Suhayb ar-Rumi: Hijrah yang Dibayar dengan Seluruh Harta (Kisah Sahabat Nabi Yang Jarang Diceritakan #12)
- account_circle Pepi Al-Bayqunie
- calendar_month Senin, 2 Mar 2026
- visibility 125
- print Cetak

Ilustrasi suasana hijrah Suhayb ar-Rumi dari Makkah menuju Madinah, menggambarkan keteguhan langkahnya meninggalkan seluruh harta demi mempertahankan iman. Di latar tampak nuansa gurun dan bayangan kota tujuan hijrah, melambangkan pengorbanan, keberanian, dan harapan baru dalam perjalanan sejarah Islam awal.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Di antara para sahabat Nabi yang datang dari pinggiran struktur sosial Arab, nama Suhayb bin Sinan atau lebih dikenal dengan nama Suhayb ar-Rumi menempati posisi yang khas. Ia bukan tokoh dari kabilah besar Quraisy yang memiliki perlindungan kuat. Julukan ar-Rumi melekat padanya bukan karena ia berdarah Romawi, melainkan karena masa kecilnya yang panjang di wilayah Bizantium membuatnya fasih berbahasa dan berlogat seperti orang Romawi.
Ia lahir dari keluarga Arab di wilayah Irak sekarang, namun sejak kecil tertawan dan dijual sebagai budak. Dalam banyak riwayat, ia digambarkan berkulit cerah dengan rambut pirang kemerahan (asyqar), ciri yang semakin menguatkan kesan “Romawi” pada dirinya. Bertahun-tahun hidup dalam perbudakan membentuk wataknya: tangguh, sabar, dan terbiasa berdiri tanpa perlindungan kabilah.
Ketika akhirnya ia berhasil melarikan diri dan tiba di Makkah, ia membangun hidupnya dari awal hingga menjadi pedagang yang cukup berhasil. Namun justru pada masa mapan itulah ia bertemu dengan dakwah Nabi. Bersama Ammar ibn Yasir, ia mendatangi Rasulullah secara sembunyi-sembunyi untuk mendengar ajaran Islam di rumah Al-Arqam.
Ia masuk Islam pada masa awal, ketika menjadi Muslim berarti siap menghadapi siksaan dan tekanan keras. Tanpa pelindung kabilah, Suhayb menjadi sasaran Quraisy. Ia disiksa dan diintimidasi, tetapi imannya tidak goyah sedikit pun.
- Penulis: Pepi Al-Bayqunie

Saat ini belum ada komentar