Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Kesalehan yang “Dipertontonkan”

  • account_circle Dr. Samsi Pomalingo, MA
  • calendar_month Minggu, 24 Mei 2020
  • visibility 136
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Hari ini orang beramai-ramai memposting pelaksanaan Shalat Idul Fitri di setiap rumah, sekalipun tidak semua karena ada sebagian orang lain yang Shalat di Masjid maupun di lapangan karena kekesalan mereka terhadap pemerintah yang menutup Masjid dan membuka pasar dan mall di tengah pandemic corona. Setelah Shalat Idul Fitri saya dan keluarga menikmati burasa, acar ikan tuna, dan kuah bugis.

Selesai makan, saya duduk sambil membuka whatsapp ada banyak pesan masuk dengan kalimat; “Selamat Hari Raya Idul Fitri 1441 H, Minal ‘aidin Walfaidzin, Mohon maaf Lahir  dan Bathin”. Ada juga yang mengirim  dalam bentuk flayer. Ternyata banyak yang meminta maaf, maklum tak ada manusia yang tidak pernah salah.

Setelah itu saya membuka facebook, dan di facebook orang ramai-ramai memposting Shalat Ied di rumah. Orang-orang yang melaksanakan shalat di rumah alasannya bervariasi. Ada yang mengikuti anjuran pemerintah dan MUI untuk shalat di rumah, ada yang karena takut akan bahaya terinfeksi virus corona, ada yang “terpaksa” karena tidak tahu shalat dimana.

Di kampung saya di Dehualolo, kira-kira pukul 06.00, saya melihat orang-orang berjalan mengenakan mukena dan saya tidak tahu kemana mereka hendak melangkah untuk bepergian Shalat Idul Fitri. Saya mengikuti mereka dan bertanya, mau Shalat dimana? Mereka menjawab di lapangan. Saya kembali bertanya; “Kenapa tidak Shalat di Rumah?”, “Tidak ada yang bisa jadi Imam dan Khatib”, kata orang-orang itu menimpali

Saya termenung dan balik ke rumah. Dalam benak-pikiran saya ada seribu pertaanyaaan, tapi saya berasumsi bahwa mereka “pasrah” dengan keadaan yang ada. Kalaupun mati itulah ajal, yang telah ditentukan oleh Allah swt di tengah pandemic covid-19.

Pada pukul 15.00 saya membuka kembali facebook saya, ternyata ada postingan lagi tentang kelompok-kelompok keluarga yang Shalat di rumah. Saya tidak tahu apakah ini gejala yang menunjukan kedisiplinaan yang harus dipublish di tengah orang-orang yang tidak disiplin, ataukah ingin menunjukkan kesalehan kelompok keluarga yang mesti dipertontonkan di wilayah public? Ataukah ini gejala dari postmodernisme? Ataukah gejala post truth? Saya tidak tau.

Setahu saya, bahwa ruang publik akhirnya menjadi kotor dibalik sucinya identitas kelompok. Karena ruang public mulai di pertontonkan dengan kesalehan yang semestinya tidak perlu orang lain mengetahuinya. Dalam pandangan teologis “Jika ingin melakukan kebajikan tidak perlu orang lain mengetahuinya”. Artinya, kebajikan tidak berlu diumbar-umbar di wilayah publik. Biarlah Anda dan Tuhanmu yang tahu akan perbuatan baikmu.

Oleh orang lain, mempertontonkan kesalehan di wilayah publik, sebenarnya yang muncul adalah fenomena dusta, ilusi, kepura-puraan, dan hoaks. Karena agama hanya dijadikan jubah untuk membungkus tubuh dan tidak untuk menjadi perisai hati dan perbuatan, Itulah manusia. Oleh Adelbert Snijders (2008), manusia adalah makhluk yang memiliki segala keunikan dan juga paradox.

Saya tidak sedang menggugat religiusitas seseorang, tapi bairlah kesalehan itu terbungkus dengan iman (bukan riya), karena itu akan lebih mendatangkan kuantitas pahala dan kualitas ketaqwaan kepada Tuhan Yang maha Esa. Jangan mengaggap Tuhan itu buta dan tuli, karena Ia dapat melihat amal ibadah setiap hambanya. Sekalipun itu dianggap sebagai bentuk ketaatan kepada Tuhan, tidak perlu divisualisasi dan dipertontonkan di wilayah publik.

Karena ketika perbuatan itu dipublish di Facebook yang bisa kita lakukan adalah mengklik “Like”, jika makin banyak yang like makin tinggi kepuasaan kesalehannya.

Gejala di atas mungkin menunjukan gambaran manusia di era postmodernisme. Dimana kondisi ini pada satu titik menyebabkan masyarakat postmodern yang begitu identik dengan masyarakat konsumsi karena iklan-iklan di media massa secara terus menerus mengkontruksi bagaimana segala sesuatu di dalam kehidupan harus berjalan sehingga dapat dikatakan ideal.

Ciri ini dikonstruksi oleh manusia semacam mengiklankan kesalehan di ruang-ruang publik. Amal ibadah dikonstruksi seperti produk yang di iklankan di media sosial apakah dengan tujuan mempengaruhi orang lain untuk mengikutinya, atau justru ingin memperoleh penilaian atas amal ibadah?

