Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Kesalehan yang “Dipertontonkan”

  • account_circle Dr. Samsi Pomalingo, MA
  • calendar_month Minggu, 24 Mei 2020
  • visibility 192
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Hari ini orang beramai-ramai memposting pelaksanaan Shalat Idul Fitri di setiap rumah, sekalipun tidak semua karena ada sebagian orang lain yang Shalat di Masjid maupun di lapangan karena kekesalan mereka terhadap pemerintah yang menutup Masjid dan membuka pasar dan mall di tengah pandemic corona. Setelah Shalat Idul Fitri saya dan keluarga menikmati burasa, acar ikan tuna, dan kuah bugis.

Selesai makan, saya duduk sambil membuka whatsapp ada banyak pesan masuk dengan kalimat; “Selamat Hari Raya Idul Fitri 1441 H, Minal ‘aidin Walfaidzin, Mohon maaf Lahir  dan Bathin”. Ada juga yang mengirim  dalam bentuk flayer. Ternyata banyak yang meminta maaf, maklum tak ada manusia yang tidak pernah salah.

Setelah itu saya membuka facebook, dan di facebook orang ramai-ramai memposting Shalat Ied di rumah. Orang-orang yang melaksanakan shalat di rumah alasannya bervariasi. Ada yang mengikuti anjuran pemerintah dan MUI untuk shalat di rumah, ada yang karena takut akan bahaya terinfeksi virus corona, ada yang “terpaksa” karena tidak tahu shalat dimana.

Di kampung saya di Dehualolo, kira-kira pukul 06.00, saya melihat orang-orang berjalan mengenakan mukena dan saya tidak tahu kemana mereka hendak melangkah untuk bepergian Shalat Idul Fitri. Saya mengikuti mereka dan bertanya, mau Shalat dimana? Mereka menjawab di lapangan. Saya kembali bertanya; “Kenapa tidak Shalat di Rumah?”, “Tidak ada yang bisa jadi Imam dan Khatib”, kata orang-orang itu menimpali

Saya termenung dan balik ke rumah. Dalam benak-pikiran saya ada seribu pertaanyaaan, tapi saya berasumsi bahwa mereka “pasrah” dengan keadaan yang ada. Kalaupun mati itulah ajal, yang telah ditentukan oleh Allah swt di tengah pandemic covid-19.

Pada pukul 15.00 saya membuka kembali facebook saya, ternyata ada postingan lagi tentang kelompok-kelompok keluarga yang Shalat di rumah. Saya tidak tahu apakah ini gejala yang menunjukan kedisiplinaan yang harus dipublish di tengah orang-orang yang tidak disiplin, ataukah ingin menunjukkan kesalehan kelompok keluarga yang mesti dipertontonkan di wilayah public? Ataukah ini gejala dari postmodernisme? Ataukah gejala post truth? Saya tidak tau.

Setahu saya, bahwa ruang publik akhirnya menjadi kotor dibalik sucinya identitas kelompok. Karena ruang public mulai di pertontonkan dengan kesalehan yang semestinya tidak perlu orang lain mengetahuinya. Dalam pandangan teologis “Jika ingin melakukan kebajikan tidak perlu orang lain mengetahuinya”. Artinya, kebajikan tidak berlu diumbar-umbar di wilayah publik. Biarlah Anda dan Tuhanmu yang tahu akan perbuatan baikmu.

Oleh orang lain, mempertontonkan kesalehan di wilayah publik, sebenarnya yang muncul adalah fenomena dusta, ilusi, kepura-puraan, dan hoaks. Karena agama hanya dijadikan jubah untuk membungkus tubuh dan tidak untuk menjadi perisai hati dan perbuatan, Itulah manusia. Oleh Adelbert Snijders (2008), manusia adalah makhluk yang memiliki segala keunikan dan juga paradox.

