Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Lapar Menguji Likuiditas Iman

  • account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
  • calendar_month Minggu, 1 Mar 2026
  • visibility 239
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Padahal justru di situlah Ramadhan menguji likuiditas iman kita. Apakah kas sabar cukup untuk membayar kewajiban akhlak? Apakah cadangan empati tersedia untuk menolong yang lebih lapar dari kita?

Dalam perspektif akuntansi syariah, tujuan laporan keuangan bukan hanya decision usefulness, tetapi juga accountability kepada Allah dan manusia. Puasa adalah praktik akuntabilitas spiritual. Kita diajak menyusun laporan arus kas ruhani: dari mana sumber energi kebaikan kita, dan ke mana ia dibelanjakan. Jika sepanjang hari energi habis untuk marah dan mengeluh, berarti arus kas kita defisit.

Gus Dur mungkin akan berseloroh, “Tuhan tidak butuh laporan keuanganmu, tapi tetanggamu butuh kepedulianmu.” Maka zakat, infak, dan sedekah adalah instrumen redistribusi agar likuiditas sosial terjaga. Jangan sampai ada surplus di meja makan kita, sementara defisit gizi terjadi di rumah sebelah.

Ramadhan juga mengajarkan prinsip going concern. Ibadah jangan musiman seperti perusahaan yang rajin hanya saat audit eksternal. Setelah Idulfitri, jangan sampai iman kita likuid hanya 30 hari, lalu berubah menjadi aset tidak lancar yang sulit digerakkan. Konsistensi adalah catatan atas laporan keuangan spiritual kita.

Dalam kelas, saya sering berkata: “Kalau perusahaan punya current ratio, orang beriman punya sabar ratio.” Rumusnya sederhana: Sabar dibagi Godaan. Jika hasilnya di atas satu, insyaAllah aman. Jika di bawah satu, berarti perlu tambahan modal doa dan dzikir. Jangan sampai negatif, nanti masuk kategori distress iman.

Humor ala NU mengajarkan keseimbangan. Kita boleh tertawa, asal tidak menertawakan penderitaan orang lain. Kita boleh menikmati buka puasa, asal tidak lupa bahwa inti puasa adalah merasakan. Lapar bukan musuh, tetapi guru akuntansi yang paling jujur. Ia menunjukkan seberapa kuat struktur permodalan iman kita.

  • Penulis: Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Musdes Yosonegoro Bahas Realisasi APBDes Semester I 2026, Pemdes Salurkan BLT dan Gelar Rapat Evaluasi

    Musdes Yosonegoro Bahas Realisasi APBDes Semester I 2026, Pemdes Salurkan BLT dan Gelar Rapat Evaluasi

    • calendar_month Selasa, 9 Jun 2026
    • account_circle Valdi Pontoh
    • visibility 139
    • 0Komentar

    Pelaksanaan Musdes tersebut mengacu pada ketentuan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa dan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 20 Tahun 2018 tentang Pengelolaan Keuangan Desa yang mewajibkan kepala desa menyampaikan laporan realisasi APBDes kepada bupati melalui camat. Di sela-sela kegiatan musyawarah, pemerintah desa juga menyalurkan BLT Dana Desa bulan Juni kepada delapan KPM sebagai […]

  • Gerakan Kebudayaan, Titik Akupuntur dalam Krisis Demokrasi

    Gerakan Kebudayaan, Titik Akupuntur dalam Krisis Demokrasi

    • calendar_month Selasa, 29 Jul 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 126
    • 0Komentar

    (Catatan naratif peta loop Komisi Media, Budaya, dan Masyarakat Sipil pada Sarasehan Gerakan Nurani Bangsa, 8 Juni 2025) Demokrasi Indonesia sedang mengalami paradoks . Secara prosedural, mekanisme demokrasi berjalan—pemilu dilaksanakan, lembaga negara berfungsi—namun secara substansial, demokrasi mengalami defisit. Kebebasan sipil menyusut, ruang berpikir kritis menyempit, dan masyarakat sipil kehilangan pijakan simbolik untuk mendorong perubahan. Dengan […]

  • Demokrasi (Harus) Menjadi Kebudayaan

    Demokrasi (Harus) Menjadi Kebudayaan

    • calendar_month Jumat, 5 Sep 2025
    • account_circle Pepi al-Bayqunie
    • visibility 137
    • 0Komentar

    Refleksi Temu Nasional (TUNAS) Jaringan GUSDURian 2025 Oleh : Pepi Al-Bayqunie (Jamaah GUSDURian, tinggal di Sulawesi Selatan yang lahir dengan nama Saprillah) Di Indonesia, demokrasi kerap tampil meriah hanya saat pemilu. Angka, statistik, dan pesta politik menjadi hal yang paling mencolok. Namun, setelah hiruk pikuk itu usai, demokrasi sering kembali sepi. Ia menyusut menjadi prosedur […]

  • Mahasiswa PGMI UNUSIA Sukses Gelar GEMA APUPPT, Dorong Generasi Muda Lawan Pencucian Uang

    Mahasiswa PGMI UNUSIA Sukses Gelar GEMA APUPPT, Dorong Generasi Muda Lawan Pencucian Uang

    • calendar_month Jumat, 7 Nov 2025
    • account_circle Rivaldi Bulilingo
    • visibility 181
    • 0Komentar

    nulondalo.com -Mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA) sukses menyelenggarakan kegiatan Gerakan Muda Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme (GEMA APUPPT), Kamis (6/11/2025), di Kampus B UNUSIA Parung. Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi UNUSIA bersama Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK), PT Pegadaian Area Bogor, dan PT […]

  • Inilah Tuntutan Demo Aliansi Merah Maron

    Inilah Tuntutan Demo Aliansi Merah Maron

    • calendar_month Senin, 29 Sep 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 117
    • 0Komentar

    Gubernur Gorontalo Gusnar Ismail bersama Wakil Gubernur Idah Syahidah Rusli Habibie, Kapolda Gorontalo Irjen Pol. Widodo, dan Ketua DPRD Provinsi Gorontalo Idrus M. Thomas Mopili, menemui aksi demonstrasi mahasiswa Universitas Negeri Gorontalo (UNG) di Bundaran Tugu Saronde, Senin (1/9/2025). Mahasiswa UNG yang tergabung dalam Aliansi Merah Maron menyampaikan sejumlah tuntutan kepada Pemerintah Provinsi Gorontalo, DPRD, […]

  • Filsafat di Tengah Badai Teknologi, Pesantren Khatamun Nabiyyin Gelar Stadium Generale Bahas Krisis Kemanusiaan

    Filsafat di Tengah Badai Teknologi, Pesantren Khatamun Nabiyyin Gelar Stadium Generale Bahas Krisis Kemanusiaan

    • calendar_month Rabu, 13 Mei 2026
    • account_circle Asep Alfarizi
    • visibility 286
    • 0Komentar

    “Teknologi tanpa filsafat adalah pedang tanpa sarung—tajam dan berguna, namun berbahaya di tangan yang tidak memahami arah dan tujuannya,” tambahnya. Sementara itu, Muh. Agus Salim menegaskan bahwa pesantren memiliki tanggung jawab untuk tetap hadir dalam percakapan-percakapan besar mengenai masa depan peradaban manusia. Menurutnya, pesantren tidak boleh dipandang sebagai lembaga yang tertinggal dari perkembangan zaman. Sebaliknya, […]

expand_less