Dalam bahasa agama, jika amal ibadah di pertontonkan di ruang-ruang publik dengan secara sengaja, itu menunjukan perbuatan riya, atau pamer yang tidak ada nilai pahalanya. Apalagi di tengah pandemic covid-19 yang sedang menggurita di negeri ini. Mestinya visualisasi keagamaan dalam rumah tangga tidak berlebihan. Jika hal itu terjadi, maka akan muncul efek negatif dalam kehidupan rumah tangga orang. Bisa jadi istrinya mengatakan; “Lihat suaminya si anu bisa imam dan khatib, kamu bisa apa?”. Atau juga bisa memuncul kecemburuan pada diri anak-anak; “Lihat bapaknya si anu bisa jadi imam dan khotib, papa sendiri tidak bisa”.

Mari kita bertanya dalam diri kita masing-masing, kenapa Tuhan tidak terlihat? Karena Tuhan adalah symbol kebajikan dan kesalehan, maka kabajikan dan kesalehan yang kita perbuat tidak perlu terlihat oleh oleh orang lain. Biarlah kita dan Tuhan yang mengetahuinya. Semogaa bermanfaat.(***)

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1441 H, Mohon maaf lahir dan bathin

  • Penulis: Dr. Samsi Pomalingo, MA

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Perdagangan Gas Dunia Terhenti, Asia Terancam Krisis Energi

    Perdagangan Gas Dunia Terhenti, Asia Terancam Krisis Energi

    • calendar_month Minggu, 1 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 243
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Perdagangan gas alam cair (LNG) global mengalami gangguan serius menyusul meningkatnya konflik di Timur Tengah, dengan jalur vital Selat Hormuz praktis terhenti. Situasi ini memicu kekhawatiran krisis energi baru, terutama di kawasan Asia yang sangat bergantung pada pasokan dari Teluk. Data pelacakan kapal menunjukkan sejumlah tanker LNG menghentikan perjalanan dari dan menuju Qatar […]

  • Pemkot Gorontalo Larang Petasan Saat Malam Tahun Baru 2026

    Pemkot Gorontalo Larang Petasan Saat Malam Tahun Baru 2026

    • calendar_month Senin, 29 Des 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 290
    • 0Komentar

    nulondalo.com –  Pemerintah Kota Gorontalo secara resmi melarang penggunaan petasan saat perayaan malam pergantian tahun 2025 ke 2026. Larangan tersebut ditegaskan langsung oleh Wali Kota Gorontalo, Adhan Dambea. Pernyataan itu disampaikan Wali Kota Adhan saat diwawancarai pewarta usai apel malam pada kegiatan wisata akhir tahun yang digelar Pemkot Gorontalo di Pantai Bolihutuo, Kecamatan Botumoito, Kabupaten […]

  • Idul Adha: Antara Pengorbanan, Air Mata, dan Harapan Ampunan  Allah

    Idul Adha: Antara Pengorbanan, Air Mata, dan Harapan Ampunan Allah

    • calendar_month Selasa, 26 Mei 2026
    • account_circle Dr. H. Ahmad Shaleh Amin, Lc., M.A
    • visibility 128
    • 0Komentar

    Hari raya Idul Adha bukan sekadar perayaan tahunan, melainkan momentum agung untuk meneguhkan iman, membersihkan hati, serta merenungi makna pengorbanan dan ketaatan yang diwariskan Nabi Ibrahim alaihissalam dan Nabi Ismail alaihissalam. Di tengah gemuruh dunia yang sering melalaikan manusia dari Tuhannya, Idul Adha hadir mengingatkan kita bahwa kehidupan sejati bukan tentang siapa yang paling kaya […]

  • Silaturahmi Kapolres Maros dan Kajari Maros Perkuat Sinergitas Penegakan Hukum di Kabupaten Maros

    Silaturahmi Kapolres Maros dan Kajari Maros Perkuat Sinergitas Penegakan Hukum di Kabupaten Maros

    • calendar_month Selasa, 14 Jul 2026
    • account_circle Andi Icang
    • visibility 87
    • 0Komentar

    Nulondalo.Com, MAROS – Komitmen memperkuat sinergitas antar Aparat Penegak Hukum (APH) terus dibangun di Kabupaten Maros. Melalui silaturahmi yang berlangsung dalam suasana hangat dan penuh keakraban, Polres Maros dan Kejaksaan Negeri Maros menegaskan komitmen bersama untuk meningkatkan koordinasi dalam mewujudkan penegakan hukum yang profesional, berintegritas, dan berorientasi pada pelayanan terbaik bagi masyarakat. Komitmen tersebut diwujudkan melalui […]

  • Sebanyak Delapan RS di Gorontalo Ikuti Reasesment Reviu

    Sebanyak Delapan RS di Gorontalo Ikuti Reasesment Reviu

    • calendar_month Selasa, 29 Jul 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 141
    • 0Komentar

    Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo bersama Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dan Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) Wilayah Gorontalo melakukan re-assesment reviu kelas terhadap delapan rumah sakit yang tersebar di wilayah provinsi tersebut. Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari permohonan delapan direktur rumah sakit terkait penyesuaian kelas rumah sakit tahun 2025. Pelaksanaan re-assesment ini disampaikan oleh Kepala […]

  • Demokrasi dan Distribusi Keadilan

    Demokrasi dan Distribusi Keadilan

    • calendar_month Senin, 1 Sep 2025
    • account_circle Siti Sara Malase
    • visibility 164
    • 0Komentar

    Penulis : Siti Sara Malase Demokrasi merupakan salah satu sistem pemerintahan yang paling banyak diadopsi di dunia modern. Sejak akhir Perang Dingin, demokrasi menjadi standar legitimasi politik bagi banyak negara, termasuk Indonesia. Secara konseptual, demokrasi didefinisikan sebagai pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Namun, dalam praktiknya, demokrasi kerap mengalami penyempitan makna dengan direduksi […]

expand_less