Saya tidak sedang menggugat religiusitas seseorang, tapi bairlah kesalehan itu terbungkus dengan iman (bukan riya), karena itu akan lebih mendatangkan kuantitas pahala dan kualitas ketaqwaan kepada Tuhan Yang maha Esa. Jangan mengaggap Tuhan itu buta dan tuli, karena Ia dapat melihat amal ibadah setiap hambanya. Sekalipun itu dianggap sebagai bentuk ketaatan kepada Tuhan, tidak perlu divisualisasi dan dipertontonkan di wilayah publik.

Karena ketika perbuatan itu dipublish di Facebook yang bisa kita lakukan adalah mengklik “Like”, jika makin banyak yang like makin tinggi kepuasaan kesalehannya.

Gejala di atas mungkin menunjukan gambaran manusia di era postmodernisme. Dimana kondisi ini pada satu titik menyebabkan masyarakat postmodern yang begitu identik dengan masyarakat konsumsi karena iklan-iklan di media massa secara terus menerus mengkontruksi bagaimana segala sesuatu di dalam kehidupan harus berjalan sehingga dapat dikatakan ideal.

Ciri ini dikonstruksi oleh manusia semacam mengiklankan kesalehan di ruang-ruang publik. Amal ibadah dikonstruksi seperti produk yang di iklankan di media sosial apakah dengan tujuan mempengaruhi orang lain untuk mengikutinya, atau justru ingin memperoleh penilaian atas amal ibadah?

Dalam bahasa agama, jika amal ibadah di pertontonkan di ruang-ruang publik dengan secara sengaja, itu menunjukan perbuatan riya, atau pamer yang tidak ada nilai pahalanya. Apalagi di tengah pandemic covid-19 yang sedang menggurita di negeri ini. Mestinya visualisasi keagamaan dalam rumah tangga tidak berlebihan. Jika hal itu terjadi, maka akan muncul efek negatif dalam kehidupan rumah tangga orang. Bisa jadi istrinya mengatakan; “Lihat suaminya si anu bisa imam dan khatib, kamu bisa apa?”. Atau juga bisa memuncul kecemburuan pada diri anak-anak; “Lihat bapaknya si anu bisa jadi imam dan khotib, papa sendiri tidak bisa”.

Mari kita bertanya dalam diri kita masing-masing, kenapa Tuhan tidak terlihat? Karena Tuhan adalah symbol kebajikan dan kesalehan, maka kabajikan dan kesalehan yang kita perbuat tidak perlu terlihat oleh oleh orang lain. Biarlah kita dan Tuhan yang mengetahuinya. Semogaa bermanfaat.(***)

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1441 H, Mohon maaf lahir dan bathin

  • Penulis: Dr. Samsi Pomalingo, MA

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Bappeda Gorontalo Gelar Kajian Pengelolaan Tambang Mineral Bukan Logam dan Dampaknya terhadap Lingkungan Sosial-Ekonomi

    Bappeda Gorontalo Gelar Kajian Pengelolaan Tambang Mineral Bukan Logam dan Dampaknya terhadap Lingkungan Sosial-Ekonomi

    • calendar_month Jumat, 7 Nov 2025
    • account_circle Rivaldi Bulilingo
    • visibility 182
    • 0Komentar

    Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi Gorontalo menggelar kajian bertema “Pengelolaan Tambang Mineral Bukan Logam dan Dampaknya terhadap Lingkungan Sosial dan Ekonomi”, Rabu (5/11/2025), bertempat di Kantor Bappeda Provinsi Gorontalo. Kegiatan ini dibuka oleh Kepala Bappeda Provinsi Gorontalo yang diwakili oleh Kabid Riset dan Inovasi, Titi Iriani Datau. Dalam sambutannya, Titi Iriani menegaskan pentingnya kajian […]

  • Bupati Gorontalo Utara Buka Perkemahan Pramuka di Sumalata

    Bupati Gorontalo Utara Buka Perkemahan Pramuka di Sumalata

    • calendar_month Sabtu, 2 Agt 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 191
    • 0Komentar

