia adalah sistem pembinaan manusia. Ia melatih sinkronisasi seperti awak sandeq di laut, disiplin seperti petani yang membaca musim, dan kesetaraan seperti saf yang rapat tanpa jarak. Di tanah Mandar, dari laut hingga gunung, 27 derajat itu menjelma menjadi peningkatan kualitas manusia seutuhnya—lebih dekat kepada Tuhan, lebih kuat bersama sesama, dan lebih selaras dengan hukum semesta yang menjaga keseimbangan hidup.

Wallahualam bissawab.

Penulis : Pegiat Literasi dan Penggerak GUSDURian

  • Penulis: Hamzah Durisa

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Prancis Diunggulkan Singkirkan Swedia, Les Bleus Bidik Tiket ke Babak 16 Besar

    Prancis Diunggulkan Singkirkan Swedia, Les Bleus Bidik Tiket ke Babak 16 Besar

    • calendar_month Senin, 29 Jun 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 64
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Prancis akan menghadapi Swedia pada babak 32 besar Piala Dunia 2026 di MetLife Stadium, East Rutherford, Rabu (1/7/2026) pukul 04.00 WIB. Les Bleus datang dengan kepercayaan diri tinggi setelah tampil sempurna sepanjang fase grup. Tim asuhan Didier Deschamps menutup Grup I sebagai juara grup dengan raihan sembilan poin dari tiga pertandingan. Prancis juga […]

  • DPRD Ketok Perda Pertanggungjawaban APBD 2024

    DPRD Ketok Perda Pertanggungjawaban APBD 2024

    • calendar_month Selasa, 29 Jul 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 127
    • 0Komentar

    Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Gorontalo menyetujui Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) pertanggungjawaban pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Tahun Anggaran 2024 untuk menjadi perda. Hal tersebut dibahas pada Rapat Paripurna DPRD Provinsi Gorontalo ke-28, Selasa (8/7/2025). “Alhamdulillah, antara tim anggaran pemerintah dan badan anggaran serta para anggota dewan yang terhormat, kita bersepakat bahwa […]

  • Dosen Unusia Raih Gelar Doktor Akuntansi, Angkat Kearifan Lokal Bugis dalam Disertasi

    Dosen Unusia Raih Gelar Doktor Akuntansi, Angkat Kearifan Lokal Bugis dalam Disertasi

    • calendar_month Sabtu, 23 Mei 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 168
    • 0Komentar

    Menurut Aras, penelitian tersebut memiliki keterhubungan kuat dengan tradisi intelektual Nahdlatul Ulama yang selama ini membangun kehidupan sosial berbasis budaya, etika pesantren, dan kolektivitas masyarakat. Ia menjelaskan bahwa dalam tradisi pesantren terdapat kaidah al-muhafazhah ‘ala al-qadim al-shalih wa al-akhdzu bi al-jadid al-ashlah, yakni memelihara tradisi lama yang baik dan mengambil hal baru yang lebih baik. […]

  • Dari Gorontalo untuk Ketahanan Pangan Nasional

    Dari Gorontalo untuk Ketahanan Pangan Nasional

    • calendar_month Rabu, 31 Des 2025
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 195
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Gorontalo kembali mendapat angin segar bagi penguatan sektor pertanian dan peternakan. Provinsi yang dikenal dengan potensi jagungnya ini resmi masuk dalam 13 provinsi tahap pertama pelaksanaan program hilirisasi ayam terintegrasi nasional. Program strategis ini menjadi harapan baru bagi kemandirian pangan sekaligus peningkatan kesejahteraan masyarakat. Kabar tersebut disampaikan Direktur Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Hendra […]

  • Tak Biasa, Gorontalo Gelar Lomba Toilet Terbersih Tiap Bulan

    Tak Biasa, Gorontalo Gelar Lomba Toilet Terbersih Tiap Bulan

    • calendar_month Rabu, 25 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 256
    • 0Komentar

    Sementara pada jenjang TK/PAUD, TK Negeri Pembina dan TK Putra IV Kota Tengah masing-masing menjadi yang terbaik. Meski baru berjalan satu bulan, program ini mulai menunjukkan dampak positif, baik dari segi kebersihan maupun meningkatnya kesadaran warga sekolah. Ke depan, Pemerintah Kota Gorontalo berharap program ini terus berlanjut dan menjadi budaya, sehingga tercipta lingkungan pendidikan yang […]

  • Menjelaskan “Makuta Ilmu” Tanpa Menyesatkan: Kritik atas Kritik Tarmizi Abbas

    Menjelaskan “Makuta Ilmu” Tanpa Menyesatkan: Kritik atas Kritik Tarmizi Abbas

    • calendar_month Jumat, 9 Jan 2026
    • account_circle Donald Qomaidiasyah Tungkagi
    • visibility 1.079
    • 0Komentar

    Kedua, Tarmizi mengklaim bahwa adat tidak bisa mewakili antroposentrisme karena adat itu normatif (dengan argumen muasal perubahan makna dalam konteks Gorontalo), sementara antroposentrisme adalah orientasi nilai sehingga “..seringkali dikritik karena menjadi muasal eksploitasi sumber daya alam”. Kritik dalam tanda petik terakhir bisa jadi benar jika dibaca tersendiri, namun keliru jika dikaitkan dengan simbolisasi paradigma “Makuta […]

expand_less