Lapar Menguji Likuiditas Iman
- account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
- calendar_month Minggu, 1 Mar 2026
- visibility 110
- print Cetak

Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak/Istimewa
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Akhirnya, Ramadhan adalah laboratorium likuiditas. Lapar menguji apakah iman kita cukup cair untuk mengalir menjadi kasih sayang. Jika setiap magrib kita hanya sibuk menutup defisit perut, tapi lupa menambah surplus amal, maka laporan tahunan kita akan penuh catatan koreksi.
Semoga setelah sebulan, kita tidak hanya lulus ujian lapar, tetapi juga memperoleh opini Wajar Tanpa Pengecualian dari langit. Dan jika pun masih ada catatan, semoga itu hanya paragraf penekanan: “Hamba ini banyak kurangnya, tapi ia terus belajar menjaga likuiditas iman.”
Karena pada akhirnya, yang paling penting bukan seberapa kuat kita menahan haus, tetapi seberapa jernih hati kita setelahnya. Dan di situlah akuntansi bertemu tasawuf: sama-sama mengajarkan kejujuran, keterbukaan, dan tanggung jawab.
Selamat mengaudit diri. Jangan sampai iman kita macet hanya karena saldo sabar tak pernah ditambah.
Penulis : Intelektual Muda Nahdatul Ulama
- Penulis: Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.

Saat ini belum ada komentar