Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Lapar Menguji Likuiditas Iman

  • account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
  • calendar_month Minggu, 1 Mar 2026
  • visibility 344
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Ramadhan selalu datang dengan dua laporan yang tak pernah diaudit Kantor Akuntan Publik: laporan perut dan laporan hati. Yang pertama bunyinya nyaring menjelang zuhur. Yang kedua sunyi, tapi menentukan nasib kita di akhirat. Di sinilah saya sering bercanda kepada mahasiswa akuntansi: “Ramadhan itu semester pendek untuk mata kuliah Likuiditas Iman.”

Dalam ilmu akuntansi, kita mengenal rasio likuiditas: kemampuan entitas memenuhi kewajiban jangka pendeknya. Dalam bahasa pesantren, ini kira-kira begini: sanggup tidak kita membayar utang sabar ketika diuji lapar, haus, dan godaan diskon takjil? Jangan sampai kas kesabaran minus, sementara utang emosi jatuh tempo tiap sore.

Imam besar kita, Gus Dur, pernah memberi teladan bahwa agama itu jangan tegang-tegang amat. Beliau mungkin akan berkata, “Kalau lapar membuatmu marah-marah, berarti yang puasa perutmu, bukan egomu.” Nah, di situ letak problem akuntansinya. Kita sering salah klasifikasi: yang seharusnya beban (amarah) malah kita akui sebagai aset (ketegasan). Padahal dalam neraca akhlak, marah itu liabilitas yang menggerus ekuitas takwa.

Ramadhan mengajarkan bahwa iman harus likuid. Artinya, mudah dicairkan menjadi amal. Jangan sampai iman kita berbentuk deposito berjangka—niatnya besar, tapi sulit ditarik saat dibutuhkan. Ada orang yang rajin tarawih, tapi ketika antrean takjil sedikit panjang, langsung melakukan “rekayasa transaksi” dengan menyerobot. Ini jelas manipulasi laporan keikhlasan.

Dalam kerangka Nahdlatul Ulama, puasa bukan sekadar menahan lapar, tetapi melatih keseimbangan antara syariat dan kemanusiaan. Humor ala NU mengajarkan bahwa kesalehan tidak perlu dipamerkan seperti laporan tahunan perusahaan terbuka. Cukup dicatat malaikat sebagai auditor independen yang tak pernah menerima gratifikasi.

Secara ilmiah, lapar memang memengaruhi emosi. Kadar gula darah turun, konsentrasi melemah, dan potensi konflik meningkat. Dalam teori perilaku akuntansi, tekanan (pressure) adalah salah satu elemen fraud triangle. Maka jangan heran jika menjelang magrib, sebagian orang rawan melakukan “kecurangan kecil”: mengeluh berlebihan, menyalahkan keadaan, bahkan menyalahkan tukang gorengan yang belum matang. Lapar menjadi pressure, kesempatan (opportunity) ada, rasionalisasi (rationalization) pun muncul: “Maklum, lagi puasa.”

  • Penulis: Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • PB HMI Angkat Bicara soal Teror Kader, Sebut Ancaman Serius bagi Demokrasi

    PB HMI Angkat Bicara soal Teror Kader, Sebut Ancaman Serius bagi Demokrasi

    • calendar_month Senin, 30 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 560
    • 0Komentar

    nulondalo.com — Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI) angkat bicara terkait rangkaian teror dan intimidasi yang menimpa kader HMI di sejumlah daerah. Organisasi tersebut menilai ancaman yang terjadi bukan sekadar persoalan individu, melainkan ancaman serius terhadap ruang demokrasi. Teror dialami Ketua Badan Koordinasi HMI Sumatera Utara, Yusril Mahendra Butar Butar, pada Minggu, 29 Maret […]

  • Waspada Normalisasi Kekerasan

    Waspada Normalisasi Kekerasan

    • calendar_month Senin, 15 Jun 2026
    • account_circle Pepi Al-Bayqunie
    • visibility 142
    • 0Komentar

    Akhir-akhir ini, konten media sosial dipenuhi fenomena yang menggelisahkan: domestifikasi kekerasan. Kekerasan, khususnya dalam rumah tangga, dikemas menjadi hiburan yang mudah dikonsumsi publik. Menariknya, latar rumah tangga dalam video-video ini sangat beragam, mulai dari keluarga mapan, keluarga miskin (terlihat dari kondisi rumah), hingga keluarga yang berpenampilan seperti tokoh agama. Meski biasanya korban kekerasan adalah suami, […]

  • Siapa Mengototkan Tambang Ormas? Yeni Wahid Sebut Peran Menteri

    Siapa Mengototkan Tambang Ormas? Yeni Wahid Sebut Peran Menteri

    • calendar_month Kamis, 18 Des 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 238
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Polemik izin pengelolaan tambang bagi organisasi kemasyarakatan keagamaan kembali memanas. Kali ini datang dari pernyataan terbuka Zanuba Arifah Chafso Wahid atau Yeni Wahid, putri Presiden keempat RI Abdurrahman Wahid. Di hadapan ribuan jamaah Haul Gus Dur di Pesantren Tebuireng, Jombang, Yeni mengungkap adanya peran seorang menteri yang disebut paling ngotot mendorong pemberian konsesi […]

  • RDP Komisi III DPRD Sulteng Alot, PT Pantas Indomining Direkomendasikan Bayar Kompensasi dan Cabut Laporan Pidana photo_camera 2

    RDP Komisi III DPRD Sulteng Alot, PT Pantas Indomining Direkomendasikan Bayar Kompensasi dan Cabut Laporan Pidana

    • calendar_month Rabu, 25 Feb 2026
    • account_circle Firman
    • visibility 444
    • 0Komentar

    nulondalo.com, Sulteng–  Rapat Dengar Pendapat (RDP) yang digelar Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi Sulawesi Tengah bersama Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait dan PT Pantas Indomining berlangsung alot. Rapat tersebut menghasilkan sejumlah rekomendasi tegas menyangkut sengketa lahan, dugaan kriminalisasi warga, hingga persoalan dokumen perizinan perusahaan. Dalam forum itu, DPRD menyoroti aktivitas pertambangan PT Pantas […]

  • Akadnya Rapi, Akhlaknya Bolong

    Akadnya Rapi, Akhlaknya Bolong

    • calendar_month Jumat, 23 Jan 2026
    • account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak
    • visibility 334
    • 0Komentar

    Kalau mendengar istilah “korporasi syariah”, banyak orang langsung merasa tenang. Seolah-olah begitu ada kata “syariah”, uang otomatis aman, laporan keuangan jujur, dan direksi langsung rajin tahajud. Padahal, kata Gus Dur, “Tidak semua yang pakai sarung itu kiai”, dan tidak semua yang berlabel syariah itu amanah. Di brosur, korporasi syariah digambarkan bak pesantren modern: bersih, rapi, […]

  • Awan yang tak Kunjung Hujan

    Awan yang tak Kunjung Hujan

    • calendar_month Senin, 4 Mei 2026
    • account_circle Hakiki
    • visibility 232
    • 0Komentar

    Di surgaloka yang selalu cerah, Raqib dan Atid sudah lama bosan. “Sudah berabad-abad kita mencatat amal manusia,” kata Raqib sambil mengusap jenggotnya yang putih. “Tapi akhir-akhir ini… awan di bawah sana makin tebal. Aneh, tidak juga hujan.” Atid mengangguk. Matanya yang tajam menembus lapisan awan tebal yang menyelimuti Jakarta. “Kita turun saja. Lihat sendiri. Siapa […]

expand_less