    Ketua Majelis Pembina Kwartir Cabang Gerakan Pramuka Kabupaten Gorontalo Utara, Thariq Modanggu, yang juga menjabat sebagai Bupati Gorontalo Utara, membuka secara resmi Perkemahan Tingkat Kwartir Ranting di Kecamatan Sumalata, Minggu (10/8/2025). Kegiatan ini digelar dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun ke-64 Gerakan Pramuka. Dalam sambutannya, Thariq menyebut perkemahan menjadi wadah pendidikan, rekreasi, dan permainan. “Ketiga […]

  • Adhan Dambea dan Rachmat Gobel Bahas Pembangunan Gorontalo, Masjid Agung Baiturrahim Direncanakan Dua Lantai

    Adhan Dambea dan Rachmat Gobel Bahas Pembangunan Gorontalo, Masjid Agung Baiturrahim Direncanakan Dua Lantai

    • calendar_month Minggu, 15 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 309
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Wali Kota Gorontalo, Adhan Dambea menerima kunjungan silaturahmi Anggota DPR RI, Rachmat Gobel pada Ahad (15/3/2026). Anggota DPR RI dua periode tersebut datang bersama sejumlah tokoh Gorontalo dari Partai NasDem dan disambut langsung oleh Wali Kota Adhan di rumah jabatan wali kota. Dalam pertemuan tersebut, Adhan turut didampingi Wakil Wali Kota Gorontalo, Indra […]

  • Persipura Bidik Kemenangan Penuh Kontra Deltras FC

    Persipura Bidik Kemenangan Penuh Kontra Deltras FC

    • calendar_month Minggu, 4 Jan 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 362
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Persipura Jayapura menargetkan kemenangan penuh saat menjamu Deltras FC pada lanjutan Liga 2 Pegadaian Championship 2025/2026 di Stadion Lukas Enembe, Jayapura, Minggu (4/1/2026). Tiga poin menjadi harga mati bagi tim berjuluk Mutiara Hitam demi menjaga peluang bersaing di papan atas Grup B. Pelatih Persipura Rahmad Darmawan menegaskan pentingnya disiplin dan fokus penuh sepanjang […]

  • Membaca Indonesia dari Pinggiran: Catatan atas Buku Reset Indonesia

    Membaca Indonesia dari Pinggiran: Catatan atas Buku Reset Indonesia

    • calendar_month Jumat, 5 Jun 2026
    • account_circle Fadhil Hadju
    • visibility 258
    • 0Komentar

    Indonesia terlalu besar untuk didiskusikan, diurus, dan diperhatikan. Tapi bukannya mustahil. Bangsa yang lahir dari rahim para pemikir ini harus kita diskusikan, harus kita urus, dan harus kita perhatikan. Farid Gaban, Dhandy Laksono, dan kawan-kawan merupakan salah satu orang-orang yang getol menyuarakan persoalan ke-Indonesia-an. Ada beragam cara mereka bersuara. Melalui film dokumenter, dan buku. Salah […]

  • Korupsi Disebut Kejahatan Luar Biasa, Mahasiswa UMMA Diajak Jadi Garda Terdepan

    Korupsi Disebut Kejahatan Luar Biasa, Mahasiswa UMMA Diajak Jadi Garda Terdepan

    • calendar_month Kamis, 29 Jan 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 345
    • 0Komentar

    Nulondalo.com, MAROS — Korupsi kembali ditegaskan sebagai extraordinary crime atau kejahatan luar biasa yang mengancam masa depan bangsa. Pesan tegas itu mengemuka dalam Seminar Pendidikan Antikorupsi yang digelar Universitas Muslim Maros (UMMA), Selasa, 9 Desember 2025, di Baruga A Kantor Bupati Maros. Sebanyak 220 mahasiswa dari tiga fakultas mengikuti kegiatan ini dengan penuh semangat. Seminar […]

expand_less