Lapar Menguji Likuiditas Iman
- account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
- calendar_month Minggu, 1 Mar 2026
- visibility 111
- print Cetak

Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak/Istimewa
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Padahal justru di situlah Ramadhan menguji likuiditas iman kita. Apakah kas sabar cukup untuk membayar kewajiban akhlak? Apakah cadangan empati tersedia untuk menolong yang lebih lapar dari kita?
Dalam perspektif akuntansi syariah, tujuan laporan keuangan bukan hanya decision usefulness, tetapi juga accountability kepada Allah dan manusia. Puasa adalah praktik akuntabilitas spiritual. Kita diajak menyusun laporan arus kas ruhani: dari mana sumber energi kebaikan kita, dan ke mana ia dibelanjakan. Jika sepanjang hari energi habis untuk marah dan mengeluh, berarti arus kas kita defisit.
Gus Dur mungkin akan berseloroh, “Tuhan tidak butuh laporan keuanganmu, tapi tetanggamu butuh kepedulianmu.” Maka zakat, infak, dan sedekah adalah instrumen redistribusi agar likuiditas sosial terjaga. Jangan sampai ada surplus di meja makan kita, sementara defisit gizi terjadi di rumah sebelah.
Ramadhan juga mengajarkan prinsip going concern. Ibadah jangan musiman seperti perusahaan yang rajin hanya saat audit eksternal. Setelah Idulfitri, jangan sampai iman kita likuid hanya 30 hari, lalu berubah menjadi aset tidak lancar yang sulit digerakkan. Konsistensi adalah catatan atas laporan keuangan spiritual kita.
Dalam kelas, saya sering berkata: “Kalau perusahaan punya current ratio, orang beriman punya sabar ratio.” Rumusnya sederhana: Sabar dibagi Godaan. Jika hasilnya di atas satu, insyaAllah aman. Jika di bawah satu, berarti perlu tambahan modal doa dan dzikir. Jangan sampai negatif, nanti masuk kategori distress iman.
Humor ala NU mengajarkan keseimbangan. Kita boleh tertawa, asal tidak menertawakan penderitaan orang lain. Kita boleh menikmati buka puasa, asal tidak lupa bahwa inti puasa adalah merasakan. Lapar bukan musuh, tetapi guru akuntansi yang paling jujur. Ia menunjukkan seberapa kuat struktur permodalan iman kita.
- Penulis: Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.

Saat ini belum ada komentar